Дървен материал от www.emsien3.com

The best bookmaker bet365

The best bookmaker bet365

Menu
RSS

In order to view this object you need Flash Player 9+ support!

Get Adobe Flash player
A+ A A-

Touyelogi, Bukan Metafisika

Ilmu yang mempelajari tentang YANG ADA dicari-cari oleh Aristoteles sejak beradad-abad yang lalu. Ia bingun memberikan nama tentang ilmu yang mempelajari setelah FISIKA, ilmu yang lebih tinggi dari segala ilmu. Dalam buku IV Aristoteles mengatakan bahwa ada suatu ilmu yang bertugas mempelajari "yang ada" (to on hei on; "being as being" atau "being as such").

Oleh para ilmuan berikutnya memberi nama ilmu yang dicari-cari Aristoteles itu dengan nama Metafisika, yaitu ilmu yang mempelajari setelah fisika atau sebelum fisika. Tetapi ilmu ini lebih mirip Ontologi yaitu disiplin ilmu yang mempelajari kategorisasi benda-benda di alam dan hubungan antara satu dan lainnya. Atau khusus untuk mempelajari tenaga dalam.
 
Banyak ilmuan juga meyakini, ilmu yang dimaksud Aristoteles ialah ilmu Theologi, tetapi ternyata ilmu ini hanya lebih khusus mempelajari tentang keAllahan.
 
Oleh karena itu, menurut saya, ilmu yang dicari-cari oleh mas Aris (maksud saya Aristoteles), yaitu Touyelogia, yaitu ilmu yang mempelajari segalanya yang ada. Ilmu ini pertama kali digali dan diangkat oleh filsuf Manfred Mote dan Yakobus Wakei sejak 1992, dan saya mencoba terus menggali dan mempertahankan sekaligus memperkenalkan bahwa sebenarnya, ilmu yang dicari-cari para ahli tersebut adalah Touyelogi.
 
Terkait pengantar Touyelogi: definisi, sejarah, batasan dll sedang saya persiapkan. Singkatnya, Aristoteles mencari ilmu yang mempelajari tentang “yang ada”, dan ilmu tersebut adalah Touyelogi. TOU = ada, TOTA = sudah ada, TOONA = sedang ada, TOUTA = akan ada dan TOUTO = selalu ada, TOUYE = paham atau aliran yang mempelajari tentang ADA (ada sejak dulu, sekarang dan sampai selama-lamanya).
 


Read more...

Monyet di Taman Firdaus

Sepekan terakhir ini diberbagai media (kecuali media televisi) memberitakan ejekan kepada mahasiswa Papua dengan julukan monyet oleh Polisi dan beberapa ormas disana. Orang Papua tidak terima cemoohan tersebut dan menganggap orang Yogya rasis dan tidak berbudaya. Berikut ini perlu saya sampaikan secara singkat hasil penelitian saya dan pandangan saya terhadap keberadaan monyet dalam hubungannya dengan orang Papua.

Bahwa, Papua adalah taman Firdaus yang pernah disebut dalam kitab genesis maupun Alquran. Papua adalah janata (surga), wa nur (negeri bercahaya/emas), atau hadiqah al haqiqah (taman kebenaran berdinding). Alkitab juga menyebut taman Eden dipagari dengan kerub yang bernyala nyala dan menyambar. Hasil penelitian saya, semua terangkum dalam tessis autodidak saya yang berjudul Mapia (Mengungkap Kasus Hilangnya Taman Firdaus).

Taman kebenaran berdinding itu berlapis. Mengapa berlapis, logikanya disini: bagi manusia 1000 hari, bagi Allah ketika mengilhami Nabi Musa, hanya 1 hari. Hari ini jadi malam, besok rumput tumbuh dan hari ketujuh terjadilah taman itu. Bagi manusia, dalam dongeng geologi, awalnya hanya Pangea, terjadi gempa bokar, terbagi dua benua bokar dan satunya dinamai godwana. Begitu terus sampai di jaman es kemarin: Papua baku lepas dengan Australi akibat es kutup cair.

Secara singkat bahwa, apabila peristiwa geologi dihubungkan dengan kisah genesis, maka proses penciptaan itu mengarah pada satu taman yang indah, penuh emas, tidak ada binatang buas, dan jelas jelas dipagari oleh para kerub.

Dari semua bukti yang saya temukan, khusus menyangkut pagar diatas, ada sekitar lima lapis. Pagar pertama dan pagar kedua berada di jantung tanah Papua. Pagar ketiga disepanjang pesisir tanah Papua. Pagar keempat terletak di Ambon Tidore dengan julukan Lineker Line. Dan pagar terakhir dikenal dengan nama Wallace Line.

Apa yang terjadi dengan pagar pagar ini? Hari ini kalau orang Yogya bawa datang seekor monyet untuk pelihara di Papua, jelas monyet itu mati ketika melewati Wallace Line. Tidak sampai tiba di Papua orang sudah buang bangkai Monyet di kupang atau di Palu.

Apalagi binatang buas lainnya seperti Kobra, Singa, Harimau, Gajah, Untah bodoh. Tuhan Allah sudah usir keluar taman Eden atau Taman Firdaus itu.

Terkait keturunan monyet. Bahwa makalah Alfred Russel Wallace ketika melakukan penelitian kupu kupu di Papua dan Halmahera, beliau tidak pernah temukan kepongpong berubah menjadi burung. Kadal berubah menjadi buaya. Menurutnya, makhluk hidup berevolusi sesuai jalurnya, jenis, rasnya, marganya, keluarganya. Tertib dan teratur. Namun sayangnya, makalah itu diplagiatkan oleh Darwin di Inggris dan dunia tertipu hingga detik ini di Yogya.

Orang Papua juga jangan seenaknya menyebut orang Jawa turunan kera atau monyet, karena jenis binatang itu banyak disana. Atau karena Pithecantropus ditemukan disana dan fosil wajahnya lebih mirip kera. Yang jelas, kalau kita cermati Genesis, sebenarnya manusia diciptakan dua kali. Manusia pertama di luar taman Eden yaitu rombongan manusia purba, dan ada manusia yang berasal dari taman Firdaus. Ada Firdaus Kenya turunkan ras Kushoid. Ada Firdaus Afsel turunkan ras Negroid, ada Firdaus Athena Yunani turunkan ras Kaukasoid, ada Firdaus Mongol turunkan Mongoloid, Firdaus Bali turunkan ras Weddoid, dan terakhir Firdaus Papua yang turunkan ras Astro Melanesoid.

Pembagian ras inilah yang menurut saya pas, karena beberapa antropolog cenderung menghilangkan ras Weddoid dan memaksa ras ini bergabung dengan ras Astro Melanesoid.

Akhir kata bahwa, oknum oknum Polisi dan ormas di Yogya bahwa orang Papua adalah monyet adalah salah besar. Orang Yogya sudah tidak istimewah lagi di mata kami. Oknum oknum itu telah mencoreng nama Jawa dan budayanya. Mereka bukan menghina orang Papua tetapi menghina diri mereka sendiri, khususnya yang melontarkan kata kata itu.



Read more...

Papua Tengah Mencekam

Per 23 Mei 2016, beberapa kota di Papua Tengah, seperti di Abouyaga, Modio, Moanemani, Topo dan Nabire masih dihantui rasa takut, paska ada temuan potongan-potongan manusia di pinggir kali dan gunung.

Tadi malam, sekitar jam 03.00 Wit, sekelompok manusia bertopeng menebas tubuh Pc Pigome dan Hendrikus Semu di Wonorejo. Setelah menebas kedua korban dengan parang, rombongan bermotor itu menghilang. Esoknya, tadi pagi pihak keluarga melaporkan kejadian tersebut kepada polisi dan Polisi Nabire menduga ada kelompok yang memanas-manasi situasi.

Sebelumnya, ada informasi warga, bahwa, ada segerombolan pemuda, dibekali parang tajam dan senter memantau rumah-rumah warga pada malam hari. Bahkan di Topo, seorang pemuda ditangkap warga ketika sedang membuka daun seng rumah. Pemuda itu kemudian mengaku, "Kami sudah ambil uang untuk memutilasi warga Papua".

"Herannya, tak satupun media di Papua mengangkat dan mengungkap aksi tragis ini", ujar Simon Kotouki, warga Topo, awal Mei ini.

Dirinya meminta kepada pihak keamanan dan masyarakat, khususnya intelektual dan penegak HAM di tanah ini mencari tahu otak pelaku adu domba warga Papua ini.

Sejumlah pihak, termasuk LMA tanah Papua sudah semakin tidak sabar mengkritik institusi atau lembaga ataupun negara yang telah mendonasi warga Papua, khususnya generasi muda Papua untuk membunuh sesama warga Papua lain.

Trik ini pernah dipakai untuk membunuh orang Papua, khususnya pengurus LMA di tanah Papua. Kelompok itu memakai anak-anak Papua yang putus sekolah, susah uang, untuk membunuh tokoh orang Papua sendiri. Bila tidak berhasil, nyawa pemuda-pemuda itu tidak selamat.

Hingga berita ini diturunkan, tak satupun media di tanah Papua yang menurunkan informasi terkait dilema mutilasi orang Papua sedang semarak di wilayah Papua bagian tengah.(swp)



Read more...
Subscribe to this RSS feed

__Topik-Topik Pilihan__ Patut Dibaca;;;