Дървен материал от www.emsien3.com

The best bookmaker bet365

The best bookmaker bet365

Menu
RSS
Biar Jelek, Dia Temanmu

Biar Jelek, Dia Temanmu

1). Apa yang kita bu...

Rio Grime (1): Berawal dari Teater Budaya Papua di Jakarta

Rio Grime (1): Berawal dari Teater …

Tanah Papua pernah m...

Daniel Wandagau Harapkan Penghargaan  dari Pemda Intan Jaya

Daniel Wandagau Harapkan Penghargaa…

SIANG BOLONG, Sabtu ...

7 Jenis Burung Cenderawasih ini Sudah Mulai Punah

7 Jenis Burung Cenderawasih ini Sud…

{flike}Burung Cendra...

Ini Daftar Tim Redaksi Swarapapua.com

Ini Daftar Tim Redaksi Swarapapua.c…

Sudah terlalu lama p...

Kamil: Rakyat Jangan Berpatokan "Quik Count"

Kamil: Rakyat Jangan Berpatokan …

{flike}JAKARTA - Kom...

Usai Dolly Ditutup, SMS-SMS Ini Beredar

Usai Dolly Ditutup, SMS-SMS Ini Ber…

{flike}SERUI - Usai ...

Ini Seruan Titus Pekei di Hari Noken Se-Dunia

Ini Seruan Titus Pekei di Hari Noke…

{flike}HOLANDIA - No...

Bupati Tabuni Gagal Membangun Intan Jaya?

Bupati Tabuni Gagal Membangun Intan…

Pada dasarnya bupati...

Prev Next

In order to view this object you need Flash Player 9+ support!

Get Adobe Flash player
A+ A A-

Mengenal Upacara Adat Rakeho Suku Kulawi, Sulawesi Tengah

Upacara Adat Rakeho Suku Kulawi Sulawesi Tengah. Foto: wawasanusantara.org Upacara Adat Rakeho Suku Kulawi Sulawesi Tengah. Foto: wawasanusantara.org

Rakeho adalah salah satu upacara menyambut peralihan dari masa remaja ke masa dewasa. Dilaksanakan bagi seorang laki-laki, oleh ntodea (orang kebanyakan) di Suku Kulawi, Sulawesi Tengah. Upacara ini tidak berlaku bagi anak perempuan. Rakeho mempunyai pengertian meratakan gigi bagian depan atas dan bawah serata dengan gusi.

Maksud dari upacara Rakeho tidak hanya untuk mencari keselamatan, akan tetapi juga berdasarkan atas motivasi tradisi setempat. Bila seseorang pria benar-benar telah menjelang dewasa maka segeralah diselenggaraan upacara ini. Penyelenggaraan upacara ini juga untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak dikehendaki atau hal yang dapat menimbulkan kasus pertengkaran suami isteri.

Waktu penyelenggaraan upacara Rakeho di Suku Kulawi tidak terikat kepada suatu perhitungan waktu, hari ataupun bulan. Hanya saja pelaksanaan upacara rakeho biasanya digelar pada saat siang hari. Upacara ini biasanya dikaitkan dengan ada atau tidaknya kesempatan atau kemampuan orang tua yang hendak menyelenggarakan. Menurut tradisi setempat, waktu pelaksanaan upacara ini biasanya dilangsungkan sesudah panen, jika panen berhasil. Pertimbangannya adalah bahwa sesudah panen orang tua sudah mempunyai kemampuan untuk melaksanakan upacara adat ini.

Tempat penyelenggaman upacara Rakeho tidak berbeda dengan tempat penyelenggaraan upacara ratompo, yakni dipilih tempat-tempat tertentu, seperti; di bawah pohon yang besar yang jauh dari keramaian. Sering kali tempat upacara telah disiapkan oleh pihak orang tua, seperti sebuah rumah yang sudah dikosongkan dan letaknya agak terpencil, jauh dari keramaian.

Dalam upacara Rakeho hanya ada seorang penyelenggara teknis, yaitu topekeho (dukun) yang sudah mempunyai keahlian khusus dalam menggosok gigi (pengikir gigi). Topekeho dipilih berdasarkan keahlian yang sudah diturunkan atau telah dimiliki seseorang secara turun temurun.

Sumber Rujukan:

___. 2012. Suku Kulawi, Sulawesi. (http://protomalayans.blogspot.com/2012/10/suku-kulawi-sulawesi_12.html) diakses pada 29 Desember 2012 pukul 15.44 WIB

___. ___. Rakeho – Mancunami Rakeho. (http://telukpalu.com/2007/11/rakeho-mancumani-rakeho/) diakses pada 29 Desember 2012 pukul 15.48 WIB

___. 2012. Upacara Rakeho. (http://www.indonesiawonder.com/id/tour/wisata-budaya/upacara-rakeho) diakses pada 29 Desember 2012 pukul 15.45 WIB

___. 2009. Ragam Budaya Teluk Palu. (http://datastudi.wordpress.com/2009/08/15/ragam-budaya-teluk-palu/) diakses pada 30 Desember 2012 pukul 09.15 WIB

"Tak ada gading yang tak retak", begitupun dengan tulisan atau berita yang kami muat di media ini. Dari waktu ke waktu kami akan lakukan penyempurnaan dan perbaikan seperlunya (kecuali opini, essai, catatan pinggir atau artikel). Oleh sebab itu, apabila mau download, mohon perhatikan tanggal akses, identitas penulis dan judul tulisan agar kompatibel dengan referensi anda. Tulisan diatas kami rapikan kembali pada hari Selasa, 19 Agustus 2014 05:52

Undang-undang Nomor 12 Tahun 1997 Tentang Perubahan Undang-undang Nomor 6 Tahun 1987 Tentang Hak Cipta Sebagaimana Telah Diubah dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1987. (1) Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan atau memberi ijin untuk itu, dipidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau dengan paling banyak Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah). (2) Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta sebagaimana dimaksud ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau dengan paling banyak Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah).
back to top