Now Reading
Veronika Ko Memang Diberkati Tuhan
0

Sujiwo menyebut pejabat di Indonesia sudah menjadikan Pancasila sebagai mainan yang tidak memiliki nilai-nilai holistic lagi. Sampai kapanpun pejabat Jakarta akan mencari-cari istilah untuk menciptakan lapangan pekerjaan ditingkat pejabat. Bukan ditingkat rakyat yang semakin hari susah mencari lapangan pekerjaan. Salah satunya yang lagi ramai adalah istilah radikalisme Islam bisa meronrong tatanan hidup bangsa. Termasuk istilah-istilah untuk Papua seperti nada-nada rasis (kera, tikus-tikus hutan, dll).

Komentar Facebook

Veronica Koman (lahir di Medan, 14 Juni 1988; umur 31 tahun) adalah seorang pengacara dan pegiat hak asasi manusia (HAM) asal Indonesia yang dikenal akan advokasinya untuk isu-isu pelanggaran HAM di Papua.

Sekalipun perempuan, tidak pernah lahir di Papua, tetapi demi keselamatan jiwa manusia, akhir-akhir ini ia mempertaruhkan hidupnya untuk bangsa Papua. Dengan alasan ini, maka saya sebut Veronika dalam judul, Veronika Ko Memang Diberkati Tuhan. Kalimat ini merupakan ujaran khas Papua untuk memuji seseorang;  Veronika engkau wanita luar biasa, Tuhan titipkan Engkau ke atas bumi ini untuk membela kaum lemah, terutama bangsa Papua ini yang sedang dibelenggu diatas harta kekayaan alam Papua yang berlimpah.

Veronika tidak mau pernyataan Ali Murtopo 1966 terjadi diatas orang Papua. Veronika tidak mau,  rakyat Papua diusir ke pulau tertentu. Veronika juga tidak mau orang Papua dihabisi secara pelan-pelan (slow motion genosida). Veronika tidak mau, ekor bangsa Papua dipegang Mendagri, Jakarta seenaknya mengatur seluruh system pemerintahan di Papua dengan aturan perundang-undangan yang tidak menguntungkan bangsa Papua, sekalipun sudah ada kekhususan dengan Undang-Undang Otsus. Veronika juga tidak mau bangsa Papua dianggap seperti binatang, tidak punya harga diri, tidak punya nilai dan Veronika benar-benar benci dengan model model kekerasan yang dibangun Jakarta. Salah satu bentuk yang Vero tidak mau adalah Jakarta seperti bangsa tuli: bangsa Papua minta lain, Jakarta jawab lain.

Pada 2014, ia bergabung dengan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta dan aktif menangani perkara-perkara kelompok minoritas. Ia terlibat dalam upaya untuk membatalkan hukum jinayat di Aceh karena dianggap bertentangan dengan konstitusi, dan ia juga menyatakan penolakannya terhadap uji keperawanan bagi calon polisi wanita. Pada pertengahan 2015, ia mendampingi 7 santriwati dalam perkara kekerasan seksual yang dilakukan oleh seorang ustad di sebuah pondok pesantren. Pada awal 2016, ia juga menjadi kuasa hukum sepasang lansia yang dikatakan menjadi korban perbudakan modern. Pada 2017, setelah Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama divonis bersalah dalam perkara penistaan agama, Veronica berorasi menolak vonis tersebut di Rutan Kelas I Cipinang.

Veronica memulai advokasinya untuk hak asasi manusia orang Papua sejak 2014 setelah terjadinya kasus penembakan di Paniai pada 8 Desember 2014. Ia mengkritik pemerintahan Presiden Joko Widodo yang dianggap lamban dalam menyelesaikan perkara tersebut. Veronica juga tercatat pernah menjadi pendamping hukum beberapa mahasiswa asal Papua. Veronica belakangan dikenal akan pandangannya yang mendukung pengadaan referendum hak penentuan nasib sendiri sebagai solusi penyelesaian masalah HAM di Papua.

Setelah terjadinya kerusuhan di Papua yang dipicu oleh insiden rasis di Surabaya, pada 4 September 2019, Veronica Koman ditetapkan sebagai tersangka karena ia dituduh telah melakukan penghasutan. Menurut polisi, penetapan status tersangka ini terkait dengan cuitan Veronica di Twitter pada 18 Agustus 2019.

Pertanyaan bagi warga dan menjadi tanda heran hingga hari ini adalah, twitternya terbit tanggal 18 Agustus, sedangkan ejekan rasiz di surabaya 14 Agustus. Lalu yang provokasi siapa? Apakah Veronika provokasi militer agar mengejek mahasiswa kera dan apa hubungannya dengan tanggal 18 Agustus? Apakah provokasinya berlaku surut sehingga Veronika ditetapkan provokator? Mana ada pasal KUHP yang menyebut provokator berlaku surut? Dimana hubungan pengucap rasis dengan Veronika Koman? Aneh tapi nyata. Harusnya, twitternya terbit sebelum tanggal 12 atau tanggal sebelum tanggal 14 Agustus, sehingga Koman pantas ditetapkan sebagai provokator.

Posisi kebijakan model ini, Sudjiwo Tedjo (ILC TVone, 05/11/2019) menyebut bangsa ini semakin hari semakin lupa diri dengan kebenaran, fakta dan data. Pejabat Negara sudah semakin hari seenaknya menjatuhkan hukuman jauh dari nurani dan norma-norma Pancasila dan hukum yang berlaku di Negara ini. Pada titik ini nilai nilai keberadaban orang Indonesia sebagai manusia semakin hari semakin dipertanyakan. Pangkatnya sudah jenderal, titlenya tak mampu memuat papan nama didada, tetapi menuduh orang sembarangan, sesuka hati dan tidak berdasarkan peristiwa yang terjadi di lapangan. Posisi inilah dunia menertawai sejumlah pejabat Jakarta sekerdil tubuhnya dan melenceng jauh dari norma-norma Pancasila.

Sujiwo menyebut pejabat di Indonesia sudah menjadikan Pancasila sebagai mainan yang tidak memiliki nilai-nilai holistic lagi. Sampai kapanpun pejabat Jakarta akan mencari-cari istilah untuk menciptakan lapangan pekerjaan ditingkat pejabat. Bukan ditingkat rakyat yang semakin hari susah mencari lapangan pekerjaan. Salah satunya yang lagi ramai adalah istilah radikalisme Islam bisa meronrong tatanan hidup bangsa. Termasuk istilah-istilah untuk Papua seperti nada-nada rasis (kera, tikus-tikus hutan, dll).

Rocky Gerung mengatakan, radikalisme sejatinya menjadi kebutuhan pokok alur filosofi dalam mencari sebuah jawaban mendekati sempurna. Pemikiran radikalisme dalam tingkat tertentu sangat dibutuhkan kaum terpelajar Islam dalam mencari jawaban.  Agama manapun di dunia membutuhkan pemikiran-pemikiran yang radikalis bahkan sampai tingkat ekstrim untuk mencari jawaban-jawaban hingga mendekati titik kesempurnaan. Sang Sempurna atau Maha Sempurna ialah TUHAN Allah sendiri sebagai sumber jawaban. Manusia sejak lahir hingga kapan akan mati, hidup dalam pertanyaan.

Tedjo menyebut pejabat jaman sekarang bimbang dan linglung menciptakan lapangan pekerjaan. Hanya mengejar berapa duit yang akan masuk kantong pribadi, tanpa mempertimbangkan nyawa militernya dan pengunsian warga yang tak berdosa didalam wilayahnya. (ILC TVone, 05/11/2019). Veronika yang tak bersalah itu saja dikejar seperti pengebom Bali. Sementara Veronika ialah sosok pegiat pembela kamanusiaan. Pembela Pancasila.

Membela orang Papua, membela Ahok, membela Polwan adalah tugasnya. Ia mau kastau cara pandang pejabat Negara yang keliru terhadap rakyatnya. Ia mau melawan tindakan sewenang-wenang. Membela agama tertentu lalu memenjarakan Ahok si manusia polos itu. Ia mau kastau bahwa Negara ini bukan milik agama Islam. Ia mau kastau bahwa Negara ini bukan milik orang Jawa saja, sehingga presiden harus orang Jawa. Ia mau kastau bahwa orang Thiongkok adalah bagian dari Bhineka Tunggal Ika. Ia juga mau kastau bahwa orang Papua bagian dari negeri ini, bukan pemakan bangkai ikan.

Ketika ia melaporkan kekejaman militer selama 73 tahun diatas tanah Papua kepada ABC News, seharusnya Indonesia bangga. Ada seorang putri Pancasila sedang menegor pemimpinnya agar jangan lewat batas hakimi warganya. Ia mau kastau laporan Ali Murtopo bahwa pejabat Jakarta hanya kejar Emas Papua, sehingga warganya segera pindah. Veronika ialah cermin bangsa Indonesia, agar bisa membersihkan kotoran yang terdapat didalam lambang Garuda yang ditempel di dinding-dinding kantor. Jangan hanya gantung di kepala, dan dada, sementara dalam pengamalan dan pelaksanaan jauh dari harapan BPUPKI, 1945.

Veronika Ko Memang Bahaya. Ko pemberani.  Terima kasih karena berani mau tegur pejabat Papua. Mau kastau mereka agar mereka waspada terhadap tawaran jabatan. Waspada terhadap dampak-dampak yang akan terjadi di hari mendatang. Mau kastau berhati-hati hadirkan investor, mau usir warga dengan kekuatan bedil, sementara gunung mereka mau diambil. Nduga sampai detik ini masih panas.  Wakil bupati capek dan malu dengan garuda yang ia gendong setiap hari. Sudah mengharap gubernur, menteri, menhan, mendagri, tetapi pasukan tetap didrop di Nduga. Tidak ada model penyelesaian yang lebih manusiawi.  Manusia sekarang semua sudah menjadi gila. Apakah Tuhan benar mau datang?

Veronika, Ko Memang Bahaya! Engkau banyak sekali tampilkan foto-foto perjuanganmu di profilmu. Selamat Natal dan tahun baru 2020. Semoga imanmu dikuatkan, selalu dilindungi oleh Yesus dan para malaikat orang kudus di Surga. Veronika Ko Memang diberkati Tuhan.

Engelbertus P Degey

 

 

Total Page Visits: 1473 - Today Page Visits: 1

Leave a Response