Дървен материал от www.emsien3.com

The best bookmaker bet365

The best bookmaker bet365

Menu
RSS
Kisah Auki (3): Sempat Diancam dan Dipenjarakan Tentara Dai Nippon

Kisah Auki (3): Sempat Diancam dan …

Tahun-tahun berikutn...

Boy, 11, eaten by crocodile in Papua New Guinea

Boy, 11, eaten by crocodile in Papu…

{flike}PNG - The lim...

Di Tubuh Seorang Pemabuk

Di Tubuh Seorang Pemabuk

ALKOHOL jelas berbah...

Suara Adzan Siap Menggema di Vatikan

Suara Adzan Siap Menggema di Vatika…

TIMUR TENGAH - Untuk...

Soal Alkohol, Timika Harus Ikuti Mansinam Manokwari

Soal Alkohol, Timika Harus Ikuti Ma…

{flike}TIMIKA - Sala...

Isu-Isu Ini Beredar Usai Black Brothers Minta Suaka Politik ke Luar Negeri

Isu-Isu Ini Beredar Usai Black Brot…

SUBUH, sekitar pukul...

Okai Too Okai

Okai Too Okai

Ia suka berdiri di t...

Kapolda: Bisa Bicara Merdeka, Asal Jangan Tembak-Tembak

Kapolda: Bisa Bicara Merdeka, Asal …

JAYAPURA - KEPALA Ke...

Warga Vanimo Suka Masakan Khas Indonesia

Warga Vanimo Suka Masakan Khas Indo…

{flike}VANIMO - Keti...

Rio Grime (1): Berawal dari Teater Budaya Papua di Jakarta

Rio Grime (1): Berawal dari Teater …

Tanah Papua pernah m...

Prev Next

In order to view this object you need Flash Player 9+ support!

Get Adobe Flash player
A+ A A-

Rakyat Papua Unjuk Rasa di Jakarta, Desak Tuntaskan Tragedi Enarotali

Sejumlah kalangan melakukan aksi unjuk rasa di depan Istana Negara, Jakarta Rabu (17/12) mendesak pemerintah untuk mengusut tuntas dan menindak tegas pelaku penembakan di Paniai, Papua. (foto VOA INDONESIA) Sejumlah kalangan melakukan aksi unjuk rasa di depan Istana Negara, Jakarta Rabu (17/12) mendesak pemerintah untuk mengusut tuntas dan menindak tegas pelaku penembakan di Paniai, Papua. (foto VOA INDONESIA)

MASYARAKAT Papua di Jakarta yang terdiri dari mahasiswa, LSM dan organisasi kemasyarakatan lainnya melakukan aksi unjuk rasa di depan Istana Negara Jakarta hari Rabu (17/12). Dalam orasinya, mereka menuntut Presiden Joko Widodo bertindak tegas mengusut tuntas kasus penganiayaan dan penembakkan warga sipil yang menewaskan 5 pelajar  Enarotali, Paniai yang terjadi 8 Desember lalu.

Salah satu pendemo, Veronika Koman dari lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta menyatakan presiden Jokowi harus memerintahkan Panglima TNI dan Kapolri untuk menuntaskan kasus ini dan memberi tindakan tegas terhadap aparatnya jika terbukti bersalah.

Koman menyayangkan sikap Jokowi yang hingga kini belum memberikan pernyataan apapun sehubungan dengan kasus tersebut. Veronika mendesak Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) agar membentuk komisi penyelidikan pelanggaran hak asasi manusia atau yang biasa disebut dengan KPP HAM.

Menurutnya, komisi ini sangat penting dilakukan agar kasus penganiayaan dan penembakan warga sipil di Pania segera terungkap dan dituntaskan.

Dilansir Voa Indonesia.com, Veronika Koman mengatakan, seringkali kasus kekerasan yang dilakukan oknum aparat tidak tuntas dan dibiarkan, apalagi jika itu terjadi Papua. Hal ini menyebabkan kasus kekerasan di Papua terus terjadi karena tidak ada efek jera.

Veronika mengatakan, "Pak Jokowi suruh anak buahnya (Panglima TNI dan Kapolri) untuk mengusut tuntas. Dulu kita selalu kecam SBY yang cuma prihatin-prihatin aja, tetapi sekarang Jokowi prihatin aja nggak, lebih parah. Padahal Jokowi dikasih suara banyak oleh Papua, sekarang suara dia malah tidak ada untuk Papua."

Komnas HAM Sedang Selidiki Kasus Enarotali

Di tempat berbeda, Komisioner Komnas HAM, Natalis Pigai mengatakan saat ini lembaganya telah mengirim tim untuk menyelidiki kasus penembakan dan penganiayaan yang terjadi 8 Desember 2014 di Paniai, Papua .

Menurutnya tim Komnas HAM juga telah bertemu saksi, keluarga korban, pemerintah daerah. Sementara TNI dan Polri menolak menemui Komnas HAM.

Temuan sementara terungkap bahwa saksi yang melihat ciri-ciri penembak mendeskripsikan mereka bukan orang asli Papua.

Natalius mengatakan penembak berkulit sawo matang. Natalius mengatakan pendatang dari luar Papua umumnya tidak memiliki senjata. Yang memiliki senjata hanya anggota TNI dan Polri.

Selain itu, kendaraan yang digunakan oleh sekitar 5 orang penyerang itu menggunakan plat B dari Jakarta.

"Indikasi peristiwa pertama, pelakunya lebih mengarah ke TNI, yang pakai motor maupun mobil yah. Mobilnya itu menggunakan plat B, plat B di wilayah itu hanya digunakan tim khusus TNI karena mobil itu terbatas bisa dihitung. Peristiwa kedua itu gabungan TNI/Polri karena itu di lapangan atau seperti alun-alun," papar Natalis.

Kasus di Paniai ini bermula dari penghadangan yang dilakukan tiga remaja terhadap motor yang diduga ditumpangi anggota TNI Senin (8/12) dini hari lalu. Ketiga remaja tersebut meminta mereka untuk menyalakan lampu motornya.

Tidak terima ditegur oleh tiga anak yang masih berumur belasan itu, mereka datang dengan serombongan prajurit dengan menggunakan mobil Fortuner dan langsung mencari pelaku anak remaja yang menegur tadi. Dua berhasil kabur, namun Julianus Yeimo bernasib nahas. Dia dipukuli dengan popor senjata hingga berdarah-darah.

Kematian Julianus memicu kemarahan warga. Ratusan orang berkumpul di depan markas koramil dan polsek menuntut pertanggung jawaban. Situasi kian tidak terkendali hingga akhirnya rusuh. Aparat kemudian melepaskan tembakan yang menewaskan empat orang.

Ini Jawaban Jusuf Kalla

Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan pemerintah sangat prihatin atas peristiwa penembakan yang terjadi di Kabupaten Paniai, Papua.

Dia mengungkapkan telah memerintahkan aparat keamanan untuk mendalami kejadian yang sebenarnya terjadi di Papua dan menghukum oknum yang dianggap bertanggungjawab.

"Tentu kita perintahkan aparat keamanan untuk meneliti apa yang terjadi untuk memeriksa siapa yang salah," ujar Wapres Jusuf Kalla. [voaindonesia.com | swp]


back to top

__Topik-Topik Pilihan__ Patut Dibaca;;;