Дървен материал от www.emsien3.com

The best bookmaker bet365

The best bookmaker bet365

Menu
RSS
Noak Nawipa Minta Jokowi Siapkan Papua Sebagai Negara Baru

Noak Nawipa Minta Jokowi Siapkan Pa…

JAYAPURA - Tokoh aga...

Romo Benny Susetyo: Perang Gaza Akibat Janji Inggris yang Belum Ditepati

Romo Benny Susetyo: Perang Gaza Aki…

JAKARTA - Setelah se...

Degey: Saatnya Orang Mapia Bikin Kabupaten Sendiri

Degey: Saatnya Orang Mapia Bikin Ka…

MOAEMANI-Kepala Dist...

Minta Referendum, Mahasiswa Papua Tolak Pemekaran dan Transmigrasi

Minta Referendum, Mahasiswa Papua T…

MAHASISWA PAPUA yang...

Ini Alasan Megawati Pilih Jokowi Maju Presiden RI

Ini Alasan Megawati Pilih Jokowi Ma…

{flike}SURABAYA - Me...

Sejak 100 Tahun Lalu?

Sejak 100 Tahun Lalu?

PARA AHLI Alkitab me...

Akadoo - Akagaa, Saling Memahami!

Akadoo - Akagaa, Saling Memahami!

Dunia semakin canggi...

Rais Aam: NU Mengayomi Semua Umat

Rais Aam: NU Mengayomi Semua Umat

GARUT - Pejabat Rais...

Ini Alasan Numberi Pindah ke Prabowo

Ini Alasan Numberi Pindah ke Prabow…

JAKARTA - Nama bekas...

Prev Next

In order to view this object you need Flash Player 9+ support!

Get Adobe Flash player
A+ A A-

Kapolda: Bisa Bicara Merdeka, Asal Jangan Tembak-Tembak

Kapolda Papua Tito Karnavian Ketika Mengunjungi Korban Tragedi Tinju Nabire, Juli 2013. Foto: Antara.com Kapolda Papua Tito Karnavian Ketika Mengunjungi Korban Tragedi Tinju Nabire, Juli 2013. Foto: Antara.com

JAYAPURA - KEPALA Kepolisian Daerah Papua Irjen Polisi Tito Karnavian mengatakan, ideologi Papua Merdeka telah mengakar kuat di kalangan warga Papua. Sulit untuk diubah dalam waktu sehari. “Silahkan ideologi Papua Merdeka, yang penting jangan tembak-tembak,” kata Tito Karnavian saat ditemui SULUH PAPUA, dikediamannya di Jayapura, Minggu (22/9/2013).

Menurut dia, pihaknya terus melakukan pendekatan terhadap kelompok garis keras Papua Merdeka untuk kembali ke dalam NKRI. Pendekatan itu bersifat persuasif tanpa kekerasan. “Ya kita dekati mereka, misalnya Lambert Pekikir di Keerom atau Goliath Tabuni di Puncak Jaya,” katanya.

Ia mengatakan, sebenarnya kelompok garis keras ini tak akan bertindak gegabah jika mereka tak diganggu. Misalnya di Puncak Jaya dimana telah terjadi serangkaian penembakan yang menewaskan anggota TNI maupun warga sipil dari kurun tiga bulan terakhir. “Disana (Puncak Jaya), kalau ada anggota mereka (kelompok bersenjata) yang ditembak, ya pasti mereka membalas, ini yang harus kita hindari,” ujarnya.

Misalnya seperti kejadian Sabtu kemarin. Dalam insiden itu, satu orang sopir lintas Wamena-Mulia tewas. Peristiwa itu terjadi saat Mobil Mitsubishi Triton dengan nopol DW 8694 CA yang dikemudikan Ali berangkat dari Wamena menuju Mulia. Waktu tempuh jalan darat sekitar 10 jam. Mobil saat itu mengangkut bahan makanan. Saat melintas di lokasi kejadian, mobil dihadang dan ditembaki kelompok bersenjata.

Ia memandang, masalah utama terjadinya pergerakan Papua Merdeka, adalah akibat tiadanya perhatian kepada kelompok garis keras. “Sebenarnya masalahnya adalah kesejahteraan, kalau mereka tercukupi kebutuhannya, saya yakin gerakan-gerakan ini bisa selesai,” katanya.

Sementara itu, Koordiantor Tentara Pertahanan Organisasi Papua Merdeka Lambert Pekikir mengatakan, persoalan Papua Merdeka bukan masalah kesejahteraan. “Tapi masalah politik, dimana status Papua harus dikembalikan lewat referendum, jadi kalau ditanya, apa mau OPM, saya jawab, referendum,” katanya.

Baginya, dalam konsep OPM, bukan dialog Papua Jakarta atau penyerahan diri OPM kepada NKRI, melainkan sebuah perundingan dengan di dalamnya hadir pemerintah Indonesia, Perserikatan Bangsa-Bangsa, serta negara-negara anggota PBB. “Di sini Resolusi PBB No. 2504 yang dikeluarkan Majelis Umum PBB tanggal 19 November 1969 harus diubah. Bahwa Pepera dulu tidak sah, cacat hukum, dan manipulasi sejarah, itu fakta,” katanya.

Ia mengatakan, sejarah mencatat Penentuan Pendapat Rakyat di Papua tidak dilakukan sebagaimana mestinya. “Ada kesalahan, referendum menjadi jalan keluar ke mana nanti Papua, bukan dialog.”

Pepera 1969 dilaksanakan sebagai bagian dari perjanjian New York. Pepera digelar dalam tiga tahap. Pertama dilangsungkan konsultasi dengan dewan kabupaten di Jayapura mengenai tata cara penyelenggaraan Pepera. Kedua, pemilihan Dewan Musyawarah Pepera dan ketiga, pelaksanaan Pepera dari Merauke hingga Jayapura.

Hasil Pepera ketika itu menunjukkan warga Papua menghendaki bergabung dengan NKRI. Hasil Pepera itu dibawa ke sidang umum PBB dan disetujui pada tanggal 19 November 1969. ***


Sumber berita: KLIK DISINI


back to top

__Topik-Topik Pilihan__ Patut Dibaca;;;