Дървен материал от www.emsien3.com

The best bookmaker bet365

The best bookmaker bet365

Menu
RSS
Vanuatu's Prime Minister Joe Natuman Support for West Papuan Independence

Vanuatu's Prime Minister Joe Natuma…

PASIFIC - Vanuatu's ...

Kisah Auki (2): Misa Pertama dan Kehadiran Agama Kristen Protestan

Kisah Auki (2): Misa Pertama dan Ke…

Pada tanggal 21 Dese...

Lagi, Dua Wartawan Prancis Ditangkap di Wamena

Lagi, Dua Wartawan Prancis Ditangka…

WAMENA - Kepolisian ...

Paus Kecam "Kebobrokan" di Vatikan

Paus Kecam "Kebobrokan" d…

{flike}Paus Fransisk...

Romo Manuel Musallam: Jika Mesjidmu Terkena Bom, Silakan Adzan dari Gereja Kami

Romo Manuel Musallam: Jika Mesjidmu…

{flike}PALESTINA  - ...

Rio Grime (2): Gabungan Air Mood Band dan Seniman Teater Budaya Papua

Rio Grime (2): Gabungan Air Mood Ba…

Musisi dan penyanyi ...

Usai Menebas Tubuh Pigome dan Semu, Rombongan itu Menghilang

Usai Menebas Tubuh Pigome dan Semu,…

Ini kronologis kejad...

Ambrosius Degey:  Ingin Mewakili Rakyat LSM (1)

Ambrosius Degey: Ingin Mewakili Ra…

NABIRE - Direktur Ya...

Enembe Sedang Mengikuti Polling Eksodus Mahasiswa Yogya di Media Ini

Enembe Sedang Mengikuti Polling Eks…

JAYAPURA - Polling y...

Rekaman Penetapan Auki Tekege Sebagai Tokoh Gereja Oleh Uskup Timika

Rekaman Penetapan Auki Tekege Sebag…

Bulan Oktober 2015 d...

Prev Next

In order to view this object you need Flash Player 9+ support!

Get Adobe Flash player
A+ A A-

Akadoo - Akagaa, Saling Memahami!

Akadoo - Akagaa, Saling Memahami!

Dunia semakin canggih, persaingan politik, jabatan, ekonomi semakin kencang, tetapi manusia Meuwo semakin lupa diri dengan adat istiadat yang sudah ada sejak turun temurun. Tidak hanya orang Meuwo, ternyata, dilema ini terjadi dimana-mana. Tidak disadari bahwa, pembangunan adalah iblis internasional yang datang merusak tatanan kehidupan manusia. Mereka yang tidak bersekolah, tidak bekerja, tertinggal terlibas jaman. Mereka yang sudah berpendidikan pun, ketika mendapat jabatan, balas penderitaan di bangku pendidikan dengan Korupsi, Kolusi dan nepotisme. Manusia semakin biadap, tak beradap.

Dibalik arus hidup yang semakin kencang dan tak tertahankan ini, manusia semakin lupa diri dengan jati dirinya sebagai manusia. Adat istiadat semakin punah. Meuwo didee atau Didee Mee pokee ugi wagi. Roh Tuhan yang mengalir dalam diri manusia semakin sirna, terkikis persaingan tadi. Ajaran-ajaran Touyelogia semakin tersudut, hanya terbelit dalam suara hati. Gerak raut wajah sudah tidak berperi kemanusiaan lagi, tertinggal hanya persaingan secara tidak sehat. Manusia semakin tidak memposisikan diri sebagai manusia, tetapi hanya hadir mewakili pola prilaku binatang. Siapa kuat, dia menang, siapa lemah, selamat tinggal.

Adalah istilah Touyelogia; Akado Akagaa menjadi kata kunci, bila kita mau selamatkan hidup dan kehidupan ini. Tidak ada wahyu terbaik detik ini yang akan turun dari balik jendela langit, bila manusia itu sendiri tidak menggali dan mengamalkan ajaran-ajaran adat, Touyelogia.

Secara harafiah, Akado Akagaa mengandung arti, “saling baku lihat dan baku mengerti”. Lihatlah dia disana, akan penderitaan dan kesusahannya, berikan dia jalan keluar, biar dia selamat. 

Akadoo Akagaa, lihatlah dia dan selamatkan dia adalah ajaran moyang  Meuwo agar manusia tanamkan kasih dalam diri setiap umat manusia.  Agar manusia tidak menjadi serigala bagi manusia lain. Agar manusia bisa saling menyelamatkan manusia yang lain. Agar manusia hidup diatas norma-norma keTuhanan, agar manusia hidup diatas ajaran Kitab Suci, agar manusia tidak gila oleh karena pengaruh alkohol. Apalagi karena jabatan. Tetapi agar manusia menjadi manusia yang sesungguhnya, yaitu menjadi seorang penyelamat bagi siapa saja.

Akadoo akagaa, adalah sebuah istilah yang menginginkan agar manusia tidak sombong, rakus dan menari diatas penderitaan orang lain. Ajaran ini menginginkan agar, manusia  lebih pekah terhadap apa yang sedang dialami orang lain. 

Disinilah tantangan bagi manusia. Apakah bisa menempatkan orang, menyelamatkan orang sesuai kebutuhannya. Memberikan pekerjaan kepada seseorang sesuai kemampuannya, atau tidak. Right man in right place?

Kadang menjadi rapuh dan tidak efektif, justru karena manusia tidak mampu menempatkan seseorang sesuai talenta yang diberikan padanya.  Manusia tidak memberikan seseorang pekerjaan sesuai disiplin ilmu yang pernah ditekuninya. Terkadang, orang Puskesmas diberikan jabatan dibidang pemerintahan. Bahkan ada pula dibebani pekerjaan yang berkaitan dengan ekonomi atau hukum.  Jika demikian, dimanakah falsafah Akadoo - Akagaa itu?.

Daerah Meuwo ini, sejatinya adalah Kaka kandung bagi suku-suku pedalaman Papua. Banyak guru Meuwo tersebar hingga wilayah perbatasan RI-PNG. Mereka sudah berkarya tanamkan ilmu kepada generasi Papua, dan mereka sudah berhasil dimana-mana.  Di daerah Meuwo sendiri, hancur berantakan, karena ajaran-ajaran sejati itu dikubur oleh orang Meuwo sendiri. Daerah ini sedang hancur oleh ilmu-ilmu kegelapan. Banyak tokoh-tokoh penting, tumbang hanya karena iri hati. Daerah ini, sedang jatuh, tetapi kita tidak menyadarinya. Pemekaran wilayah, perebutan jabatan, pemilihan bupati, sedang mengkotak-kotakan manusia Meuwo menuju persaingan hidup yang tidak sehat. Sikap sosial yang tinggi, tutup diri, dan bahkan program Odha Owadha sedang disalahtafsirkan. Rumah-rumah pejabat dipagar mati. Orang semakin bertanya, didalam pagar ini ada apa ya?

Para pemimpin kita sudah tidak punya program-program percontohan. Kebun pertanian percontohan, ternakan sapi percontohan, pabrik Kopi, dan lain seterusnya. Dana pembangunan, hilang diatas kertas-kertas kosong. Kepala-kepala SKPD terkait, bingun, karena tidak ditopang oleh visi dan misi yang kuat, tidak pula didukung oleh stakeholder, apalagi masyarakat pemilik hak ulayat. Uang cair, digotong dengan ban cakar, hilang ke negeri seberang. Mama-mama keringatan, setiap hari menanti kapan sayur jualannya laku. Sepanjang hari terus menanti, kapan 5000 kumal jatuh dari mobil. Besok lagi datang ke tempat itu. Tidak ada koordinasi, konsolidasi, rekonsiliasi, untuk tata ruang, biar mama-mama ini berjualan di tempat yang layak.  

Lalu kemudian, orang bertanya, kapan Akadoo Akagaa itu akan berdiri kokoh di negeri Meuwo ini? Solusinya cuma dua. Pertama, ketika seseorang terpilih menjadi bupati, maka langkah pertama yang dia lakukan adalah rekonsiliasi dengan lawan-lawan politiknya, dan yang kedua adalah membubarkan tim sukses.

Setiap kandidat bupati yang terpilih, sebelum menjalankan seluruh visi-misinya, minggu pertama wajib rekonsiliasi dengan lawan-lawan politik yang telah bertaruh dalam pemilihan bupati. Mengapa? Karena setiap kandidat yang maju bupati akan mengusung sumber daya manusia yang siap kerja. Terkadang, banyak sumber daya manusia yang siap kerja, menjadi korban politik karena tidak ada upaya-upaya rekonsiliasi. Banyak dokumen hilang, pembangunan mandeg (totaa-totaa), dan masyarakat (termasuk PNS) tidak terlayani dengan baik.

Tugas kedua yaitu membubarkan tim sukses. Banyak bupati tidak mampu jewantahkan program-programnya, karena sering diatur-atur oleh tim sukses. Bahkan tim sukses terkadang menjadi pelapor, agar bupatinya masuk penjara. Makanya, bubarkan dulu tim sukses, berikan mereka proyek-proyek besar dan segera membentuk BAPERJAKAT, agar seluruh jabatan dianalisa, dikelolah dan ditetapkan sesuai aturan yang berlaku di negara ini. Disinilah perwujudan sebenarnya dari ajaran Akadoo Akagaa. Tujuannya satu, yaitu agar publik puas.

Kedepan rakyat menginginkan agar kandidat bupati dipilih karena programnya, bukan karena banyaknya uang.

Adalah istilah Touyelogia; Akado Akagaa menjadi kata kunci, bila kita mau selamatkan hidup dan kehidupan ini. Tidak ada wahyu terbaik detik ini yang akan turun dari balik jendela langit, bila manusia itu sendiri tidak menggali dan mengamalkan ajaran-ajaran adat, Touyelogia. Secara harafiah, Akado Akagaa mengandung arti, “saling baku lihat dan baku mengerti”. Lihatlah dia disana, akan penderitaan dan kesusahannya, berikan dia jalan keluar, biar dia selamat. Akadoo Akagaa, lihatlah dia dan selamatkan dia adalah ajaran moyang Meuwo agar manusia tanamkan kasih dalam diri setiap umat manusia. Agar manusia tidak menjadi serigala bagi manusia lain. Agar manusia bisa saling menyelamatkan manusia yang lain. Agar manusia hidup diatas norma-norma keTuhanan, agar manusia hidup diatas ajaran Kitab Suci, agar manusia tidak gila oleh karena pengaruh alkohol. Apalagi karena jabatan. Tetapi agar manusia menjadi manusia yang sesungguhnya, yaitu menjadi seorang penyelamat bagi siapa saja.
Secara etimologis, kata itu muncul dari banyak sub kata seperti disebutkan diatas. "Tetedemai" artinya, kepala batu, tara bisa bertobat, tara bisa berubah, tidak mau dengar orang, pokonya kata itu mengandung arti kepala batu. Kalau orang itu kepala batu, maka, orang tua hapus huruf t didepan menjadi "Etedemai", artinya tobatkan dia, kasih pelajaran supaya dia sadar, jangan manja, hajar dia dan untuk sesuatu yang mendidik.
Istilah ini lama kelamaan akan hilang, berhubung pembukaan jalan raya keliling Papua. Ini istilah orang Mee di sekitar Mapia yang suka jalan kaki, dari kampung ke kampung. Ada istilah Ewaneetaida untuk menyebut tempat beristirahat. Jadi, sekalipun orang sudah capek jalan kaki, panjat gunung, keringat babasah, nanti orang kampung yang antar anda ke tempat tujuan akan mengatakan: "Beu, anak, jangan duduk disini, ada tempat istirahat diatas, jadi, kalau bisa, istirahat berdiri saja. Kalau mau merokok, ya, merokok sambil jalan, nanti kita istirahat di "Ewaneetaida", begitulah arahan pengantar.



"Tak ada gading yang tak retak", begitupun dengan tulisan atau berita yang kami muat di media ini. Dari waktu ke waktu kami akan lakukan penyempurnaan dan perbaikan seperlunya (kecuali opini, essai, catatan pinggir atau artikel). Oleh sebab itu, apabila mau download, mohon perhatikan tanggal akses, identitas penulis dan judul tulisan agar kompatibel dengan referensi anda. Tulisan diatas kami rapikan kembali pada hari Kamis, 21 April 2016 10:45

Undang-undang Nomor 12 Tahun 1997 Tentang Perubahan Undang-undang Nomor 6 Tahun 1987 Tentang Hak Cipta Sebagaimana Telah Diubah dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1987. (1) Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan atau memberi ijin untuk itu, dipidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau dengan paling banyak Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah). (2) Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta sebagaimana dimaksud ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau dengan paling banyak Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah).
back to top

__Topik-Topik Pilihan__ Patut Dibaca;;;