Дървен материал от www.emsien3.com

The best bookmaker bet365

The best bookmaker bet365

Menu
RSS
Jokowi Berharap Suara di Lampung

Jokowi Berharap Suara di Lampung

JAKARTA - Jokowi ber...

Bupati Tabuni Gagal Membangun Intan Jaya?

Bupati Tabuni Gagal Membangun Intan…

Pada dasarnya bupati...

Ada yang Membunuh Persipura?

Ada yang Membunuh Persipura?

KEKALAHAN telak Pers...

Dalai Lama : Tidak Masalah Dengan Pernikahan Sejenis

Dalai Lama : Tidak Masalah Dengan P…

{flike}TIBET - Pemim...

Kisah Auki (5/Habis): Ini Pesan Terakhir

Kisah Auki (5/Habis): Ini Pesan Ter…

Auki ialah manusia p...

Paus: Saya Percaya Tuhan, tetapi Bukan Tuhan Katolik

Paus: Saya Percaya Tuhan, tetapi Bu…

{flike}VATICAN  — Pa...

Ini Seruan Titus Pekei di Hari Noken Se-Dunia

Ini Seruan Titus Pekei di Hari Noke…

{flike}HOLANDIA - No...

Ini Pernyataan Jokowi Terkait Tragedi Enarotali

Ini Pernyataan Jokowi Terkait Trage…

Rakyat Papua sudah l...

Jembatan Kali Mapia Akan Dirampung Habis Lebaran, Tahun ini

Jembatan Kali Mapia Akan Dirampung …

Keraguan masyarakat ...

Isu-Isu Ini Beredar Usai Black Brothers Minta Suaka Politik ke Luar Negeri

Isu-Isu Ini Beredar Usai Black Brot…

SUBUH, sekitar pukul...

Prev Next

In order to view this object you need Flash Player 9+ support!

Get Adobe Flash player
A+ A A-

Pemekaran Picu Banyak Konflik di Tanah Papua

Pertikaian di Timika, Penyakit lama yang masih belum disembuhkan. (Foto Tempo.co) Pertikaian di Timika, Penyakit lama yang masih belum disembuhkan. (Foto Tempo.co)

JAKARTA - Selain persoalan sejarah Papua, Lembaga Institute for Policy Analysis of Conflict, IPAC di Jakarta secara tegas melaporkan bahwa konflik di Papua dipicu oleh pemekaran kabupaten.

Wakil Direktur Institut for Policy Analysis of Conflict, IPAC Cillian Nolan mengatakan dalam laporan yang diterbitkan hari ini bahwa pemekaran wilayah di Papua adalah salah satu pemicu terjadinya konflik di daerah tersebut selain tuntutan Papua Merdeka.

Dia mengatakan konflik yang terjadi di wilayah baru umumnya terjadi karena pertikaian antar warga saat proses pemilihan kepala daerah.

"Apa yang dibutuhkan adalah pengetatan kriteria bagi pembentukan kabupaten-kabupaten baru, dan pengurangan insentif ekonomi yang menjadikan pemekaran wilayah sedemikian menarik," kata Nolan kepada Wartawan BBC Indonesia Andreas Nugroho.

Pemerintah bukannya tidak sadar dengan ancaman masalah ini, namun terlihat apatis dan membiarkan warga saling membunuh.

Berlakukan moratorium

Sejak 2009 moratorium pemekaran wilayah telah diberlakukan meski beberapa kali kebobolan oleh tekanan daerah dan DPR yang bersikeras meneruskan pembukaan wilayah administratif baru.

Dalam kasus Papua, menurut IPAC saat ini 33 daerah pemekaran baru menunggu pertimbangan DPR.

Ketua Komisi II DPR dari Fraksi Partai Golkar, Agun Gunanjar mengatakan pemekaran tak bisa dihentikan karena dipadang sebagai sarana bagi daerah agar dapat menikmati dana pembangunan yang dikuasai pusat.

Agun menegaskan permohonan pemekaran wilayah tetap akan diproses meski moratorium berlaku.

"Moratorium tidak menghalangi kita untuk meneruskan aspirasi rakyat di daerah," kata Agun.

"Kalau semua anggaran ditentukan di Jakarta dan tidak menjangkau apa yang menjadi kebutuhan rakyat ya salah satu solusi untuk sejahtera adalah dengan pemekaran wilayah karena itu merupakan cara untuk memindahkan dana dari pusat ke daerah."

Kinerja buruk

Pemerintah pusat nampaknya juga tak bisa berbuat banyak. Direktur Jenderal Otonomi Daerah Djohermansyah Djohan mengatakan pemerintah akan dengan ketat mengawasi usulan pemekaran baru, termasuk yang disponsori DPR.

"Kalau memang disampaikan oleh DPR kepada pemerintah, pemerintah akan pelajari lebih dahulu dan sudah pasti syarat-syarat pemekaran harus terpenuhi kalau tidak terpenuhi ya pemerintah tidak akan menyetujui," jelas Djohermansyah.

Kementerian Dalam Negeri menyatakan moratorium pemekaran wilayah berlaku 2009 hingga selesainya revisi Undang-undang Pemerintah Daerah nomor 32 tahun 2004.

Di dalam RUU tersebut diatur Desain Besar Penataan Daerah termasuk soal pemekaran daerah mulai 2010 - 2025.

Temuan Kementrian Dalam Negeri menyebutkan dari 217 Daerah Otonom Baru (DOB), 80 persen di antaranya berkinerja buruk. (ist)



back to top

__Topik-Topik Pilihan__ Patut Dibaca;;;