Дървен материал от www.emsien3.com

The best bookmaker bet365

The best bookmaker bet365

Menu
RSS
Paus: Saya Percaya Tuhan, tetapi Bukan Tuhan Katolik

Paus: Saya Percaya Tuhan, tetapi Bu…

{flike}VATICAN  — Pa...

Kamil: Rakyat Jangan Berpatokan "Quik Count"

Kamil: Rakyat Jangan Berpatokan …

{flike}JAKARTA - Kom...

Orang Migani Menyapa Dengan Hati

Orang Migani Menyapa Dengan Hati

Salah satu suku di t...

Romo Benny Susetyo: Perang Gaza Akibat Janji Inggris yang Belum Ditepati

Romo Benny Susetyo: Perang Gaza Aki…

JAKARTA - Setelah se...

Majalah Pelita Papua di Merauke Dilarang Cetak

Majalah Pelita Papua di Merauke Dil…

MERAUKE - Juli  2013...

Kepada Dubes Australia, Enembe Minta Pemerintah Pusat Patuhi UU Otsus

Kepada Dubes Australia, Enembe Mint…

JAYAPURA – Gubernur ...

Lagi, Dua Wartawan Prancis Ditangkap di Wamena

Lagi, Dua Wartawan Prancis Ditangka…

WAMENA - Kepolisian ...

Ketika SBY Resmikan Patung Yesus Kristus di Mansinam

Ketika SBY Resmikan Patung Yesus Kr…

SORONG -  Ahad 24/8,...

Jacob Rumbiak: Kami Ingin Lepas Dengan Indonesia Secara Damai

Jacob Rumbiak: Kami Ingin Lepas Den…

MENTERI Luar Negeri ...

Prev Next

In order to view this object you need Flash Player 9+ support!

Get Adobe Flash player
A+ A A-

Romo Manuel Musallam: Jika Mesjidmu Terkena Bom, Silakan Adzan dari Gereja Kami

Romo Manuel Musallam. Foto: http://www.muslimedianews.com. +Monsignor (Uskup Katolik Roma) Manuel Musallam lahir di Mandat Palestina, tepi barat Birzeit tahun 1938. Masuk seminari di Beit Jalla, Bethlehem dan menjadi imam pada tahun 1963. Menjabat sebagai imam di Yordania, kemudian di Jenin, dan akhirnya menjabat sebagai Kepala Paroki Keluarga Kudus di Gaza hingga pensiun Mei 2009. Selama waktunya di Gaza, Monsignor Manuel dikenal sebagai "imam Million" sebagai pengakuan atas perawatan putus-putusnya dan perhatian untuk kedua Kristen dan Muslim. Dia juga menjabat sebagai direktur Gereja Latin (Sekolah Patriarkat) di Gaza yang dijalankan sebagai sarana co-pendidikan menyediakan untuk anak-anak Muslim dan Kristen. Monsignor Musallam saat ini menjabat sebagai Presiden Departemen Dunia Kristen di Komisi Hubungan Internasional dan Anggota Komisi Christian Islam dalam Mendukung Yerusalem dan tempat-tempat suci disekitar Yerusalem dan Betlehem Romo Manuel Musallam. Foto: http://www.muslimedianews.com. +Monsignor (Uskup Katolik Roma) Manuel Musallam lahir di Mandat Palestina, tepi barat Birzeit tahun 1938. Masuk seminari di Beit Jalla, Bethlehem dan menjadi imam pada tahun 1963. Menjabat sebagai imam di Yordania, kemudian di Jenin, dan akhirnya menjabat sebagai Kepala Paroki Keluarga Kudus di Gaza hingga pensiun Mei 2009. Selama waktunya di Gaza, Monsignor Manuel dikenal sebagai "imam Million" sebagai pengakuan atas perawatan putus-putusnya dan perhatian untuk kedua Kristen dan Muslim. Dia juga menjabat sebagai direktur Gereja Latin (Sekolah Patriarkat) di Gaza yang dijalankan sebagai sarana co-pendidikan menyediakan untuk anak-anak Muslim dan Kristen. Monsignor Musallam saat ini menjabat sebagai Presiden Departemen Dunia Kristen di Komisi Hubungan Internasional dan Anggota Komisi Christian Islam dalam Mendukung Yerusalem dan tempat-tempat suci disekitar Yerusalem dan Betlehem

PALESTINA  -  ”If Israel demolished your Mosques, raise your call of prayers from our churches.” Inilah pernyataan Pastor Manuel Musallam dari Israel kepada kaum muslim Palestina yang tempat-tempat ibadah mereka dihantam roket ganas Israel. Kata Pastor Manuel sebagaimana disharing Marthen Goo II di Komunitas Dogiyai: "Jikalau Mesjidmu terkena bom, silakan adzan dari gereja kami".

"If Israel demolished your Mosques, raise your call of prayers from our churches. | Jikalau Mesjidmu terkena bom, silakan adzan dari gereja kami."

LiputanIslam.com menulis, kalimat tulus yang dilontarkan Pastor Manuel, sontak saja membangkitkan rasa haru, sekaligus menepis anggapan bahwa perang yang terjadi di Palestina semata-mata karena perbedaan keyakinan. Di Gaza, seorang Pastor mempersilahkan saudaranya yang Muslim (yang masjidnya di hancurkan Tentara Zionis Israel), untuk mengumandangkan adzan dari gerejanya.

The Palestine Chronicle melaporkan, salah satu korespondennya pernah bersua dengan Pastor Manuel, yang lantas mengajaknya ke markas Fatah. Kemudian, ia diajak untuk menemui Ismail Haniyeh, pemimpin Hamas, yang menerima mereka dengan sangat baik. Artinya, ia merupakan tokoh lintas agama yang disegani dan memiliki kedekatan dengan front perlawanan.

Pada tahun 2009, ia pernah mengirimkan surat kepada seluruh dunia, dengan maksud agar seluruh dunia mendoakan, dan memahami apa yang sebenarnya terjadi di Gaza –karena menurutnya, informasi yang disampaikan oleh radio maupun televisi, tidak sepenuhnya benar. Berikut isi suratnya:

"Kepada rakyat suci - tercinta Palestina, dan kepada seluruh dunia, dari sebuah Gereja Allah di Jalur Gaza. Kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, kasih Allah Bapa kita dan persekutuan Roh Kudus menyertai Anda  sekalian.

Dari lembah air mata, dari Gaza yang tenggelam dalam darah, darah yang telah menahan kebahagiaan di hati satu setengah juta orang.

Saya bawakan  kepada  Anda kata-kata iman dan harapan.  Saya tidak menggunakan kata “cinta”, kata yang telah terpenjara dalam leher kami, bahkan dari tenggorokan umat Kristen. Para imam menyebut “harapan” agar kasih sayang Tuhan memberkati kami, sehingga Dia akan tetap bersemayam  di Gaza. Dengan cara inilah cahaya Kekristenan akan menyala di gereja-gereja semula. Semoga belas kasih Kristus meningkatkan cinta kita kepada Allah, mesipun saat ini kita berada dalam kondisi kritis.

Dengan segenap hati, sebagai seorang imam Anda, saya meminta Anda untuk berdoa bagi jiwa putri kami, putri kami tercinta dari sekolah Keluarga Kudus, anak Kristen pertama yang meninggal dalam perang ini, yaitu Cristina Wadi al-Turk.

Dia meninggal pada hari Sabtu pagi, 2 Januari 2009, lantaran ketakutan dan kedinginan. Jendela-jendela rumahnya dibiarkan terbuka untuk melindungi anak-anak dari pengaruh ledakan bom pada kaca. Roket-roket melewati rumahnya, yang sukses membuat segalanya bergetar dan gemetar. Dia tidak mampu menahan semua itu, dan ia kembali kepada Sang Pencipta, untuk meminta sebuah rumah baru – sebuah tempat yang tidak ada air mata, tidak ada tangisan, tidak ada roket, melainkan hanya sukacita dan kebahagiaan.

Saudaraku yang dikasihi Kristus, apa yang Anda lihat di layar TV Anda, dan apa yang Anda dengar, bukan hal itu yang sesungguhnya terjadi di Gaza. Tidak ada televisi ataupun radio, yang mampu untuk menceritakan sama persis, kejadiaan luar biasa dahsyat yang terjadi di tanah air kami saat ini.

Pengepungan Gaza adalah ibarat badai yang membesar, sedikit demi sedikit telah mencapai titik – yaitu kejahatan kemanusiaan. Orang-orang di Gaza menunjukkan kasus tragis yang menimpa mereka, agar setiap orang baik yang ada, mampu menilai [apa yang sesungguhnya terjadi.] Namun kelak, Tuhan yang akan menilai/ menghakimi.

Anak-anak Gaza, dengan orang tua mereka, dipaksa untuk tidur di lorong-lorong rumah mereka – namun, hanya jika mereka masih memiliki rumah.  Atau, kadang di kamar mandi, untuk melindungi diri mereka sendiri, yang gemetar ketakutan lantaran  gemuruh dan  guncangan dari pesawat tempur  F-16 yang mengerikan.

Memang benar bahwa sampai saat ini target dari pesawat, adalah  gedung-gedung pemerintah dan markas Hamas. Tetapi, semua bangunan ini terletak di antara rumah-rumah penduduk  yang hanya dipisahkan oleh  jarak yang tidak lebih dari 6 meter (jarak yang diizinkan secara hukum  mengenai jarak antar bangunan).  Karenanya,  rumah-rumah penduduk pun mengalami kerusakan parah dan banyak anak-anak  yang gugur.

Lalu, anak-anak kami juga hidup dalam kepanikan dan teror abadi, dan ini membuat mereka jatuh sakit. Kurang makan, gizi buruk, miskin, dan dingin.

Tragedi lainnya, bahwa rumah sakit  tengah mencapai kondisi kritis. Rumah sakit ini sebelum perang, memang tidak memiliki fasilitas darurat. Dan sekarang mereka sedang kewalahan untuk menangani ribuan orang yang terluka dan sakit. Sehingga saat ini, operasi kepada pasien harus dilakukan di lorong rumah sakit. Mereka takut, sedih, dan histeris.

Banyak orang-orang  yang terluka,  dikirim melalui perbatasan Rafah menuju  Mesir, tetapi mereka yang berhasil melewati perbatasan  tidak pernah kembali. Kebanyakan mereka, telah kehilangan nyawa di dalam perjalanan.

Saya jelaskan secara singkat dalam surat ini, untuk  meminta bantuan dari Anda, dan juga dari Allah. Orang-orang kami di Gaza menjalani hidupnya seperti binatang liar, bukan seperti layaknya manusia. Mereka makan, tetapi  bukan makanan yang bergizi. Mereka menangis, tetapi mereka sudah tidak memiliki air mata. Hari ini tidak ada air, tidak ada listrik. Yanga ada hanya rasa takut, dan rasa panik.

Kemarin, ada sebuah toko roti  yang menolak untuk memberikan roti kepada saya.  Alasannya, karena dia tidak mau memberikan roti yang terbuat dari tepung yang tidak sehat – yang menurutnya – hal itu merendahkan saya sebagai seorang imam. Roti yang sehat, telah habis. Namun ia menawarkan kepada saya tepung ‘layak’ yang belum diolah, yang masih ia miliki. Karenanya, saya bersumpah tidak akan makan roti selama perang ini berlangsung.

Kami meminta Anda untuk memanjaatkan doa-doa  kepada Allah. Kami juga meminta, agar tiada Misa atau ibadah yang dirayakan, tanpa membisiki Allah atas tragedi yang terjadi di Jalur Gaza. Sedangkan saya, akan terus mengajak anak-anak  berdoa, semata-mata untuk mendorong harapan yang terletak di dalam hati mereka.

Kami berdoa bersama setiap jam, seperti ini, “Tuhan dari Perdamaian, yang memberi kami kedamaian. Oh Tuhan Yang Maha Damai, yang memberikan kedamaian bagi negara kami, kasihanilah, kasihanilah hamba-hamba-Mu, dan janganlah marah kepada kami.”

Saya meminta Anda sekalian untuk bangkit dan berdoa bersama kami. Doa-doa Anda, bersatu dengan doa kami, akan mampu menggeser dunia. Juga untuk mengajarkan kepada kami bahwa keajaiban cinta masih terpenjara di sepanjang jalan, dan belum mencapai saudara-saudara Anda di Gaza. Ini bukan hanya tentang kasih Kristus dan Gereja-Nya. Sebab kasih-Nya, dan perbedaan politik, sosial, perang, maupun sebab lainnya, bagi pihak Gereja bukanlah halangan.

Ketika kami menerima bantaun dari Anda, kami merasa bahwa kami di sini tidak dilupakan oleh seluruh Gereja Kristus, Gereja Kudus, Katolik. Dan  saudara-saudara Muslim kami yang tinggal di antara kami adalah bagian dari keluarga kami, takdir kami, yang dengannya  kami  berbagi segala sesuatu. Kami orang-orang Palestina, kami senantiasa bersama-sama.

Namun di tengah semua ini, rakyat Gaza menolak perang sebagai solusi untuk perdamaian, dan yakin bahwa satu-satunya jalan menuju perdamaian adalah kedamaian itu sendiri. Di Gaza kami bersabar, namun dari mata kami Anda kan melihat bahwa; bagi kami tidak ada pilihan, selain penjajahan atau kematian.

Kami ingin hidup untuk menyembah Tuhan di Palestina dan menjadi saksi Kristus. Kami ingin hidup untuk Palestina, dan bukan untuk mati. Tapi jika suatu hari kematian menghampiri, kami akan mati dalam bahagia dengan keberanian dan kekuatan.

Kami mohon, agar ketika Anda memanjatkan doa-doa Anda kepada Allah — Anda meminta Tuhan kita Yesus Kristus memberi kita kedamaian sejati, sehingga serigala dan anak domba bisa hidup bersama, sapi dapat merumput di samping singa, dan anak-anak  bisa meletakkan tangannya di depan mulut ular tanpa digigit.

Semoga damai Kristus, bahwa perdamaian yang menjadikan kita  satu tubuh, selalu bersama  dan melindungi Anda. Amin.

Kakakmu,

Pastor Manuel Musallam,

Imam Gereja Latin di Gaza. 

Surat ini disampaikan saat Israel menggelar operasi “Menuang Timah” di Jalur Gaza pada tahun 2009. Sungguh terharu dan menyedihkan. Semoga Tuhan Allah memberikan tanda pertobatan kepada bangsa Israel yang terlalu sombong dan bengis. (ist)

back to top

__Topik-Topik Pilihan__ Patut Dibaca;;;