Дървен материал от www.emsien3.com

The best bookmaker bet365

The best bookmaker bet365

Menu
RSS

In order to view this object you need Flash Player 9+ support!

Get Adobe Flash player
A+ A A-

Koyeidaba dan Touye Kapogeiye (1)

Koyeidaba dan Touye Kapogeiye (1)

KOYEIDABAA ialah tokoh mesianis orang Mee yang memiliki karisma untuk mengadakan makanan hanya dengan menggosokkan tangan di badan. Koyeidaba hadir ketika orang Mee mengalami kelaparan  dan kekeringan berpepanjangan. Banyak versi muncul dibalik kematian tokoh karismatik  itu. Ada yang menyebut, ia dibunuh karena napotis (karisma dipakai untuk keluarga sendiri), versi lain, Koyeidaba dipanah karena orang Mee pada waktu itu iri hati padanya. Pada artikel ini, saya hanya meneliti keberadaan Touye Kapogeiye atau Kitab Touye yang pernah diminta oleh Koyeidaba agar dirinya selamat dari pengejaran.

SIAPA KOYEIDABA?

Koyeidaba lahir di Pugo, Paniai Timur. Ibu Koyei bernama Kibiuwo, dan saudari perempuan ada tiga, Nenei Daba, Noku dan Yegaku. Nama ayahnya, tidak diketahui.  Proses lahirnya Koyei, aneh. Ketika mamanya pergi kencing, dari tempat itu muncul tangisan  seorang  bayi mungil, lalu dipelihara hingga besar. Ayahnya menolak sebagai anaknya, namun Kibiuwo dan tiga kakaknya bersikeras untuk memeliharanya.

Enam bulan awal, Koyei tidak mau makan, namun bertumbuh seperti manusia normal. Oleh sebab itu, ayahnya menyebut anak itu “Aya Yokaa” artinya, anak dari khayangan atau anak dari surga.

Ketika sudah menginjak remaja, anak itu sudah mulai membuat mujisat. Ia mengeluarkan makanan hanya dengan menggosok tangan ke badannya. Oleh sebab itu, ayahnya menamai “Koyeidaba” (Natalis Pakage, 1997)[1].

“Daba” artinya “miskin papa”. Koyei, secara etimologis, dari kata “Ko” dan “Yei”. Ko dipakai untuk menyapa seorang perempuan (tunggal). Sedangkan perempuan dalam jumlah yang banyak disebut Koukoo. Sebaliknya untuk laki-laki disapa Kee (tunggal), atau keikee (jamak). Yei adalah nama lain dari sapaan “Wahai”. Jadi Koyeidabaa artinya, “Wahai perempuan miskin papa – [saya hadir untuk menyelamatkanmu]”. Dalam kurung kami tambahkan sendiri.

Koyeidaba kemudian dibunuh di Idakebo, setelah berhari-hari dikejar dari kampun Pugo, Paniai Timur. Dalam pengejaran itu, Koyeidaba meminta kedua saudarinya, Noku dan Yegaku untuk pergi carikan kitab Touye agar dirinya selamat. Namun sebelum dirinya mendapat kitab tersebut, Koyeidaba sudah dipanah mati.

Sebelum menghembuskan nafas terakhir, Koyeidaba berkata: “Aku menaruh kasih sayang kepada kalian agar hidup tanpa kurang suatu apapun. Namun kamu tidak mengerti aku. Maka dari  itu, kamu membunuh aku. Selanjutnya silakan kamu hidup bersusah payah” [2].

DIMANA KITAB TOUYE?

Pembahasan ini kita mulai dari permintaan Koyeidabaa kepada dua saudarinya, Noku dan Yegaku untuk pergi cari kitab Touye (Touye Kapogeiye) agar dirinya selamat dari pengejaran masyarakat Paniai yang waktu itu ingin membunuhnya.

Dimana buku itu berada? Tidak semua orang mengetahui keberadaan buku Touye tersebut. Dalam Majalah Wookebadaa[3], Noku dan Yegaku mendapat buku Touye di Siriwo dan membawanya ke Koyeidabaa di Idakebo. Namun karena Koyeidaba sudah mati, maka buku Touye Kapogeiye disembunyikan Noku di wilayah timur dari lokasi kejadian.

Dalam Folklore Koyeidaba, Natalis Pakage menulis, Noku dan Yegaku sudah mendapat buku tersebut dan membawanya kepada Koyeidaba. Namun ketika tiba, Koyeidabaa sudah tidak bernyawa. Bahkan Noku dan Yegaku dikejar warga untuk membunuhnya. Nenei Daba melarikan diri kearah barat dan memasuki sebuah lubang batu. Sedangkan Noku berlari ke timur sambil membawa Touye Kapogeiye itu. Tetapi nasib Noku  sama Koyeidaba. Noku kena panah bagian punggung tapi tidak mati. Ia melarikan diri masuk ke sebuah lubang batu dan mengutuk mereka yang memanah dengan kata: “Too kabu togo kabu kiya ya kaine[4]. Artinya, kegelapan ku tinggalkan pada kalian.

Dari kisah ini jelas bahwa, buku Touye itu sudah didapat oleh Noku dan Yegaku di Siriwo, namun karena dikejar, akhirnya Noku membawa pergi kearah timur dan bersembunyi disana. Posisi buku hingga saat ini belum terungkap.

APA ISI KITAB TOUYE?

Pertanyaan berikut yaitu, apa isi buku Touye? Pertanyaan ini tidak masuk akal, karena Koyeidaba saja belum pernah membaca kitab tersebut dan disembunyikan Noku di sebuah lobang batu di bagian timur dari lokasi kejadian. Oleh sebab itu, untuk mencari isi Kitab Touye menjadi sesuatu yang sungguh sangat mustahil.

Namun demikian, kami ingin menelusuri kitab tersebut dengan metode pengartian istilah menurut asal kata. Metode ini pernah kami pakai ketika membongkar kasus hilangnya taman Firdaus. Alasan pertama dan terutama karena, moyang memberikan sebuah nama secara jujur dan kejujuran itu bisa kita ketahui ketika kita membedah sebuah kata menjadi sub-sub kata. Disana akan nampak, apa dan mengapa sebuah nama itu diberikan.   

Untuk mengetahui apa isi Kitab Touye, kita akan tafsirkan kata Touye itu sendiri.

Istilah Touye sebenarnya dilarang keras oleh moyang untuk disebut-sebut.  Namun demikian, menurut saya, ada beberapa tokoh yang sungguh sangat berpengaruh membuka tabir larangan penggunaan nama Touye tersebut. Tokoh-tokoh tersebut yaitu Otougaidawi Wakei, Manfred Mote S.Fil dan Yakobus Wakei. Cerita lengkap bisa tanyakan langsung kepada mereka.  (bersambung / klik disini)

------------------------------

[1]     Natalis Pakage dkk, Beberapa Nilai Budaya Dalam Cerita Rakyat Suku Mee, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Daerah Tingkat II Nabire, Januari 1997, hlmn 43.

[2]     Natalis Pakage dkk, ibid.

[3]     WOOKEBADA: Edisi  Perdana  April 1999, hal 9.

[4]     Natalis Pakage dkk, ibid.

[5]     Wawancara di Timeepa tahun 2001. Kuwigaikebo Wakei ialah sespuh tua adat Mapia, menetap di Timeepa dan menyembuhkan banyak orang sakit.

"Tak ada gading yang tak retak", begitupun dengan tulisan atau berita yang kami muat di media ini. Dari waktu ke waktu kami akan lakukan penyempurnaan dan perbaikan seperlunya (kecuali opini, essai, catatan pinggir atau artikel). Oleh sebab itu, apabila mau download, mohon perhatikan tanggal akses, identitas penulis dan judul tulisan agar kompatibel dengan referensi anda. Tulisan diatas kami rapikan kembali pada hari Minggu, 17 April 2016 10:46

Undang-undang Nomor 12 Tahun 1997 Tentang Perubahan Undang-undang Nomor 6 Tahun 1987 Tentang Hak Cipta Sebagaimana Telah Diubah dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1987. (1) Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan atau memberi ijin untuk itu, dipidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau dengan paling banyak Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah). (2) Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta sebagaimana dimaksud ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau dengan paling banyak Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah).
back to top

__Topik-Topik Pilihan__ Patut Dibaca;;;