Дървен материал от www.emsien3.com

The best bookmaker bet365

The best bookmaker bet365

Menu
RSS
Kangguru, Pelompat Jarak Jauh

Kangguru, Pelompat Jarak Jauh

SIAPA yang tidak tah...

Ini Rekomendasi Anak-Anak Terminal Untuk MUBES Meepago

Ini Rekomendasi Anak-Anak Terminal …

MUSYAWARAH BESAR (MU...

Jokowi Diminta Tegas Soal Penembakan di Papua

Jokowi Diminta Tegas Soal Penembaka…

PESEKUTUAN Gereja-Ge...

Like Dislike Facebook dan Foto Penembakkan di Papua

Like Dislike Facebook dan Foto Pene…

Langkah Mark Zuckerb...

Jokowi Berharap Suara di Lampung

Jokowi Berharap Suara di Lampung

JAKARTA - Jokowi ber...

Kepada Dubes Australia, Enembe Minta Pemerintah Pusat Patuhi UU Otsus

Kepada Dubes Australia, Enembe Mint…

JAYAPURA – Gubernur ...

Jokowi Siap Menjadi 01 Republik Indonesia

Jokowi Siap Menjadi 01 Republik Ind…

JAKARTA - Saat blusu...

Mencari Hilangnya Kisah Taman Eden di Tanah Papua

Mencari Hilangnya Kisah Taman Eden …

KISAH TAMAN EDEN dit...

Ini Pernyataan Jokowi Terkait Tragedi Enarotali

Ini Pernyataan Jokowi Terkait Trage…

Rakyat Papua sudah l...

Paus: Saya Percaya Tuhan, tetapi Bukan Tuhan Katolik

Paus: Saya Percaya Tuhan, tetapi Bu…

{flike}VATICAN  — Pa...

Prev Next

In order to view this object you need Flash Player 9+ support!

Get Adobe Flash player
A+ A A-

Orang Ini Usul Orang Papua Menjadi Uskup

Orang Ini Usul Orang Papua Menjadi Uskup

MODIO – Ketua Kring Upibega Paroki Modio, Martinus Kedeikoto kepada media ini, Desember 2013 lalu mengatakan, dengan adanya Pastor-Pastor orang Papua yang begitu banyak, maka sudah saatnya orang Papua ditunjuk menjadi pemimpin gereja di wilayah Keuskupan Jayapura atau Keuskupan Timika.

Pria Modio yang suka mengenakan koteka ketika pergi ke Gereja ini mengatakan, orang Papua sudah siap sejak dulu. Sejak agama masuk. Apalagi dibidang keagamaan, banyak orang Papua sudah mapan dan siap memimpin. Mereka lahir dari alam Kristen, sehingga tidak perlu diragukan.

Sejak Keuskupan hadir di tanah Papua, satupun orang Papua tidak pernah ditunjuk Paus menjadi Uskup di Negeri Papua ini. Menurut Martinus, ini menjadi perhatian bapa Paus di Roma menunjuk orang Papua asli.

Katanya, Pater Neles Tebay Pr adalah sosok yang tepat memimpin Keuskupan Jayapura. “Pater Tebay sudah siap”, ujarnya.

Sehingga kata Tinus, apabila uskup Leo Laba Ladjar, OFM sudah selesai masa kepemimpinannya, maka dirinya mengusulkan agar nama Pater Neles Tebay, Pr harus masuk dalam daftar pemilihan dan Paus pantas menunjuknya menjadi uskup pertama orang Papua.

“Kita umat Katolik di Papua sudah tau kalau Pater Neles itu mengambil gelar Doktor di Roma. Itu berarti Pater Neles sudah siap dan sekarang saatnya orang Papua memimpin keuskupan besar ini”, ujarnya berharap.

Pater Nelles Tebay, Pr.

Sekedar untuk diketahui, Keuskupan Sufragan Jayapura dan Keuskupan Sufragan Timika masuk dalam Provinsi Gerejawi Merauke. Termasuk didalamnya Keuskupan Sufragan Sorong dan Keuskupan Sufragan Asmat. Sedangkan Provinsi Gerejawi Merauke adalah Provinsi terakhir dari 10 wilayah provinsi yang masing-masing dikepalai oleh soerang Uskup Agung.

Jadi uskup Jayapura tidak bisa disebut uskup Agung, kecuali uskup Merauke disebut uskup Agung karena ia mengepalai beberapa keuskupan yang disebut keuskupan sufragan.

Sejarah Hirarki Keuskupan di Indonesia

Berikut kami kutip tonggak sejarah pendirian keuskupan di seluruh Indonesia yang ditulis R.B. Agung Nugroho di media HidupKatolik.com.

3 April 1841: Pendirian Vikariat Apostolik Batavia (sekarang Keuskupan Agung Jakarta). Wilayah ini mencakup wilayah Indonesia sekarang, kecuali Maluku dan Papua, tetapi mencakup wilayah Kalimantan Utara, yang sekarang masuk negara Malaysia dan Brunei Darussalam.

4 September 1855: Wilayah Vikariat Batavia di Kalimantan Utara dimekarkan menjadi Prefektur Apostolik Labuan e Borneo (sekarang Keuskupan Agung Kota Kinabalu). Sekarang wilayah ini telah dimekarkan menjadi enam keuskupan di Malaysia (Keuskupan Agung Kota Kinabalu, Keuskupan Keningau, Keuskupan Sandakan, Keuskupan Agung Kuching, Keuskupan Sibu, Keuskupan Miri), dan Vikariat Apostolik Brunei.

11 Februari 1905: Pemekaran Vikariat Batavia di Kalimantan (sekarang wilayah Indonesia) menjadi Prefektur Apostolik Borneo Olandese. Selanjutnya, menjadi Vikariat Apostolik Pontianak pada 21 Mei 1938, ketika wilayah ini dibagi dua dengan pendirian Prefektur Apostolik Bandjarmasin (Vikariat Apostolik Bandjarmasin pada 10 Maret 1949). Kemudian, Vikariat Pontianak dimekarkan dengan pendirian Prefektur Apostolik Sintang pada 11 Maret 1948 (Vikariat Apostolik Sintang pada 23 April 1956) dan Prefektur Apostolik Ketapang pada 14 Juni 1954. Sedangkan wilayah Vikariat Bandjarmasin dimekarkan dengan pembentukan Prefektur Apostolik Samarinda pada 21 Februari 1955.

30 Juni 1911: Prefektur Apostolik Sumatra didirikan. Pada 27 Desember 1923, berganti nama menjadi Prefektur Apostolik Padang (Vikariat Apostolik Padang pada 18 Juli 1932, berganti nama Vikariat Apostolik Medan pada 23 Desember 1941). Pada 27 Desember 1923, wilayah ini dimekarkan dengan pendirian Prefektur Apostolik Bangka e Biliton (menjadi Vikariat Apostolik Pangkalpinang, 8 Februari 1951) dan Prefektur Apostolik Benkoelen (menjadi Vikariat Apostolik Palembang, 13 Juni 1939). Pada 19 Juni 1952, Vikariat Palembang dimekarkan dengan pendirian Prefektur Apostolik Padang dan Prefektur Apostolik Tandjung Karang. Sedangkan Vikariat Pangkalpinang dimekarkan dengan pendirian Prefektur Apostolik Sibolga pada 17 November 1959.

16 September 1913: Prefektur Apostolik Isole della Piccola Sonda didirikan. Pada 8 Maret 1951, Prefektur ini ditingkatkan statusnya dengan nama Vikariat Apostolik Endeh. Wilayah ini dimekarkan dengan pendirian Vikariat Apostolik Timor Olandese pada 25 Mei 1936 (menjadi Vikariat Apostolik Atambua 11 November 1948), Prefektur Apostolik Denpasar pada 10 Juli 1950, Vikariat Apostolik Ruteng dan Vikariat Apostolik Larantuka pada 8 Maret 1951, Prefektur Apostolik Weetebula pada 20 Oktober 1959.

19 November 1919: Prefektur Apostolik Celebes didirikan. Pada 1 Februari 1934 menjadi Vikariat Apostolik Celebes, dan berganti nama Vikariat Apostolik Manado pada 13 April 1937. Wilayah ini dimekarkan dengan pendirian Prefektur Apostolik Makassar pada 13 April 1937 (Vikariat Apostolik Makassar pada 13 Mei 1948).

27 April 1927: Prefektur Apostolik Malang didirikan. Malang menjadi Vikariat Apostolik pada 15 Maret 1939). Selanjutnya, Vikariat Batavia di pulau Jawa dimekarkan dengan pendirian Prefektur Apostolik Surabaia pada 15 Februari 1928 (Vikariat Apostolik, 16 Oktober 1941), Prefektur Apostolik Bandung pada 20 April 1932 (Vikariat Apostolik, 16 Oktober 1941), Prefektur Apostolik Purwokerto pada 25 April 1932 (Vikariat Apostolik, 16 Oktober 1941), Vikariat Apostolik Semarang pada 25 Juni 1940, dan Prefektur Apostolik Sukabumi pada 9 Desember 1948.

3 Januari 1961: Pendirian Hirarki Gereja Indonesia dengan meningkatkan status Prefektur Apostolik maupun Vikariat Apostolik menjadi keuskupan maupun Keuskupan Agung. Keuskupan Agung Pontianak dengan keuskupan-keuskupan sufragan, yakni Samarinda, Bandjarmasin (Banjarmasin pada 22 Agustus 1973), Sintang, dan Ketapang. Keuskupan Agung Medan dengan keuskupan-keuskupan sufragan, yakni Padang, Tandjung Karang (Tanjung Karang pada 22 Agustus 1973), Palembang, Pangkalpinang, sementara Prefektur Apostolik Sibolga baru menjadi Keuskupan pada 24 Oktober 1980. Keuskupan Agung Endeh (Ende, 14 Mei 1974) dengan keuskupan-keuskupan sufragan, yakni Atambua, Ruteng, Larantuka, dan Denpasar. Keuskupan Agung Djakarta (Jakarta pada 22 Agustus 1973) dengan keuskupan-keuskupan sufragan, yakni Bogor (sebelumnya, Prefektur Apostolik Sukabumi) dan Bandung. Keuskupan Agung Semarang dengan keuskupan-keuskupan sufragan, yakni Purwokerto, Surabaia (Surabaya pada 22 Agustus 1973), dan Malang. Keuskupan Agung Makassar (Ujung Pandang pada 22 Agustus 1973, dan kembali menjadi Makassar pada 15 Maret 2000) dengan keuskupan-keuskupan sufragan, yakni Manado dan Amboina. Asal usul Keuskupan Amboina adalah Prefektur Apostolik Nuova Guinea Olandese yang didirikan pada 22 Desember 1902 (Vikariat Apostolik pada 29 Agustus 1920, dan berganti nama Vikariat Apostolik Amboina pada 12 Mei 1949). Vikariat ini mekar dengan pembentukan Prefektur Apostolik Hollandia pada 12 Mei 1949 (Vikariat Apostolik pada 14 Juni 1954, berganti nama Kota Baru pada 28 Juni 1963, Sukarnapura pada 12 Juni 1964), dan Vikariat Apostolik Merauke pada 24 Juni 1950. Vikariat Hollandia juga mekar dengan pembentukan Prefektur Apostolik Manokwari pada 19 Desember 1959.

15 November 1966: Pembentukan Provinsi Gerejawi Merauke, dengan menjadikan Merauke sebagai Keuskupan Agung dengan keuskupan-keuskupan sufragan, yakni Sukarnapura (menjadi Djajapura pada 25 April 1969, Jayapura pada 22 Agustus 1973), Manokwari (menjadi Manokwari-Sorong pada 14 Mei 1974).

13 April 1967: Keuskupan Atambua dimekarkan dengan pendirian Keuskupan Kupang. Sementara Keuskupan Agung Ende juga dimekarkan dengan pendirikan Keuskupan Weetebula 6 Februari 1969.

9 April 1968: Pemekaran Keuskupan Agung Pontianak, dengan mendirikan Prefektur Apostolik Sekadau, yang kemudian menjadi Keuskupan Sanggau pada 8 Juni 1982.

29 Mei 1969: Pendirian Keuskupan Agats, pemekaran dari Keuskupan Agung Merauke.

23 Oktober 1989: Kupang menjadi Keuskupan Agung, dengan keuskupan-keuskupan sufragan, yakni Atambua, dan Weetebula.

5 April 1993: Pemekaran Keuskupan Banjarmasin dengan mendirikan Keuskupan Palangkaraya.

9 Januari 2002: Pemekaran Keuskupan Samarinda dengan mendirikan Keuskupan Tanjung Selor.

29 Januari 2003: Samarinda menjadi Keuskupan Agung dengan keuskupan-keuskupan sufragan, yakni Tanjung Selor, Banjarmasin, dan Palangkaraya.

1 Juli 2003: Palembang menjadi KeuskupanAgung dengan keuskupan-keuskupan sufragan, yakni Tanjungkarang, dan Pangkalpinang.

19 Desember 2003: Pendirian Keuskupan Timika, pemekaran dari Keuskupan Jayapura.

14 Desember 2005: Pemekaran Keuskupan Agung Ende dengan mendirikan Keuskupan Maumere. (nd)



back to top

__Topik-Topik Pilihan__ Patut Dibaca;;;