Дървен материал от www.emsien3.com

The best bookmaker bet365

The best bookmaker bet365

Menu
RSS
Auki Tekege Ditetapkan Sebagai Tokoh Gereja, Dinas Pendidikan Dogiyai Siap Mendukung

Auki Tekege Ditetapkan Sebagai Toko…

Karya kaum awam pada...

Mengapa Kami Menggunakan Nama Taman Firdaus?

Mengapa Kami Menggunakan Nama Taman…

Oleh: Engelbertus P ...

Usai Dolly Ditutup, SMS-SMS Ini Beredar

Usai Dolly Ditutup, SMS-SMS Ini Ber…

{flike}SERUI - Usai ...

Kisah Auki (2): Misa Pertama dan Kehadiran Agama Kristen Protestan

Kisah Auki (2): Misa Pertama dan Ke…

Pada tanggal 21 Dese...

Ini Rekomendasi Anak-Anak Terminal Untuk MUBES Meepago

Ini Rekomendasi Anak-Anak Terminal …

MUSYAWARAH BESAR (MU...

Vanuatu's Prime Minister Joe Natuman Support for West Papuan Independence

Vanuatu's Prime Minister Joe Natuma…

PASIFIC - Vanuatu's ...

Rio Grime (2): Gabungan Air Mood Band dan Seniman Teater Budaya Papua

Rio Grime (2): Gabungan Air Mood Ba…

Musisi dan penyanyi ...

Orang Ini Usul Orang Papua Menjadi Uskup

Orang Ini Usul Orang Papua Menjadi …

MODIO – Ketua Kring ...

Hatta Umumkan Capres Setelah Pileg

Hatta Umumkan Capres Setelah Pileg

CILACAP - Ketua Umum...

Hindari Papua Makan Papua

Hindari Papua Makan Papua

1). Di Papua, sebaga...

Prev Next

In order to view this object you need Flash Player 9+ support!

Get Adobe Flash player
A+ A A-
Natalius Pigai

Natalius Pigai

Pilkada Jakarta: Kumbakarna Mati, Rahwana Akan Tumbang

Oleh Natalius Pigai

Dalam cerita mitologi Jawa. ketika kita nonton atau membaca cerita pewayangan dalam kisah Ramayana, Adegan saat Hanoman dibakar hidup-hidup. Inilah cerita klimaks dalam pementasan wayang, baik wayang orang maupun wayang kulit. Kisah si kera sakti yang tak mempan dibakar, malah ganti membakar dan mengobrak-abrik kerajaan Negeri Alengka.

Sang kera putih bukannya mati terbakar, namun merajalela menggunakan api yang berkobar pada tubuhnya untuk membakar kerajaan Alengka. Bahkan dia berhasil melarikan diri dan melaporkan peta kekuatan angkatan perang Alengka kepada Rama Wijaya.

Perang besar di Alengka. Rama dengan bala tentara pasukan kera menyerbu Alengka. Sedangkan para raksasa bala tentara Alengka menahan serbuan para kera sakti dengan gagah berani pula.

Di tengah medan perang yang dahsyat, kehebatan Kumbakarna yang turut berperang membela negara Alengka. Meskipun berwujud raksasa, kasar dan posturnya tinggi besar, namun sesungguhnya Kumbakarna adalah pribadi yang jujur, bijaksana dan memiliki jiwa nasionalisme yang mengagumkan.

Dia tahu benar bahwa tindakan Rahwana sang kakak tidak benar. Bahkan dia berusaha selalu mengingatkan, meskipun tidak pernah digubris Rahwana.

Karena negeri Alengka tanah tumpah darahnya diserang musuh, jiwa nasionalisme Kumbakarna terketuk. Dia berdiri di barisan terdepan untuk membela tanah tumpah darah sampai titik darah penghabisan. Kumbakarna mati di tangan Rama hanya karena membela Rahwana sang angkara murka.

Rama harus bertarung sangat keras untuk mengalahkan Kumbakarna. Saat kedua tangannya telah terpotong, Kumbakarka masih mampu berperang dengan kakinya yang berukuran raksasa menginjak-injak baletentara kera. Kemudian Rama memotong kedua kali Kumbakarna, namun dia masih tetap berperang dengan menggelindingkan tubuhnya yang luar biasa besar. Namun akhirnya Kumbakarna gugur sebagai pahlawan bangsa setelah terkena panah sakti Rama.

Pilkada 2017 mengingatkan saya memori sepenggal kisah mitologi Jawa yang saya baca dan menyaksikan dalam Sendratari Ramayanan di Candi Prambanan Medio 90-an. Bagaimana Ahok mendapat tekanan bertubi2, dikrimininalisasi, berbagai kekerasan verbal menjadi korban diskriminasi rasial sampai akhirnya tumbang secara politik dalam Pilkada DKI Jakarta 19 April 2017. Ahok ibarat Kumbakarna yang gugur ditangan Rama sebagaimana al kisah di atas. Kumbakarna tidak mungkin gugur dan negeri Alengka mustahil jatuh ditangan Rama Wijaya seandainya saja Rahwana tidak menghukum Hanoman. Kesalahan terbesar Rahwana (Jokowi) memecat sembarang dari posisi menteri tanpa menghitung hutan Budi dan jasa atas perjuangan mereka. Pasti Hanomanan, Anies Baswedan Sakit hati dan nyatakan perang atau lawan dan hari ini kita saksikan beliau telah sukses obrak abrik segala jabatan, uang dan otoritas dimiliki oleh Ahok maupun juga Jokowi. Sakitnya Hanoman (Anies) karena Rahwana (Jokowi) kakanya Kumbakarna (Ahok) memberi hukuman yg kejam langsung pemecatan dari kursi menteri. Bagaimanapun Anies berguru pada bosnya Prabowo Subianto pemimpin perang ibarat Ramawijaya menyerbu negeri Alengka (Jakarta) berhasil dikuasai setelah menewaskan Ahok sang Kumbakarna.

Tidak bisa disangkal bahwa kematian kumbakarna karena ulah Rahwana, hari ini juga kekalahan Pilkada Jakarta Karena ulah Jokowi yang menggunakan segala kekuasaan dan jabatan untuk menyerang semua orang yang bertentangan atau tidak sejalan. Orang-orang dekatnya yg pernah berdarah2 dipecat, istana diisi orang2 oportunis yg tidak berkorban, Partai politik dihancurkan, aktivis ditahan dan dikriminalisasi, kelompok Islam dianggap musuh, Pesoalan HAM diabaikan, tiap Kamis berjemur didepan istana diabaikan, rakyat kecil korban sia2 karena cor kaki diabaikan, kemiskinan, pengangguran, kematian anak dan ibu yang meningkat bahkan kue kekuasaan hanya dinikmati kelompok kecil (oligarky), pembangunan Infrastuktur yg penuh dengan manipulasi dan pembohongan, gagal membangun energi 35 ribu Megawatt, pembangunan 19 kawasan industri yg belum jadi Satupun, hukum tumpul ke atas dan tajam kebawah, peningkatan korupsi, kolusi dan nepotisme, penetrasi kapital dan mafia menguasai sumber daya alam, 6000 orang papua ditangkap, dianiaya, disiksa dan dibunuh selama 2,5 tahun kepemimpinan Jokowi, dibawah kepemimpinannya masalah Paniai, masalah Tolikara, Manokwari, yahukimo, Timika dan jayapura serta berbagai kasus lainnya. Sebagai persoalan di pemerintahan tersebut diatas mendasari rendah elektabilitas publik terhadap Ahok. Kita tidak adil hanya menyalahkan seorang Ahok karena seperti kumbakarna yang tidak pernah bersalah tetapi beliau menjadi korban secara sadis oleh pasukan kera yg dipimpin oleh Rama. Yang harus bersalah dan merefleksikan atas kekalahan ini adalah Rahwana (Jokowi) Karena Ulahnya. Karena itu, kematian kumbakarna (kekalahan Ahok) harus dihormati sebagai nasionalis tulen dan patriotik yang jujur tetapi kita juga akan menyaksikan dengan senjata bernama Jayawijaya Ramawijaya (Prabowo) akan menusuk dan menumbangkan Rahwana (Jokowi) 2019. (Natalius Pigai, Jakarta).

Subscribe to this RSS feed

__Topik-Topik Pilihan__ Patut Dibaca;;;