Дървен материал от www.emsien3.com

The best bookmaker bet365

The best bookmaker bet365

Menu
RSS
Ruhut: Jokowi Capres, Indonesia Tunggu Kehancuran

Ruhut: Jokowi Capres, Indonesia Tun…

JAKARTA - Juru bicar...

Diisukan, Ufo Sering Muncul di Mapia - Papua

Diisukan, Ufo Sering Muncul di Mapi…

{flike}BOMOMANI - Me...

Buku Yoman Dijual Diam-Diam

Buku Yoman Dijual Diam-Diam

{flike}HOLANDIA - Ho...

Ingin Kuliah ke Australia?

Ingin Kuliah ke Australia?

ANDA ingin kuliah ke...

Orang Ini Usul Orang Papua Menjadi Uskup

Orang Ini Usul Orang Papua Menjadi …

MODIO – Ketua Kring ...

TNI dan OPM Diminta Stop Baku Tembak

TNI dan OPM Diminta Stop Baku Temba…

JAYAPURA - Ketua  Si...

Rekaman Penetapan Auki Tekege Sebagai Tokoh Gereja Oleh Uskup Timika

Rekaman Penetapan Auki Tekege Sebag…

Bulan Oktober 2015 d...

Ini Alasan Megawati Pilih Jokowi Maju Presiden RI

Ini Alasan Megawati Pilih Jokowi Ma…

{flike}SURABAYA - Me...

Wahai Anakku Cantik

Wahai Anakku Cantik

Wahai anakku cantik,...

Inikah  Hadiah Natal TNI/POLRI Bagi Rakyat Papua di Paniai?

Inikah Hadiah Natal TNI/POLRI Bagi…

TRAGEDI 8 Desember 2...

Prev Next

In order to view this object you need Flash Player 9+ support!

Get Adobe Flash player
A+ A A-

Pers Adat Papua Sebuah Gagasan (Secercah Harapan dari Timur/2)

Ketua PWI Papua terpilih, Abdul Munib bersama mantan Ketua PWI sebelumnya, Frans Ohoiwutun (foto: antara/alfian) Ketua PWI Papua terpilih, Abdul Munib bersama mantan Ketua PWI sebelumnya, Frans Ohoiwutun (foto: antara/alfian)

Oleh : Abdul Munib (Ketua PWI Provinsi Papua)

Ideologi Ketuhanan versus Ideologi Kebendaan

Dua ideologi yang bertarung sepanjang peradaban manusia adalah ideologi ketuhanan melawan ideologi kebendaan. Ideologi ketuhanan dalam skup ke-Indonesia-an adalah ideologi Pancasila, sebab sila nomor satu adalah Ketuhanan yang maha esa. Oleh maraknya wabah kemunafikan yang menginveksi bangsa Indonesia, yang tersisa dari Pancasila hanya teks-teksnya yang digantung di dinding-dinding gedung sekolah dasar. Bukan makna Pancasila yang dikehendaki oleh para pendiri bangsa sebagai falsafah luhur yang digali dari kekayaan khazanah adiluhung yang dimiliki bangsa nusantara, yang dicanangkan sejak berdirinya negara ini.

Untuk membedakan kedua ideologi ini sangat gampang. Yaitu dengan melihat hasil akhir yang dibuahkannya. Ideologi kebendaan akan membuahkan hasil ‘ masyarakat kelas’ , mulai dari kelas elit, kelas menengah sampai kelas akar rumput. Ideologi ketuhanan akan menghasilkan buah berupa masyarakat berkeadilan.

Realitas keadaan masyarakat bangsa kita kini menunjukan gejala kuat akan tampaknya masyarakat kelas. Kelimpok elit diatas hidup dengan penguasaan sumberdaya yang berlimpah, hidup bergelimang kemewahan, sementara kelompok akar rumput dibawah berebutan mengais remah-remah, hidup berkutat dengan kemiskinan. Potret kesenjangan ini sekedarnya saja diekspose opeh pers, namun karena pemandangan ini menjadi terbiasa dianggap tidak menarik. Membuat berita lebih dikhususkan untuk kesenangan pembaca, karena masyarakat juga melihat kemiskinan itu tanpa sikap responsibilitas.

Ideologi ketuhanan identik dengan simbol cahaya dan ilmu dan ideologi kebendaan identik kebodohan. Pers yang semestinya dalam UU Pers ditugaskan sebagai alat pendidikan masyarakat, tidak mampu melakukan pencerahan. Karena insan pers yang sejati tidak memiliki ruang oleh karena kuatnya dominasi kepentingan bisnis pemilik media.

Kegagalan pers nasional menjadi pencerah bagi rakyatnya, dimulai dari kekalahan dirinya menciptakan masyarakat yang melek kebenaran. Kebenaran-beneran yang diusung pers hanya sebatas kebenaran sepihak yang formalistik. Selanjutnya diakibatkan karena ketakutan akan kehilangan pundi-pundi bisnis. Sehingga semakin banyak deretan media yang menjadi penganut ideologi kebendaan. Dan semakin langka media yang menganut ideologi Pancasila (ketuhanan). Jadi untuk sementara kini ideologi kebendaan sebagai pemenangnya. Ini bisa dibaca dengan jelas melalui wajah pers kita. (bersambung)


back to top

__Topik-Topik Pilihan__ Patut Dibaca;;;