Дървен материал от www.emsien3.com

The best bookmaker bet365

The best bookmaker bet365

Menu
RSS

In order to view this object you need Flash Player 9+ support!

Get Adobe Flash player
A+ A A-

Usai Menebas Tubuh Pigome dan Semu, Rombongan itu Menghilang

Usai Menebas Tubuh Pigome dan Semu, Rombongan itu Menghilang

Ini kronologis kejadian pemotongan badan Pigome dan Semu di Wonorejo sudut selatan kota Nabire. Awalnya, rombongan Hendrikus Semu dan teman-temannya berkumpul seperti biasa di pintu masuk SMP Negeri 2 Wonorejo. Sambil jaga-jaga linkungan, karena, seminggu sebelumnya, seorang warga disana, Yakobus Kedeikoto ditusuk-tusuk pisau oleh warga setempat.

Yakobus dikira salah satu diantara rombongan yang selama bulan April dan Mei melakukan pemotongan manusia di Dogiyai, Deiyai, Paniai dan Nabire. Setelah ditelusuri,  Yakobus ialah seorang warga Wonorejo yang telinganya tuli dan tinggal di gang Kepala Suku Mapia. Kedeikoto telinga tuli itu ditusuk berkali-kali di badan, sementara ia hanya hendak ke saudaranya jalur 4 kelurahan Wonorejo untuk bermalam.  

Nah, kembali ke kisah penebasan Pigome dan Semu, semakin malam, semakin ramai dan tidak sadar bahwa mereka sedang dipantau oleh sekelompok orang yang berniat jahat berlalu lalang disamping mereka.

Sekitar pukul setengah tiga pagi, tiba-tiba rombongan bermotor itu berhenti disamping mereka. Sontak pandangan Pigome cs berbalik ke arah mereka.

Sekilas, rombongan itu mengenakan topeng dan mengeluarkan parang panjang yang disarung dari balik mereka. Lalu, sempat mengucapkan kata-kata dalam salah satu agama.

Karena ketakutan,  teman-teman yang lain menghilang, tertinggal hanya Pigome dan Semu. Dan perlawanan pun terjadi disitu. Karena kaget dan tiba-tiba, Pigome dibacok dibagian punggung belakang dan meninggalkan luka dalam. Menurut keluaga korban, Pigome masih ditahan di Rumah sakit dan penyembuhan bisa memakan bulan. Sementara Semu bisa pulang karena mengalami sobekan ringan di bagian pergelangan tangan.

Menurut keluarga korban, selama ini, Semu dan Pigome tidak ada masalah dengan siapapun. Utang piutang pun tidak ada. Tetapi mengapa, anak mereka dipotong seperti ayam atau babi. Apakah orang Papua sama seperti binatang lalu dipotong seperti itu? Mereka juga mempertanyakan bupati Nabire, kok, periode pertama Nabire aman dan damai, tetapi memasuki periode kedua mulai kacau, ada apa gerangan? Namun mereka juga sadar bahwa mutilasi manusia awalnya bermula dari Dogiyai dan merambah ke Nabire.

Al kisah, awal April 2016, di Distrik Mapia Marat, tepatnya di kampung Abouyaga, dua orang pemuda dikejar warga karena sedang pantau-pantau rumah diwaktu malam. Pengejaran dilakukan, namun kedua pemuda itu hilang di tengah hutan. Perlu diketahui bahwa, jalan darat Moanemani – Kaimana masih belum tiba di Abouyaga – baru sampai di kampung Yerou dan jarak antara Yerou dan Abou hampir 20 Km dan harus melewati tanjangan yang terjal dan menyeberangi sungai Pogi yang deras.

Pada saat yang bersamaan pula, Karatedo Indonesia, ban hitam dari Goju Ryu As, Thomas Gobay hendak pulang dari Moanemani usai melatih anak buahnya di lapangan Moanemani. Thomas sendiri tinggal di Bomomani, Ibu Kota Distrik Mapia. Sesampai di Degeydimi (sebuah gunung antara Moanemani dan Bomomani), ia dihadang sekelompok pemuda, kali ini mereka tidak mengenakan topeng dan memegang parang panjang. Pemuda-pemuda ini sering nongol diterminal Nabire. Thomas pun kemudian lompat turun dan menendang tangan dua pemuda dan parang talempar di aspal. Keempat pemuda itupun lari menghilang ke hutan. Terakhir diketahui, pemuda-pemuda itu beroperasi di Nabire. [Maria Makdalena Manuaron]



 

back to top

__Topik-Topik Pilihan__ Patut Dibaca;;;