Дървен материал от www.emsien3.com

The best bookmaker bet365

The best bookmaker bet365

Menu
RSS

In order to view this object you need Flash Player 9+ support!

Get Adobe Flash player
A+ A A-

Koyeidaba dan Touye Kapogeiye (3/Mumai)

Koyeidaba dan Touye Kapogeiye (3/Mumai)

Apakah sikap dan tindakan yang dibuat Koyeidaba ini sejalan dengan ajaran-ajaran dasar orang Mee yang disebut Kabo Mana? Menurut saya, YA. Karena dalam buku Mapia yang saya teliti, orang Mee mengenal tiga ajaran pokok yaitu, ajaran Kabo Mana (pada jaman Isolemen), ajaran Tota Mana (pada jaman Simbiotik) dan ajaran Kristen (di jaman Modern).

Didalam Kabo Mana berisi tujuh ajaran pokok yaitu Tidee Dimii (merendah dan tidak sombong), Enaimo Dimii (kebersamaan), Ide Dimii (bersemangat), Ahoo Dimii (rajin dan telaten), Ipa Dimii (belas kasih, rasa iba), Keitai Ekowai dimii (berkarya dan membangun) dan Maa Dimii (rasa hormat dan menghargai sesama).

Didalam ajaran Tota Mana berisi larangan-larangan seperti oma daa (jangan mencuri), mogai daa (jangan berzinah, atau jangan selingkuh), mee wagii daa (jangan membunuh), kibigi daa (jangan iri hati) dan lain seterusnya.  Ajaran ini mulai muncul  pada jaman simbiotik, dimana ketika orang Mee berinteraksi dengan suku-suku tetangganya. Ketika agama Kristen masuk. Orang Mee mengatakan, ajaran 10 perintah Allah itu sudah ada (tota) dalam budayanya.

Ajaran tingkat ketiga yang masuk dalam lingkup hidup orang Mee adalah  ajaran Yesus Kristus. Tokoh yang berperan membawa agama Kristen masuk di wilayah Paniai yaitu lewat kontak Auki Tekege dengan Mgr Herman Tilleman. Lalu kemudian diikuti Dr Bijmler (antropolog), Soalkiki dan Kigimosakigi Zonggonau, Weakebo Mote, Gobay Pouga Gobay, Timadaa Badii, Tomaigai Degei, Dakeugi Makai, Amakahimehai Petege dan lain sebagainya.

Didalam Alkitab, jelas Yesus mengajarkan Kabo Mana yang pernah dipakai moyang Astro Melanesoid di Taman Firdaus awal. Yesus ajarkan Tide Dimii (Ia merendah, lahir di kandang Natal dan korbankan Nyawanya untuk menebus dosa Adam dan dosa umat manusia, padahal Dia Anak Allah). Yesus juga ajarkan Enaimo Dimii (sikap kebersamaan dan kekompakkan). Yesus juga ajarkan  Ahoo Dimii (rajin membantu orang tua, sesama) Maa Dimii dan Ipa Dimii – Kasih sebagai ajaran utama dan pertama.

Didalam ajaran Kabo Mana tidak ada perintah “jangan” tetapi moyang orang Papua mengedepankan “GAI” dan “DIMI” sebagai upaya proses “BERPIKIR” bagi manusia yang berakal budi, beradap dan bermartabat.  Contohnya, Manfred Mote dalam penelitiannya menyebut: “Dimi Akauwaa Awii” – Jadikan pikiran sebagai Kakak, Kapten atau juru mudi[1].   Ada juga falsafah turun temurun yang disebut: “Dou Gai Ekowai” – “Lihatlah persoalan, ditimbang-timbang dan melaksanakan untuk tujuan yang baik”. Dan masih banyak lagi.

Dari uraian ini, apakah Kitab Touye yang dimaksud Koyeidabaa itu Kitab Suci Alkitab? Kalau menurut saya, YA. Karena Yesus dalam perjalanan hidup Yesus jelas-jelas mengajarkan Kabo Mana tersebut.

Tetapi, kesimpulan terakhir diatas masih disangsikan kebenarannya. Sebab dari uraian panjang diatas, jelaslah bahwa Koyeidaba telah mematuhi dan menjalankan ajaran KABO MANA. Koyeidaba sudah mengamalkan ajaran Ipa Dimii (kasih dan penuh iba) kepada rakyatnya dengan membagi makanan dan membuatkan kebun bagi rakyat. Koyeidabaa juga telah menunjukan sikap Tidee Dimii yaitu sosok yang lahir dari keluarga miskin dan bersikap tidak sombong kepada siapa saja.  Walaupun kemudian ada kelompok yang iri hati dan membunuhnya.  

KESIMPULAN

Kalau begitu, apa sebenarnya isi dari Kitab Touye atau Touye Kapogeiye tersebut? Bagi saya ada tiga jawaban.

[1]. Buku Touye itu, nama lain dari pada Kitab Suci Alkitab. Namun perlu diketahui bahwa Nuku dan Hageku tidak pergi cari Kitab Touye di Nasaret, tetapi mereka dua pergi cari kitab tersebut di Siriwo yang terletak di bagian barat dari lokasi pembunuhan Koyeidabaa (Strelan, 1989:54). Itu berarti kitab tersebut ada dalam lingkup orang Meepago. Namun saya juga ragu, apa betul Nuku dan Hageku mendapat buku tersebut atau tidak.

[2]. Bila kita ikuti tafsiran Touye oleh Filsuf Manfred Mote, maka Touye Kapogeiye itu ada, hidup, dan eksis dalam alam hidup orang Mee khususnya dan orang Papua umumnya.  Bila buku itu dalam bentuk nyata, saya yakin, suatu saat akan muncul. Tetapi jikalau Touye itu dalam bentuk symbol, maka saatnya mari kita bersama-sama mengumpulkan semua ajaran-ajaran, petuah-petuah dan falsafah-falsafah hidup orang Mee yang bertebaran dimana-mana dan tidak pernah didokumentasikan.

Contoh ajaran Touyelogi: “Dimi Akauwaa Awii” – Jadikan akal budimu sebagai kakakmu atau sebagai kapten (Manfred Mote). Ada juga ajaran Touyelogi berbunyi: “Mee kaa gaawita wodaa tehadii”, sesuatu yang ditelan orang, jangan dimuntahkan kembali. Falsafah lain berbunyi: “Meeka ko meeka, akaha ko akaha -  eniha kaa ko eniha kaa” – Kaisar punya kasih kepada Kaisar, Tuhan punya kasih kepada Tuhan, Koyeidaba punya, tetap menjadi milik Koyeidabaa. Seandainya masyarakat Mee pada waktu itu mematuhi ajaran ini, maka, saya rasa tidak mungkin mereka bunuh Koyeidabaa. Pasti saja mereka menghargai Karunia itu karena akan menyelamatkan sekian ribu rakyat Mee pada waktu itu.

Di Biak, ada ajaran “Wos Sinan” yaitu berisi petuah-petuah atau nasehat-nasehat untuk dipakai dalam berbagai pengambilan keputusan[2]. Itulah yang disebut Touyelogia; yaitu hal ikhwal atau kebenaran yang ada pada orang Biak sejak dulu, sekarang dan selamanya.  Saya yakin, ajaran-ajaran Touyelogia itu ada dan hidup dalam setiap suku bangsa. Tergantung bagaimana orang mau mendokumentasikan dan mengamalkannya.

[3]. Jikalau Kitab Touye itu bukan nama lain dari Alkitab atau ajaran Touyelogia, maka, saya yakin, Kitab Touye tersebut adalah Kitab yang dimaksud dalam Wahyu 5:1-14, Wahyu 10:1-11 dan atau 2 Korintus 12:4-5. Didalamnya berisi kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia (Yunani: arrhêta rhêmata).  Apakah kitab tersebut diketahui kelompok Utoumana di Idakebo?

Akhir kata, saya usulkan kepada orang Mee untuk segera Ebamukai, sumbang dana untuk mendoakan moyang orang Mee yang pernah membunuh Koyeidabaa yang tidak bersalah. Lebih khusus lagi kepada tokoh Koyeidabaa, dimana sebagai manusia, pasti saja Beliau melakukan kesalahan-kesalahan. Dengan mendoakan moyang, yakin, cara berpikir pemimpin dan rakyat Dogiyai, Deiyai dan Paniai akan lebih maju dari sebelumnya. Sekaligus membasmi cara berpikir emosional, nepotism, kolusif dan korupsi yang sedang tumbuh subur di jantung tanah Papua ini. [n]

----------------------------------------------

[1]     Harap saudara bisa membaca Skripsi Manfred Ch Mote, Akal Budi Dalam Konsep Pemikiran Manusia Ekagi. STFT Jayapura, 1987. Tidak diterbitkan.

[2]     Ajaran-ajaran Wos Sinan dapat dibaca dalam tulisan Hendrik Arwam, Struktur Dasar-Dasar Sintaksis Bahasa Biak, dalam Tanah Papua di Garis Batas, I Ngurah Suryawan (Ed, at all), hlm, 202-218.

"Tak ada gading yang tak retak", begitupun dengan tulisan atau berita yang kami muat di media ini. Dari waktu ke waktu kami akan lakukan penyempurnaan dan perbaikan seperlunya (kecuali opini, essai, catatan pinggir atau artikel). Oleh sebab itu, apabila mau download, mohon perhatikan tanggal akses, identitas penulis dan judul tulisan agar kompatibel dengan referensi anda. Tulisan diatas kami rapikan kembali pada hari Minggu, 17 April 2016 10:52

Undang-undang Nomor 12 Tahun 1997 Tentang Perubahan Undang-undang Nomor 6 Tahun 1987 Tentang Hak Cipta Sebagaimana Telah Diubah dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1987. (1) Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan atau memberi ijin untuk itu, dipidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau dengan paling banyak Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah). (2) Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta sebagaimana dimaksud ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau dengan paling banyak Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah).
back to top

__Topik-Topik Pilihan__ Patut Dibaca;;;