Дървен материал от www.emsien3.com

The best bookmaker bet365

The best bookmaker bet365

Menu
RSS
Orang Migani Menyapa Dengan Hati

Orang Migani Menyapa Dengan Hati

Salah satu suku di t...

Pahabol Hampir Menyamai Maradona dan Messi

Pahabol Hampir Menyamai Maradona da…

{flike}YOGYA - Pengu...

Usai Menebas Tubuh Pigome dan Semu, Rombongan itu Menghilang

Usai Menebas Tubuh Pigome dan Semu,…

Ini kronologis kejad...

Tetedemai (Kepala Batu)

Tetedemai (Kepala Batu)

Dan pada akhirnya ak...

Enembe Sedang Mengikuti Polling Eksodus Mahasiswa Yogya di Media Ini

Enembe Sedang Mengikuti Polling Eks…

JAYAPURA - Polling y...

Pemekaran Picu Banyak Konflik di Tanah Papua

Pemekaran Picu Banyak Konflik di Ta…

JAKARTA - Selain per...

Ambrosius Degey: Ingin Mewakili Rakyat LSM (2)

Ambrosius Degey: Ingin Mewakili Rak…

SUGAPA - Perjuangan ...

TNI dan OPM Diminta Stop Baku Tembak

TNI dan OPM Diminta Stop Baku Temba…

JAYAPURA - Ketua  Si...

Bupati Tabuni Gagal Membangun Intan Jaya?

Bupati Tabuni Gagal Membangun Intan…

Pada dasarnya bupati...

Rekaman Penetapan Auki Tekege Sebagai Tokoh Gereja Oleh Uskup Timika

Rekaman Penetapan Auki Tekege Sebag…

Bulan Oktober 2015 d...

Prev Next

In order to view this object you need Flash Player 9+ support!

Get Adobe Flash player
A+ A A-

Pers Adat Papua Sebuah Gagasan (Secercah Harapan dari Timur/8)

Ketua PWI Papua terpilih, Abdul Munib bersama mantan Ketua PWI sebelumnya, Frans Ohoiwutun (foto: antara/alfian) Ketua PWI Papua terpilih, Abdul Munib bersama mantan Ketua PWI sebelumnya, Frans Ohoiwutun (foto: antara/alfian)

Oleh : Abdul Munib (Ketua PWI Provinsi Papua)

Masyarakat Adat Benteng Pertahanan Terakhir

Kini keadaan manusia semakin individualis. Ditandai berdirinya kota-kota dengan pagar rumah tinggi. Dipeliharanya anjing herder yang jadi penjaga di belakang pintu. Dan menipisnya kepedulian antar sesama. Dalam keadaan seperti ini pers akhirnya harus menyesuaikan diri menjadi penghibur mereka. Berita seperti olah raga dan artis-artis memenuhi halaman mediamasa.

Juga ditandai dengan proyek-proyek pemerintah yang tidak sampai kepada rakyat di lapisan terbawah. Trilyunan dana di gelontorkan untuk ribuan proyek, tapi tak membuat si miskin beranjak dari garis kemiskinannya.

Ada sedikit cerita lucu, biasa di Papua disebut cerita Mob. Seorang petugas kementerian daerah tertinggal pergi ke rumah kepala suku. Dia bertanya, ‘’bapak disini berapa penduduk yang ada dibawah garis kemiskinan ? ‘’ Kepala suku menjawab, ‘’bapak saya tanya dulu, garis itu siapa yang bikin. Bapak jangan tipu-tipu kami orang kampung, bapak dong di Jakarta yang bikin garis itu baru balik tanya kami disini.’’ Petugas kementrian bingung, dan kepala suku melanjutkan perkataannya, ‘’bapak kepala sakit to. Begini bapa, bagi kami disini garis itu tidak ada, kami bersama-sama membuka ladang, bersama-sama mengolah tanah, bersam-sama menanam ubi, dan bersama-sama makan dalam bakar batu. Jadi sekarang saya tanya bapa, ‘’ kalau begini keadaanya garis itu ada dimana ? Setelah penjelasan begini baru petugas kementrian paham, dan merasa dirinya bodoh. ‘’Kenapa saya harus bawa-bawa garis kesini,’’ pikirnya.

Benteng masyarakat adat adalah yang membuat masyarakat adat tidak tergilas oleg gelombang mental individualis yang sudah mengepung kota-kota besar. Hidup secara komunal yang alami adalah fitrah manusia yang mendamba keadilan di alam materi, juga keadilan disisi Tuhan. Nilai-nilai adat tidak bertentangan dengan ideologi Pancasila. Dan dalam konteks universal ideologi ketuhanan termanifestasi dalam aksiden terkecil masyarakat adat. Bahkan jika ingin melihat wajah sila kelima Pancasila, datanglah ke pegunungan Papua pada saat bakar batu yang melibatkan puluhan ribu masyarakat. Gawi pemotong daging adalah ‘pisau keadilan ekonomi’ yang termani festasi dari pemikiran keadilan adat. Dan kita bisa jujur mempertanyakan ; siapa lebih Pancasilais, orang di pegunungan Papua atau orang di Jakarta. Jawabannya mungkin akan terdengar ironis, tapi itulah realitas kebenarannya.

Dan sistem aturan adat ini telah dipakai ribuan tahun dalam masyarakat Papua dalam menjaga harmoni dan keteraturan perikhidupan mereka. Sampai hari ini juga masih berdiri kokoh dalam alam spiritual mereka. Bahkan dunia mengakui hal itu, misalkan ketika Mama Yosefa Alomang bisa mempertahankan argumentasi adat kepada pemilik Freeport. ‘’Anak Moffet waktu tanah adat ini pertama digali untuk tambang emas, kau masih kecil tidak tahu apa-apa. Kau masih ada di dalam noken,’’ ujar Mama Alomang sambil menunjuk ke arah tas tradisional Papua yang dibawanya. Mofet menyimak perkataan Mama Alomang dengan baik. Mama melanjutkan perkataannya, ‘’Anak, setiap manusia oleh Tuhan diberi tanahnya masing-masing. Anak dengan moyang-moyang anak punya tanah kelahiran. Mama juga punya disini. Disini, ’’ ujar Mama sambil menginjakkan kakinya ke tanah. Mama melanjutkan kata-katanya, ‘’ Jadi anak, supaya anak Moffet tahu. Tanah ini akan abadi dalam benak pikiran Mama dan tak akan pertah terebut oleh siapa pun. Mama juga akan kembali kepada tanah ini. Menjadi tanah. Ran roh Mama akan kembali pada asalnya ; Tuhan. Jangan sampai Mama bawa perkara ini kepada-Nya. Dia tidak akan terkalahkan oleh siapapun.’’

Perkataan Mama Alomang yang berfrekwensi tingkat tinggi dalam bernilai filosofi adat dan ketuhanan, membuat dinding-dinding nurani james Moffet meleleh. Hari itu di tahun 1996 sejarah mencatat. Moffet menyetujui dana satu persen akan diberikan Freeport kepada suku Amungme dan Komoro.

Dalam hal pemerintah Indonesia, melalui kepanjangan tangannya berupa pemerintahan Provinsi Papua dan Kabupaten Kota, selalu melakukan pelepasan adat jika akan membangun gedung perkantoran. Bahkan lapangan golf milik Kodam Cenderawasih, sebelum dibangun oleh Mayjen TNI Dunija, didahului dengan pelepasan adat. Jadi kesimpulannya adalah tanah adat ini terpatri kuat dalam dimensi spiritual dan mental orang Papua. Di alam materi boleh saja diatas tanah adat ini sudah berdiri gedung-gedung megah milik bukan orang Papua. Tapi di alam spiritual dan mental, tanah itu sejengkalpun tidak pernah terlepas kepada siapapun. Ini adalah realitas. Ini adalah kenyataan. Ini adalah keberadaan yang sebenar-benarnya.

Saya punya sebuah cerita ilustrasi. Ada dua orang bayi, lahir di tanggal yang sama. Rumah sakit tempat mereka dua lahir juga sama, yakni di sebuak klinik di jakarta. Hanya ibu bapa mereka yang beda. Bayi satu ibu bapaknya Jawa, bayi yang satu ibu bapaknya Papua. Ketika lahir pikiran kedua bayi itu belum terisi apa-apa. Setelah kedua bayi itu beranjak remaja, apa yang ada di kepala kedua anak itu berbeda ketika mempersepsi tanah miliknya. Anak dari bayi Jawa hanya mengidentifikasi tanah milik keluarganya adalah dua petak di sebelah selatan desa dan tiga petak di sebelau timur desa, peninggalan orang tuanya. Anak remaja dari bayi Papua mengidentifikasi tanah miliknya dengan menunjuk arah gunung. Katanya. ‘’dari urat gunung ini, lari ke gunung sebelahnya, hingga kepala air, ikut sungai itu terus sampai di tanjung sebelah sana adalah tanah adat kami.’’ Bayi Jawa itu adalah saya sendiri, bayi Papua adalah orang-orang Papua yang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dalam hidup saya dalam hubungan hati nurani. (bersambung)



 

back to top

__Topik-Topik Pilihan__ Patut Dibaca;;;