Дървен материал от www.emsien3.com

The best bookmaker bet365

The best bookmaker bet365

Menu
RSS
Ini Alasan Megawati Pilih Jokowi Maju Presiden RI

Ini Alasan Megawati Pilih Jokowi Ma…

{flike}SURABAYA - Me...

Pemekaran Picu Banyak Konflik di Tanah Papua

Pemekaran Picu Banyak Konflik di Ta…

JAKARTA - Selain per...

Deiyai, Nabire, Dogiyai, Intan Jaya dan 243 Kabupaten Akan Pilkada Tahun 2015?

Deiyai, Nabire, Dogiyai, Intan Jaya…

POLEMIK tentang UU P...

Dalai Lama : Tidak Masalah Dengan Pernikahan Sejenis

Dalai Lama : Tidak Masalah Dengan P…

{flike}TIBET - Pemim...

Wahai Anakku Cantik

Wahai Anakku Cantik

Wahai anakku cantik,...

Paus Kecam "Kebobrokan" di Vatikan

Paus Kecam "Kebobrokan" d…

{flike}Paus Fransisk...

Pilkada Langsung Disetujui DPR RI?

Pilkada Langsung Disetujui DPR RI?

JAKARTA - Pemilihan ...

UN Itok Oli Mas Rausim ol Posin Wara Long Solomon Islands Gold Ridge Mine

UN Itok Oli Mas Rausim ol Posin War…

{flike}PNG - Ol papa...

Daniel Wandagau Harapkan Penghargaan  dari Pemda Intan Jaya

Daniel Wandagau Harapkan Penghargaa…

SIANG BOLONG, Sabtu ...

Prev Next

In order to view this object you need Flash Player 9+ support!

Get Adobe Flash player
A+ A A-

Natal Dalam Duka

Natal Dalam Duka

Kehadiran seseorang dari negeri asing sering membawa kebahagiaan. Begitupun dengan kehadiran Yesus di Natal tahun 2014 membawa damai dan kehangatan. Tetapi tradisi ini berbeda di Papua. Natal tahun ini, telah tercoreng oleh peristiwa penembakkan yang menewaskan 5 pelajar di Enarotali, 8/12.

Bermula di Kandang Natal Tipobutu Enarotali dan berakhir tragis. Keluarga korban dan tentunya rakyat dunia yang bernurani akan menyambut Natal tahun ini dalam keadaan yang “kurang enak”.

Tahun ini pula, perayakan Natal Nasional akan digelar di Jayapura. Kita tidak tahu hati nurani apa yang akan terpampang dalam wajah Natal Nasional kali ini, karena hingga saat ini pelaku penembakkan masih simpan siur, penegakkan hukum dan rasa keadilan sosial belum terpenuhi dan Yesus akan disambut dalam keadaan demikian. Semoga Tuhan Yesus tidak buta dan benar-benar memberikan cahaya kepada setiap orang agar hatinya semangkin terbuka.

Di sejumlah kota di Papua, panggung-panggung kandang Natal mulai sepi. Lagu Natal yang sering bergema dari gunung ke gunung, kini mulai tak terdengar. Sejumlah tokoh Papua menolak Natal meriah. Anggap saja orang yang suka ria dengan Natal mewah-mewah adalah orang yang tidak bernurani.

Erna Mahuse kepada Tabloidjubi.com (13/12) secara tegas mengatakan, akan menutup pintu untuk Natal tahun ini. Tidak ada penyediaan kue Natal, apalagi hadiah Natal. Masih di media yang sama, aktivis HAM Perempuan Papua, Fintje Jarangga mengatakan sepakat dengan rencana tidak merayakan natal yang special. Perayaan natal cukup mendoakan mereka yang menjadi korban aparat Negara. ”Kita merayakan natal namun tidak dalam rangka hura-hura,” katanya.

Ini jelas, rakyat sudah muak dengan kekerasan yang selalu menyelimuti tanah Papua.  Bukan satu dua hari saja. Tetapi ini dari tahun ke Tahun.

Apakah Yesus akan mengajarkan pembantaian? Pembunuhan? Penembakkan?

Selama 33 tahun kedepan secara resitatif, Yesus dengan penuh hikmat akan mengajarkan Kabomana agar orang harus merendah (tidee dimii), tunjukkan kasih kepada sesama (ipa dimii). AjaranNya tidak untuk orang Kristen saja. Tetapi untuk semua orang, termasuk untuk iblis agar tidak arogan, bengis, serakah, dan sombong, tetapi tunduk dan merendah, berikan kasihmu kepada siapa saja. Termasuk kepada musuhmu. AjaranNya tidak membedakan-bedakan, status golongan dan tembus pandang.

Sang Sampari pagi itu akan menuntun setiap orang bahwa Sang penyelamat itu telah hadir pada 25 Desember 2014. Dia akan mengunjungi setiap keluarga di Papua yang sedang berduka. Ia akan turun ke Sorong, kemudian melewati gunung Ransiki masuk kota Mansinam Manokwari, terbang ke Biak, turun ke Serui, singgah sebentar di Wasior masuk Nabire, Moor Mambor, Waropen, menyeberangi sungai Mamberamo tiba diatas kota Sentani masuk Holandia, ibu kota Jayapura. Dengan memegang tongkat Sampari, Yesus akan ke Wamena,  Lani Jaya, Tolikara, isi bensin di Oksibil turun ke Boven Digoel, Asmat, menyeberangi sungai Mapi, masuk Merauke, turun ke Australia, menyeberangi samudra Hindia, tiba di Bali, masuk Jakarta dan seterusnya.

Ia tidak memilih siapa, kota apa, benua ini dan lain seterusnya. Ia akan singgah disetiap kota, daerah dan setiap insan untuk menerangi memberi cahaya, sekalipun dengan bintang Sampari yang telah dibenci seperempat abat lebih.

Kami berdoa:

“Yesus sebelum Engkau lahir, Bintang Sampari itu telah bersinar memberi petunjuk kepada 3 raja dari Timur untuk pergi ke kandang natal yang hina dina. Mereka mau pergi memberi hadiah kepada sang raja Kabomana. Sekarang, sebelum Engkau hadir 25 Desember nanti, kami bersembah sujud dihadapanmu, tolong lihat kami orang Papua yang sedang dibenci, sedang ditipu, sedang dibunuh hari demi hari. Berikanlah teguran, agar setiap insan manusia ini kembali kepada jalan yang benar. Biar kedepan umat manusia bisa menghargai hak-hak asasi manusia, bisa membedakan, ini milik Kaisar dan ini milik Tuhan. Ampunilah kami orang berdosa ini, amin”.

Amin, Ya Yesus. Kami sedang berduka, kuatkanlah hati kami. 

back to top

__Topik-Topik Pilihan__ Patut Dibaca;;;