Дървен материал от www.emsien3.com

The best bookmaker bet365

The best bookmaker bet365

Menu
RSS
Jokowi Diminta Tegas Soal Penembakan di Papua

Jokowi Diminta Tegas Soal Penembaka…

PESEKUTUAN Gereja-Ge...

Paus Fransiskus Larang Anak Pegang HP di Kamar Tidur

Paus Fransiskus Larang Anak Pegang …

Pasu Fransiskus kemb...

Diisukan, Ufo Sering Muncul di Mapia - Papua

Diisukan, Ufo Sering Muncul di Mapi…

{flike}BOMOMANI - Me...

Buku Yoman Dijual Diam-Diam

Buku Yoman Dijual Diam-Diam

{flike}HOLANDIA - Ho...

Jokowi Siap Menjadi 01 Republik Indonesia

Jokowi Siap Menjadi 01 Republik Ind…

JAKARTA - Saat blusu...

Rio Grime (2): Gabungan Air Mood Band dan Seniman Teater Budaya Papua

Rio Grime (2): Gabungan Air Mood Ba…

Musisi dan penyanyi ...

Ketua BP Presiden Jokowi-JK Dogiyai Dukung Natalis Pigai Jadi Menteri Perumahan Rakyat atau PDT

Ketua BP Presiden Jokowi-JK Dogiyai…

{flike}NABIRE – Ketu...

Sejak 100 Tahun Lalu?

Sejak 100 Tahun Lalu?

PARA AHLI Alkitab me...

Pupu Papa Artinya Penghembus Bercahaya?

Pupu Papa Artinya Penghembus Bercah…

ADA BEBERAPA penelit...

Di Tubuh Seorang Pemabuk

Di Tubuh Seorang Pemabuk

ALKOHOL jelas berbah...

Prev Next

In order to view this object you need Flash Player 9+ support!

Get Adobe Flash player
A+ A A-

Paus Fransiskus Larang Anak Pegang HP di Kamar Tidur

Pasu Fransiskus kembali peringatkan kepada orang tua untuk menjauhkan ponsel, pc atau laptop dari anak anak khususnya di kamar tidur. Paus kwatir, penggunaan alat-alat elektronik di kamar tidur, bisa membebaskan anak untuk browsing konten-konten bebas yang tak patut dibuka anak-anak. 

Pesan itu disampaikan Paus dari atas pesawat yang mengantarnya kembali dari kunjungannya ke Bosnia Herzegovina.

Dilansir Priemer Christian Radio pada Selasa 9 Juni 2015 silam,  Paus mengkritik orang-orang yang "terlalu lekat pada komputer, buruk bagi jiwa" dan "membuat Anda menjadi budak bagi komputer Anda."

Paus meminta orang tua, agar  menempatkan komputer di ruang komunal supaya tetap dapat mengawasi ketika mereka menggunakannya. Pengawasan ini penting agar anak-anak terhindari dari konten vulgar atau program yang kosong dan tanpa nilai. Apalagi game di Hp android.

Koran Tempo 12 Juni 2015 mengutip pernyataan Paus, dunia online adalah bagian dari kemajuan umat manusia dan kenyataan yang tidak bisa kita abaikan. "Tapi ketika dibutuhkan jauh dari komunal dan kehidupan keluarga, kehidupan sosial, olahraga, seni dan kami tetap melekat pada komputer kita, ini adalah penyakit psikologis. Ini pasti."

Dia berbicara tentang bahaya yang lebih luas dari komputer, televisi dan telepon pintar. Paus berujar, orang tua merasa anak-anak berada di 'dunia lain' ketika mereka mencoba untuk memiliki waktu bersama keluarga, seperti makan bersama.

Meski Paus Francis memiliki sekitar 19 juta pengikut di situs media sosial Twitter, tetapi dia tidak banyak terlibat di dalamnya. Paus mengatakan ia belum menonton televisi lebih dari 20 tahun, atau terhitung sejak 1990. (ist/swp)

Read more...

2 Pesan Penting ini Disampaikan Uskup Timika Saat Berkati Makam Auki

Dalam upaya mewujudkan Modio sebagai tempat bersejarah dan berziarah, umat Paroki Modio merenovasi makam Auki yang terletak di bukit Gokoti. Pada saat yang bersamaan pula, umat Paroki membuat jalan salib yang melingkari kampung Modio. Sebelum memberkati dua tempat penting ini, uskup Timika, Mgr Jhon Philip Saklil, Pr memimpin misa kudus di Gereja Modio pada tanggal 27 Desember 2015 lalu.

Ketika memberikan kotbah, uskup menyampaikan dua hal pokok kepada generasi muda. Kedua hal  tersebut menjadi sangat penting bagi siapa saja sehingga uskup mengharuskan jemaatnya untuk diingat. Dan bahkan uskup mengatakan, dua pesan ini rugi bagi mereka yang tidak mendengarkannya. 

1. Jangan Merepotkan Orang Tua

Pesan pertama yang disampaikan uskup yaitu, jangan merepotkan orang tua yang telah melahirkan kita. Kalau sudah pergi sekolah, kalau sudah pergi kawen, kalau sudah dewasa, jangan kembali repotkan orang tuamu. Berusaha mandiri dan membantu ringankan beban orang tua kita.

Jangan bawa datang anak anak dipiara orang tuamu. Kalau sudah dewasa, jangan bebankan semua masalah dan keluhan kepada orang tua. Jadilah orang yang mandiri atas keringatmu sendiri. Hikmah hidup sesungguhnya ada disana. Dan kesuksesan seseorang diukur disana.

Tetapi jikalau anda masih mengandalkan dan merepotkan orang tua, maka anda belum berhasil dan perlu kita renungkan kembali.

2. Rumah Sendiri

Pesan kedua yang disampaikan bapak Uskup, yaitu, hendaknya setiap keluarga miliki rumah sendiri. Jangan lagi tampung tampung di rumah orang tua. Suatu saat bila kita meninggal, maka lebih baik meninggal di rumah sendiri. Jangan lagi bikin beban sama orang tua atau tuan kost.

Kata uskup, kalau mau bikin rumah, jangan tunggu setelah jadi pejabat. Tapi mulai sekarang, kumpul bahan satu per satu. Nanti kalau bahan sudah terkumpul, barulah dirikan dirumah. Jangan pula tunggu pemerintah, sebab, pemerintah jaman sekarang sudah tidak punya hati.


Read more...

Rekaman Penetapan Auki Tekege Sebagai Tokoh Gereja Oleh Uskup Timika

Bulan Oktober 2015 di wilayah Mapia, berbeda dengan tahun tahun sebelumnya. Selain munculnya musim Jangkrik yang menjadi makanan bergizi bagi masyarakat setempat, di bulan yang sama juga, tokoh masyarakat Mapia, Auki Tekege, ditetapkan menjadi Tokoh Gereja oleh Uskup Timika, Mgr John Philip Saklil, Projo.


Suasana penetapan Auki Tekege sebagai Tokoh Gereja menjadi unik dan meriah, karena, selain cuaca diwilayah Meuwodide kemarau berkilau, dan pada saat yang bersamaan pula,  warga jemaat Gereja Kingmi Papua memilih Ketua Sinode Papua  dan terpilih kembali Pdt Dr Benny Giay untuk memimpin lima tahun berikutnya. Dua peristiwa besar di Wilayah Dogiyai ini sedikitnya membawa angin segar bagi perkembangan iman Kristen di wilayah jantung taman Firdaus ini.

Berawal dari rencana kunjungan Uskup Timika ke beberapa paroki di Mapia, maka paroki Modio mendadak mempersiapkan tiga acara penting. Diantaranya adalah penerimaan Sakramen Krisma, peletakan batu pertama pastoran Modio, dan penetapan Auki Tekege sebagai tokoh Gereja. Terlihat pastor paroki Modio, Alfons Biru Kira Projo sibuk memompa warga Modio, termasuk yang ada di Moanemani, Timika dan Nabire.

Acara penetapan Auki Tekege sebagai Tokoh Gereja oleh Uskup Timika menjadi perhatian penting masyarakat Meuwodidee. Mereka bertumpah ruah dari berbagai daerah. Mulai dari daerah Nabire, Lembah Kamuu, Kabupaten Paniai dan Deiyai serta beberapa umat dari Timika, Serui dan Jayapura.

Hadir pula tokoh-tokoh pendidikan dari Meuwodide. Diantaranya, guru Barnabas Kedeikoto, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Paniai Amatus Tatogo, Natalis Kotouki, Frans Tekege, Sesilius Tekege, Sesilius Kedeikoto, Paulus Tekege, Stefanus Petege, Willem Kotouki, Niko Kedeikoto, Rosa Degei, Ibu Bupati Dogiyai Yohana Yobe, ibu Guru Alida Yobe, Bapak Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Dogiyai, Andreas Yobe dan Sekretarisnya, Bapak Yanus Kuayo. Hadir juga Direktur Majalah Selangkah, Bapak Yermias Degei, Bapak Philipus Magai,  ibu Wakil Bupati Paniai, Yosephina Tekege dan sejumlah tamu undangan. Banyak tokoh tidak hadir karena undangan tidak tiba di tangan.

Ibu Wakil Bupati Paniai, Yosepina Tekege ketika menyumbangkan babi 1 ekor mengaku terharu dan bangga terhadap tokoh Auki Tekege yang telah membawa terang sehingga daerah Meuwodide ini bisa berkembang pesat hingga saat ini. Banyak intelek dan pejabat daerah bermunculan karena jasa seorang Auki Tekege. Oleh sebab itu, jasa Auki Tekege perlu dikenang dengan membuat tugu atau Monumen masuknya Agama Kristen di Modio. Dirinya juga mengaku dibesarkan oleh Andreas Tekege dan bisa dialek Mapia.   

Hari Sabtu, tanggal 17 Agustus 2015, arca Auki Tekege diarak dari rumah Kediaman Bapak Auki Tekege yang kini dijadikan Kantor Distrik Mapia Tengah. Perwakilan dari lima marga yang ada di Modio mengantar arca Auki ke lokasi gereja Katolik. Arca itu diserahkan kepada Uskup untuk diberkati dan ditetapkan Auki sebagai tokoh Gereja. Saat penyerahan, salah satu keluarga Auki, Mantri Daniel Tatogo mengatakan, arca ini hanya nampak wajah Auki, tetapi didalam arca ini terikut pula teman-temannya yang ikut berjuang menghadirkan Agama di wilayah suku Mee dan Migani. Disana ada Wagakei Gobai dari Yerou, disana ada Zoalkiki Zonggonao bersaudara dari Migani, Gobay Pouga Gobay dari Paniai, Itani Mote dan Timada Badi dari Tigi, Papa Goo dari Kamu, Tomaigai Degei dari Degeuwo, Pisasainawi Magai dari Piyakebo, Dekeigai Degei dari Putapa, Enagobi Gobai dari Pogiano, Tubasawi Tebay dari Toubay, Motei Pouga Mote dari Adauwo dan Dakeugi Makai dari Pisaise. 

Uskup menerima arca Auki dan esoknya, tanggal 18 Oktober 2015, usai ibadah, Uskup Timika secara resmi menetapkan Auki Tekege sebagai Tokoh Gereja. Uskup menanda tangani dengan tinta emas, dan umat Meuwo yang hadir langsung melakukan tarian Waita pertanda ucapan terima kasih, kebanggaan atas terangkatnya eksistensi Manusia Papua proto lewat penetapan Auki Tekege sebagai Tokoh Gereja oleh Uskup Timika.  

Auki  ialah manusia pra Modern yang belum tahu apa itu Injil atau Alkitab, apalagi perkembangan dunia luar. Tetapi, dari alam wilayah Meuwo yang masih gelap, Auki bermimpi dan berjuang gigih menghadirkan Firman Allah di daerah pedalaman Papua melalui hubungan dagang yang sudah dijalin lama dengan suku Kamoro.

Dalam sejarah perkembangan bangsa barat ke wilayah ekspansinya, kedatangan pemerintah dan misionaris barat sering terjadi kontak senjata dengan bangsa pribumi. Namun pertemuan Auki dengan para misionaris terjalin dalam suasana damai dan saling memandang satu sama lain sebagai ciptaan Tuhan. Oleh karena itu DR JV de Bruijn dalam bukunya berjudul Het Verdwenen Volk menyebut  Auki sebagai orang yang bijak dan berpengalaman, juga berprestasi dan berkemampuan dengan menguasai beberapa bahasa suku-suku tetangga.

(Auki is echter een bereisd man, waaraan hij zijn prestige ontleent. Hij heft de zee, maikaida, gezien. Hij ruilhandel drijft-tabak tegen zout de Mimikataal).[1]

Auki berkali-kali berjanji kepada rakyatnya bahwa pada suatu saat, ia akan menghadirkan Firman Tuhan. Tetapi usaha-usaha awal selalu gagal dan karenanya ia dipanggil Tapehaugi. Auki baru bisa bertemu Pater Tillemans pada tahun 1932 di Kamoro. Pada pertemuan awal itu, Auki diperiksa secara antropologis dan biologis oleh dr Bijmler.

Pada kesempatan itu, Auki meminta misionaris dan pemerintah Belanda datang ke wilayah pedalaman Meuwodide, karena di daerah pedalaman masih ada banyak penduduk yang membutuhkan uluran tangan dan Firman Tuhan. Pater Tillemans hanya berjanji, bahwa setelah tiga tahun, tepatnya 1935, Pater bersama rombongan akan merayakan Natal di Modio. Mendengar informasi itu, Auki bersama rombongannya pulang ke kampung Modio dengan suka ria.

Ada satu peristiwa penting yang patut dicatat bahwa, Auki sebelum bertemu Pastor Tillemans di Mimika, Auki bersama rombongan mendapat satu tanda besar di tengah jalan, tepatnya di kampung Mokobike. Seorang Malaikat Tuhan turun dari langit dan memberkati rombongan Auki satu persatu. Pada kesempatan itu pula, suami Debehaidoge Gobay itu diberi nama Auki yang mengandung arti, Engkau Manusia Hebat. Sepupunya Mebaigai diberi nama Wagekei Gobay, Kotoukipaa dinamai Manamei dan Nokuwopaa dinamai Manimei.

Malaikat itu juga memberikan Hukum Pertama dan Utama bagi bangsa Papua  lewat Auki Tekege berupa seutas tali dari pohon GAI. GAI mengandung arti, berpikirlah sebelum bertindak, berhati-hatilah sebelum melakukan sesuatu. Jadikanlah pikiran dan akal budimu sebagai kapten, sebab Tuhan Allah bersemayam dalam pikiran dan suara hati setiap insan umat manusia.

Dengan kekuatan ini, Auki tidak ragu-ragu ketika bertemu Pater Tillemans dan juga dengan sesama kepala suku di tanah Papua.

Tiga tahun kemudian, tepatnya 21 Desember 1935, rombongan pater Tillemans dan Tim Ekspedisi Bijmler berangkat dari Mimika menuju Modio. Mereka berencana merayakan Natal bersama Auki di Modio. Namun karena faktor cuaca, 25 Desember 1935 dirayakan di Tihokapau, sebuah gunung diatas kampung Modio. Esoknya, 26 Desember 1935, rombongan Pater Tillemans tiba di Modio. Hari itu juga Auki perintahkan dua anak buahnya, Minehatawi Tatago dan Dakeugi Makai untuk pergi memanggil Kepala-Kepala Suku dari Wilayah  Moni, Tigi, Paniai dan lembah Kamuu untuk datang bersalaman dengan Pastor Tillemans di Modio.

Mereka yang hadir diantaranya; Zoalkiki Zonggonao dan Kigimozakigi Zonggonau dari Migani, Gobay Pouga Gobay dari Paniai, Itani Mote dan Timada Badi dari Tigi, Papa Goo dari Kamu, Tomaigai Degei dari Degeuwo, Pisasainawi Magai dari Piyakebo, Dekeigai Degei dari Putapa, Enagobi Gobai dari Pogiano, Tubasawi Tebay dari Toubay, Motei Pouga Mote dari Adauwo dan Dakeugi Makai dari Pisaise.

Engelbertus Primus Degey dalam buku berjudul Tanah Papua di Garis Batas menulis, dalam 10 hari saja, Kepala-Kepala suku itu berkumpul di Modio dan merayakan pesta perdamaian (yang dalam bahasa Mee disebut Tapa Dei). Pada kesempatan itu, Pater Tillemans membuka injil dan merayakan misa kudus pertama, dan diakhiri dengan rapalan Minesaitawi Tatago. Peristiwa ini terjadi diatas tanah Kadihoepa, kampung Modio. Diperkirakan berlangsung antara tanggal 4 – 10 Januari 1936.

Diharapkan, antara tanggal 4 sampai dengan tanggal 10 Januari setiap tahun dijadikan sebagai tanggal bersejarah bagi masyarakat Papua di wilayah pedalaman Papua. Sama seperti di Mansinam Papua Barat, yang mana tanggal 5 Februari dijadikan sebagai hari masuknya Agama Kristen di tanah Papua.  

Setelah 80 Tahun, kesadaran akan pentingnya menghargai dan mengangkat sejarah besar itu muncul dari benak seorang pastor muda, Pastor Paroki Modio, Pater Alfons Biru Kira, Projo. Ia mulai mangajak umat, mempersiapkan berbagai hal, mengumpulkan berbagai dokumen sejarah Auki dan pergi meminta Uskup Timika untuk datang menetapkan Auki Tekege sebagai Tokoh Gereja. Alasannya cuma satu, karena Auki ialah seorang manusia pra modern yang dengan kesadaran penuh, pergi meminta kehadiran agama Kristen di wilayah Meuwodidee, dengan demikian, Auki patut disejajarkan dengan tokoh-tokoh gereja yang lain di dunia. Auki ialah sosok pembawa terang bagi masyarakat koteka. 

Dalam sesi wawancara dengan Kepala Distrik Mapia Tengah, Engelbertus Primus Degey memuji Pastor Paroki Modio, Pastor Alfons Birukira Projo yang telah memompa umat, mempersiapkan berbagai hal dan meminta Uskup untuk menetapkan Auki sebagai tokoh gereja. Degei mengaku, program pembuatan tugu telah diusulkan berkali-kali lewat Musrembang tingkat kampung dan distrik, namun tidak pernah lolos ditingkat kabupaten. Apalagi kalau tidak didukung oleh masyarakat pemilik lokasi, (LMA) dan (LSM), maka, akan muncul generasi yang lupa sejarah, lupa harga diri dan identitas.

Fakta sejarah di Mapia, bahwa ada beberapa tempat penting yang patut dibuatkan monumen bersejarah, diantaranya, lokasi masuknya agama Kristen Protestan di Pekunopa kampung Adauwo bersama tokoh Petrus Makai, Patung Pater Zwarses, OFM di Kampung Timeepa, Patung Komeha Magai di Megaikebo, Patung Wagakei Gobay di Yeroukotu, Patung Dakeugi Makai di Apouwo dan Patung Adam dan Hawa di Egadimi. Alasannya cuma satu,  yaitu bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah masa lalu dan tentu akan berguna bagi generasi mendatang. Dengan demikian, semua pihak sudah saatnya untuk saling mendukung, bahu membahu membangun wilayah Meuwodide ini sebagai tanah yang bersejarah dan berziarah bagi bangsa-bangsa akhir jaman. 

Sejarah panjang Auki Tekege bersama teman-temannya, merupakan bukti bahwa leluhur orang Papua sungguh sangat menghargai karya besar Tuhan bagi umat manusia.

Auki Tekege sekalipun tokoh yang pernah meminta  kehadiran misionaris pada tahun 1932, tetapi, daerah Mapia pernah dilupakan selama 20 tahun. Dari tahun 1936 – 1952, daerah Mapia tidak ada guru, pendeta, pastor, apalagi jalan raya. Pada saat itu, Auki Tekege menjadi guru agama pertama orang Mapia. Ia menunjukkan gambar Tuhan Yesus kepada rakyatnya. Ia juga menunjukkan cermin besar pemberian Pastor Tillemans kepada rakyatnya. Setiap orang bisa melihat dirinya, dan mulai menyadari bahwa ada orang lain yang memperhatikan perbuatan manusia setiap hari. Rakyat mulai bertobat dan berupaya mengikuti jalan Tuhan Yesus.

Auki lebih banyak mengajarkan falsafah Gai atau berpikir dan mengajak keluarga-keluarga untuk saling menghargai satu sama lain. Ajarannya ditirukan oleh guru Frans Tekege berikut ini.

Auki juga pernah ditangkap dan dipenjarakan tentara Dai Nippon Jepang pada tahun 1942. Ketika itu, Auki bersama temannya Ikoko Nokuwo pergi meminta guru di Mimika. Daerah sekitar danau Paniai, Tigi dan Tage berkembang dengan cepat. Pesawat Amfibi dengan Pilot Jan Wissel mendroping banyak guru dan kebutuhan misionaris. Auki juga pernah dibenci beberapa kepala suku, karena banyak pemuda yang nakal, ditangkap dan dipenjarakan pemerintah Belanda.

Perjuangan Auki meminta Pastor baru dijawab Pater Stetenpol dari Ugapuga. Daerah Mapia diberikan seorang pastor bernama Engelbert Hengk Smith. Pastor ini selain mewartakan firman Tuhan, ia juga menjadi mantri, tukang bangunan dan mengirim banyak anak muda ke Kokonau untuk menempuh pendidikan sekolah dasar di VVS Kokonao.

Auki dibabtis menjadi orang Katolik pada tanggal 19-07-1958 bersama rekan-rekannya dari Mapia oleh Vikaris Apostik dan Uskup Tituler Mosynopolis Irian, Mgr. Dr. Staverman di Modio.  Pada tahun 1962,  Auki meninggal dalam usia muda. Beliau dimakamkan di Gokotikapau, yaitu sebuah gua yang sudah dipilih sebelumnya.

Sebelum Auki meninggal hanya ada satu pesan yang ditinggalkan kepada anak-cucunya, kepada orang Modio dan Mapia khususnya dan orang Irian umumnya.

AUKI bukan milik Tekege paa

AUKI bukan milik Tatago paa

AUKI bukan milik orang Modio

AUKI bukan milik orang Mapia

AUKI bukan milik orang Pedalaman

AUKI bukan milik orang Melanesia

 

Tetapi …………….

 

AUKI adalah  milik setiap insan manusia

Yang mencintai dan mencari firdaus

AUKI adalah simbol firdaus yang hilang

Yang mencari dan menemukan Kabo-Mana

Untuk kita


----------------------------------------------

[1]   Prof. DR. J.V. de Bruijn, ibid. p. 121.


 

 

 

Read more...
Subscribe to this RSS feed

__Topik-Topik Pilihan__ Patut Dibaca;;;