Дървен материал от www.emsien3.com

The best bookmaker bet365

The best bookmaker bet365

Menu
RSS
Banyak Pejabat Papua Miliki Senjata

Banyak Pejabat Papua Miliki Senjata

{flike}HOLANDIA - In...

Hindari Papua Makan Papua

Hindari Papua Makan Papua

1). Di Papua, sebaga...

7

7

Kami tolak hukum ada...

Boy, 11, eaten by crocodile in Papua New Guinea

Boy, 11, eaten by crocodile in Papu…

{flike}PNG - The lim...

Inii Kedaa Inii Kodaa

Inii Kedaa Inii Kodaa

Jika anda lebih meme...

Dalai Lama : Tidak Masalah Dengan Pernikahan Sejenis

Dalai Lama : Tidak Masalah Dengan P…

{flike}TIBET - Pemim...

Usai Menebas Tubuh Pigome dan Semu, Rombongan itu Menghilang

Usai Menebas Tubuh Pigome dan Semu,…

Ini kronologis kejad...

Kepada Dubes Australia, Enembe Minta Pemerintah Pusat Patuhi UU Otsus

Kepada Dubes Australia, Enembe Mint…

JAYAPURA – Gubernur ...

Ambrosius Degey: Ingin Mewakili Rakyat LSM (2)

Ambrosius Degey: Ingin Mewakili Rak…

SUGAPA - Perjuangan ...

Prev Next

In order to view this object you need Flash Player 9+ support!

Get Adobe Flash player
A+ A A-

Pupu Papa Artinya Penghembus Bercahaya?

Pupu Papa Artinya Penghembus Bercahaya?

ADA BEBERAPA peneliti menyebut istilah PUPU PAPA sebagai nama tempat, yaitu nama tempat asal usul suku-suku berbudaya koteka. Tetapi oleh sarjana lain menyebut nama seorang mama yang telah melahirkan moyang orang Dani, Nduga, Damal (Amung), Migani, Ndauwa, Wolani dan Ekagi.

Menurut Manfred Mote dalam skripsinya yang berjudul: “Akal Budi Dalam Konsep Pemikiran Manusia Ekagi” (1987:11), Pupu Papa adalah nama tempat moyang suku-suku berbudaya koteka. Namun beliau tidak menyebutkan dimana tempat itu berada. Diduga berada di wilayah tengah pegunungan Kartens.

Jauh sebelumnya, Luis Markus Zonggonau dalam skripsinya berjudul: “Praktek dan Latar Belakang Larangan Perkawinan Antara Suku Ekagi dan Suku Migani yang Diungkapkan Dengan Istilah Wiyee atau Wize” (1976:13), suku-suku berbudaya koteka berasal dari Deleme (Migani), Delame (Wodani), Delome (Ughunduni), Delemop (Dani/Lani) dan Degemee (Mee/Ekagi). Keluarga ini mempunyai seorang mama yang bernama Mbubu Mbaba (Dani, Lani, Ugunduni, Migani) dan orang Mee menyebut Pupu Papa.

Menurut Zonggonau, masih di halaman yang sama, keluarga Delame ini terbagi-bagi dan membentuk suku sendiri-sendiri karena tempat tinggal mereka mengalami musim dingin berkepanjangan sehingga kaku lidahnya, lalu kemudian membentuk dialek bahasanya sendiri-sendiri. Karena dialeknya sudah berlainan, dan mulai mencari tempat yang lebih hangat / panas, maka kemudian muncul suku-suku seperti yang ada sekarang.

Lalu mana yang benar, apakah Pupu Papa adalah nama tempat atau nama seorang mama yang melahirkan suku-suku di pedalaman Papua?

Baru-baru ini kami mendapat sebuah buku karya bupati Nabire, Isaias Douw dengan judul Pupu Papa, Tanah di Bawah Gumpalan Awan Putih, Sejarah Asal Usul Orang Mee di Tanah Papua (2012). Awalnya kami merasa tertarik dengan Judul buku ini. Kami harapkan isi buku ini akan mengulas sejarah dimana PUPU PAPA, mengapa nama itu diberikan, bagaimana proses, bilamana PUPU PAPA dan lain sebagainya.  Namun tak satupun menjadi perhatian dalam penulisan buku biru ini.

Begitupun sub judul buku, Sejarah Asal Usul Orang Mee di tanah Papua, tak disinggung sedikitpun sejarah orang Mee, bagaimana persebaran Yina Tuma, Maki Tuma, Mogo Tuma, Woda Tumaa dan lain seterusnya. Buku ini hanya meminjam nama umum (sakral) dan isinya cerita rakyat dari marga tertentu saja.

Dalam buku ini secara implisit hendak disampaikan bahwa dari PUPU PAPA, benih cahaya yang diturunkan hanya kepada marga tertentu dan Koyeidaba berasal dari marga tertentu dan segala harta benda Koyeidaba diturunkan kepada orang tertentu untuk akhirnya menang-menang.  Dongeng demikian sama persis dengan kisah-kisah raja-raja di Jawa atau jaman Yahudi yang lebih suka memperhatikan garis keturunan dari pada kebenaran obyek yang hendak diteliti/ditulis.

Lalu apa arti sebenarnya dari nama Pupu Papa?

Zonggonau maupun Mote dalam skripsinya tidak menyinggung soal itu. Karena memang bukan menjadi pokok bahasannya. Dalam footer note Douw (2012:12), Pupu artinya benih dan Papa artinya cahaya. Jadi Pupu Papa adalah “benih cahaya”. Ditulis: Secara bebas diartikan sebagai tempat suci atau tempat bercahaya benih (manusia). Tempat asal manusia.

Menurut Yohanes Butu, siswa SMU YPK Tabernakel yang menjual buku biru itu (10/8), pengartian PUPU sebagai BENIH sudah salah besar. Sebab benih dalam bahasa Mee, Benih disebut iyoo (paniai, tigi, kamuu) atau isoo (sukikai, putapa, siriwo) dan ihoo (mapiha epouda). Jikalau Puu sebagai pucuk, masih masuk akal.

Dalam bahasa Mee, Pupu artinya hembus atau tiupan, yaitu dari kata Puu: hembus atau tiup. Ada kata Ba Puu artinya kentut, ada kata Ebe Puu artinya bau mulut, ada kata bodiya puu atih artinya tiup api biar menyala, juga kata bou puu artinya tiupan angin sepoi sepoi.  Sedangkan PAPA artinya cahaya. Jadi Pupu Papa artinya PENGHEMBUS yang BERCAHAYA. Mungkin dimaksud kepada TUHAN Allah yang pernah menghembuskan nafas kepada manusia pertama. (Kej 2:3) (Degey: manuskrip Mapia).

Hindari Vulgarisasi, Fanatisme dan Vandalisme

SEJARAH asal usul orang gunung harusnya menjadi perhatian serius bila menafsirkan sebuah istilah yang sakral dan sentralistis. Ada baiknya, ketika orang berbicara sejarah atau masa lampau, harus menggunakan literatur yang kuat agar menjadi pedoman (yang mendidik) sekaligus melatih budaya menulis yang jujur dengan data yang akurat. Jangan hanya kopi paste data internet: sebab kita tahu, di internet sering hanya ditampilkan resensi buku, info buku dan berita peluncuran buku. Sementara isi buku jarang ditampilkan.

Sebuah buku akan menarik dibaca jikalau penulis secara jujur menulis kutipan, tahun terbit, dan halaman. Lalu buku yang dikutip dimuat dalam daftar referensi (judul asli). Kutipan yang tepat akan mendorong pembaca asyik membaca dan mengikuti arah atau alur penulisan sebuah buku.

Tugas kita bersama adalah, menjaga kebenaran data sejarah. Kita bersama-sama menghidari upaya-upaya vulgarisasi, fanatisme dan vandalism.

Upaya Vulgarisasi pernah dilakukan kaum Digulis, pejuang NKRI yan dibuang dan dipenjarakan Belanda di Digoel. Mereka seenaknya mengalihkan pengertian asli nama Irian yang dalam bahasa Biak berarti “sinar pagi yang memanas (iriane monda)” menjadi “Ikut Republik Indonesia Anti Nederland”.

Ada juga istilah Kapauku. Jepang akibat kalah perang di pedalaman Papua, ia menyebut orang gunung itu pemakan manusia. Padahal hanya karena ganas, ia seenaknya artikan Kapauku sebagai kanibalis, sementara Kapauku dari kata Kapau dan uku. Kapau artinya diantara, didalam dan uku artinya perahu. Jadi kapauku artinya orang-orang didalam  perahu.

Tidak hanya disitu, di Papua, nama jalan, nama desa/kampung, nama wilayah adat, nama gedung sudah “divulgar” menggunakan nama-nama dari luar Papua. Di Papua tidak ada alamat jalan Yap Salosa, jalan Arnold UP, gedung Sam Kapisa, Stadion Mutiara Hitam, Yayasan Auki Tekege, Universitas Teluk Cenderawasih dan lain-lain. Yang ada, yaitu jalan Sam Ratulangi, Jalan Sisingamangaraja, jalan Ahmad Yani, gedung Graha Kencana, Stadion Mandala Jayapura, Yayasan Tillemans, Universitas Satya Wiyata Mandala Nabire. Syukur karena di Jayapura ada jalan Koti. Bahasa Paniai Koti adalah penis Koti peiyoo.

Bila hal ini kita tidak menghindari, maka saatnya akan melahirkan generasi yang berdiri diatas penafsiranyang keliru. Fanatik. Berbahaya jika mereka bertahan diatas penafsirannya masing-masing , dan pada saatnya melahirkan generasi vandalis yang suka merusak dalam berbagai dimensi.


"Tak ada gading yang tak retak", begitupun dengan tulisan atau berita yang kami muat di media ini. Dari waktu ke waktu kami akan lakukan penyempurnaan dan perbaikan seperlunya (kecuali opini, essai, catatan pinggir atau artikel). Oleh sebab itu, apabila mau download, mohon perhatikan tanggal akses, identitas penulis dan judul tulisan agar kompatibel dengan referensi anda. Tulisan diatas kami rapikan kembali pada hari Minggu, 17 April 2016 10:53

Undang-undang Nomor 12 Tahun 1997 Tentang Perubahan Undang-undang Nomor 6 Tahun 1987 Tentang Hak Cipta Sebagaimana Telah Diubah dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1987. (1) Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan atau memberi ijin untuk itu, dipidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau dengan paling banyak Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah). (2) Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta sebagaimana dimaksud ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau dengan paling banyak Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah).
back to top

__Topik-Topik Pilihan__ Patut Dibaca;;;