Дървен материал от www.emsien3.com

The best bookmaker bet365

The best bookmaker bet365

Menu
RSS
Inii Kedaa Inii Kodaa

Inii Kedaa Inii Kodaa

Jika anda lebih meme...

Usai Menebas Tubuh Pigome dan Semu, Rombongan itu Menghilang

Usai Menebas Tubuh Pigome dan Semu,…

Ini kronologis kejad...

Kisah Auki (3): Sempat Diancam dan Dipenjarakan Tentara Dai Nippon

Kisah Auki (3): Sempat Diancam dan …

Tahun-tahun berikutn...

Tetedemai (Kepala Batu)

Tetedemai (Kepala Batu)

Dan pada akhirnya ak...

Kepada Dubes Australia, Enembe Minta Pemerintah Pusat Patuhi UU Otsus

Kepada Dubes Australia, Enembe Mint…

JAYAPURA – Gubernur ...

ARB dan Prabowo Bangun Koalisi, Lalu Siapa Capresnya?

ARB dan Prabowo Bangun Koalisi, Lal…

JAKARTA - Pertemuan ...

Suara Adzan Siap Menggema di Vatikan

Suara Adzan Siap Menggema di Vatika…

TIMUR TENGAH - Untuk...

Paus Kecam "Kebobrokan" di Vatikan

Paus Kecam "Kebobrokan" d…

{flike}Paus Fransisk...

Dialog Papua Jakarta, Butuh Mediator Netral

Dialog Papua Jakarta, Butuh Mediato…

JAKARTA - Pendeta Li...

Mencari Hilangnya Kisah Taman Eden di Tanah Papua

Mencari Hilangnya Kisah Taman Eden …

KISAH TAMAN EDEN dit...

Prev Next

In order to view this object you need Flash Player 9+ support!

Get Adobe Flash player
A+ A A-

Banyak Pejabat Papua Miliki Senjata

Mantan Kapolri Jendral Sutanto secara tegas sudah melarang warga sipil untuk membawa senjata dengan alasan apapun. Kapolri menegaskan, masyarakat luas atau warga sipil dilarang memiliki, menguasai dan menggunakan senjata api jenis apa pun untuk alasan bela diri. Adakah kesadaran rakyat untuk mengembalikan senjata? Mantan Kapolri Jendral Sutanto secara tegas sudah melarang warga sipil untuk membawa senjata dengan alasan apapun. Kapolri menegaskan, masyarakat luas atau warga sipil dilarang memiliki, menguasai dan menggunakan senjata api jenis apa pun untuk alasan bela diri. Adakah kesadaran rakyat untuk mengembalikan senjata?

HOLANDIA - Ini bukan rahasia umum. Dikalangan masyarakat sudah beredar info, bahwa pejabat Papua dengan tim sukses sudah dilengkapi senjata. Kemana-mana mereka pergi, dipinggangnya ada tas kecil tebal, disitu ada pistol dan tidak tahu senjata jenis itu didapat dimana.

Sebutlah Yohanes, warga SP-4 (Satuan Pemukiman) di Topo, yang seharian kerja kebun. Suatu waktu membuat proposal untuk kasih Bupati. Ia pun tiba di kantor Bupati. Disana tidak ada bupati. Kata pegawai disekitar kantor Bupati, hari itu bupati tidak masuk dan sedang kerja di kediaman. Yohanes pun kemudian bergegas menuju kediaman. Disana ia disambut oleh POL-PP. Yohan pun menyampaikan maksudnya untuk bertemu bupati. Tetapi jawaban penjaga disitu, Bupati hari ini tidak terima tamu.

Esok hari, Yohanes kembali ke kediaman. Kali ini ia datang pagi buta, agar bisa ketemu bupati sebelum ke kantor. Sebelumnya, Yohan sudah dengar dari masyarakat yang pernah ketemu bupati: bila berhasil ketemu, proposal dijawab.

Setibanya di kediaman Bupati, ia disambut sejumlah pemuda di ruang satpam. Dibelakang pemuda-pemuda ini ada rombongan POL-PP dan SATPAM sedang main gaplek sambil jaga-jaga. Kemudian Yohan pun menyampaikan keinginannya untuk bertemu bupati.

"Bupati tidak terima tamu", ujar pemuda-pemuda itu dengan nada kasar.

"Adik, sa ini kalian punya kaka jadi tolong kasih jawaban baik-baik. Jangan kastau dengan kasar-kasar", sambut Yohanes.

"Halus-halus apa. Ko mau ini ka?", ujar seorang pemuda sambil tarik pistol yang ia isi di tas kecil.

"Makanya, kalau mau ketemu Bupati, kamu harus kasih suara", ujar seorang lain sambil matanya melotot ke arah Yohanes.

Yohanes yang merasa sedih dengan perlakuan para satpam tadi, pulang ke Topo. Dalam benaknya, ia hanya berdoa supaya adik-adiknya itu tidak sombong dan tidak lagi belajar memegang senjata.

***

Kisah diatas, ini baru sepanggal cerita dari sekian ribu kisah yang pernah dan sedang terjadi di tanah Papua. Pemilihan Langsung yang kasar dan tidak teratur, telah menghasilkan bupati-bupati yang kasar dan tidak tertib. Dalam situasi demikian, memiliki senjata adalah satu-satunya jalan untuk mengamankan diri dan kelompoknya. Bagaimana melahirkan sebuah proses demokrasi yang bersih dari permainan-permainan kotor, tentu menjadi tanggung jawab kita bersama.

Kapolri Sudah Melarang

Mantan Kapolri Jendral Sutanto secara tegas sudah melarang warga sipil untuk membawa senjata dengan alasan apapun. Kapolri menegaskan, masyarakat luas atau warga sipil dilarang memiliki, menguasai dan menggunakan senjata api jenis apa pun untuk alasan bela diri.

Dengan larangan itu, Kapolri sudah memerintahkan jajaran kepolisian untuk menarik kembali atau mengamankan senjata yang dimiliki masyarakat dari berbagai lapisan. Secara bertahap akan dilakukan dengan metode, tidak diberikannya lagi izin perpanjangan. Dengan tidak diperpanjang, maka pemilik harus segera melaporkan ke kepolisian dan berakhir sudah kepemilikannya. Larangan ini sudah mulai berlaku dan secara bertahap jumlah kepemilikan senjata api di masyarakat akan terus berkurang.

Data media ini. maraknya permohonan izin kepemilikan senjata api terjadi saat awal masa reformasi tahun 1997/1998. Keadaan saat itu telah menyebabkan banyak warga dari kalangan tertentu seperti pengusaha dan politisi (Bupati, DPRD, Gubernur) merasa tidak aman, sehingga merasa perlu untuk mempersenjatai diri. Koridor perizinan pun akhirnya dibuka, dan tentu saja kran impor langsung mengalir deras. Maka, dengan mudahnya setiap orang bisa mengoleksi senjata api dengan syarat mereka punya uang dan mengerti dimana mendapatkannya, atau setidaknya tahu jaringan untuk mendapatkan harga miring. Tetapi, seringkali kepemilikan tidak disertai dengan mentalitas tanggungjawab, sehingga mudah sekali terjadi penyimpangan.

Melihat klakuan para bupati yang terlalu banyak menggunakan tim keamanan yang dilengkapi senjata, tokoh masyarakat Papua, Abner Gebze pernah menyindir para bupati. Katanya, para bupati ini tidak mampu dan penakut.

"Orang yang suka memakai kekerasan dalam menyelesaikan masalah atau ketika menghadapi masyarakat, adalah pemimpin yang tidak mampu dan bobrok mentalnya. Mengapa kalau mentalnya sudah begitu, rakyat mau pilih dia", ujarnya dalam sebuah diskusi di Jayapura, 2013 silam.

Menurutnya, memiliki senjata apa pun bentuknya membutuhkan daya tahan mental yang baik. Pemilik harus mengerti benar kapan digunakan atau tidak digunakan. Mereka yang bermental cengeng, emosi tidak stabil, mau menang sendiri, suka pamer, sebaiknya menjauhkan diri atas kepemilikan karena senjata api hanya akan mendatangkan bahaya bagi orang lain. Merasa diri terancam, tersinggung atau merasa tidak aman akan mudah sekali memicu penggunaan di luar akal sehat. Inilah yang berulang-ulang kali terjadi di masyarakat sekarang ini. Jangankan warga sipil, aparat saja banyak yang lalai sehingga jatuh korban yang mestinya tidak perlu. Kenyataan-kenyataan seperti itulah yang selama ini terjadi.

Masih menurutnya, yang menjadi tantangan aparat kepolisian adalah justru menekan peredaran senjata api dari pasar gelap. Apalagi dengan adanya isu-isu genosida, devide at impera, kalah politik dll, bisa saja penumpang gelap masuk memperkeruh suasana di tanah Firdaus ini.

"Papua ini mudah sekali dijejali berbagai jenis barang selundupan, termasuk senjata api dalam berbagai jenis dan tipe. Memutus jaringan para penyelundup juga bukan pekerjaan mudah, apalagi jika ada oknum aparat yang mudah sekali diajak bekerja sama dan bekerja bersama-sama. Ada atau tidak ada larangan kepemilikan senjata api, pasar gelapnya akan tetap berjalan seperti biasa. Maka, pasti tugas aparat kepolisian akan tetap berat dan menantang.

***

Kembali ke kisah seputar penggunaan pistol, ini ada cerita lucu dari Nabire - Papua. Pada saat Alm Yan Agapa menjabat sebagai anggota DPRD Nabire (kantornya di gedung Graha Kenana Jl Merdeka, 2004 silam), keponakannya, Jhon Dow suatu waktu bertemu pak Yan Agapa di kantornya. Alasannya cuma satu: ia ingin meminta uang untuk transportasi pulang ke Ugapuga, kampungnya.

Sesampai di kantor DPRD, Jhon pun meminta ijin di Satpam. "Oh saudara, Bapak Ada, silakan masuk", ujar Sekpri Pak Yan sambil mempersilahkan Jhon masuk.

Sesampai didalam ruangan, keduanya saling bersalaman sambil basa-basi sebelum masuk ke tujuan inti. Pak Yan juga barusan masuk ke ruangannya setelah mengikuti sidang anggaran yang melelahkan. Karena capek, pak Yan hendak ambil korek gas dalam laci meja untuk pasang rokok.

Om Jhon yang duduk didepannya berpikiran lain. "Ow... paitua ada buka laci jadi, pasti paitua ada ambil uang untuk kasih saya", jhon pikiran kacau. Tapi Jhon masih berpikir: "Ah sa kan belum minta".

Lacipun ditarik agak pelan (karena keras) dan yang diambil bukan uang tapi semacam pistol berukuran kecil. Ops, dalam hitungan detik, Jhon berdiri dobrak pintu - keluar ruangan sambil berteriak dalam bahasa Mee: " Yan Agapa kida padakaa naginee pada muteteiii - pada muteteiiii.....". Ooooo... laki-laki sudah jauh. Sekpri / sopir pak Yan bertanya-tanya, "Pak kenapa pak - kenapa pak".

Dalam hitungan detik seluruh pegawai Sekretariat Dewan, Anggota DPRD Kabupaten Nabire, masyarakat juga Ketua DPRD, Kol Inf Maulud Hidayat ada didepan ruangan. Semua menganga, kenapa-kenapa, bagaimana.

Pak Yan bilang: "Ah saya ada lagi ambil korek ini (sambil kasih tunjuk korek yang bentuknya seperti pistol), laki-laki dia sudah lari sambil berteriak, aduu pak Yan mau tembak saya, dia ada ambil pistol-pistol-pistol, jadi sayapun jadi kaget. Mau jelaskan, laki-laki ko sudah lompat lari", urai Yan sambil kastau petugas cari laki-laki itu dibawa kembali.

Jhon Dow yang tadinya hilang itu kemudian dibawa kembali ke kantor DPRD. Semua yang ada disitu tertawa mati melihat mukanya. Ya sudah, karena sudah gemparkan satu kantor besar, Yan Agapa kasih amplop Rp 5 juta. Anggota lain ada kasih Rp 2 juta dan ada yang kasih Rp 3 juta. Ketua DPRD langsung bikin memo Rp 10 juta.

Jhon Dow pun kemudian belanja dan pulang kampung.

 ----------------------------------------------------------

Dalam buku MAPIA, taman Firdaus yang hilang dalam kisah Genesis (1-6), adalah tanah Papua. Batas timur di sepanjang Kepulauan Salomon (Hawai), Batas Barat di garis Wallace (Wallace Line), dari Sumbawa hingga Sulawesi. Batas Selatan yaitu Benua Australia dan batas Utara di Lautan Atlantik. Sebelumnya, Tuhan Allah juga membuat 5 taman Firdaus; taman Firdaus pertama di Afrika Tengah (turunkan ras Kushoid), taman Eden kedua di Athena Yunani (turunkan ras Kaukashoid), taman Eden ketiga di Afrika Selatan (turunkan ras Negroid), taman Eden keempat di Tibet (turunkan ras Mongoloid), taman Eden kelima di Bali (turunkan ras Melayu atau Australoid).

-----------------------------------------

 

back to top

__Topik-Topik Pilihan__ Patut Dibaca;;;