Дървен материал от www.emsien3.com

The best bookmaker bet365

The best bookmaker bet365

Menu
RSS
Rakyat Mapia Tengah Masih Menunggu Jalan Trans Moanemani Modio

Rakyat Mapia Tengah Masih Menunggu …

POGIBADO - Tokoh mas...

Inikah  Hadiah Natal TNI/POLRI Bagi Rakyat Papua di Paniai?

Inikah Hadiah Natal TNI/POLRI Bagi…

TRAGEDI 8 Desember 2...

Kisah Auki (4): Pentingnya Gerakan Edage Bagee

Kisah Auki (4): Pentingnya Gerakan …

Kedatangan misi dan ...

Tetedemai (Kepala Batu)

Tetedemai (Kepala Batu)

Dan pada akhirnya ak...

Koyeidaba dan Touye Kapogeiye (1)

Koyeidaba dan Touye Kapogeiye (1)

KOYEIDABAA ialah tok...

Suara Adzan Siap Menggema di Vatikan

Suara Adzan Siap Menggema di Vatika…

TIMUR TENGAH - Untuk...

Hindari Papua Makan Papua

Hindari Papua Makan Papua

1). Di Papua, sebaga...

Kepada Dubes Australia, Enembe Minta Pemerintah Pusat Patuhi UU Otsus

Kepada Dubes Australia, Enembe Mint…

JAYAPURA – Gubernur ...

Usai Dolly Ditutup, SMS-SMS Ini Beredar

Usai Dolly Ditutup, SMS-SMS Ini Ber…

{flike}SERUI - Usai ...

Pemekaran Picu Banyak Konflik di Tanah Papua

Pemekaran Picu Banyak Konflik di Ta…

JAKARTA - Selain per...

Prev Next

In order to view this object you need Flash Player 9+ support!

Get Adobe Flash player
A+ A A-

Maaf

Maaf

03 Juli 2012. Tepat hari itu adalah hari terakhir, dimana para peserta didik baru mengikuti Masa Orientasi Peserta Didik Baru (MOPD). Saat itu sebenarnya saya tidak tergolong dalam panitia MOPD. Tapi karena waktu itu posisi saya di kepengurusan Osis sebagai Sekretaris, sehingga saya dengan beberapa teman ikut, sekedar untuk mendampingi para panitia.

Hari sudah tak lagi pagi. Siang. Bahkan hampir sore. Saat itu saya dengan beberapa teman saya sedang melantunkan beberapa tembang lagu dari grup Mambesak sembari memetik gitar. Kami tempo itu duduk segerombol di koridor yang menghubungkan ruang kelas dengan perpustakaan.
 
Jemari masih bergerak memetik senar. Saya buang pandang ke arah ruang aula, tampak para peserta MOPD keluar berlalu-lalang, masing-masing dengan secarik kertas dan alat tulis. Mereka dipinta mengumpulkan paraf yang sebanyak-banyaknya dari kaka kelas.
 
Kami masih bermain gitar.
 
Tak lama kemudian, datang seorang perempuan. Dia adik kelas, juga peserta MOPD. Di tangannya terdapat secarik kertas dan pena. Jalannya bertatih-tatih, wajahnya tampak tersipu. Kalau saya mau jujur, dia kelihatan molek.
 
“Hai kak, maaf. Adek (Adik) boleh minta kaka dong pu (punya) tanda tangan kah?”
 
Suaranya cukup membuyarkan. Sejenak kami berhenti memetik gitar. Beberapa teman saya yang lain tertawa menanggapi pintanya itu.
 
“Bisa, adek. Tapi ada syaratnya,” kata teman saya, namanya Yance.
 
“Apa kak, syaratnya? Sa (saya) mau. Yang penting setelahnya kaka kasih tanda tangan buat sa nanti.”
 
“Syaratnya gampang adek. Adek harus menyanyi sambil main gitar! Bagaimana?” Tawar Yance.
 
Dengar tawaran itu, dia tergeming. Sepertinya dari antara menyanyi dan main gitar ini ada yang tidak ia bisa. Atau bahkan keduanya tidak bisa ia penuhi.
 
"Tapi kak, sa tidak bisa main gitar. Sa menyanyi saja e, kak. Tidak apa-apa toh," pinta gadis muda itu  sembari sesekali melirikku.
 
“Bah, tidak bisa adek. Tidak enak didengar kalo (kalau) menyanyi tanpa musik," jawab Yance.
 
Melihat hal dramatis yang dilakukan Yance, saya pun dengan lekas menyela pembicaraannya dan berkeinginan untuk membantu gadis pemburu paraf itu.
 
“Akh, sudah Yance. Kasihan dia. Jangan kita bikin dia payah. Biar saya saja yang mainkan gitar buat dia! Oh, iyo. Adek punama siapa?”
 
Gadis berpita jingga itu terlihat terkejut.
 
"Aduh, makasih kak. Sa pu nama Enjel. Kaka benar mau mainkan gitar buat sa? Makasih e, kak. Sa akan menyanyikan kaka pu lagu kesukaan. Kaka ingin sa menyanyi lagu apa?"
 
Saya tersenyum melihat tingkahnya yang sangat kekanak-kanakan.
 
"Adek tau lagu ‘Aku Papua’ yang pencipta lagunya alm. Franky Sahilatua?”
 
“Oh, sa tau itu, kak. Sa menyanyi lagu itu?"
 
“Iya,”  balasku sambil mengangguk.
 
Dia menyanyi. Saya mengiringnya dengan petikan gitar. Suaranya bagus. Cara ia melantunkannya tidak jauh berbeda dengan salah satu penyanyi musik country asal Nashville, Tennessee, Amerika Serikat bernama Lady Antebellum.
 
Mendengar suaranya nan merdu itu, beberapa teman saya itu sontak memberikan tanda tangan. Setelahnya, saya pun memberikan paraf. Dia kemudian berterima kasih, lalu pergi.
 
Hari itu pun berlalu. Akhirnya masa MOPD telah selesai. Tiga minggu kemudian, adek yang sebelumnya minta paraf ke kami beberapa itu minta saya menemuinya di kantin. Dia mentraktirku makan sebagai ungkapan terima kasih. Dia memperkenalkan diri. Saya pun demikian. Terakhir kami saling tukar nomor HP.

***
Di SMA, saya punya Margeretha Rumaropen. Dia pacar saya. Saya bertemu, kemudian kenal dia sejak kami masih sama-sama dibangku kelas satu. Kami saling mencintai. Sungguh! Kami juga sudah berjanji akan menjaga jalinan cinta kami sampai saat di pelaminan nanti.
 
Tak jarang juga Enjel mengontak saya. Dari cara ia kirim SMS, mimik wajahnya saat ia bicara, ia sepertinya suka sama saya. Tapi saya meresponsnya sebagai adik saya sendiri. Toh lagipula saya sudah punya pacar, dan sudah berjanji setia hingga di kursi pelaminan kelak.
 
Hari demi hari telah berselang. Tiba bulan Februari, 2013. Bulan yang hari ke-empat belasnya diperingati sebagai valentine’s day (hari kasih sayang).
 
Hari itu, tanggal 09 Februari 2013, saudari sepupu ajak saya untuk ketemu di salah satu restoran. Dia adalah pemilik nama Maria. Bapaknya adalah adik kandung dari bapak saya. Saya panggil bapaknya bapade. Maria ajak saya ketemuan di restoran hanya untuk memberitahu saya, kalau Enjel itu selama ini sangat mengagumi saya.
 
Teman sekelasnya Enjel ini juga sambung suara, kalau temannya Enjel sangat menyukai saya. Saya saat itu hanya tertawa, tidak percaya kalau Enjel berpikir yang begitu. Bila pun demikian, mana mungkin saya menduakan Margeretha. Dia adalah belahan jiwa saya. Sangat mustahil, kalau saya sempai berlaku begitu sama dia.
 
Beberapa hari kemudian, tepat tanggal 13 Februari. Saya sedang duduk santai di pendopo depan rumah, ketika telpon saya berdering pertanda panggilan masuk. Lantas saya lihat, ternyata sedang panggilan masuk dari Enjelina.
 
“Halo, adek!”
 
“Iya, halo kak. Kak apa kabar?”
 
Sa kabar baik adek, bagaimana?”
 
“Oh, mantap kak. Kak, besok kan hari kasih sayang. Sa mau kasih sesuatu buat kaka. Kita ketemu di restoran ‘PAPEDA’ e, kak.” Enjel mengajakku.
 
“Ado, bagaimana e, o iya sudah. Jam berapa adek?”
 
“Sip, terima kasih kak. Nanti jam 7 malam saja, di restoran ‘Papeda,’ Kota Baru.”
 
“Ok!” Telpon kumatikan.
 
Sebelumnya, saya juga ada janji dengan Margeretha untuk kerjakan tugas rumahnya. Tapi, Sudah. Keesokan harinya, saya menepati janji dari Adek Enjel. Disana, saya tiba lebih dahulu. Beberapa saat kemudian, dia datang. Di tangannya ia membawa sesuatu.
 
Dia tampak sangat cantik. Dandanannya yang indah terlihat cocok dengan tubuhnya, buat saya ingin terus menatapnya dalam kurun waktu yang lama. Saya mempersilahkannya duduk.
 
“Maaf kak, sa agak terlambat. Habis tadi antre bensin di Pertamina jadi.”
 
“Tidak apa-apa adek. Yang penting adek sudah sampai disini,” kataku.
 
Saya panggil pelayan disitu untuk menyajikan dua juss jeruk.
 
“Oh, iya, kak. Selamat hari Valentine ee. Nih, sa mau kasih kaka kado. Nanti kaka buka dari rumah saja ee.”
 
“Ado, sa pu adek, terima kasih banyak ee,” ucapku.
 
Tiba-tiba HP saya berdering. Saat itu saya telah meletakkannya diatas meja. Lantas saya lihat, ternyata sedang tertera “my love etha memanggil” di layar HP saya. Saya pun dengan sekonyong-konyong menjawab telpon tersebut. Saat itu saya lihat, Enjel juga membaca  keterangan panggilan masuk tersebut.
 
Ia menelpon saya, dia bilang cepat datang. Setelah itu saya kembali duduk bersama Enjel. Ada kecemburuan diwajahnya. Terutama dari kedipan matanya.
 
“Telpon dari siapa tuh, kak?”
 
“Oh, itu. Itu telpon dari sa pu teman. Dia mau ajak sa kerjakan dia pu tugas.”
 
“Ouuw, tapi tadi tertulis 'my love Etha'. Trus (lalu), saat kaka bicara deng (dengan) dia, kaka panggil dia sayang. Itu kaka pupacar kah?” tanya Enjel memastikan.
 
“Iya betul, adek. Itu kaka pu pacar. Dia pu nama Margeretha. Maaf adek, sebelumnya kaka tidak pernah bicara sama adek.”
 
“Apa?”
 
Dia menghela nafas sembari menitikkan air matanya, kemudian cepat-cepat duduk di kursi. Tidak bergerak ... pingsan. Saya mencoba membangunkannya tapi nihil. Segera saya meminta tolong ke orang-orang sekitar dan membawannya ke rumah sakit. Saya hubungi Maria, temannya, dan orangtuanya lewat HPnya.
 
Baru beberapa menit setelahnya, mereka datang. Orangtuanya menceritakan bahwa Enjel sejak kecil mengidap penyakit kanker otak. Mendengar itu, saya sangat terpukul. Bagaimana tidak, ia sudah saya anggap sebagai adik saya sendiri. Saya sangat menyayanginya.
 
Tak lama kemudian, ia keluar dari ruangan medis. Dokter yang menuntunnya keluar itu berkata, kalau ia sudah baik-baik saja. Cuma, kata dia, obat yang diberi, diminum secara teratur dan jangan dia terlalu banyak berilusi. Karena itu bisa berimbas yang fatal.
 
Setelah itu saya dan Maria turut mengantar Enjel ke rumahnya bersama kedua orangtuanya. Terlihat diwajah Enjel, ada rasa kekecewaan. Dia menatap saya dengan sorotan mata yang penuh kekesalan. Sesampai dirumah, saya dan Maria mengulang kata dokter tadi ke Enjel, kemudian pamit dan pulang.
 
Saya baru sadar. Ternyata Enjel selama ini belum tahu status saya yang sebenarnya. Dia berharap suatu saat saya mencintai dia. Tapi mau bagaimana. Saya dan Margeretha sudah saling mencintai. Suatu perihal yang mustahil, jika saya harus melepaskan Margeretha hanya demi penuhi hasrat Enjel. Apalagi seorang Enjel bagi saya adalah adik sendiri.
 
Beberapa hari terakhir ini, Enjel tidak lagi pernah masuk sekolah. Saya tanya Maria, katanya Enjel di kamar saja mengurung diri. Hanya saat makan dan minum saja dia keluar. Ia hanya mengurung diri didalam kamar.

***
Tanggal 19 Februari 2013. Ketika saya hendak ke sekolah, ada telpon masuk dari Maria. Sembari menangis terisak-isak, Maria mengabarkan kalau Enjel telah menutup umurnya pada subuh dini hari. HP saya jatuh diluar sadar saya.
 
Saya langsung menuju kerumahnya.
 
Setibanya disana, tidak beberapa orang yang sedang melayat disana. Semakin saya mendekat, kulihat  jasadnya sedang terbujur dalam peti jenazah. Air mata sudah tak lagi terbendung. Dalam hati kecil saya merasa amat berdosa. Dia sampai meninggal hanya oleh saya. Dia mengimpikan suatu saat nanti saya jadi kekasihnya. Tapi impiannya itu hangus ketika saya blak-blakkan di restoran PAPEDA.
 
Saya memojok ke salah satu sudut. Disana air mata saya jatuh sembari mengingat saat pertama kali saya melihat dia. Ibunya datang. Ia membawa secarik kertas. Kertas itu kemudian diberinya kepada saya. Katanya kertas tersebut ada digenggaman Enjel saat ia sudah tergeletak tak bernyawa di lantai.
   
Ketika saya melihat kertas tersebut dengan seksama, ternyata kertas itu adalah kertas yang ia bawa, ketika kami dimintainya tanda tangan saat awal perjumpaan. Disana ada tertera tanda tangan saya, Yance dan beberapa teman lainnya. Dibalik kertas itulah ia menuliskan beberapa kata terakhirnya untuk saya. Begini isi surat itu.
 
Pulang ke rumah, berulang kali saya mengetik memencet tuts-tuts pada keyboard, menyalin suratnya. Tapi hampa. Tuts-tuts yang saya tekan sama sekali tidak menampilkan huruf di layar monitor. Awalnya hal ini membuat saya bingung, tapi akhirnya saya yakin, ini merupakan cara Enjelina menyatakan kehendaknya bahwa isi suratnya tarsebut hanya saya dan dia yang tahu.
 
Maafkan sa, adek Enjel. Karena hanya oleh sa, akhirnya penyakit kanker otak yang adek idap itu kambu lagi, dan akhirnyaadek pergi meninggalkan kami semua dan adek pu nama. Kaka akan selalu sayang adek. Rest In Peace! TAMAT.
 

"Tak ada gading yang tak retak", begitupun dengan tulisan atau berita yang kami muat di media ini. Dari waktu ke waktu kami akan lakukan penyempurnaan dan perbaikan seperlunya (kecuali opini, essai, catatan pinggir atau artikel). Oleh sebab itu, apabila mau download, mohon perhatikan tanggal akses, identitas penulis dan judul tulisan agar kompatibel dengan referensi anda. Tulisan diatas kami rapikan kembali pada hari Minggu, 14 Agustus 2016 09:54

Undang-undang Nomor 12 Tahun 1997 Tentang Perubahan Undang-undang Nomor 6 Tahun 1987 Tentang Hak Cipta Sebagaimana Telah Diubah dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1987. (1) Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan atau memberi ijin untuk itu, dipidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau dengan paling banyak Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah). (2) Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta sebagaimana dimaksud ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau dengan paling banyak Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah).
back to top

__Topik-Topik Pilihan__ Patut Dibaca;;;