Дървен материал от www.emsien3.com

The best bookmaker bet365

The best bookmaker bet365

Menu
RSS
Rio Grime (1): Berawal dari Teater Budaya Papua di Jakarta

Rio Grime (1): Berawal dari Teater …

Tanah Papua pernah m...

Wanimbo Akui Wartawan Prancis Ingin Kunjungi Markas OPM di Pirime

Wanimbo Akui Wartawan Prancis Ingin…

  WAMENA - Panglima...

Menteri Yembise Didemo Mama-Mama di Airport Sentani

Menteri Yembise Didemo Mama-Mama di…

SENTANI – Sejumlah m...

Bupati Tabuni Gagal Membangun Intan Jaya?

Bupati Tabuni Gagal Membangun Intan…

Pada dasarnya bupati...

Kangguru, Pelompat Jarak Jauh

Kangguru, Pelompat Jarak Jauh

SIAPA yang tidak tah...

Saatnya Buka Kran Jodoh ke Papua New Guinea

Saatnya Buka Kran Jodoh ke Papua Ne…

{flike}NABIRE - Peme...

Pemekaran Picu Banyak Konflik di Tanah Papua

Pemekaran Picu Banyak Konflik di Ta…

JAKARTA - Selain per...

Koyeidaba dan Touye Kapogeiye (3/Mumai)

Koyeidaba dan Touye Kapogeiye (3/Mu…

Apakah sikap dan tin...

Novela Nawipa Dapat Pujian dari Prabowo Subianto

Novela Nawipa Dapat Pujian dari Pra…

JAKARTA - Saksi dari...

Tetedemai (Kepala Batu)

Tetedemai (Kepala Batu)

Dan pada akhirnya ak...

Prev Next

In order to view this object you need Flash Player 9+ support!

Get Adobe Flash player
A+ A A-

Soal Alkohol, Timika Harus Ikuti Mansinam Manokwari

Soal Alkohol, Timika Harus Ikuti Mansinam Manokwari

TIMIKA - Salah satu sumber pertikaian di Timika adalah masih maraknya penjualan minuman keras (miras) di kota Timika dan sekitarnya. Oleh karena itu, untuk mengubur jauh-jauh pertikaian berdarah yang kerab terjadi, maka pemerintah Timika segera menutup semua penjualan miras di Timika.

Hal itu dikemukakan tokoh masyarakat Nabire, Engelbertus P Degey kepada media ini semalam (01/07/2014) di Nabire.

Menurutnya, untuk meredam pertikaian yang sering terjadi di Timika, Pemda setempat sudah menurunkan berbagai Tim, tetapi soal miras tidak pernah berhenti dari peredaran. "Ini berbahaya bagi masyarakat Timika", ujarnya.

Untuk itu, kata Degey, pemerintah Daerah beserta para pendeta, pastor, tomas dan todat di Timika segera mengambil langkah satukan barisan melarang penjualan miras di Timika.

"Timika harus menjadi kota kedua setelah Manokwari. Kota masuknya Injil di tanah Papua itu sudah melarang penjualan miras sejak lama. Kita tau di Manokwari itu hanya diijinkan minuman jenis BIR, itupun di tempat-tempat yang ditentukan.  Di Timika, bila perlu BIR pun jangan dijual. Sebab selalu ada korban jiwa", ujar Degey.

Tokoh masyarakat Timika, Allo Rafra kepada Kompas.com pernah menghimbau kepada Pemda agar segera menertibkan penjualan miras di Timika.

"Akar dari semua persoalan yang terjadi di Mimika berawal dari miras. Kami minta Kapolres dan jajarannya mengambil langkah tegas memberantas miras," kata anggota DPRD Mimika dari PDI-Perjuangan, Athanasius Allo Rafra di Timika, Rabu.
     
Allo yang pernah menjabat sebagai caretaker Bupati Mimika tahun 2007-2008 itu menegaskan jika miras tidak ditertibkan maka konflik sosial dan kriminalitas akan terus meningkat di Mimika. "Kami ingin masyarakat Mimika maju. Kalau ingin Mimika tenang, mari ambil langkah tegas untuk memberantas miras," ujarnya.
     
Menurut Allo Rafra, Pemkab Mimika selama masa kepemimpinannya tidak pernah menerbitkan surat izin bagi distributor dan pengusaha untuk memasukkan dan menjual miras di Timika. Jika ada pengusaha yang mengaku memiliki izin, Allo Rafra mengatakan  maka hal itu adalah pengakuan bohong.
     
Dukungan untuk menertibkan miras juga dikemukakan Anastasia Tekege. Anggota DPRD Mimika dari PIS itu mengatakan Perda No 6 tahun 2007 secara tegas melarang perdagangan miras di Mimika tanpa terkecuali.
     
Anastasia malah memberi batas waktu bagi Pemkab Mimika dan polisi untuk menertibkan miras hingga Maret mendatang. Setelah itu, Anastasia menyatakan akan memimpin langsung masyarakat Mimika untuk menghancurkan tempat-tempat penjualan miras yang marak beredar di Timika.
     
"Setelah bulan Maret, kalau masih ada penjualan miras di Timika saya akan pimpin masyarakat pergi menghancurkan dan membakar tempat-tempat penjualan miras," ancam Anastasia. Ia mengaku tidak takut jika karena tindakan itu nanti akhirnya berurusan dengan masalah hukum.
     
"Terserah polisi mau tangkap atau mau penjarakan kami. Kami tidak takut," kata Anastasia.
     
Sementara itu, aktivis LSM Jaringan Perempuan Mimika, Maria Kambirop mempertanyakan itikad baik Pemkab Mimika dan jajaran kepolisian setempat yang selama ini tidak berani mengambil langkah tegas untuk menertibkan miras. Padahal, katanya, perdagangan miras yang melampaui batas telah mengakibatkan timbulnya berbagai permasalahan sosial di Mimika.
     
Kapolres Mimika, AKBP Muhammad Sagi mengatakan jajarannya siap menertibkan miras. Dan rakyat sampai detik ini masih menunggu janji itu. Namun janji itu akan terwujud apabila ada niat dan dorongan dari Bupati dan jajarannya, masyarakat, terutama tokoh perempuan, LSM, tokoh adat dan gereja, bersama-sama menutup usaha penjualan miras di Timika. (ist/rem)

back to top

__Topik-Topik Pilihan__ Patut Dibaca;;;