Error
  • JFolder: :files: Path is not a folder. Path: /home/swarapap/public_html/images/myphotos
Notice
  • There was a problem rendering your image gallery. Please make sure that the folder you are using in the Simple Image Gallery Pro plugin tags exists and contains valid image files. The plugin could not locate the folder: images/myphotos

Дървен материал от www.emsien3.com

The best bookmaker bet365

The best bookmaker bet365

Menu
RSS
Sering Terjadi Penembakan: Dua Kabupaten Ini Diminta Ditutup

Sering Terjadi Penembakan: Dua Kabu…

HOLLANDIA - Beberapa...

Inikah  Hadiah Natal TNI/POLRI Bagi Rakyat Papua di Paniai?

Inikah Hadiah Natal TNI/POLRI Bagi…

TRAGEDI 8 Desember 2...

Paus Fransiskus Larang Anak Pegang HP di Kamar Tidur

Paus Fransiskus Larang Anak Pegang …

Pasu Fransiskus kemb...

Ini Seruan Titus Pekei di Hari Noken Se-Dunia

Ini Seruan Titus Pekei di Hari Noke…

{flike}HOLANDIA - No...

Ewanetaida (Tempat Wajib Istirahat)

Ewanetaida (Tempat Wajib Istirahat)

Istilah ini lama kel...

Rakyat Mapia Tengah Masih Menunggu Jalan Trans Moanemani Modio

Rakyat Mapia Tengah Masih Menunggu …

POGIBADO - Tokoh mas...

Wahai Anakku Cantik

Wahai Anakku Cantik

Wahai anakku cantik,...

Paus Pecat 4 Kardinal Bank Vatikan

Paus Pecat 4 Kardinal Bank Vatikan

{flike}VATIKAN - Pau...

Majalah Pelita Papua di Merauke Dilarang Cetak

Majalah Pelita Papua di Merauke Dil…

MERAUKE - Juli  2013...

Tetedemai (Kepala Batu)

Tetedemai (Kepala Batu)

Dan pada akhirnya ak...

Prev Next

In order to view this object you need Flash Player 9+ support!

Get Adobe Flash player
A+ A A-

Inikah Hadiah Natal TNI/POLRI Bagi Rakyat Papua di Paniai?

Inikah  Hadiah Natal TNI/POLRI Bagi Rakyat Papua di Paniai?

TRAGEDI 8 Desember 2014 di Enarotali dengan menewaskan rakyat sipil 5 orang tak bersalah telah menggemparkan dunia. TNI/POLRI yang diberi tugas oleh negara untuk menjaga keamanan dan ketentraman bagi warga masyarakat, ternyata masih melanjutkan sisi keberingasan Orde Baru yang sudah dibuang jauh sejak 1998.

Sungguh, peristiwa ini telah meninggalkan kepedihan, luka, duka dan lara yang begitu mendalam bagi masyarakat Papua, khususnya rakyat Paniai. Rakyat mengutuk otak pelaku dan pemprovokasi kejadian sebagai orang yang tidak beragama, tidak bermoral, tidak ber-Pancasila, tidak berperi kemanusiaan dan arogan dengan alat negara yang mestinya dipakai untuk menjaga kedaulatan negara.

“Seandainya kalau di planet Mars ada udara dan lahan air, saat ini rakyat berbondong pindah kesana, membuat KTP baru dari pada tinggal dan hidup di negeri yang mengedepankan bedil dan senjata tanpa menjaga rakyatnya  yang semestinya senantiasa dijaga dari waktu ke waktu”, ujar Marthen Killa (43) dalam kolomnya dilansir Theguardian.com.

Alasan ekonomi hendaknya jangan menjadi proposal dengan tumbal darah manusia yang tidak berdosa. Jaman sekarang, orang mau pakai uang hasil korupsi saja sudah berpikir dua kali. Sebab rakyat sudah tahu, membiayai anak dengan uang hasil curian, akan melahirkan manusia koruptor dikemudian hari. Menafkahi keluarga dengan korban darah manusia, akan melahirkan vampir-vampir negara yang lebih beringas dan biadap pada jamannya nanti. Apakah  perahu moral negeri ini sudah bocor dan sedang tenggelam? Kemanakah nilai-nilai Pancasila yang setiap saat kita gantung di dinding kantor Polsek, Kantor Bupati atau di Bank Papua?

Wajah militer Indonesia sebelum tahun 1945 adalah mengusir penjajah agar rakyat Indonesia hidup aman dan makmur di atas tanah mereka sendiri. Ketika Soekarno memimpin Indonesia, ia mulai mengikuti jejak Fidel Castro dari Kuba; menasionalisasi perusahan-perusahaan asing. Diantaranya Freeport gulung tikar. Namun terlanjur CIA telah menipu TNI untuk menjatuhkan 7 jenderal dan terakhir melengserkan kekuasaan presiden Soekarno. Tujuannya cuma satu,  yaitu Amerika dan kroninya mau menguasai tambang-tambang yang bertebaran di seluruh Indonesia. 

Di jaman Soeharto, militer Indonesia  menjadi satpam di negeri sendiri. Soeharto didepan mata mengajarkan Pancasila lewat BP-7, Tap MPR dan GBHN. Tetapi dalam prakteknya, Soeharto langgar Pancasila sila 1, 2 dan 5. Ia melanggar hukum Tuhan dengan operasi liar di Papua. Ia melanggar Pancasila sila kedua dengan menjadi manusia yang tidak adil dan tidak beradap.  Semakin hari manusia Indonesia menjadi Canibal, membunuh saudaranya sendiri.

Usai Seoharto lengser keprabon, 1998, Indonesia telah melahirkan sejumlah pemimpin besar yang patut diperhitungkan. Diantaranya ialah KH Abdulrachman Wahid dan Susilo Bambang Yudoyono.  Kedua tokoh ini dinilai mampu menjaga stabilitas nasional dengan memberi jaminan keamanan nasional. Daerah dibangun dengan karakteristiknya dan rakyat ikut menjaga keamanan.

Kebebasan berekspresi, memberi dan mendengar pendapat  dimuka umum adalah bagian dari alam demokrasi yang dipelihara baik kedua tokoh ini.

Kedua pemimpin ini pernah membawa Indonesia pada jaman keemasan. Indonesia jangan harap mendapat pemimpin baru kedepan, bila para pemimpin itu tidak belajar pada Gus Dur dan Susilo Bambang Yudoyono. Bisa-bisa kita menuju pada satu keruntuhan yang tidak pernah dibayangkan oleh Majapahit dan Soekarno.

Jokowi sebagai presiden pilihan rakyat, sudah saatnya lepas dari badai ujian yang mendera diawal kepemimpinannya. Sudah saatnya Jokowi kembali ke gaya dan ciri khasnya untuk melindungi rakyat dari ancaman yang datang dari dalam negeri sendiri.  Resufle adalah satu-satunya jalan untuk mengamankan dan mensejahterahkan rakyat dari kebijakan BBM dan rongrongan keamanan dari dalam negeri.

Sebab ada tertulis, menjadi pemimpin bukan untuk menindas rakyatnya. Menjadi pemimpin bukan untuk membunuh rakyatnya. Menjadi pemimpin bukan untuk menangis dan mengais didepan umum. Menjadi pemimpin untuk berkorban dan berdiri di tengah rakyatnya. Ikut merasakan penderitaan rakyat dan memberi harapan agar rakyat kenyang walaupun tidak makan.

Militer jaman sekarang hendaknya belajar pada sejarah masa lalu. Mari bersama-sama bertanya kepada Soekarno, Gus Guru, SBY dan Prabowo Subianto, apa yang hendaknya dilakukan agar Indonesia ini disanjung oleh rakyat Indonesia sendiri maupun oleh dunia internasional.

Tanpa bertanya kepada tokoh pemimpin yang memiliki jiwa dan visi yang besar, Indonesia akan menjadi permainan pemilik-pemilik proyek berskala dunia. Papua dan sejumlah daerah yang sering senjata meletup, akan menjadi lahan bisnis yang empuk. Lalu kita mau mempersalahkan siapa, bila kita sendiri merusak Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika?

Peristiwa Enarotali, militer hendaknya menjadi kaka, “Nauwai” dari rakyat Paniai. Militer hendaknya menjadi contoh dan teladan di tengah masyarakat. Hendaknya menjadi guru, mantri dan juga pendeta. Juga pelatih tinju atau karate. Bupati hendaknya memberi pekerjaan atau proyek untuk mengerjakan Lapangan sepakbola misalnya.  

Kita perlu belajar dari masa lalu. Ketika tragedi Nabire 2001, Bupati Nabire AP Youw pernah berdiri ditengah rakyat dan militer. AP Youw pegang anak panah dan “WAINAI” agar tidak ada korban jiwa. Kemudian AP Youw pakai rumus B3, biar – bosan dan bubar.

Peristiwa Enarotali ini telah melukai hati rakyat Paniai khususnya dan yang hidup di tanah Papua. Keluh kesah mereka terdengar di Facebook dan Twitter. Mereka jelas-jelas mengutuk tindakan arogansi yang berlebihan. Sebuah masalah kecil yang semestinya bisa diselesaikan dengan rukun, malah mengorbankan nyawa manusia. Masyarakat Trans Jawa, Toraja yang sudah lama hidup di Papua (lahir besar Papua / LABEPA), ikut prihatin dan mengutuk otak dan pelaku tragedy Enarotali.

Dalam adat istiadat Paniai, mendekati hari besar, mereka berkumpul dan berencana mempersiapkan segala macam hal. Si suami dan anak laki-laki pergi berburu ke hutan. Si istri mempersipkan seperlunya dari kebun. Ada istilah Touyelogia: “Yame Duwaapa Uwiyaa. Yagamo taida bugida”. Pihak laki-laki dewasa ini adalah TNI/POLRI dan Pemerintah Daerah. Kedua pihak sejauh-jauh hari sudah membentuk panitia untuk mengamankan perayaan Natal dan Tahun Baru. Tetapi yang terjadi  di Enarotali, Bupati diusir di negerinya sendiri, dan rakyat dibantai.

Inikah hadiah Natal TNI/POLRI kepada rakyat Paniai yang sedikit lagi akan merayakan Natal 2014 dan  tahun baru 2015? Kita tunggu Jokowi, kebijakan apa yang akan diambilnya! [ nd ]


Jaman sekarang, orang mau pakai uang hasil korupsi saja sudah berpikir dua kali. Sebab rakyat sudah tahu, membiayai anak dengan uang hasil curian, akan melahirkan manusia koruptor dikemudian hari. Menafkahi keluarga dengan korban darah manusia, akan melahirkan vampir-vampir negara yang lebih beringas dan biadap pada jamannya nanti. Apakah  perahu moral negeri ini sudah bocor dan sedang tenggelam? Kemanakah nilai-nilai Pancasila yang setiap saat kita gantung di dinding kantor Polsek, Kantor Bupati atau di Bank Papua?


back to top

__Topik-Topik Pilihan__ Patut Dibaca;;;