Now Reading
Arti dan Penggunaan Imbuhan “TE” Dalam Tata Bahasa Mee
0

Imbuhan “TE” sebagai awalan (prefiks) pada kata kerja dasar mempunyai arti “jangan atau tidak boleh.”  Prefiks “TE” mengandung pengertian jangan lakukan sekarang, juga pada atau untuk waktu mendatang. Dalam proses reduplikasi dan pemajemukan kata kerja akan mengalami proses morfemik, semantik dan fonemik.  Perhatikan contoh penggunaan awalan “TE” dalam kata kerja dasar (You menjadi Teyou), kata kerja majemuk (Yoomakai menjadi Teyoomakai) dan kata kerja reduplikasi (Yoo-yoo menjadi Teyoo-teyoo).

Komentar Facebook

ARTI DAN PENGGUNAAN IMBUHAN “TE” DALAM TATA BAHASA MEE

Berdasarkan hasil penelusuran, saya berhipotesis bahwa ada tiga imbuhan dalam Tata Bahasa Mee yakni Awalan (prefiks), Akhiran (sufiks/simulfiks) dan Konfiks (awalan dan akhiran). Imbuhan menjadi unsur sangat penting dalam Tata Bahasa dari semua bahasa di dunia. Afiksasi pada sebuah kata akan mengalami proses morfemik (pengubahan bentuk kata), semantik (pengubahan makna/arti kata) dan fonemik (mengubah bunyi kata).

Banyak imbuhan dalam bahasa Mee namun pada kesempatan ini hanya membahas penggunaan imbuhan “TE”. Dalam pengimbuhan, “TE” bisa berada di awal dan akhir kata kerja dasar, kata kerja reduplikasi dan kata kerja majemuk. (apa itu kata kerja reduplikasi dan kata kerja majemuk? Akan saya ulas pada kesempatan lain).

Berikut penjelasannnya.

  1. “TE” sebagai Awalan (Prefiks)

Imbuhan “TE” sebagai awalan (prefiks) pada kata kerja dasar mempunyai arti “jangan atau tidak boleh.”  Prefiks “TE” mengandung pengertian jangan lakukan sekarang, juga pada atau untuk waktu mendatang. Dalam proses reduplikasi dan pemajemukan kata kerja akan mengalami proses morfemik, semantik dan fonemik.  Perhatikan contoh penggunaan awalan “TE” dalam kata kerja dasar (You menjadi Teyou), kata kerja majemuk (Yoomakai menjadi Teyoomakai) dan kata kerja reduplikasi (Yoo-yoo menjadi Teyoo-teyoo).

You  (Masak/bakar) menjadi Teyou (Jangan masak/bakar [sekarang, juga waktu mendatang]).

Yoomakai (Sudah masak dan simpan) menjadi Teyoomakai (Jangan masak dan simpan [untuk makan kemudian]).

Yoo-yoo (Masak-masak/bakar-bakar) menjadi Teyoo-teyoo (Jangan masak-masak/bakar-bakar [pada waktu mendatang]).

  1. “TE” sebagai Akhiran (sufiks/simulfiks)

Imbuhan “TE” sebagai akhiran pada kata kerja dasar mempunyai arti sedang melakukan, (saya/kami setuju) untuk anda boleh atau akan melakukan. Afiksasi “TE” pada akhir kata kerja ini pun mengalami morfemik yakni pada huruf akhir kata kerja dasar yang turut mengubah arti dan bunyi kata. (Proses pengubahan bentuk kata ini menjadi bagian dari materi/teori morfologi bahasa Mee yang akan saya ulas pada kesempatan lain).

Berikut ini contoh penggunaan sufiks/simulfiks “TE” pada kata kerja.

Dou (Lihat) menjadi Doote (Sedang lihat; Anda boleh/akan lihat).

Motii (Ambil) menjadi Moteete (Sedang ambil); Motite (Anda boleh/akan ambil).

Uwii (Jalan atau pergi) menjadi Uweete (Sedang pergi); Uwite (Anda boleh atau akan pergi).

  1. Imbuhan “TE” pada Reduplikasi Kata Kerja.

Dalam hal ini “TE” diimbuhkan pada kata kedua dari reduplikasi, sementara pada kata pertama dibubuhi prefiks (awalan) “E.”  Prefiks “E” ini diduga memiliki makna “Ewo” (tidak tahu/tidak paham) atau “Epi” (tahu/paham) tergantung makna kata; (untuk membuktikan “E”  ini diambil dari huruf awal saja dari kata “epi” atau “ewo” maka saya akan mengulas pada kesempatan lain tentang afiksasi huruf “E” dalam Tata Bahasa Mee).

Selain mengalami morfemik (pengubahan bentuk kata), pengimbuhan “E” dan “TE” dalam reduplikasi ini juga akan mengalami semantik (makna/arti kata), dan fonemik (bunyi kata). Makna baru yang muncul akibat proses reduplikasi ini antara lain dilakukan berulang-ulang, bermacam-macam dan sangat/tak kendali.  Untuk lebih memahaminya, perhatikan contoh-contoh berikut ini:

Daa (Larang) menjadi edaa-tedaa (Sangat dilarang).

Dou (Lihat) menjadi edoo-tedoo (Melihat banyak, melihat secara acak).

Kobii (Tebang) menjadi ekobe-tekobe (Menebang tanpa pilih).

Magii (Berhubungan seks) menjadi emage-temage (Berhubungan seks bersama banyak orang).

Motii (Ambil) menjadi emote-temote (Mengambil banyak, mengambil secara acak).

Wegee (Rusak) menjadi ewegee-tewegee (Merusak banyak/tanpa kendali).

Catatan:

Afiksasi “E” dan “TE” secara bersama juga terjadi pada jenis kata benda berwujud.

Contoh: Mogo (batu) menjadi emogo-temogo (banyak jenis batu). Yoka  (anak) menjadi eyoka-teyoka (banyak anak yang berdebe-beda).

  1. “TE” sebagai Kata.

“TE” sebagai Kata (bukan imbuhan) dipakai hanya oleh orang-orang Mee di wilayah Tigi dan Debei, Kabupaten Deiyai, Papua sebagai ungkapan/respon berupa kejutan atas informasi yang baru didengarnya. Karena itu, “TE” sebagai kata tidak perlu dibahas lebih lanjut karena tidak bermorfologi dan tidak berafiksasi.

Demikian ulasan ini, semoga ada manfaat untuk kita!

Oleh Marselus Douw

Total Page Visits: 2971 - Today Page Visits: 175

Leave a Response