Дървен материал от www.emsien3.com

The best bookmaker bet365

The best bookmaker bet365

Menu
RSS
Kamil: Rakyat Jangan Berpatokan "Quik Count"

Kamil: Rakyat Jangan Berpatokan …

{flike}JAKARTA - Kom...

Isu-Isu Ini Beredar Usai Black Brothers Minta Suaka Politik ke Luar Negeri

Isu-Isu Ini Beredar Usai Black Brot…

SUBUH, sekitar pukul...

UN Itok Oli Mas Rausim ol Posin Wara Long Solomon Islands Gold Ridge Mine

UN Itok Oli Mas Rausim ol Posin War…

{flike}PNG - Ol papa...

Pahabol Hampir Menyamai Maradona dan Messi

Pahabol Hampir Menyamai Maradona da…

{flike}YOGYA - Pengu...

Pilkada Langsung Disetujui DPR RI?

Pilkada Langsung Disetujui DPR RI?

JAKARTA - Pemilihan ...

Dalai Lama : Tidak Masalah Dengan Pernikahan Sejenis

Dalai Lama : Tidak Masalah Dengan P…

{flike}TIBET - Pemim...

Okai Too Okai

Okai Too Okai

Ia suka berdiri di t...

ARB dan Prabowo Bangun Koalisi, Lalu Siapa Capresnya?

ARB dan Prabowo Bangun Koalisi, Lal…

JAKARTA - Pertemuan ...

Mengenal Tokoh Nuim Khaiyath Sang Legenda Radio Australia

Mengenal Tokoh Nuim Khaiyath Sang L…

Baik buruk hubungan ...

Taman Eden Menurut Kamus Ensiklopedi Alkitab Masa Kini

Taman Eden Menurut Kamus Ensikloped…

KISAH Taman Eden dit...

Prev Next

In order to view this object you need Flash Player 9+ support!

Get Adobe Flash player
A+ A A-

Ketika Budaya Luar Masuk, Semuanya Tertakluk

Ketika Budaya Luar Masuk, Semuanya Tertakluk

Oleh: Ursulina Wakei*

Tulisan curahan isi hati ini, muncul ketika saya melihat banyak kawula muda yang berubah perilakunya pasca hadirnya budaya-budaya luar. Mari kita melawan dengan menghargai jadi diri kita dan budayanya agar tidak terkikis perkembangan jaman.
 
Pada saat Tuhan Allah menciptakan kita umat manusia, sesungguhnya saat itu pula Ia membekali kita dengan kebiasaan pola hidup atau adat istiadat. Sehingga pada akhirnya kita pun turut ikut menganutinya. Oleh karnanya orang tua kita selalu berkeinginan untuk mewariskanya untuk kita sekalian.
 
Cara mereka (orang tua) mewariskannya adalah dengan cara berceritera, berkisah, mengikut sertakan kita di saat menggelar upacara adat, mengikut sertakan kita pada tari-tarian dan musik lokal, mengajarkan bagaimana cara berburu yang benar, bagaimana cara berkebun yang benar, bagaimana cara meminang mempelai yang benar, dan lain sebagainya. Semuanya itu mereka lakukan agar kelak kita tidak buta akan budaya kita sendiri.
 
Namun demikian, hingga di abad yang ke 21 ini semua kawula muda sudah tak mau memedulikan akan hal-hal itu lagi. Bahkan bagi mereka praktik-praktik atau kebiasaan-kebiasaan tersebut adalah kampungan, kuno dan tiada ternilai. Tidak terlepas dari itu, bahasa daerah yang idealnya tidak mustinya di tanggalkan pun sudah mulai terlupakan oleh mereka. Padahal bahasa daerah adalah bahasa ‘Ibu’ dan juga sebagai salah satu simbol pengenal bahwa dari daerah mana sebanarnya kita berasal.
 
Memang, bahwa semua budaya luar yang masuk di Papua tidak semua buruk alias jelek, dan bahkan ada yang lebih baik dari budaya kita, dan harus kita terima (Accept) yaitu seperti; budaya kerja, budaya gotong royong, budaya cinta kasih, budaya hidup kekerabatan, budaya rama tama, dan lain sebagainya. Selain itu ada pula budaya yang harus kita tolak (Reject) yaitu seperti; budaya korupsi dan kkn, budaya merampok, budaya merampas, budaya membunuh, budaya gaya yang berlebihan (overstyle),budaya dakwa, budaya diskriminasi, dan lain sebagainya. Oleh sebab itu filterisasi sebagai daya penyaring dalam menerima budaya-budaya tersebut sangatlah perlukan.
 
Apa lagi, bagi para kawula muda yang memang sangat rentang sekali terhadap pengaruh-pengaruh luar yang bersifat buruk. Kenyataannya dapat kita lihat pada sosok-sosok muda kekinian, mereka lebih meminati musik-musik non lokal (Mancanegara) seperti; Eminem, Akon, Guy Sebastian, Jordin Sparks, Chris Brown, Zakhira, Rihanna, Birtney Spears, Jeniper Lopez, dan lain sebagainya dengan gaya nyanyi mereka masing-masing. Ketimbang musik-musik lokal seperti; Rio Grime, Edo Kondologit, Hans Sroyer, Mambesak, Mansinam, Tota mana, Paniai Group, Egeida Group, dan lain sebagainya, dengan gaya nyanyi mereka yang memang ada hubunganya dengan budaya yang kita anuti.
 
Jika melihat dan membandingkan hal tersebut diatas, maka rasanya ingin sekali untuk penulis meminjam sebuah kalimat yang pernah di gelontarkan oleh salah seorang penyanyi musik lokal yang pastinya tak asing bagi kita yakni; Hans Hengki Sroyer Yaitu; “Musik Adalah Jiwa Manusia. Dengan Musik, Jiwa Dan Mental Generasi Muda Papua Bisa Diubah”. Ini berarti bahwa, sebenarnya musik adalah media sosialisasi yang sangat tepat dan ampuh untuk mendekati generasi Papua yang Nampak makin hari makin buta akan budaya-Nya sendiri. Namun itu tergantung dari pribadi masing-masing.
 
Selain musik kita juga bisa melihat banyak laki-laki maupun perempuan yang sudah dan sedang mengrestyle dengan gaya-gaya ala barat (Mancanegara) seperti; Berpangkasan rambut kuda, cara berpakaian, cara bersepatu, cara berkendara, dan lain sebagainya. Semuanya itu sudah dan sedang teraplikasi oleh kita di setiap lini kehidupan, terlebih kaum muda-mudi kekinian.
 
Dengan demikian, yang jelas bahwa budaya-budaya kita yang sesungguhnya akan terpojokkan bahkan tersingkirkan dari hidup kita, dan selanjutnya lebih tertarik dengan budaya-budaya luar yang sesungguhnya menjerumuskan kita pada jalan yang sama sekali tidak menentu.
 
Oleh karena itu, kita semua  hendaknya bersyukur karena kita semua telah memiliki pedoman hidup (way of life) yang diwarisi sejak zaman nenek moyang kita masing-masing. Pedoman hidup tersebut berfungsi sebagai daya penyaring (filterisasi) terhadap semua budaya yang datang dari luar, ibarat sebuah komputer yang memiliki antivirus. Komputer yang memiliki antivirus, ia akan otomatis mengscan  akan segala virus yang kiranya akan mengganggu komputer tersebut.
 
Selanjutnya untuk mengakhiri sedikit catatan ini penulis hanya mau menyodorkan kepada kita sekalian bahwa: “kita tidak perlu mengkambinghitamkan orang lain atas perbuatan kita sendiri. dan, jika hal itu terjadi maka, sebenarnya kita sedang menyangkal tuhan yang telah memberikan akal budi untuk menetapkan dan menganuti pedoman hidup kita sekalian”.
 
Semoga Catatan singkat ini dapat bermamfaat bagi kita, dan menjadi bagian dari bahan refleksi kita guna mengevaluasi dan melihat kembali akan segala yang sudah kita lalui di hari-hari yang sebelumnya. Pula terlebih demi lebih besarnya kemuliaan bagi Allah “Ad Maiorem Dei Gloriam” (AMDG). Salam Perubahan!
 
*Penulis: Ursulina  Wakei, Mahasiswi Uswim Nabire-Papua.
 
  
back to top

__Topik-Topik Pilihan__ Patut Dibaca;;;