Дървен материал от www.emsien3.com

The best bookmaker bet365

The best bookmaker bet365

Menu
RSS
Kepada Dubes Australia, Enembe Minta Pemerintah Pusat Patuhi UU Otsus

Kepada Dubes Australia, Enembe Mint…

JAYAPURA – Gubernur ...

Kisah Auki (3): Sempat Diancam dan Dipenjarakan Tentara Dai Nippon

Kisah Auki (3): Sempat Diancam dan …

Tahun-tahun berikutn...

Lagi, Dua Wartawan Prancis Ditangkap di Wamena

Lagi, Dua Wartawan Prancis Ditangka…

WAMENA - Kepolisian ...

Koyeidaba dan Touye Kapogeiye (3/Mumai)

Koyeidaba dan Touye Kapogeiye (3/Mu…

Apakah sikap dan tin...

Tomas Kamoro Tolak Eksodus PSK Dolly ke Timika

Tomas Kamoro Tolak Eksodus PSK Doll…

{flike}TIMIKA - Toko...

Novela Nawipa Dapat Pujian dari Prabowo Subianto

Novela Nawipa Dapat Pujian dari Pra…

JAKARTA - Saksi dari...

Ambrosius Degey: Ingin Mewakili Rakyat LSM (2)

Ambrosius Degey: Ingin Mewakili Rak…

SUGAPA - Perjuangan ...

Warga Vanimo Suka Masakan Khas Indonesia

Warga Vanimo Suka Masakan Khas Indo…

{flike}VANIMO - Keti...

Akadoo - Akagaa, Saling Memahami!

Akadoo - Akagaa, Saling Memahami!

Dunia semakin canggi...

Pilkada Langsung Disetujui DPR RI?

Pilkada Langsung Disetujui DPR RI?

JAKARTA - Pemilihan ...

Prev Next

In order to view this object you need Flash Player 9+ support!

Get Adobe Flash player
A+ A A-

Majalah Pelita Papua di Merauke Dilarang Cetak

Majalah Pelita Papua di Merauke Dilarang Cetak

MERAUKE - Juli  2013 Lalu, sekelompok anggota Polisi mendatangi tempat percetakan Majalah Pelita Papua yang dipimpin Fidelis Jeminta. Pasalnya, sampul majalah ini memuat simbol Papua Merdeka.

Mantan redaksi Tifa Irian itu kemudian menyampaikan kekecewaannya atas tindakan polisi melarang terbit Majalah Pelita Papua.

"Kami tidak menyangka akan diperiksa polisi. Bagi saya, tidak masalah polisi memanggil saya, namun yang menjengkelkan adalah, polisi tanpa memberitahu, langsung datang ke percetakan dan melarang majalah kami terbit," kata Fidelis Jeminta, kepada Jerry Amona dari Tempo,  Rabu 3 Juli 2013.

Ia mengatakan, dengan kasus ini, maka kebebasan pers di Papua kembali dikekang. "Kami merasa diperlakukan tidak adil. Di luar sana, ada begitu banyak media yang memuat gambar Bintang Kejora namun tidak diperiksa polisi," ujar Fidelis.

Selain melarang peredaran majalah Pelita Papua, petugas polisi juga membawa beberapa eksemplar majalah yang sudah selesai dicetak. "Saya bilang sama mereka, jangan asal melarang, ada hukum yang harus dipatuhi, pers dilindungi oleh Undang-Undang. Bukan begini caranya polisi menyerbu begitu saja," katanya.

Majalah Pelita Papua berkantor di Kabupaten Merauke. Majalah tersebut memiliki ijin terbit yang diperoleh dari pemerintah Merauke. "Kami bukan majalah liar, kami resmi, mengapa polisi harus takut dengan keberadaan kami?" ujar Fidelis.

Isi edisi perdana majalah Pelita Papua mengulas masalah pendirian Kantor OPM di Inggris beberapa waktu lalu. Ada pula artikel mengenai pendapat para tokoh soal gerakan Papua Merdeka. "Ini hal biasa, tidak ada yang besar, kami menyesalkan tindakan polisi yang asal melarang," kata Fidelis.

Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Papua, Komisaris Besar Polisi I Gede Sumerta Jaya mengatakan pemuatan materi tentang kemerdekaan Papua, atau yang bersifat menghasut, memang dilarang beredar. "Pasti dilarang kalau isinya tentang kemerdekaan Papua," kata Sumerta.

Dia membantah pelarangan terbit ini adalah pembreidelan pers. "Itu hanya pemeriksaan. Kami lihat isinya, apakah ada penghasutan atau bukan. Saya kira pers tidak ditekan," katanya. [swp]



back to top

__Topik-Topik Pilihan__ Patut Dibaca;;;