Дървен материал от www.emsien3.com

The best bookmaker bet365

The best bookmaker bet365

Menu
RSS
Memenuhi 5 Syarat Ini, Anda Bisa Menjadi Pemimpin

Memenuhi 5 Syarat Ini, Anda Bisa Me…

JIKA anda ingin atau...

Akadoo - Akagaa, Saling Memahami!

Akadoo - Akagaa, Saling Memahami!

Dunia semakin canggi...

Biar Jelek, Dia Temanmu

Biar Jelek, Dia Temanmu

1). Apa yang kita bu...

Rio Grime (2): Gabungan Air Mood Band dan Seniman Teater Budaya Papua

Rio Grime (2): Gabungan Air Mood Ba…

Musisi dan penyanyi ...

Suara Adzan Siap Menggema di Vatikan

Suara Adzan Siap Menggema di Vatika…

TIMUR TENGAH - Untuk...

Taman Eden Menurut Kamus Ensiklopedi Alkitab Masa Kini

Taman Eden Menurut Kamus Ensikloped…

KISAH Taman Eden dit...

Kangguru, Pelompat Jarak Jauh

Kangguru, Pelompat Jarak Jauh

SIAPA yang tidak tah...

Enembe Secara Tegas Menolak Pemekaran di Tanah Papua

Enembe Secara Tegas Menolak Pemekar…

HOLLANDIA – Pernyata...

Ewanetaida (Tempat Wajib Istirahat)

Ewanetaida (Tempat Wajib Istirahat)

Istilah ini lama kel...

Prev Next

In order to view this object you need Flash Player 9+ support!

Get Adobe Flash player
A+ A A-

"Ko Jadi Pegawai Karna Sa Kasih Ko Rp 50 Juta"

“Adoo anak. Kami pejabat ini saja tidak bisa masukan jatah. Padahal kami putra daerah dan punya hak lebih untuk loloskan seseorang menjadi PNS. Dorang di BKD juga susah. Ini saya punya anak perempuan sendiri, saya bayar ‘orang dalam’ deng Rp 50 juta baro bisa lolos. Itupun saya dekati terus - jadi lolos. Kalau tidak, tara selamat”, ujar paitua bongkar-bongkar rhs. “Adoo anak. Kami pejabat ini saja tidak bisa masukan jatah. Padahal kami putra daerah dan punya hak lebih untuk loloskan seseorang menjadi PNS. Dorang di BKD juga susah. Ini saya punya anak perempuan sendiri, saya bayar ‘orang dalam’ deng Rp 50 juta baro bisa lolos. Itupun saya dekati terus - jadi lolos. Kalau tidak, tara selamat”, ujar paitua bongkar-bongkar rhs.

Di sebuah kota di kepala burung, saya pigi main-main ke paitua satu. Kebetulan paitua itu salah satu kepala dinas dan juga tokoh masyarakat. Persis hari itu Jumat jadi paitua sudah stenbay dengan baju olahraga, rapi. Kami duapun asyik cerita-cerita seputar pemekaran sambil minum Kopi Murni Moanemani. Waktu asyik baca berita, eh anaknya Sosana masuk sambil menangis-menangis.

“Bapa ini hanya perhatikan orang lain saja. Bapa tidak pernah perhatikan kami anak-anak…. Hiiiii hiiii hiiii”, keluh anak itu sambil tangis semakin keras.

“Booow, ko pulang sudah. Sudah punya suami baro datang minta-minta disini”, usir paitua dengan nada keras.

“Ah tida bisa. Bapa skarang sudah lain, tidak seperti dulu-dulu. Sa tidak akan kemana-mana sampai bapak kasih uang hiiii hiiii hiiii”, balas Sosana sambil duduk di pintu.

“Eh kau sa sudah bayar dengan 50 juta jadi pegawai, sekarang ko datang minta-minta disini. Pigi sana. Pigi, pigi”, usir paitua sambil pukul kursi.

Waktu itu saya karena malu, saya pura-pura baca-baca koran saja.

Setelah Sosana agak reda dan ke dapur, saya pun sodorkan pertanyaan kepada Paitua.

“Bapak, sekarang ini cari pekerjaan susah ee…..”.

“Adoo anak. Kami pejabat ini saja tidak bisa masukan jatah. Padahal kami putra daerah dan punya hak lebih untuk loloskan seseorang menjadi PNS. Dorang di BKD juga susah. Ini saya punya anak perempuan sendiri, saya bayar ‘orang dalam’ deng Rp 50 juta baro bisa lolos. Itupun saya dekati terus - jadi lolos. Kalau tidak, tara selamat”, ujar paitua bongkar-bongkar rhs.

“Iyo e”, ujarku sambil sa pikir dalam hati, paitua ni sa tanya lain baro, paitua jawab lain. Ah tara papa sudah, mungkin dia masih emo.

Tidak lama kemudian, paitua ajak saya naik mobil pergi ke kantor. Di tengah jalan, paitua dia kasih saya Rp 300 ratus ribu. Pace bilang nanti ade beli pulsa. Sayapun turun di terminal dan cari-cari pinang sambil tunggu ojek pulang.

Tiga hari kemudian, saya dengar ada teman saya, namanya Petrus sakit berat.

Sayapun pergi tengok. Waktu saya tiba di SP4, rumahnya pun sudah rusak berat, jadi waktu saya berdiri di pintu, Petrus teteskan air mata. Petrus bilang, saya sudah sakit keras sekitar lima bulan, trus tidak ada beras jadi cuma makan keladi kosong, baro kalau hujan deras itu tempat tidur basah, terus mace sudah tidak tahan dan ada pi baku bawa dengan laki-laki lain.

Ketika hari semakin sore, Petrus bilang, sobat kalau ko bisa pegang kartapel, ada saya punya ayam 10 ekor, jadi ko tembak ayam jantan, kita dua masak. Ketika ayam sudah naik di ranting, saya pun amankan perintah.

Usai masak, kami dua makan ayam dan Petrus pun cerita. Sobat, penerimaan-penerimaan sekarang ini sudah semakin tidak benar. KKN selalu saja terjadi dan testing-testing itu hanya formalitas saja. Disana mereka sudah susun orang dan tinggal umumkan saja. Saya kecewa juga tapi mau bilang apa.

Petrus lanjutkan ceritanya. Sobat, saya setuju dengan penerimaan yang dilakukan di kota M. Disana Bupati saja orang baik dan ia betul-betul menjadi orang tua bagi suku-suku yang ada disana. Setiap kali penerimaan, Bupati hanya panggil kepala-kepala suku. Dan penerimaan itu berdasarkan suku. Ada suku Jawa, suku Toraja, suku Asmat, suku Marind Anim dan seterusnya. Sehingga tidak pernah ada demo, dan lain-lain. Terkadang juga Bupati pakai format Distrik. Setiap distrik diterima 20-20 orang. Jadi disana adil dalam pembagian jatah dan memang karena itu tidak ada titipan dan atau KKN itu.

Bupati M juga sering tidak menggunakan format penerimaan yang disodorkan gubernur. Misalnya Sarjana Ekonomi berapa orang, sarjana Linguistik berapa atau dokter berapa orang. Bupati terima sesuai data pengguran yang ada di wilayahnya. Jadi kalau tidak ada dokter yang menganggur, formasi itu ditambahkan ke SMA, karena disana banyak orang. Begitupun yang lain-lain.

Kemudian sayapun mengutarakan ketertarikan saya terhadap bupati M. Bahwa ketika membaca buku hijau karya J Odiyaipai Dumapa judul Kontroversi Dogiyai, salah satu kekwatiran pemekaran atau juga penerimaan CPNS adalah factor ketidakadilan. Format yang dibuat provinsi sering diselipi oleh kepentingan pusat atau daerah lain. Dimana penganggur dari daerah lain ketika ada pengumuman penerimaan CPNS, kapal-kapal biasa full dengan pencaker. Mereka berbondong-bondong datang dengan membawa duit yang tidak sedikit. Duit itu untuk sogok pejabat. (pilemon)



"Tak ada gading yang tak retak", begitupun dengan tulisan atau berita yang kami muat di media ini. Dari waktu ke waktu kami akan lakukan penyempurnaan dan perbaikan seperlunya (kecuali opini, essai, catatan pinggir atau artikel). Oleh sebab itu, apabila mau download, mohon perhatikan tanggal akses, identitas penulis dan judul tulisan agar kompatibel dengan referensi anda. Tulisan diatas kami rapikan kembali pada hari Rabu, 25 November 2015 12:49

Undang-undang Nomor 12 Tahun 1997 Tentang Perubahan Undang-undang Nomor 6 Tahun 1987 Tentang Hak Cipta Sebagaimana Telah Diubah dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1987. (1) Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan atau memberi ijin untuk itu, dipidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau dengan paling banyak Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah). (2) Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta sebagaimana dimaksud ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau dengan paling banyak Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah).
back to top

__Topik-Topik Pilihan__ Patut Dibaca;;;