Дървен материал от www.emsien3.com

The best bookmaker bet365

The best bookmaker bet365

Menu
RSS
Koyeidaba dan Touye Kapogeiye (1)

Koyeidaba dan Touye Kapogeiye (1)

KOYEIDABAA ialah tok...

Kisah Auki (2): Misa Pertama dan Kehadiran Agama Kristen Protestan

Kisah Auki (2): Misa Pertama dan Ke…

Pada tanggal 21 Dese...

Pemekaran Picu Banyak Konflik di Tanah Papua

Pemekaran Picu Banyak Konflik di Ta…

JAKARTA - Selain per...

Prahara Kabupaten Dogiyai

Prahara Kabupaten Dogiyai

Iridescent is a vibr...

Dibalik Keindahan Kepulauan Raja Empat yang Telah Mendunia

Dibalik Keindahan Kepulauan Raja Em…

KEPULAUAN Raja Ampat...

Minta Referendum, Mahasiswa Papua Tolak Pemekaran dan Transmigrasi

Minta Referendum, Mahasiswa Papua T…

MAHASISWA PAPUA yang...

Daniel Wandagau Harapkan Penghargaan  dari Pemda Intan Jaya

Daniel Wandagau Harapkan Penghargaa…

SIANG BOLONG, Sabtu ...

The First River of Eden!

The First River of Eden!

  While most people...

Kapolda: Bisa Bicara Merdeka, Asal Jangan Tembak-Tembak

Kapolda: Bisa Bicara Merdeka, Asal …

JAYAPURA - KEPALA Ke...

Rio Grime (1): Berawal dari Teater Budaya Papua di Jakarta

Rio Grime (1): Berawal dari Teater …

Tanah Papua pernah m...

Prev Next

In order to view this object you need Flash Player 9+ support!

Get Adobe Flash player
A+ A A-

Mengembangkan Kemampuan Berbahasa Sebagai Warga Dunia

Retty N Hakim (duduk paling tengah) dengan murid-muridnya. Sumber Foto: http://facebook.com/ Retty N Hakim (duduk paling tengah) dengan murid-muridnya. Sumber Foto: http://facebook.com/

DELAPAN puluh lima tahun sudah berlalu sejak diikrarkannya Sumpah Pemuda. Salah satu dari ikrar pemuda Indonesia di dalam Kongres Pemuda II pada tanggal 28 Oktober 1928 itu adalah "Berbahasa Satu, Bahasa Indonesia". Dengan semakin datarnya dunia karena kemajuan teknologi maka tantangan bagi generasi masa kini adalah bagaimana menjadi warga dunia yang semakin global tanpa mengecilkan makna dari bahasa nasional kita, bahasa Indonesia.

Bila angkatan saya mulai belajar bahasa Inggris di tingkat Sekolah Menengah Pertama, maka anak-anak masa kini sudah terpaparkan pada bahasa internasional mungkin bahkan sejak di kandungan ibunya. Dalam sebuah artikel Opini di harian berbahasa Inggris the Jakarta Post, 27 Oktober 2013, ada tulisan Brea Salim "Let's speak Bahasa Indonesia". Penulis menjelaskan bahwa dia mulai menggunakan bahasa Inggris sejak berusia empat tahun, walaupun secara resmi dalam pendidikan lima tahun pertamanya dia menerima pengajaran dalam bahasa Indonesia. Hal itu berbeda dengan adik lelakinya yang sejak awal pendidikan belajar dengan menggunakan bahasa Inggris. Dalam tulisannya, Brea Salim mengakui bahwa hasil dari pendidikan sekolah yang berbahasa Inggris memungkinkan lebih banyak lagi pelajar yang sukses belajar di luar negeri. Tapi pemaparannya juga menggambarkan betapa bahaya bila penggunaan bahasa Indonesia tidak diperhatikan secara serius.

Kegunaan bahasa sebagai alat komunikasi sudah dibuktikan oleh R. A. Kartini. Surat-suratnya yang dikumpulkan oleh sahabat penanya merupakan buah kemampuannya untuk berkomunikasi dalam bahasa asing (bahasa Belanda dalam surat-suratnya itu). Kemampuan berbahasa Raden Saleh juga yang memberinya kesempatan untuk mendapat beasiswa ke Eropa sekaligus menjadi penerjemah dalam perjalanan lautnya menuju ke Eropa. Kraus Werner, kurator pameran Monogram Raden Saleh, memperkirakan bahwa Raden Saleh minimal menguasai empat bahasa Eropa. Tentunya, hal ini yang membantunya untuk masuk dalam pergaulan sosialita masa itu di Eropa.

Tetapi, buku-buku Pramudya Ananta Toer yang tertulis dalam bahasa Indonesia juga kini dicari dalam versi bahasa Inggris, atau bahkan juga dalam bahasa asing lainnya, karena keinginan orang untuk membaca isinya. Kalau bagi Kartini, kemampuannya berbahasa asing memungkinkan suaranya terdengar ke luar, maka kemampuan Pramudya menuliskan masalah sosial dan sejarah dalam novel-novelnya membuat orang asing ikut tertarik untuk membacanya.

Disamping itu, bisa terlihat betapa kekuatan ekonomi Jepang dan Korea membuat orang asing yang masuk ke kedua negara ini mempelajari bahasa dan budaya mereka. Bahkan kemudian berkembang menjadi penyebaran budaya, terlihat dari kuatnya daya tarik K-Pop yang membuat tidak sedikit anak muda Indonesiea sekarang berminat mempelajari bahasa Korea. Atau kesukaan mereka pada film animasi Jepang membuat mereka mulai tertarik untuk mempelajari bahasa Jepang. Bagaimana dengan budaya dan bahasa Indonesia? Mampukah kita membawa orang melirik budaya dan bahasa kita?

Saya mengagumi Anggun C. Sasmi yang ketika diwawancara dalam bahasa Indonesia tidak pernah meninggalkan kaidah berbahasa Indonesia walaupun dia juga mampu berkomunikasi dengan baik dalam bahasa Inggris dan bahasa Perancis. Tidak seperti penampilan pejabat dan selebriti Indonesia yang senang mencampur bahasa ketika berbicara. Tidak heran kalau kemudian muncul gaya bicara seperti Vicky, yang sekarang popular dengan sebutan Vickynisasi. Padahal, tidak sedikit orang asing yang mampu berbahasa Indonesia dengan baik.

Kekuatan pasar Indonesia menyebabkan iklan di internet juga tersedia dalam bahasa Indonesia. Tetapi, apakah bahasa Indonesia hanya digunakan untuk semakin menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang konsumtif? Dengan menghasilkan karya dan inovasi, maka bangsa ini akan lebih dilihat oleh bangsa lain. Hanya karya dan inovasi anak bangsa pula, yang bisa membawa nama Indonesia bergaung ke seluruh dunia. Semoga semangat Sumpah Pemuda yang dikobarkan delapan puluh lima tahun lalu masih cukup kuat untuk mengingatkan kita akan makna perjuangan para pemuda pada masa itu, dan bagaimana pemuda masa kini harus mampu menerjemahkan arti ikrar Sumpah Pemuda di era global ini.


Sumber Rujukan:

______www.wikimu.com


back to top

__Topik-Topik Pilihan__ Patut Dibaca;;;