Дървен материал от www.emsien3.com

The best bookmaker bet365

The best bookmaker bet365

Menu
RSS
Okai Too Okai

Okai Too Okai

Ia suka berdiri di t...

Black Brohters Show di Merauke, Ini Jepretan Bruder Yos Manuel

Black Brohters Show di Merauke, Ini…

MERAUKE - Group Band...

Edo Kondologit Maju DPR RI dari Dapil 1 Papua

Edo Kondologit Maju DPR RI dari Dap…

Kepada Lenny Tristia...

Ini Seruan Titus Pekei di Hari Noken Se-Dunia

Ini Seruan Titus Pekei di Hari Noke…

{flike}HOLANDIA - No...

Heve long Nauru Palamen i gohet yet

Heve long Nauru Palamen i gohet yet

{flike}PNG - Palamen...

Akan Lahir Pemimpin Besar dari Lembah Hijau

Akan Lahir Pemimpin Besar dari Lemb…

{flike}MOANEMANI - P...

H+1 Prabowo - Hatta Unggul di Papua

H+1 Prabowo - Hatta Unggul di Papua

{flike}HOLANDIA - Pa...

Prahara Kabupaten Dogiyai

Prahara Kabupaten Dogiyai

Iridescent is a vibr...

Vanuatu's Prime Minister Joe Natuman Support for West Papuan Independence

Vanuatu's Prime Minister Joe Natuma…

PASIFIC - Vanuatu's ...

Pilkada Langsung Disetujui DPR RI?

Pilkada Langsung Disetujui DPR RI?

JAKARTA - Pemilihan ...

Prev Next

In order to view this object you need Flash Player 9+ support!

Get Adobe Flash player
A+ A A-

Koyeidaba dan Touye Kapogeiye (2)

Koyeidaba dan Touye Kapogeiye (2)

Awalnya, menurut Yakobus Wakei (1998), nama itu dipakai sebagai  nama Lembaga Perhimpunan Touse-Mukaise Indonesia (didirikan sekitar tahun 1992). Nama tersebut berani dipakai  setelah alm Otouwgaidawii Wakei mendapat ilham lewat mimpi bahwa, nama Touse sudah bisa digunakan. Nama itupulalah yang menjadi perhatian serius filsuf orang Mee, Manfred Mote. Beliau menggali nama itu menjadi sebuah ilmu yang bernama Touyelogi, yaitu ilmu yang mempelajari ada, hidup, atau eksis. Yaitu ilmu yang mempelajari apa yang sudah ada, sedang ada dan akan ada selamanya dalam lingkup hidup Meepago.

Didalam Touyelogi terdapat ajaran (totamana), terdapat tanah (tota makii), terdapat lagu (totaugaa), terdapat manusia (tota mee), terdapat alam (tota utu pihaa), terdapat  binatang (tota bedoo), terdapat batu geologi (tota mukata mogo) dan lain seterusnya. Intisarinya adalah bahwa dalam Touyelogi ada pengakuan bahwa “kami sudah ada sejak dulu (penciptaan), sedang ada dan akan ada selamanya”. Dalam bahasa Inggris: “We are the first and the last”. Dalam Latin: “Alfa Omega”. Dalam ajaran Tota Mana atau Touyelogia ada istilah: “Awigi Popo – Uwagi popo atau Awi Papa dan Uwai Papa” atau “Touye Papa” – cahaya yang mengabadi.

Lalu, pertanyaannya adalah: apa yang ADA sehingga Koyeidaba, tokoh mesianis suku Mee itu meminta bantuan kepada kedua saudarinya untuk pergi cari kitab Touye itu. Yang jelas, isi dari Kitab Touye itu akan menyelamatkan Koyeidabaa sehingga dirinya bisa terhindar atau selamat dari pengejaran suku Mee pada waktu itu.

Hipotesanya adalah; Jikalau Koyeidabaa mendapat dan membaca serta mengamalkan ajaran atau perintah dari isi kitab Touye maka Koyeidabaa bisa selamat. Titik.

Lalu apa isi dari Kitab Touye? Pertanyaan sederhana ini sungguh sangat berat untuk dijawab. Saya yakin, marga Bunai dan Yeimo serta beberapa marga yang ada di kampung Pugo pun tidak mengetahui isi kitab tersebut. Syukur kalau ada yang menemukan buku tersebut dan mempublikasikan agar kita bisa  membaca apa isinya.

Untuk saat ini, ijinkan kami untuk mencoba menganalisa isi kitab Touye lewat dua pertanyaan pokok berikut: Mengapa Koyeidaba dibunuh? Dan Koyeidabaa mengetahui kitab Touye dari siapa?

PERTAMA; kita bertanya, mengapa Koyeidaba dikejar oleh suku Mee untuk membunuhnya. Padahal kita tahu bahwa Koyeidaba mendapat karunia untuk mengadakan makanan hanya dengan menggosok tangan atau badan?

Menurut Kuwigaikebo[5], pada saat itu, seluruh wilayah Paniai dilanda kekeringan dan kelaparan yang berkepanjangan. Ada istilah Nota Bokadaa, Nomo Bokadaa, Piya Weikidaa, Uwo Geedaa dan seterusnya.

Pada saat itu, Tuhan (Ugatamee / Pencipta) berbelas kasih kepada manusia dan memberikan karunia lewat Koyeidaba untuk mengadakan makanan. Koyeidabaa berasal dari keluarga sederhana miskin papa di sebuah kampung di Pugo, Paniai Timur. Hanya dengan menggosok tangannya,  Koyeidabaa bisa mengadakan petatas, keladi, sayur mayur dan seterusnya.

Lalu mengapa rakyat Mee pada waktu itu mengejar Koyeidaba dari Pugo hingga dipanah di Idakebo, Kabupaten Dogiyai?

Ada dua  versi cerita muncul. Versi pertama, Koyeidaba dibunuh karena karunia yang diperolehnya dipakai untuk kepentingan keluarganya sendiri sehingga  kelompok yang membenci sikap Napotisme, membunuhnya[1].

Versi kedua, Koyeidaba dengan segala karunia itu membuat kebun Nota yang luas dengan tujuan agar seluruh orang Mee datang mengambil bibit makanan (Nota) untuk selenjutnya ditanam di kebun masing-masing. Jenis petatas yang ditanam disebut Kadagaa atau Kadakaga dll.  Jenis tanaman ini dipercaya tahan dari serangan hama dan kekeringan.

Namun pada waktu itu, ada beberapa kalangan iri hati terhadap karunia yang dimiliki Koyeidabaa[2]. Mereka juga inginkan karunia yang sama, mungkin karena pemalas kerja lalu bergabung dengan kelompok versi pertama lalu berencana membunuh Koyeidabaa di Idakebo.

Jadi ada dua alasan yang muncul. Alasan pertama karena moyang suku Mee tidak mau sikap napotisme. Mereka tidak mau karunia yang diberikan TUHAN ALLAH dipakai untuk kepentingan keluarga sendiri. Alasan kedua, rupanya muncul dari kelompok pemalas kerja. Walaupun Koyeidabaa berniat baik membuat kebun dan mempersilahkan rakyat Paniai untuk datang ambil bibit, namun ada kelompok pemalas kerja membenci dirinya. Mungkin saja kelompok ini setiap hari urusannya perkara-perkara dan suka tagi-tagi denda Mogai (zinah) misalnya. Kalau pada jaman Yesus, mungkin boleh kita sebut, kelompok Farisi dan ahli-ahli Taurat.

Kedua kelompok ini diyakini bersatu dan berusaha menyingkirkan Koyeidaba dari wilayah Meepago. Syukur dikemudian hari, rakyat  Meepago yang rajin, sudah menanam nota pemberian Koyeidabaa sehingga bertahan di tiap bencana kelaparan dan kekeringan. Kelompok yang serius mempertahankan makanan Koyeidaba disebut Utoumana di Idakebo (Bosco Agapa, 1979 dalam Strelan, ibid).

KEDUA; mari kita bersama-sama bertanya kepada Koyeidabaa: “Beliau mengetahui kitab Touye itu dari siapa? Atau siapa yang menceritakan kepada Koyeidabaa bahwa  ada sebuah kitab yang namanya Touye dan bila membaca kitab Touye, Koyeidaba bisa selamat?”

Menjawab pertanyaan ini, tentu kita tidak bisa mendapat jawaban dari siapapun. Para penulis kisah Koyeidabaa pun hanya sebatas menceritakan kembali cerita rakyat (folklore) Koyeidabaa.

Oleh sebab itu, untuk menjawab pertanyaan tersebut diatas, mari kita mencoba menganalisa peristiwa-peristiwa yang terjadi ketika dirinya membuat mujisat.

Pada saat itu, pasti saja dia mendengar berbagai isu bahwa dirinya dan keluarganya sedang diancam.  Dan sebagai orang yang mendapat Karunia dari Tuhan, pasti saja Beliau diberi petunjuk oleh Malaikat Tuhan agar segera mencari kitab Touye bila mau selamat. Bisa juga saudara-saudarinya mendapat mimpi atau ilham ataupula diberi petunjuk dari Tuhan agar segera mencari kitab Touye tersebut.

Okey baik, sekarang kita mencoba mereka-reka isi kitab Touye tersebut.  Pertama, ya atau tidak, buku Touye berisi ajaran-ajaran atau perintah-perintah atau petunjuk-petunjuk agar orang selamat. Hal itu terbukti dengan permintaan Koyeidaba kepada dua saudaranya untuk pergi cari kitab Touye agar dirinya selamat.

Kedua, jelaslah bahwa karunia yang diterima Koyeidabaa dipakai untuk kepentingan keluarganya sendiri. Oleh sebab itu ia membuat kebun agar masyarakat bisa datang memanen dan bisa membawa pulang bibit untuk ditanam di kebun masing-masing.  Bisa juga, masyarakat yang datang padanya diberi makanan.

Dengan tindakan membuat kebun dan memberi makanan kepada mereka yang kelaparan, telah menyelamatkan Koyeidaba dari desas desus ancaman yang ia dengar. Iapun kemudian dipuja sebagai tokoh penyelamat. Kelompok Utoumana beranggapan, Yesus yang sebenarnya ialah Koyeidaba (Strelan, ibid).

Apakah sikap dan tindakan yang dibuat Koyeidaba ini sejalan dengan ajaran-ajaran dasar orang Mee yang disebut Kabo Mana? Menurut saya, YA. Karena dalam buku Mapia yang saya teliti, orang Mee mengenal tiga ajaran pokok yaitu, ajaran Kabo Mana (pada jaman Isolemen), ajaran Tota Mana (pada jaman Simbiotik) dan ajaran Kristen (di jaman Modern).

Didalam Kabo Mana berisi tujuh ajaran pokok yaitu Tidee Dimii (merendah dan tidak sombong), Enaimo Dimii (kebersamaan), Ide Dimii (bersemangat), Ahoo Dimii (rajin dan telaten), Ipa Dimii (belas kasih, rasa iba), Keitai Ekowai dimii (berkarya dan membangun) dan Maa Dimii (rasa hormat dan menghargai sesama).  [bersambung / KLIK DISINI]


----------------------------------------

[1]     Natalis Pakage, 1997, halaman 44.

[2]     Wawancara dengan Kuwigaikebo Wakei, ibid.

"Tak ada gading yang tak retak", begitupun dengan tulisan atau berita yang kami muat di media ini. Dari waktu ke waktu kami akan lakukan penyempurnaan dan perbaikan seperlunya (kecuali opini, essai, catatan pinggir atau artikel). Oleh sebab itu, apabila mau download, mohon perhatikan tanggal akses, identitas penulis dan judul tulisan agar kompatibel dengan referensi anda. Tulisan diatas kami rapikan kembali pada hari Minggu, 17 April 2016 10:47

Undang-undang Nomor 12 Tahun 1997 Tentang Perubahan Undang-undang Nomor 6 Tahun 1987 Tentang Hak Cipta Sebagaimana Telah Diubah dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1987. (1) Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan atau memberi ijin untuk itu, dipidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau dengan paling banyak Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah). (2) Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta sebagaimana dimaksud ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau dengan paling banyak Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah).
back to top

__Topik-Topik Pilihan__ Patut Dibaca;;;