Дървен материал от www.emsien3.com

The best bookmaker bet365

The best bookmaker bet365

Menu
RSS
Mengenal Tokoh Nuim Khaiyath Sang Legenda Radio Australia

Mengenal Tokoh Nuim Khaiyath Sang L…

Baik buruk hubungan ...

Andy Ayamiseba Share Lagu Vince Gill Untuk Kenang Mimi Fatahan

Andy Ayamiseba Share Lagu Vince Gil…

VANUATU - Sabtu (12/...

Dalai Lama: Rahasia Panjang Umur Ada Dalam Kepala

Dalai Lama: Rahasia Panjang Umur Ad…

{flike}IRLANDIA - Nu...

Di Tubuh Seorang Pemabuk

Di Tubuh Seorang Pemabuk

ALKOHOL jelas berbah...

The First River of Eden!

The First River of Eden!

  While most people...

Jimi Demianus Iji: Orang Papua Hidup Rukun Antar Agama Sejak Dulu

Jimi Demianus Iji: Orang Papua Hidu…

JAKARTA - "Kami meny...

Jokowi Siap Menjadi 01 Republik Indonesia

Jokowi Siap Menjadi 01 Republik Ind…

JAKARTA - Saat blusu...

Ketika SBY Resmikan Patung Yesus Kristus di Mansinam

Ketika SBY Resmikan Patung Yesus Kr…

SORONG -  Ahad 24/8,...

7

7

Kami tolak hukum ada...

Koyeidaba dan Touye Kapogeiye (3/Mumai)

Koyeidaba dan Touye Kapogeiye (3/Mu…

Apakah sikap dan tin...

Prev Next

In order to view this object you need Flash Player 9+ support!

Get Adobe Flash player
A+ A A-

Mengapa Kami Menggunakan Nama Taman Firdaus?

Mengapa Kami Menggunakan Nama Taman Firdaus?

Oleh: Engelbertus P Degey

NAMA atau istilah taman Firdaus, pertama kali saya ketahui ketika masih kelas 4 SD YPPK Don Bosco Modio. Pada waktu itu saya demam dan berbaring di gubuk Modio. Disudut ruangan itu, mama ada gantung Rosario ukuran besar dan saya pun taro kepala dibawahnya. Sayapun tertidur dan bermimpi Yesus sedang di kayu salib. Saya melihat Yesus melepaskan tangannya bagian kiri yang sudah dipaku dan mengajak penyamun/penjahat  yang berada di bagian kanan  pergi bersama-sama.  

Mimpi itu, saya baru sadar ketika saya SMA (1992-1996), saya buka-buka injil dan ketemu injil Lukas 23:43. Sering saya berpikir, wah ayat ini sama dengan mimpi saya pada waktu masih kecil.

Dalam pembinaan-pembinaan di Asrama Tunas Harapan Jayapura, Rektor Asrama, Lukas Karl Degey pun sering mengajak untuk perlu menggali identitas dan eksistensi masing-masing suku. Dari mana asal? Pekerjaan orang tua? Cita-cita setelah SMA? Dan lain-lain. Sebagai contoh, Lukas sering mengutip kitab Kejadian tentang Adam dan Hawa yang telah melanggar perintah Allah. Sering disebutkan, nama lain dari taman Eden adalah taman Firdaus.

Waktu di Nabire, 1998-1999, sering terjadi pertengkaran antara AP Youw dan orang-orang Mapia. Yulius Degey dan Piter Edowai sering memimpin demo terhadap berbagai kebijakan pemerintah daerah. Fenomena ini menjadi bahan diskusi antara saya, Manfred Mote, Didimus Mote dan Yakobus Wakey sambil meneliti Touye Mukaiye yang sudah dirintis oleh Yakobus Wakei dan kaka Manfred Mote.

Manfred Mote kemudian hari (sekitar tahun 2004) mencetuskan program Odha Owada di Enarotali untuk proteksi manusia dan keluarga suku Mee khususnya dan orang Papua umumnya. Nama Odha Owada sejalan dengan kisah taman Eden yang berpagar (Hadiqah Al-Haqiqah), juga sejalan dengan perjuangan Zakheus Pakage dengan gerakan  Edage Bagee yang kemudian hari diteruskan oleh kelompok Bunani di Idakebo.

Untuk meneliti Mapia dan Kapauku, sejak tahun 1997, saya mulai dengan kegiatan kesenian dengan membentuk sanggar Kapauku Folkarts, tentu dibawah binaan dan bimbingan Kaka Manfred, Yakobus Wakei, Didimus Mote dan Yayasan Bina Mandiri Utama Nabire, Barnabas Tekege. Pada waktu itu, nama Kapauku ditolak masyarakat, tetapi tetap kami bertahan karena Kapauku tidak mengandung arti Kanibalis. Tentu hal itu merupakan tantangan menuju penggunaan nama Firdaus.

Sekitar 1999, tak sengaja saya menulis kata MAPIA dan mencoba mengartikannya: Mapia – Pohon Kebenaran yang dipertanyakan. Mengapa ada kata pohon, mengapa ada kata kebenaran? mengapa dipertanyakan?  Siapa yang memberi nama Mapia, kapan nama itu diberitakan.

Ada sejumlah teman membantu dalam penelitian ini, diantaranya, Frans X Adii, Ferdinant Tekege, Stefanus Tatago, Herman Ar Youw, Yermias Iyai, Mazimus Makai, Ernest Pokuwai dll.

Setelah menelusuri secara Etimologis, Kultur Filosofis, Etnologi dan Historis, Geografis Psykologis, kultur religi dan filsafat, saya tidak menemukan siapa yang memberi nama Mapia, kapan diberikan dan dalam rangka apa nama Mapia itu diberikan. Seluruh nama pohon yang terdapat diwilayah suku Mee pun saya data dan mencari tahu kegunaannya. Namun nihil.

Akhirnya, saya pakai Alkitab untuk mencari tahu apa itu pohon, apa itu kebenaran dan mencari tahu mengapa dipertanyakan. Nah, disinilah saya menemukan sejumlah kesamaan-kesamaan, terutama kata pohon yang terdapat dalam kitab Kejadian, kitab Daniel dan istilah pohon yang terdapat dalam kata Mapia.

Ternyata, Mapia menjadi  password untuk membuka taman Firdaus sebenarnya yang telah hilang sekian abad lamanya. Tuhan Allah benar-benar sembunyikan secara rapi agar tidak diketahui oleh peneliti manapun di dunia. Ia ada disekitar kita (selalu kita sebut), tetapi kita tidak sadar bahwa kita bagian dari system pilihan Tuhan. Sejatinya ia ada didalam koteka moge yang kita anggap terbelakang, kuno,  tara laku, dan seterusnya.

Tahun 2000, saya berpikir, penelitian sudah pada kesimpulan bahwa tanah Papua adalah taman Firdaus. Namun untuk meyakinkan, bagaimana proses penciptaan, kapan, bagaimana sungguh sangat berat. Data-data referensi tidak ada dimanapun. Buku-buku sejarah, Alkitab dan Alquran sekalipun tidak menyebutkan dimana lokasi taman Eden yang hilang tersebut.

Akhirnya tahun 2001, usai keliling sejumlah perpustakaan di Jayapura, sayapun melanglang buana ke Jakarta, Yogyakarta, Semarang dan kembali lagi ke Jakarta. Bertemu sejumlah tokoh agama, filsuf, namun semua menjawab: tidak tahu. Sayapun kembali ke kampung, bertanya kepada Kuwigaikebo Wakei, tokoh yang pernah menginspirasi tentang keberadaan pohon di Mapia pada bulan Juli 1994. Tetapi beliau mengatakan: tidak tahu dimana keberadaan pohon itu. Sayapun kembali ke Jakarta untuk melengkapi sejumlah pertanyaan yang diberikan Prof Astrid Susanto Sunario untuk menjawab agar buku Mengungkap Kasus Hilangnya Taman Firdaus menjadi lengkap dan konprehensif. Tugas utama sebagai PNS di Bagian Hukum Setda Kabupaten Nabire, kutinggalkan.

Bingun dan menderita adalah bagian dari hidup saya selama di Jakarta. Sering tinggal di Parung bersama bung Jimmy D Idji dari Irian Jaya Krisis Senter. Sayapun pernah menjadi Satpam di rumah makan Chang di Blok 56 Jl Hayam Wuruk Jakarta Pusat. Disana Tuhan punya rencana lain. Di tempat kerja ini ternyata berdekatan dengan toko buku Gramedia. Waktu senggang saya manfaatkan untuk mencari dan menemukan sejumlah buku kaum Sufi. Disana saya menemukan bahwa, para sufi, pada tingkat tertentu menyebut istilah Hadiqah Al-Haqiqah dan Wa-Nur (taman Kebenaran berdinding yang bercahaya), tetapi letak dan lokasi tidak disebutkan.

Dana penelitian untuk proyek “besar pasak dari pada tiang ini” tidak ada. Pemerintah dan perorangan tidak mendukung pekerjaan ini. Mereka menganggap, hingga saat ini, proyek penelitian ini hanya buang-buang waktu saja. Omong kosong dan jangan dipercaya. Tetapi saya tetap kerja dengan semangat yang tinggi untuk mengangkat harkat dan martabat orang Papua. Syukur-syukur kalau menang togel atau Billiard.

Firdaus mengandung dua pengertian, yaitu: firdaus yang nyata (ada di bumi) dan firdaus tidak nyata (ada di surga) – tempat bersemayam orang-orang kudus. Ternyata: kedua bentuk firdaus ini ada di tanah Papua, baik firdaus yang nyata maupun firdaus tempat hidup tempat orang-orang kudus. Orang Eropa, orang Asia, orang Amerika, orang Brasil, Afrika, bila meninggal, arwahnya akan datang ke Papua. Diantaranya para santo-santa, para Nabi dan para Rasul semua ada di Papua.  Dimana lokasinya? Ada di setiap gunung yang ada di tanah Papua.

Oleh sebab itu, tanah Papua adalah Taman Firdaus, tanah Suci, milik bagi siapa saja dan mari kita menjaga dan memperbaharuinya.

"Tak ada gading yang tak retak", begitupun dengan tulisan atau berita yang kami muat di media ini. Dari waktu ke waktu kami akan lakukan penyempurnaan dan perbaikan seperlunya (kecuali opini, essai, catatan pinggir atau artikel). Oleh sebab itu, apabila mau download, mohon perhatikan tanggal akses, identitas penulis dan judul tulisan agar kompatibel dengan referensi anda. Tulisan diatas kami rapikan kembali pada hari Rabu, 25 November 2015 12:40

Undang-undang Nomor 12 Tahun 1997 Tentang Perubahan Undang-undang Nomor 6 Tahun 1987 Tentang Hak Cipta Sebagaimana Telah Diubah dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1987. (1) Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan atau memberi ijin untuk itu, dipidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau dengan paling banyak Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah). (2) Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta sebagaimana dimaksud ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau dengan paling banyak Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah).
back to top

__Topik-Topik Pilihan__ Patut Dibaca;;;