Дървен материал от www.emsien3.com

The best bookmaker bet365

The best bookmaker bet365

Menu
RSS
Paus Kecam "Kebobrokan" di Vatikan

Paus Kecam "Kebobrokan" d…

{flike}Paus Fransisk...

Kotouki Diselamatkan Lumba-Lumba Sampai Di Malaysia, Ini Kisahnya (1)

Kotouki Diselamatkan Lumba-Lumba Sa…

Pernahkah anda mende...

Hatta Umumkan Capres Setelah Pileg

Hatta Umumkan Capres Setelah Pileg

CILACAP - Ketua Umum...

Prahara Kabupaten Dogiyai

Prahara Kabupaten Dogiyai

Iridescent is a vibr...

Kisah Auki (3): Sempat Diancam dan Dipenjarakan Tentara Dai Nippon

Kisah Auki (3): Sempat Diancam dan …

Tahun-tahun berikutn...

Benny Giay Kritisi Pelaksanaan KKR di Tanah Papua

Benny Giay Kritisi Pelaksanaan KKR …

JAYAPURA - Pendeta B...

Ketua BP Presiden Jokowi-JK Dogiyai Dukung Natalis Pigai Jadi Menteri Perumahan Rakyat atau PDT

Ketua BP Presiden Jokowi-JK Dogiyai…

{flike}NABIRE – Ketu...

Kisah Auki (2): Misa Pertama dan Kehadiran Agama Kristen Protestan

Kisah Auki (2): Misa Pertama dan Ke…

Pada tanggal 21 Dese...

Koyeidaba dan Touye Kapogeiye (2)

Koyeidaba dan Touye Kapogeiye (2)

Awalnya, menurut Yak...

Martha Pigome Raih Gelar Doktor Bidang Hukum

Martha Pigome Raih Gelar Doktor Bid…

NABIRE - Ada banyak ...

Prev Next

In order to view this object you need Flash Player 9+ support!

Get Adobe Flash player
A+ A A-

Daniel Wandagau Harapkan Penghargaan dari Pemda Intan Jaya

“Anak, saya sudah orang tua. Pada masa muda, saya belajar di Wamena. Ilmu yang saya peroleh disana, saya pulang ke kampung dan praktekkan dalam masyarakat. Disana saya menjadi Katakis, melayani Firman Tuhan. Pada saat yang sama, saya juga menjadi guru, dan terakhir rakyat pilih saya menjadi Kepala Desa”, ujar paitua Daniel Wandagau seraya meminta tolong tuliskan kisahnya agar Pemda Intan Jaya bisa menghargai jasa perjuangannya. “Anak, saya sudah orang tua. Pada masa muda, saya belajar di Wamena. Ilmu yang saya peroleh disana, saya pulang ke kampung dan praktekkan dalam masyarakat. Disana saya menjadi Katakis, melayani Firman Tuhan. Pada saat yang sama, saya juga menjadi guru, dan terakhir rakyat pilih saya menjadi Kepala Desa”, ujar paitua Daniel Wandagau seraya meminta tolong tuliskan kisahnya agar Pemda Intan Jaya bisa menghargai jasa perjuangannya.

SIANG BOLONG, Sabtu (15/11 ) lalu, seorang paitua membawa langser jalan kaki di perumahan Pemda Jayanti Nabire. Mengenakan celana pendek warna biru, pak tua ini sudah keringatan dan belok ke rumah wartawan media ini. Ia langsung duduk di lantai dan meminta air minum, “Du nenee”, demikian paitua itu meminta air.

Setelah minum air putih, ia memperkenalkan diri. Namanya Daniel Wandagau, usianya sudah 54 tahun. Lahir di Sanepa, 28 April 1950. Ia seorang mantan guru, mantan katakis dan mantan seorang kepala Desa di mampung Maya, Distrik Homeyo.

“Anak, saya sudah orang tua. Pada masa muda, saya belajar di Wamena. Ilmu yang saya peroleh disana, saya pulang ke kampung dan praktekkan dalam masyarakat. Disana saya menjadi Katakis, melayani Firman Tuhan. Pada saat yang sama, saya juga menjadi guru, dan terakhir rakyat pilih saya menjadi Kepala Desa”, ujar Wandagau seraya meminta tolong tuliskan kisahnya agar Pemda Intan Jaya bisa menghargai jasa perjuangannya.

Kata Wandagau, dirinya sudah mengabdi menjadi Kepala Desa selama 35 tahun. Kampung Maya yang dipimpinnya, jauh dari Enarotali, ibu kota Kabupaten Paniai lama. Harus menempuh 4 hari 4 malam lalu bisa tiba di Enarotali. Dari Maya ke Homeyo, 2 hari penuh. Sekarang dari Maya ke Sugapa, Intan Jaya 4 hari. Jalan sudah dekat Homeyo, tinggal 10 kilo, tapi ojek mahal, Rp. 500.000 untuk menempuh 10 kilo. Biaya hidup di Intan Jaya lebih mahal dari Enarotali.  Harga barang di Nabire, jauh lebih murah, kalaupun besok BBM naik, harga barang tambah naik, tetapi itu tidak sebanding dengan harga barang di pedalaman, seperti di Maya, Ilaga dan Bilogai.

Ketika Wandagau memimpin Desa Maya, dirinya beberapa kali mendapat penghargaan dari Barnabas Suebu, mantan gubernur Provonsi Papua. Hal itu berkat upayanya memajukan pendidikan dan ekonomi di kampungnya. Ia ketika menjadi kepala Desa, ia pun merangkap menjadi guru di kampungnya. Banyak anak didiknya yang sudah menjadi manusia. Ia juga merangkap sebagai seorang gembala, mewartakan Injil di tengah masyarakatnya yang jauh dari kehidupan modern.

Kini Wandagau sudah beristirahat banyak. Selain karena usia, ia juga merasa perlu mendapat perhatian dari Pemerintah Daerah Kabupaten Intan Jaya atas jasa-saja memajukan kampung Maya.

“Tidak hanya saya. Sekarang saya sedang berjuang agar bupati mau memberikan penghargaan kepada kami, terutama kepada mantan-mantan kepala-kepala kampung, guru-guru tua dan katakis pendeta yang sudah umur tua. Atas kerja keras dan perjuangan kami mempertahankan dan memajukan daerah kami, maka sekarang kami mau minta perhatian dari bapak bupati”, ujar Wandagau sambil mata berkaca-kaca.

“Anak ini lihat bapak punya riwayat hidup. Saya sudah buat dalam bentuk proposal. Saya mau tunjukan sama bupati dan saya tahu, bupati akan perhatikan kami”, ujar  paitua Daniel penuh yakin.

Dalam proposalnya, Daniel menulis secara lengkap riwayat hidup singkat, dilampirkan dengan penghargaan-penghargaan, piagam-piagam yang pernah diperolehnya. Diantara piagam pendidikan dan latihan kader Golkar anggkatan ke 3 1990 diberikan oleh Ketua Golkar Papua waktu itu, Krisno Djumar dan sekretarisnya F Sukono. Ada juga piagam dari BP-7 yang ditandatangani oleh Kepala BP-7 Paniai, I.W. Gunadhi, BA. Ada juga penghargaan dari Menteri Dalam Negeri atas pelaksanaan tugas yang sebaik-baiknya dalam rangka penyelenggaraan Pemilihan Umum 1977. Di tanda tangani oleh Plh Gubernur Irian Jaya, Soetran.

Seperti kata pepatah, bila ingin maju kedepan, jangan lupa jasa pejuang,  maka, menurut Wandagau, saatnya para bupati di tanah Papua untuk menghargai jasa-jasa tokoh-tokoh pembangunan pada masa dulu. Karena menurut Wandagau,  jikalau  tidak ada guru-guru, petugas gereja dan pemerintah,  tidak mungkin ada pemekaran daerah seperti sekarang. Dengan memberikan penghargaan, akan ikut memberikan semangat dan motifasi kepada generasi sekarang untuk lebih giat mengisi pembangunan.

Ketika ditanya, siapa kepala-kepala distrik yang pernah pimpin masyarakat Homeyo, Wandagau langsung keluarkan daftar nama-nama kepala Distrik, lengkap dengan daftar bupati Paniai hingga menjadi kabupaten Nabire.

Di Distrik Homeyo, Kepala Distrik pertama bernama Jhon Supraya, BA (1977-1981). Digantikan oleh Jhon Pasande, BA (1981-1986). Digantikan oleh Anto, BA (1986-1991). Digantikan oleh Josia Degei (1991-1996). Digantikan oleh Thobias Zonggonau (1996-2001). Digantikan oleh Joel Sada (2001-2006), digantikan oleh Jesaya Bagau (2006-2011). Digantikan lagi oleh Gat Zagani, kembali dipimpin oleh Joel Sada dan sekarang dipimpin oleh Hermanus Miagoni.

Ketiga disinggung bentuk penghargaan apa yang diinginkan para mantan kepala-kepala kampung dan guru-guru tua, menurut Wandagau, terserah bupati. Paling penting, melalui Dinas Sosial perlu mendata kami dan undang kami. Misalnya perhatikan rumah, biaya pendidikan anak atau juga penghargaan lain pantas dan memuaskan kami.

“Kami juga mau merasa bangga atas jasa kami membangun rakyat, oleh karena itu, kami meminta Bapak bupati untuk memberikan kami penghargaan sepantasnya”, ujar paitua Daniel Wandagau mengakhiri pembicaraan.



 

back to top

__Topik-Topik Pilihan__ Patut Dibaca;;;