Дървен материал от www.emsien3.com

The best bookmaker bet365

The best bookmaker bet365

Menu
RSS
Kisah Auki (3): Sempat Diancam dan Dipenjarakan Tentara Dai Nippon

Kisah Auki (3): Sempat Diancam dan …

Tahun-tahun berikutn...

Jokowi Makan Nasi Goreng Bersama Megawati

Jokowi Makan Nasi Goreng Bersama Me…

JAKARTA - Wacana Gub...

Tetedemai (Kepala Batu)

Tetedemai (Kepala Batu)

Dan pada akhirnya ak...

Koyeidaba dan Touye Kapogeiye (3/Mumai)

Koyeidaba dan Touye Kapogeiye (3/Mu…

Apakah sikap dan tin...

Taman Eden Menurut Kamus Ensiklopedi Alkitab Masa Kini

Taman Eden Menurut Kamus Ensikloped…

KISAH Taman Eden dit...

Rakyat Mapia Tengah Masih Menunggu Jalan Trans Moanemani Modio

Rakyat Mapia Tengah Masih Menunggu …

POGIBADO - Tokoh mas...

Patung Emas Bunda Maria Milik Bupati Nabire Dicuri Orang

Patung Emas Bunda Maria Milik Bupat…

PATUNG EMAS Bunda Ma...

Lagi, Dua Wartawan Prancis Ditangkap di Wamena

Lagi, Dua Wartawan Prancis Ditangka…

WAMENA - Kepolisian ...

Ada yang Membunuh Persipura?

Ada yang Membunuh Persipura?

KEKALAHAN telak Pers...

Prev Next

In order to view this object you need Flash Player 9+ support!

Get Adobe Flash player
A+ A A-

Ini Seruan Titus Pekei di Hari Noken Se-Dunia

Bagi orang Papua, Noken adalah warisan leluhur orang Papua, termasuk koteka-moge dan Honay. Tiga warisan budaya ini sudah menyatu dengan orang Papua turun temurun dan sekarang bagaimana orang Papua menyelamatkan dan melestarikan sehingga tetap menjadi warisan budaya dunia. Bagi orang Papua, Noken adalah warisan leluhur orang Papua, termasuk koteka-moge dan Honay. Tiga warisan budaya ini sudah menyatu dengan orang Papua turun temurun dan sekarang bagaimana orang Papua menyelamatkan dan melestarikan sehingga tetap menjadi warisan budaya dunia.

HOLANDIA - Noken-Koteka-Honai oleh segelintir pejabat Jakarta adalah bukti ketertinggalan orang Papua. Tetapi itu tidak bagi Titus Pekei, tokoh Pejuang Noken menjadi salah satu warisan budaya dunia. Bagi Titus, Noken adalah harga diri orang Papua dan oleh karena itu dengan cara bagaimanapun, Noken harus terus dilestarikan.

Bagi orang Papua, Noken adalah warisan leluhur orang Papua, termasuk koteka-moge dan Honay. Tiga warisan budaya ini sudah menyatu dengan orang Papua turun temurun dan sekarang bagaimana orang Papua menyelamatkan dan melestarikan sehingga tetap menjadi warisan budaya dunia.

Hal tersebut termuat dalam press realise yang dikirim oleh penggagas noken Papua, Titus Christoforus Pekei, kepada wartawan swarapapua.com, rabu (28/11) siang.

Menurut pekei, noken warisan dunia menjadi semangat bersama untuk menyelamatkan, pelindungan dan pemgembangan karena posisi noken hari kemarin berbeda dengan hari esok. Noken adalah wadah atau tempat fokus diri sebagai icon mata budaya Papuani dari tanah papua, Indonesia dan dunia.

“Noken Papua mendunia dari paris dan kembali membumi di tanah Papua itu sangat baik jika disambut baik oleh seluruh komponen anak adat sebagai bagian dari masyarakat adat di tujuh wilayah adat tanah Papua,” tulis jebolan Universitas Indonesia ini.

Lanjut pekei, sebelumnya noken sebagai warisan budaya leluhur hanya dalam kalangan orang Papua. Namun, kata Titus, semenjak didaftarkan di UNESCO, selasa (4/12/2012), jam 10.30 waktu paris, pada mulai hari itu bersama pemerintah Indonesia dan pemerintah dari berbagai negara telah menyaksikan menjadi warisan budaya dunia.

“Noken Papua kemarin warisan budaya lokal Papua dan sekarang menjadi warisan budaya dunia karena sudah mendunia dari Paris dan itu menjadi catatan sejarah yang sangat penting bagi alam dan manusia Papua kedepan, dan dibahas dan ditetapkan sebagai bukti penguatan peradaban orang Papua bersama sang noken warisan luhur yang dimiliki orang Papua menjadi mata budaya terpenting dalam peradaban dunia baru, era baru dan zaman baru menyongsong hari esok dalam komunitas kebudayaan dunia baru,” tulis Titus dalam suratnya itu.

Titus menegaskan, markas UNESCO Paris, telah tetapkan 4 Desember 2012 sebagai hari besar noken Papua, kini  4 Desember 2013 merupakan hari ulang tahun (HUT) Noken yang pertama. Noken kehidupan sudah menyatu bersama alam Papua, manusia Papua di tanah Papua.

“Seluruh Komunitas Kebudayaan Dunia pun sedang mengenang HUT Noken sehingga noken warisan budaya takbenda yang memerlukan perlindungan mendesak karena noken sedang menuju kepunahan,” tulisnya.

Titus mengajak agar tujuh wilayah adat untuk dapat lestarikan noken sebagai warisan budaya takbenda.

“Mari selamat noken kehidupan agar tetap hidup bersama manusia noken. Mari merajut dan menganyam kebersama kita. Tetapi ingat, tanpa merobek dan merusak noken Kehidupan jati diri orang asli papua,” ajaknya.

Titus menguraikan, noken sebagai Warisan Budaya Takbenda dalam daftar yang memerlukan perlindungan mendesak, menurut Konvensi 2003, pasal 18. Konvensi 2003 menjadi landasan hukum dan berasarkan itu ditetapkan agar menjadi tangggung jawab komunitas kebudayaan sekalipun dalam pelindungan dan pengembangan warisan budaya takbenda ini akan kembali kepada upaya dari negara pihak dalam hal ini kepada pemerintah Indonesia.

“Implementasi atau pelaksanaan konvensi 2003 tentang warisan budaya takbenda, keterkaitan dengan noken pun sudah tercatat dan tersirat dalamdaftar warisan budaya takbenda yang memerlukan pelindungan mendesak, pasal 17 konvensi 2003,” urainya.

Untuk itu, lanjut pekei, memiliki beberapa penjelasan sebagai upaya tindaklanjut sebagai keseriusan oleh dari negara pihak itu sendiri yaitu pertama dengan maksud mengambil tindakan yang tepat untuk melindungi, Komite akan membuat, memelihara dan menerbitkan Daftar Warisan Budaya Takbenda yang Memerlukan Pelindungan Mendesak dan akan mencantumkan warisan pada daftar tersebut atas permohonan Negara Pihak yang bersangkutan.

Kedua; Komite akan merancang kriteria untuk pembuatan, pemeliharaan dan publikasi daftar tersebut, dan mengajukannya kepada Majelis Umum untuk mendapatkan persetujuan.

Ketiga; Dalam keadaan yang sangat mendesak, yang kriteria objektifnya akan disetujui oleh Majelis Umum atas usulan Komite, Komite boleh mencantumkan jenis warisan yang bersangkutan pada Daftar yang disebut pada ayat (1), setelah berkonsultasi dengan negara Pihak yang bersangkutan.

“Hasil kemahiran ini menjadi mata budaya yang dihasilkan oleh masyarakat adat di tanah Papua dan untuk itu dikenal menjadi karya budaya yang memenuhi hidup dengan tiga prinsip yaitu keunikan, kekhasan dan tidak tergantikan atau tiada duanya,” urainya.

Kenapa demikian, menurut Pekei, ilmu noken rajut atau ilmu noken anyam yang tergolong benda alam namun menjadi wadah atau tempat yang berwujud dalam kehidupan. Baik dari proses memilih bahan baku, memproses bahan baku hingga memulai untuk merajut atau menganyam menurut kemahiran kerajinan tangan masyarakat Papua terutama perajin mama-mama noken di seluruh tanah Papua ini.

“Mengapa mama-mama noken yang bisa merajut dan menganyam adalah sesuai kerendahan diri dengan segala tumpuhan perasaan sebelum menghadirkan noken tanpa melakukan perencanaan desain tetapi dibuat secara alami dengan alam pikir dirinya,” ungkapnya. (SP/HOM).

back to top

__Topik-Topik Pilihan__ Patut Dibaca;;;