Now Reading
Seniman Papua Tidak Merasakan Dana Otsus Selama 20 Tahun
0
KETERANGAN GAMBAR: Kumpulan Cover album artis tanah Papua karya Ibiroma Wamla di group Facebook: Mambesak, Black Brothers, Black Papas, Coconuts Band, Black Sweet

𝟡𝟠 𝕋ℝ𝕀𝕃𝕀𝕌ℕ 𝔻𝔸ℕ𝔸 𝕆𝕋𝕊𝕌𝕊 𝕊𝔼𝕃𝔸𝕄𝔸 𝟚𝟘 𝕋𝔸ℍ𝕌ℕ 𝕋𝕀𝔻𝔸𝕂 𝔹𝔼ℝℍ𝔸𝕊𝕀𝕃 𝕃𝔸ℍ𝕀ℝ𝕂𝔸ℕ #ℕ𝔼𝕎 𝔹𝕃𝔸ℂ𝕂 𝔹ℝ𝕆𝕋ℍ𝔼ℝ, #ℕ𝔼𝕎 ℝ𝕀𝕆 𝔾ℝ𝕀𝕄𝔼, #ℕ𝔼𝕎 𝔹𝕃𝔸ℂ𝕂 𝕊𝕎𝔼𝔼𝕋, #ℕ𝔼𝕎 𝕄𝔸𝕄𝔹𝔼𝕊𝔸𝕂, #ℕ𝔼𝕎 𝕐𝔸ℝ𝕆𝕄𝔹𝔸

𝗝𝗼𝗸𝗼𝘄𝗶 𝗸𝗲𝗺𝗮𝗿𝗶𝗻 𝘀𝗼𝗿𝗲 𝘂𝗺𝘂𝗺𝗸𝗮𝗻, 𝗱𝗮𝗻𝗮 𝗢𝘁𝘀𝘂𝘀 𝘀𝗲𝗹𝗮𝗺𝗮 𝟮𝟬 𝘁𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗯𝗲𝗿𝗲𝗱𝗮𝗿 𝟵𝟴 𝘁𝗿𝗶𝗹𝗶𝘂𝗻. 𝗧𝗲𝘁𝗮𝗽𝗶 𝗻𝘆𝗮𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮, 𝘁𝗮𝗸 𝘀𝗮𝘁𝘂𝗽𝘂𝗻 𝗽𝗲𝗷𝗮𝗯𝗮𝘁 𝗱𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗻𝗴𝘂𝘀𝗮𝗵𝗮 𝗣𝗮𝗽𝘂𝗮 𝗯𝗮𝗰𝗸𝘂𝗽 𝘀𝗲𝗻𝗶𝗺𝗮𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗶𝘀𝗮 𝗹𝗮𝗵𝗶𝗿𝗸𝗮𝗻 𝗡𝗲𝘄 𝗕𝗹𝗮𝗰𝗸 𝗕𝗿𝗼𝘁𝗵𝗲𝗿𝘀, 𝗕𝗹𝗮𝗰𝗸 𝗦𝘄𝗲𝗲𝘁 𝗱𝗮𝗻 𝗹𝗮𝗶𝗻-𝗹𝗮𝗶𝗻.

𝘗𝘢𝘬 𝘎𝘶𝘣𝘦𝘳𝘯𝘶𝘳 𝘥𝘢𝘯 𝘒𝘦𝘵𝘶𝘢 𝘔𝘙𝘗 𝘗𝘳𝘰𝘷𝘪𝘯𝘴𝘪 𝘗𝘢𝘱𝘶𝘢, 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘶𝘴𝘶𝘭, 𝘭𝘢𝘨𝘶 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘭𝘪𝘯𝘬 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘸𝘢𝘩 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘰𝘩𝘰𝘯 𝘥𝘪𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘭𝘢𝘨𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘢𝘮 𝘸𝘢𝘫𝘪𝘣 𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘑𝘶𝘮𝘢𝘵 𝘥𝘪 𝘬𝘢𝘯𝘵𝘰𝘳 𝘋𝘪𝘯𝘢𝘴 𝘉𝘢𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘭𝘶𝘳𝘶𝘩 𝘵𝘢𝘯𝘢𝘩 𝘗𝘢𝘱𝘶𝘢.

  1. Lagu Tumbuh Tanah 𝗘𝗱𝗴𝗮𝗿 𝗔𝗿𝗿𝗼𝗻𝗴𝗴𝗲𝗮𝗿

https://youtu.be/26dPEy9QJDQ

  1. Lagu Tumbuh Tanah 𝙎𝙖𝙥𝙤𝙣𝙞

https://youtu.be/XcYgFYRY5Ec

Komentar Facebook

𝗝𝗼𝗸𝗼𝘄𝗶 𝗸𝗲𝗺𝗮𝗿𝗶𝗻 𝘀𝗼𝗿𝗲 𝘂𝗺𝘂𝗺𝗸𝗮𝗻, 𝗱𝗮𝗻𝗮 𝗢𝘁𝘀𝘂𝘀 𝘀𝗲𝗹𝗮𝗺𝗮 𝟮𝟬 𝘁𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗯𝗲𝗿𝗲𝗱𝗮𝗿 𝟵𝟴 𝘁𝗿𝗶𝗹𝗶𝘂𝗻. 𝗧𝗲𝘁𝗮𝗽𝗶 𝗻𝘆𝗮𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮, 𝘁𝗮𝗸 𝘀𝗮𝘁𝘂𝗽𝘂𝗻 𝗽𝗲𝗷𝗮𝗯𝗮𝘁 𝗱𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗻𝗴𝘂𝘀𝗮𝗵𝗮 𝗣𝗮𝗽𝘂𝗮 𝗯𝗮𝗰𝗸𝘂𝗽 𝘀𝗲𝗻𝗶𝗺𝗮𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗶𝘀𝗮 𝗹𝗮𝗵𝗶𝗿𝗸𝗮𝗻 𝗡𝗲𝘄 𝗕𝗹𝗮𝗰𝗸 𝗕𝗿𝗼𝘁𝗵𝗲𝗿𝘀, 𝗕𝗹𝗮𝗰𝗸 𝗦𝘄𝗲𝗲𝘁 𝗱𝗮𝗻 𝗹𝗮𝗶𝗻-𝗹𝗮𝗶𝗻.

Dewan Kesenian Tanah Papua tidak pernah diberikan dana cukup untuk seleksi artis Papua, lagu-lagu Papua dan merekam secara profesional di studio-studio resmi. Artisnya diambil dari masing-masing daerah, dikolaborasi apik dengan hasil karya etnik dan pop modern yang melangkolis. Kita yakin, selain Huwambello, atau Persipura, masih banyak lagi lagu singkat padat, namun karena tidak ada muara, maka sumber-sumber air tertelan bumi.

Banyak tokoh musik dan penggiat musik Papua yang telah berusaha dari waktu ke waktu, tetapi usaha mereka sia-sia dan hanya dianggap hobi rumahan. Padahal justru seni budaya inilah membuat manusianya bangkit dari dalam. Dia semacam sinar Surya, solar Cell, pembangkit listrik tenaga air yang bisa membangkitkan manusia dari kesakitan, penderitaan dan kesedihan. Sebutlah Daniel Tekege Wanggar. Ketika dia jatuh sakit, cukup tetangganya putar lagu Black Brothers, bangkitlah dia putar kopi.

Igir Al’Qatiri dkk kawan-kawan telah membuat buku lagenda Black Brothers. Buku semacam ini perlu untuk melihat sepak terjang bagaimana semangat Andy Ajamiseba membentuk dan membangkitkan gairah bermusik. Bagaimana dia menanamkan disiplin diluar studio agar anak buahnya bisa menghasilkan musik sekelas deretan nada-nada yang tak pernah dijumpai di manapun.

Buku ini juga mengajak pejabat Papua, Pengusaha Papua bisa belajar dari Andy Ajamiseba, Menajer Black Sweet dan lain-lain. Dengan demikian para bupati atau siapa saja, bisa menunjuk pengusaha-pengusaha atau kontraktor wajib mendampingi kelompok musik yang akan direkomendasikan oleh Dewan Kesenian Tanah Papua, misalnya.

Setelah kita bangsa Papua merdeka pun akan mengalami dilema seperti ini. Jangan tunggu kebebasan itu. Tetapi sedari sekarang, setiap insan pejabat Papua, pengusaha Papua, jangan hanya cari makan di pedalaman, hambur di kota tanpa tujuan yang jelas. Kontrak kontrak artis ibu kota, ruang karoeke penuh setiap hari tiru tiru lagu-lagu stress yang tidak bisa diputar di stadion Mandala bangkitkan semangat generasi muda.

Mari kita ciptakan ruang dan peluang. Banyak lagu Papua sedang membusuk diatas tanah yang kaya raya ini. Ada kelompok Saponi di Serui yang lagu-lagunya bisa menyembuhkan Corona, HIV, AIDS, Demam, Malaria, Diabetes, Bronghitis, Hepatitis, Hipermia, Kangker dan lain-lain. Tetapi faktanya, kelompok Saponi ini hanya andalkan organ Yamaha merek jadul tetapi bisa membuat seseorang bangkit goyang pata pata tumbu tanah.

Ada Swandei group di Jayapura, yang mana studionya baru diresmikan mister Wilem Wandik. Kata Wandik, dana otsus banyak, pejabat jangan tutup diri. Tidak hanya Saponi dan Swandei, di Boven Digoel dan Merauke ada Ona Better dan kawan-kawan sama sekali tidak mendapat perhatian dari pengusaha dan pemerintah. Padahal di Merauke banyak LAHIRKAN seniman Papua seperti Black Sweet, Christian Gebse dan lain-lain.

Di Meepago lebih parah. Semangat Ukago Edmar, Herman You, Engelbertus Degei, Ipou Girgiyai Aleks dan lain lain tidak mendapat dukungan yang serius. Ini bukti awal kematian bangsa Papua di 20 tahun terakhir ini.

Ini fakta yang sedang kita alami. Saya tidak sebut di daerah-daerah lain. Pasti kisah perkembangan seniman lebih sadis. Selain perkembangan antar kelompok musik yang tidak sehat, baku tindis, baku gunting, dan ini semu kita harapkan kepada lembaga yang resmi untuk dapat menampung, menyaring, dan memproduksi hasil karya seniman-seniman Papua yang kita cintai dan sayangi.

Tambah sdikit:

𝘗𝘢𝘬 𝘎𝘶𝘣𝘦𝘳𝘯𝘶𝘳 𝘥𝘢𝘯 𝘒𝘦𝘵𝘶𝘢 𝘔𝘙𝘗 𝘗𝘳𝘰𝘷𝘪𝘯𝘴𝘪 𝘗𝘢𝘱𝘶𝘢, 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘶𝘴𝘶𝘭, 𝘭𝘢𝘨𝘶 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘭𝘪𝘯𝘬 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘸𝘢𝘩 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘰𝘩𝘰𝘯 𝘥𝘪𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘭𝘢𝘨𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘢𝘮 𝘸𝘢𝘫𝘪𝘣 𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘑𝘶𝘮𝘢𝘵 𝘥𝘪 𝘬𝘢𝘯𝘵𝘰𝘳 𝘋𝘪𝘯𝘢𝘴 𝘉𝘢𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘭𝘶𝘳𝘶𝘩 𝘵𝘢𝘯𝘢𝘩 𝘗𝘢𝘱𝘶𝘢.

  1. Lagu Tumbuh Tanah 𝗘𝗱𝗴𝗮𝗿 𝗔𝗿𝗿𝗼𝗻𝗴𝗴𝗲𝗮𝗿

https://youtu.be/26dPEy9QJDQ

  1. Lagu Tumbuh Tanah 𝙎𝙖𝙥𝙤𝙣𝙞

https://youtu.be/XcYgFYRY5Ec

Trims. Salam, dari: Engelbertus Primus Degey.

Total Page Visits: 2468 - Today Page Visits: 15

Leave a Response