Дървен материал от www.emsien3.com

The best bookmaker bet365

The best bookmaker bet365

Menu
RSS

In order to view this object you need Flash Player 9+ support!

Get Adobe Flash player
A+ A A-

Papua Kapan Damai?

Ilustrasi Foto: Facebook. Salah satu bentuk kekejaman konflik di Ethiopia, Afrika Timur. "Noukaiyee.... Awino Kamamo eee...." Ilustrasi Foto: Facebook. Salah satu bentuk kekejaman konflik di Ethiopia, Afrika Timur. "Noukaiyee.... Awino Kamamo eee...."

TANAH PAPUA seakan menjadi lumbung pembunuhan, tempat dimana para pembunuh keji datang “mempraktekkan” ilmu pembunuhan disini, di tanah Papua. Dari detik ke detik, dari waktu ke waktu, seakan tidak pernah berhenti kita mendengar di berita, sms, bahwa ada pembunuhan di kota ini, di kota itu, di kampung ini dan seterusnya.

Papua Negeri darah manusia, banyak nyawa manusia melayang sebelum dipanggil TUHAN. Usai di Lani Jaya, pindah lagi ke Timika. Tidak tahu besok nanti dimana lagi. Siapa yang salah? Siapa yang memulai? Akarnya belum dicabut? Sesuatu yang aneh tapi nyata di negeri Firdaus ini.

Negeri ini memang ladang empuk  dan subur bagi pembantaian. Ladang penipuan dan pencurian. Ini kekejaman terkeji yang sedang ditutup rapi.

Mereka tidak tahu, bahwa negeri ini taman Firdaus punya hukum sendiri. Hukum yang diturunkan oleh TUHAN ALLAH sendiri. Ia taruh di rumahnya sendiri.  Bukan  di Israel atau dibawah gedung putih.

TUHAN ALLAH sendiri tanam didalam hati setiap insan manusia Papua, termasuk yang lahir besar di negeri ini. “Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan berdusta, jangan mengingingi barang milik orang. Jangan sembah berhala, dstnya”. Sang Pendeta, IS Kijne sekalipun bingun mengatur  orang Papua, karena orang Papua tidak perlu diatur. Orang Papua punya kompas, arah angin sendiri yang diatur dan dibimbing langsung oleh Tuhan Allah sendiri.

Hukum TUHAN diturunkan lewat Kepala Suku, tokoh-tokoh masyarakat dan guru-guru di dusun-dusun. Mereka tidak dipilih tetapi terpilih menjadi pemimpin karena diuji dalam kehidupan didalam masyarakatnya. Tidak sembarang menjadi pemimpin di tanah Papua. Kecuali alam sendiri memilihnya. Oleh karena itu Topi Kepala Suku atau Kepala Adat Papua bukan barang mainan. Sekalipun kepada Jokowi. Ini sakral dan penuh makna religius.

Semenjak Tuhan Allah sendiri membentuk Rumahnya,  di akhir jaman Es, Tuhan sendiri “bikin” pagar di bagian barat.  Disana Ia bentuk sebuah “taman kebenaran berdinding”, para penyair Sufi  menyebut Hadiqah al-Haqiqah. Oleh para pedagang Persia Gujarab menyebut negeri Wa-Nur atau tanah suci / negeri bercahaya. Taman itu kemudian diperjelas oleh garis Wallace. Di taman ini, Kobra, Harimau, Gajah, dan Kera tidak boleh hidup agar “klakuan”-nya tidak ditiru manusia.

Di taman ini hanyalah hidup burung Cenderawasih, Waigeo, Kasuari dan Buaya Darat.  Kita bersama-sama mencari kebenaran itu didalam adat istiadat, nyanyian dan tarian yang menghidupkan.  Budaya-budaya pembunuhan dan penculikan adalah kuno dan tidak pantas lagi ditiru jaman sekarang. Membina bangsa adalah  memberi contoh yang positif kepada generasi penerus. Biar negeri ini jaya dipandang negeri seberang.

Menutup kekejaman dan kebijakan yang keliru di tanah Papua adalah menyimpan bom waktu bagi generasi mendatang.  Ia akan tercium oleh secuil ruang kebenaran yang TUHAN sendiri simpan di dalam setiap insan manusia. Biarkan keterbukaan ini berjalan, agar Taman yang dipagari ini, terbuka dengan sendirinya, dan kedamaian dan kasih setia YESUS KRISTUS terwujud sampai di ujung bumi.

Apakah kita tidak sayang kepada setiap keluarga yang saudaranya terbunuh di medan yang sedang dipagari? Kenapa kita terus membiarkan negeri ini dihantui oleh rasa ketakutan, rasa kebencian dan dendaman yang terus berlanjut?

Ingat. Setiap sanak saudara yang melihat mayat ayahnya, saudaranya, keponakannya terbaring disampingnya, adalah sebuah dendaman yang tidak bisa dihapuskan. Sekalipun dari berkat Paus Vatikan di Roma.  Ngeri.

Ini bukan cara yang diinginkan oleh Soekarno dan para pendiri bangsa di negeri ini. Ingat. Para pendiri bangsa ini bangga, punya bangsa yang besar dan kaya raya. Bisa mewujudkan cita-cita Majapahit sampai ke negeri sebarang. Tetapi kemudian kita sendiri merusak, malah membunuh sang pemimpin itu, hanya karena tipuan sang Kapitalis. Semua kekayaan alam negeri ini dikuasai oleh luar negeri. Sekarang para pemimpin di negeri ini “berlomba” mengamakan kepentingan sang Kapitalis itu dan  bukan mensejahterahkan rakyatnya.

We kek ke ke kek kaskado-kaskado Yongkli yei yongkli yeiiii...................... Sa su bilang koo ... sa su bilang ko... yakobus ko jangan tipu.. ko jangan tipu... ...................... . ............... ................... ......... ............... . 

Dunia ini sedang ditipu oleh Yahudi. Dulu dia bunuh Goliad, kemudian Nabi Isa Al-Masih. Sekarang dia lenyapkan ribuan penduduk Gaza. Amerika pun Ia padamkan. Obama tidak bisa berkutik. Apalagi para pemimpin dunia lain yang ada dalam kuasa genggaman ekonomi.

Agama dianggap pembenaran yang dipertahankan. Hamas menjadi kutu di negeri itu. Israel merasa dibela Amerika dan sekutunya. Juga oleh TUHAN. “Wahai sobat, di birokrasi kerajaan Surga, disana tidak pakai agama, aliran dan kejuruan. Disana hanya satu kerajaan yang namanya kerajaan Surga. Hanya 1 Perdana Menteri, 1 panglima dan 1 aturan yaitu ale rasa beta rasa”.

Mari kita memberi pelajaran Alkitab kepada Yahudi,  kitab yang lahir dari negerinya sendiri. Biar dia tahu bahwa Kaisar punya Kaisar punya, Tuhan Allah punya Tuhan Allah punya. Palestina punya, tetap Palestina punya dan Freeport Papua milik orang Papua. Bukan milik kaum yang selalu haus akan darah dimana ada emas.

Kapan pernyataan Pdt Is Kejne itu akan terwujud? Arus angin mana yang orang Papua pilih? Apakah untuk Papua?  untuk semua Indonesia atau untuk umat manusia?

Manusia tidak bisa dipagari, karena kita citraNya, universal. Kecuali biogeografis dan klakuan binatang.

Semoga pembunuhan tidak terus berlanjut. Semoga Dialog Papua Jakarta bisa dipikirkan kembali. Semoga Yahudi bertobat dan negara-negara dunia ketiga bisa bangkit mandiri dari cengkeraman ekonomi global.

Iyo betul tapi, Papua Kapan Damai?


  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
Prev Next
Freeport dan Opini Nasional

Freeport dan Opini Nasional

Berbicara Freeport atau Persipura, siapa tidak tahu klakuan jakarta. Selalu saja dan ada ada saja untuk kepentingan perut segelintir orang di Jakarta....

Dileman Kepunahan OAP

Dileman Kepunahan OAP

Isu kepunahan orang Papua (genosida) sekarang sudah mulai menghangat dalam berbagai pembicaraan. Isu ini tidak hanya dibicarakan dikalangan orang Papu...

Otsus dan Alam Papua

Otsus dan Alam Papua

Alam Papua masih alami. Belum terkena dampak Otsus. Itu berarti alam Papua masih asli dan belum berubah. Berbicara soal alam berarti, kita bicara soa...

Ahok Diikat Seumur Hidup?

Ahok Diikat Seumur Hidup?

Siapa tidak tahu politik Jakarta. Siapapun dia yang berpotensi besar menjadi pemimpin kedepan, tetap akan diikat dengan berbagai macam cara. Negeri i...

Gara-Gara Miras

Gara-Gara Miras

TADI MALAM pada saat sa parkir beli air di Wonorejo, pas dekat tikungan Meubel. Motor 1 melesat kencang depan tikungan Meubel. Ia tidak belok, tetapi ...

Inilah Musuh Kita

Inilah Musuh Kita

MUSUH KITA detik ini adalah keterbelakangan, keterpurukan, ketidaksadaran akan jati diri sejarah dan budaya. Musuh kita hari ini adalah penyebaran HIV...

Touyelogi, Bukan Metafisika

Touyelogi, Bukan Metafisika

Ilmu yang mempelajari tentang YANG ADA dicari-cari oleh Aristoteles sejak beradad-abad yang lalu. Ia bingun memberikan nama tentang ilmu yang mempelaj...

Monyet di Taman Firdaus

Monyet di Taman Firdaus

Sepekan terakhir ini diberbagai media (kecuali media televisi) memberitakan ejekan kepada mahasiswa Papua dengan julukan monyet oleh Polisi dan bebera...

back to top

__Topik-Topik Pilihan__ Patut Dibaca;;;