Дървен материал от www.emsien3.com

The best bookmaker bet365

The best bookmaker bet365

Menu
RSS
Isu-Isu Ini Beredar Usai Black Brothers Minta Suaka Politik ke Luar Negeri

Isu-Isu Ini Beredar Usai Black Brot…

SUBUH, sekitar pukul...

Akan Lahir Pemimpin Besar dari Lembah Hijau

Akan Lahir Pemimpin Besar dari Lemb…

{flike}MOANEMANI - P...

Rio Grime (2): Gabungan Air Mood Band dan Seniman Teater Budaya Papua

Rio Grime (2): Gabungan Air Mood Ba…

Musisi dan penyanyi ...

Menengok Suasana Ramadhan di Pasifik

Menengok Suasana Ramadhan di Pasifi…

{flike}FIJI - Suasan...

Ada yang Membunuh Persipura?

Ada yang Membunuh Persipura?

KEKALAHAN telak Pers...

Jokowi Makan Nasi Goreng Bersama Megawati

Jokowi Makan Nasi Goreng Bersama Me…

JAKARTA - Wacana Gub...

Biar Jelek, Dia Temanmu

Biar Jelek, Dia Temanmu

1). Apa yang kita bu...

7 Jenis Burung Cenderawasih ini Sudah Mulai Punah

7 Jenis Burung Cenderawasih ini Sud…

{flike}Burung Cendra...

Wanimbo Akui Wartawan Prancis Ingin Kunjungi Markas OPM di Pirime

Wanimbo Akui Wartawan Prancis Ingin…

  WAMENA - Panglima...

H+1 Prabowo - Hatta Unggul di Papua

H+1 Prabowo - Hatta Unggul di Papua

{flike}HOLANDIA - Pa...

Prev Next

In order to view this object you need Flash Player 9+ support!

Get Adobe Flash player
A+ A A-

Jangan Percaya Quik Count

Jangan Percaya Quik Count

BERDASARKAN pengalaman Pemilu di tanah Papua yang lebih banyak menggunakan pemilihan sistem Noken dan sistem Ikat, maka Perhitungan Cepat atau yang dikenal "Quik Count" tidak akan dipercaya orang Papua. Orang Papua sudah paham bahwa "Quik Count" itu dibuat hanya untuk mempengaruhi TPS-TPS yang ada di pelosok-pelosok dusun yang belum membawa hasil pemilihan.

Orang Papua akan berpandangan: "Ah itu hanya bohong. Dorang sengaja bilang kandidat ini menang, supaya kitong pu suara kasih kepada yang sudah menang - daripada kita kasih suara kepada yang kalah - kemudian kita tidak dapat apa-apa", demikian kebanyakan suara dari pembawa kotak suara di tengah jalan.

Dan ternyata pola pikir orang-orang kampung di Papua inilah yang sedang dialami Indonesia paska Pilpres 2014. Quik Count yang diumumkan 8 Lembaga Survey berbeda dengan 4 Lembaga Survey. Ini tentu akan memengaruh pada penciptaan kondisi keamanan, khususnya di Jakarta usai penetapan oleh KPU Pusat, 22 Juni mendatang.

Lalu, apa itu Quik Count?  Kami kutip dari sejumlah sumber. 

Menurut Kismiantini, Quick count atau penghitungan cepat adalah proses pencatatan hasil perolehan suara di ribuan Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang dipilih secara acak. Kegiatan quick count ini seringkali diikuti oleh exit poll. Exit poll adalah metode mengetahui opini publik yang dilakukan sesaat setelah keluar dari bilik suara. Kedua metode ini dapat sebagai alat untuk mengontrol dan mendorong dihasilkannya pemilu yang  jujur dan adil. Prediksi quick count akan akurat apabila berdasarkan metodologi statistik dan penarikan sampel yang ketat. Multistage random sampling merupakan teknik penarikan sampel yang sering digunakan dalam melakukan quick count.

Jadi Quik Count adalah alat atau teknik yang dipakai untuk mengontrol dan mendorong dihasillannya pemilu yang jujur dan adil.

Kismiati dalam makalahanya membahas secara lengkap sejarah munculnya Quik Count.

Sejarah munculnya pengumpulan data dengan penghitungan cepat (quick count) berawal dari rentetan peristiwa berupa pemberdayaan suara rakyat melalui polling. Sejarah polling dimulai dengan bentuk orator atau pidato di abad 5 SM, dimana publik menyampaikan pendapat umum berdasarkan perdebatan dalam mengajukan gagasan-gagasannya (Sumargo 2006).

Quik count pertama kali digunakan oleh NAMFREL (National Citizens Movements For Free Election) yang memantau pelaksanaan Pemilu 1986 di Filipina dimana ada dua kandidat yang bersaing ketat yakni Ferdinand Marcos dan Corazon Aquino. NAMFREL berhasil menemukan berbagai kecurangan dan manipulasi suara serta secara meyakinkan dapat menunjukkan kemenangan Cory Aquino, sekaligus menggagalkan klaim kemenangan Marcos. Kebijakan Marcos yang menganulir kemenangan Cory selanjutnya menjadi dasar pembangkangan sipil dan perlawanan rakyat Filipina dalam bentuk  people power yang berhasil menggulingkan rezim otoriter Marcos. Sehingga secara tidak langsung quick count sebagai bagian dari kontrol terhadap pemilu dan bagian dari upaya untuk menegakkan demokrasi dengan mendorong berlangsungnya pemilu yang jujur dan adil.

Quick count telah diterapkan di Indonesia sejak 1997 oleh LP3ES (Lembaga Pelatihan, Penelitian, Penerangan, Ekonomi dan Sosial) pada pemilu terakhir rezim Soeharto yang dilakukan secara diam-diam bekerjasama dengan salah satu kekuatan politik.

Quick count ini cukup berhasil, dengan satu hari setelah pelaksanaan pemilu LP3ES mampu memprediksi hasil pemilu di DKI Jakarta persis sebagaimana hasil perhitungan suara oleh LPU (Lembaga Pemilihan Umum). Tetapi karena pertimbangan keamanan dan politik, hasil tersebut tidak diumumkan pada masyarakat.

Pada pemilu 1999, LP3ES dengan quick count berhasil pula dalam memprediksi secara tepat urutan partai dan persentase suaranya di propinsi NTB dan pulau Jawa. Selanjutnya pada pemilu 2004, LP3ES kembali membuat quick count bekerjasama dengan National Democratic Institute  for International Affairs (NDI), lembaga internasional dari Amerika yang sudah terbiasa dengan penghitungan cepat. LP3ES-NDI secara akurat berhasil memprediksi pemenang pemilu dan komposisi pemenang pemilu dari urutan 1 sampai 24

Seringkali pelaksanaan quick count pada pemilu disertai oleh exit poll, kedua metode pengumpulan data ini dilakukan setelah pemilu. Exit poll merupakan metode mengetahui opini publik yang dilakukan sesaat setelah seseorang keluar dari bilik suara (TPS). Pertanyaan dalam exit poll umumnya juga sedikit (kurang dari 10 pertanyaan). Salah satu informasi yang digali dalam exit poll adalah alasan memilih sehingga distribusi suara pemilih dapat diketahui lebih dalam.

Soal kita sekarang adalah, setelah Quik Count mulai dipakai di Indonesia? Apakah Lembaga yang melakukan Quik Count dapat dipercaya? Apakah rakyat Indonesia percaya lembaga-lembaga tersebut? Sebab KPU sebagai lembaga resmi itu saja, rakyat sudah tidak percaya.

Pertanyaan sederhana adalah, apakah anda ketika berdiri di depan TPS atau di rumah, anda disurvei oleh lembaga tersebut atau tidak? Baik lewat SMS atau bertatapan langsung dengan petugas atau relawan yang ditugasi oleh lembaga-lembaga survey tersebut. Jika belum maka, jelas-jelas hasil survey tersebut bohong dan jangan anda percaya. Pasti saja lembaga-lembaga tersebut dibayar dan diamankan oleh kandidat-kandidat yang memenangkan hasil survey.

Menurut Kusmiaty dalam bahasannya, Quik Count dapat dipercaya apabila lembaga tersebut mempunyai relawan atau anggota yang mempunyai akses langsung dengan TPS (tempat pemungutan suara). Lembaga tersebut juga mampu memberikan pelatihan kepada anggotanya. Jadi kalau di Indonesia ada 3000 TPS, maka paling tidak lembaga tersebut sudah membekali 3000 lebih anggota penyurpei.

Disana, anggota survey sudah harus mampu melakukan validasi DPT (daftar pemilih tepat). Validasi data dilakukan dengan meminta tanda tangan ketua TPS. Kemudian 1 minggu sebelum pemilu dilaksanakan dilakukan monitoring untuk memastikan apakah data yang diperoleh benar dan valid dengan spotcheck dan daerah atau TPS yang dikunjungi untuk spotcheck dipilih secara acak.

Apakah itu semua sudah dilakukan? Tentu publik tidak pernah tahu. Metro TV atau TvOne (media-media nasional) tidak pernah memberitakan adanya kegiatan-kegiatan dari lembaga-lembaga survey tersebut.

Rakyat boleh percaya ketika ada lembaga yang ditunjuk resmi oleh KPU Pusat untuk membantu melakukan Quik Count. Tetapi itupun publik tidak akan percaya. Lebih bagus, lembaga-lembaga tersebut bersaing secara sehat dan terbuka, dan serahkan pada hukum alam. Mereka yang adil dan jujur akan bertahan, sementara yang "penipu" akan tersingkir dengan sendirinya. Yang paling penting adalah publik mengetahui persiapan, pelatihan, pengutusan hingga penetapan Quik Count. Jangan kita hanya kaget ketika Quik Count muncul di layar kaca.

Jika ini tidak terjadi, maka tetap kita katakan: "Jangan Percaya Quik Count".



  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
Prev Next
Freeport dan Opini Nasional

Freeport dan Opini Nasional

Berbicara Freeport atau Persipura, siapa tidak tahu klakuan jakarta. Selalu saja dan ada ada saja untuk kepentingan perut segelintir orang di Jakarta....

Dileman Kepunahan OAP

Dileman Kepunahan OAP

Isu kepunahan orang Papua (genosida) sekarang sudah mulai menghangat dalam berbagai pembicaraan. Isu ini tidak hanya dibicarakan dikalangan orang Papu...

Otsus dan Alam Papua

Otsus dan Alam Papua

Alam Papua masih alami. Belum terkena dampak Otsus. Itu berarti alam Papua masih asli dan belum berubah. Berbicara soal alam berarti, kita bicara soa...

Ahok Diikat Seumur Hidup?

Ahok Diikat Seumur Hidup?

Siapa tidak tahu politik Jakarta. Siapapun dia yang berpotensi besar menjadi pemimpin kedepan, tetap akan diikat dengan berbagai macam cara. Negeri i...

Gara-Gara Miras

Gara-Gara Miras

TADI MALAM pada saat sa parkir beli air di Wonorejo, pas dekat tikungan Meubel. Motor 1 melesat kencang depan tikungan Meubel. Ia tidak belok, tetapi ...

Inilah Musuh Kita

Inilah Musuh Kita

MUSUH KITA detik ini adalah keterbelakangan, keterpurukan, ketidaksadaran akan jati diri sejarah dan budaya. Musuh kita hari ini adalah penyebaran HIV...

Touyelogi, Bukan Metafisika

Touyelogi, Bukan Metafisika

Ilmu yang mempelajari tentang YANG ADA dicari-cari oleh Aristoteles sejak beradad-abad yang lalu. Ia bingun memberikan nama tentang ilmu yang mempelaj...

Monyet di Taman Firdaus

Monyet di Taman Firdaus

Sepekan terakhir ini diberbagai media (kecuali media televisi) memberitakan ejekan kepada mahasiswa Papua dengan julukan monyet oleh Polisi dan bebera...


back to top

__Topik-Topik Pilihan__ Patut Dibaca;;;