Дървен материал от www.emsien3.com

The best bookmaker bet365

The best bookmaker bet365

Menu
RSS
Romo Manuel Musallam: Jika Mesjidmu Terkena Bom, Silakan Adzan dari Gereja Kami

Romo Manuel Musallam: Jika Mesjidmu…

{flike}PALESTINA  - ...

Kamil: Rakyat Jangan Berpatokan "Quik Count"

Kamil: Rakyat Jangan Berpatokan …

{flike}JAKARTA - Kom...

Kinerja dan ULP di Intan Jaya Lebih Tinggi di Tanah Papua

Kinerja dan ULP di Intan Jaya Lebih…

BILOGAI – Upaya peme...

Usai Dibebaskan, 5 Pejuang Papua Merdeka Ini Mengaku Tidak Dendam Pada Polisi Indonesia

Usai Dibebaskan, 5 Pejuang Papua Me…

{flike}JAYAPURA - Ke...

Lagi, Dua Wartawan Prancis Ditangkap di Wamena

Lagi, Dua Wartawan Prancis Ditangka…

WAMENA - Kepolisian ...

Koyeidaba dan Touye Kapogeiye (2)

Koyeidaba dan Touye Kapogeiye (2)

Awalnya, menurut Yak...

TNI dan OPM Diminta Stop Baku Tembak

TNI dan OPM Diminta Stop Baku Temba…

JAYAPURA - Ketua  Si...

ARB dan Prabowo Bangun Koalisi, Lalu Siapa Capresnya?

ARB dan Prabowo Bangun Koalisi, Lal…

JAKARTA - Pertemuan ...

Ini Alasan Numberi Pindah ke Prabowo

Ini Alasan Numberi Pindah ke Prabow…

JAKARTA - Nama bekas...

Enembe Sedang Mengikuti Polling Eksodus Mahasiswa Yogya di Media Ini

Enembe Sedang Mengikuti Polling Eks…

JAYAPURA - Polling y...

Prev Next

In order to view this object you need Flash Player 9+ support!

Get Adobe Flash player
A+ A A-

Bukan Si Miskin

Bukan Si Miskin

PRESIDEN yang menolak tinggal di istana dan memilih hidup di ladang dan menempati rumahnya sendiri di lorong tak beraspal dan sehari-hari hanya dijaga dua pengawal di kelokan jalan dan ditemani seekor anjing berkaki tiga yang setia dan ke mana-mana mengendarai sebuah VW kodok tahun 1987 berwarna kusam: ia bukan tokoh sebuah dongeng Amerika Latin. Ia benar ada, di abad ke-21: Jose Mujica, Presiden Uruguay.

Pada usia 78 tahun, ia, yang dipanggil "Pepe", seorang kakek rombeng, dengan sepatu usang dan baju acak-acakan. Ia bergaji 20 ribu dolar, tapi 90 persen dari uang itu ia berikan untuk sumbangan buat orang-orang yang kekurangan. Sisanya praktis senilai pendapatan rata-rata orang Uruguay. Bersama istrinya, Lucia Topolansky, yang juga seorang senator, ia tetap mengolah ladangnya yang ditanami kembang krisan, tanpa pembantu.

Ia tak peduli bila orang menyebutnya pak tua eksentrik. Ia tak mau disebut sebagai "presiden paling miskin di dunia". Ia punya pengertian sendiri tentang "miskin". Orang yang paling miskin, demikian katanya, "adalah orang yang punya banyak keinginan."

Mungkin ia terdengar seperti seorang Buddhis yang menganggap hasrat dan lobha (atau "loba" dalam bahasa Indonesia) adalah pangkal penderitaan. Tapi orang Marxis (atau bekas Marxis) ini tak menginginkan pencerahan. Mungkin ia terdengar seperti seorang pengikut Gandhi yang melaksanakan "hidup di tingkat bawah, tapi pikiran di tingkat tinggi". Tapi Jose Mujica bagi saya lebih menakjubkan ketimbang Gandhi.

Gandhi tak pernah duduk di takhta; Mujica justru persis berada di situ. Dengan kata lain, ia berada di ruang kekuasaan dan pelbagai godaannya, sementara Gandhi tidak. Gandhi, yang di masa mudanya seorang advokat yang hidup cukup, memilih kebersahajaan yang ekstrem sebagai pernyataan politik dan spiritual. Mujica tak demikian. Ia tak mengubah dirinya. "Gaya hidup saya adalah konsekuensi dari luka-luka saya," katanya kepada Jonathan Watts dari The Guardian, akhir tahun lalu. "Saya anak sejarah saya sendiri."

Luka dalam sejarah itu cukup banyak; juga secara fisik. Sejak awal 1960-an ia bergabung dengan gerilyawan Tupamaros yang merampok, menculik, dan mendapatkan uang tebusan untuk dibagi-bagikan kepada rakyat yang melarat. Pada 1970 ia ditangkap buat pertama kalinya. Ia melarikan diri dari penjara Punta Carretas dengan menggedor pintu bui. Sejak itu ia beberapa kali kena tembak: ada enam luka di tubuhnya. Pada 1972 ia ditangkap dan disekap selama 14 tahun. Dua tahun di antaranya ia dikungkung di dasar sumur, tempat ia, agar tak jadi gila, berbincang dengan kodok dan cengkerik.

Mungkin itu sebabnya ia berkata, "Bertahun-tahun saya cukup bahagia dengan hanya memiliki sepotong kasur." Dan kini rumahnya pun cuma punya satu kamar tidur. Tak perlu lebih; tak ada orang lain yang tinggal. Presiden dan Ibu Negara Uruguay mencuci pakaian mereka sendiri. Orang bisa melihatnya dijemur di gantungan di halaman.

Pepe tak menganggap kesederhanaan itu harus diajarkan kepada orang lain. "Kalau saya minta orang lain hidup seperti ini, mereka akan membunuh saya," katanya. Tapi ia sadar, seperti Gandhi: bila semua orang mengembangkan kebiasaan hidup berlebihan, bumi yang hanya satu ini tak akan memadai dan akan rusak dieksploitasi tanpa henti. Ia pernah berkata, "Cukupkah sumber kekayaan planet ini jika sebagian besar orang hidup dengan konsumsi setingkat penghuni negeri kaya?"

Dalam hal itu, cara hidupnya adalah perjuangan gerilya yang panjang melawan kecenderungan konsumsi ketika Pasar demikian berkuasa dan manusia seperti kerbau dicocok hidungnya. Ia tetap melihat mala yang datang dari kapitalisme, tapi ia bukan seorang Marxis lagi ketika tak membayangkan sebuah akhir sejarah di akhir revolusi. "Dunia selamanya akan memerlukan revolusi," katanya. Revolusi tak berarti harus dengan kekerasan. Ajaran Konghucu dan Kristen itu revolusioner, kata bekas gerilyawan bersenjata ini.

Tak aneh. Hidup dalam praxis bertahun-tahun, Pepe tak bisa setia mati kepada doktrin. Dalam lakunya selalu ada semangat pembebasan, tapi ia gabungkan itu dengan tujuan praktis. Ia undang modal asing, dengan tujuan menumbuhkan ekonomi, agar pemerataan tak berarti pemelaratan. Ia bebaskan jual-beli mariyuana, dengan tujuan agar kartel narkoba tak bisa memonopoli. Dan ia menjalani hidup yang begitu bersahaja, dengan tujuan ia (dan mudah-mudahan manusia) bisa bebas dari benda-benda.

Di situ ia menghidupkan kembali ethos yang diajarkan agama-agama: hidup dirayakan, tapi nafsu tamak diharamkan. Bedanya: Pepe tak percaya Tuhan. Ia hanya percaya ada rasa keadilan dan kesetaraan dalam sejarah, dan manusia berbuat baik ke arah itu.


Goenawan Mohammad

Jose Mujica is the president of Uruguay. Instead of lavish riches and servants,

the poorest president in the world donates most of his salary to charity and lives a simple life as a farmer.

___________ http://www.wimp.com/poorestpresident/

 

back to top

__Topik-Topik Pilihan__ Patut Dibaca;;;