Now Reading
Dimiya Danau Tage Menyimpan Potensi Wisata yang Menjanjikan
0

Dimiya adalah dua bukit yang ditengahnya mengalirkan sungai Dimiya yang bermuara ke danau Paniai. Secara etimologis Dimiya mengandung beberapa arti yaitu antara dua gunung, dua pikiran (dua insan), pikiran baru, pikiran yang hidup, pikiran yang kaya dan juga ada pengertian harusnya meminta (ijin).

Dimiya adalah dua bukit yang ditengahnya mengalirkan sungai Dimiya yang bermuara ke danau Paniai. Secara etimologis Dimiya mengandung beberapa arti yaitu antara dua gunung, dua pikiran (dua insan), pikiran baru, pikiran yang hidup, pikiran yang kaya dan juga ada pengertian harusnya meminta (ijin).

Jarak ketinggian antara danau Paniai dengan danau Tage sekitar 10 meter. Ketinggian antara Tage ke Tigi beda sekitar 200san meter. Dengan demikian danau Tage jauh lebih tinggi.

Panjang kali Dimiya antara danau Paniai ke danau Tage sekitar setengah kilo. Nampak beda sekali warna air danau Paniai dengan danau Tage. Tak ada sungai besar yang mengalir ke Tage tetapi danau ini terlihat tetap indah dan jernih. Kita berharap masyarakat tidak membuang sampah secara sembarangan agar tidak muncul lumut yang bisa membuat buram warna dasar danau.

Tage itu sendiri secara etimologis dari kata ta = awan dan ge = menyelimuti, desiran air (logat Mapia). Jadi Tage (baca: Taage) adalah awan menyelimuti seluruh wilayah danau ketika Tuhan mengadili manusia pertama di Iigona, Epouto dan di Dimiya. Awan juga sering disebut yugiyo, makoga atau yabai.

Tahun 2008, saya sempat dipanggil ibu bupati Banike Yeimo untuk liput kegiatan ke Ekadide (pasir putih), Kebo dan Keniapa. Liputannya untuk dimuat di koran harian Papuapos Nabire. Giliran ke Keniapa, saya ketinggalan perahu dan terpaksa ikut johnsong. Diatas speedboat ini ada beberapa mama penumpang biasa.

Di tengah danau saya tanya, Keniapa dimana? Ada seorang mama menjawab, nanti di pelabuhan pertama. Yap, semua penumpang turun, sayapun turun. Mama itu panjat gunung, saya juga panjat ikut dari belakang. Sesampai di gunung, mama itu tidak ada. Saya hanya pikir, pasti rumahnya disini. Didepan mata muncul sebuah danau yang indah. Sayapun bertanya beberapa pemuda, ini dimana? Mereka jawab ini di Epouto, rumah yang disebelah sana, Ambros Eria pu rumah. Ya sudah, indahnya danau Tage tarik saya kesana dan sore baru pulang ke Enaro. Ibu Bani rombongan tertawa mati, bikin seperti anak bukan Alie saja.

Kemarin, tanggal 14 Agustus 2019, sekelompok pendoa diberi petunjuk olehNya untuk ketemu orang yang diasingkan. Ada buku pengetahuan, hikmat dan wahyu yang sedang dikerjakan.

Setiba di kediamanku, mereka bertanya sebuah nama yang nama tengahnya mirip (bertus) tetapi depan dan belakang beda, tidak sama. Ketika ketemu pun tak yakin (kii hee egana). Dari tipikalitas tak meyakinkan tetapi rombongan pecinta Yesus ini terlihat fokus.

Merekapun mencari seluruh kota Nabire, karena petunjuk yang mereka dapati orangnya ada di Nabire. Mereka cari di Nabire tidak dapat dan sempat dua kali naik turun pedalaman, tak dapat juga.

Dua hari berikut, mama Suwae dari Jayapura pun tiba. Saya disuruh bawa buku Mapia. Ada banyak hal yang diungkapkan membuat mata kaca kaca. Ya begitu sudah.

Tanggal 18 Agustus, saya dipanggil naik ke Enaro oleh tuan Herman Ar Yakitoubi You. Ada urusan dinas. Dalam perjalanan terngiang beberapa kampung kecil seperti Ugida, Gopouya Ekagokunu, kali degey ke utara, kali Mapia ke selatan, degeidimi, degeima, Ekimanida, Ouhai, Ekimani, koteka moge, iyadimi, gakokebo, apuyai, okomobutu, waga, iigona, epouto, dimiya, topeyaimogo di Ekadide.

Dua hari berikut, saya ketemu lagi dengan rombongan Pecinta Yesus yang sebelumnya ketemu di Nabire. Kali ini saya mendapat dua buku karya om saya, Melianus Tekege berjudul Manusia Suku Mee di Papua, Bangsa Israel yang terbuang. Buku kedua berjudul Tuhan Memilih Pintu Gerbang Timur / Gerbang Emas Meuwo Papua.

Dua buku ini menarik, banyak hal dihubungkan dengan sejarah bangsa Israel. Disinggung juga soal taman Eden. Banyak hal mirip dengan hasil kajian buku saya dan koreksinya saya sampaikan dua hari kemudian kepada om ketika istrinya sedang sakit di Rumah Sakit Madi Enarotali.

Saya sampaikan Tage adalah halaman depan dari sebuah rumah. Halaman samping yaitu Tigi dan Siriwo. Halaman tengah dan belakang terdapat pohon yang berisi pengetahuan baik dan jahat dan satunya lagi berisi susu dan madu (pohon kehidupan). Halaman depan sangat luas indah dan kaya raya hingga Oksibil. Tembus utara selatan. Begitupun halaman belakang.

Dimiya merupakan tempat pengadilan alfa omega. Tempat disayangi walaupun melakukan dosa asal. Dimandikan, diberkati, dibuatkan baju dan dipakaikan oleh tanganNya sendiri, sebelum diusir ke timur dan dikunci oleh Topeyaimogo di Ekadide. Dimiya juga tempat dikumpulkan moyang bangsa-bangsa, diberkati sebelum ditempatkan ke negeri mereka masing-masing.

Dua hari berikut, tepatnya tanggal 1 dan 2, rombongan pecinta Yesus ini mendapat petunjuk bahwa Engel harus meminta ampun dan dimandikan di Dimiya akibat dosa moyang: memetik orang punya buah tanpa minta ijin (Diimiyaa=harus(nya) meminta). Sayapun langsung bilang Yes, Yes Yesus (ya kita).

Ini kerinduan saya sejak lama dan sudah penasaran ketika nyasar di Epouto.

Tanggal 3 September 2019, sayapun dimandikan dibawah tangan saksi Yesus hamba Melianus Tekege (Mogopia) dan hamba Yosina Suwae (Keno / Tani Tumaa). Disaksikan Herman Youw (fotografer), ada hamba Salomon Yeimo, adik Petrus Pigome, dan beberapa pemuda.

3 September 2019, saya orang pertama yang dimandikan di Dimiya. Saya sangat yakin sesuai hasil penelitianku, umat manusia akan datang berlomba mandi disini. Melepaskan dosa masing-masing dan dosa moyang serta menerima Yesus sebagai juru selamat.

Saatnya bangsa Papua bangkit berdiri, sesuai arahan gubernur Papua, Papua bangkit. Tetapi sebelum bangkit, mari bersama sama berdoa dan ratapan, meminta pemulihan diatas tanah ini.

Jangan hanya lihat kaum Muslim tunduk cium tanah hormati Allah, hormat teman kiri kanan tanda solidaritas, atau bapak Paus yang suka cium tanah ketika tiba di negeri orang.

Orang Kristen Papua juga saatnya tunduk hargai tanah air ini, tanah Papua. Merebahkan diri, kasih jatuh rata rata tanah segala kesombongan dan egoisme. Secara serempak meminta petunjuk. Memohon pengampunan, sekecil apapun dosa kita. Pemimpin juru mudi bangsa Papua ialah Bapa Putra dan Roh Kudus.

Rute ke Dimiya

Jika mau ke Dimiya, ada beberapa jalan. Pertama dari Keniapa (jembatan kali Yawei), bisa ke Wotai, Epouto, jalan kaki ke Dimiya. Dekat sekali sambil menikmati keindahan alam yang sungguh menakjubkan.

Kedua, dari Enaro, sewa jhonsong langsung ke Dimiya. Bisa juga dari Enaro lewat Wotai atau lewat Muye sambil menikmati keindahan alam.

Tetapi bagi mereka yang tidak ada ongkos. Atau ada tapi mau turunkan berat badan, atau pecinta alam, ada beberapa jalan setapak yang dikasih tunjuk oleh Herman You.

Dari Gakokebo naik ke atas gunung Gakuga, turun ke Uwemoma, baro masuk ke kampung Uwebutu. Setelah itu naik Jhonsong ke Dimiya. Tidak jauh, dua orang bisa bayar 5000.

Dari Apuyai /masuk ke Okomobutu, naik panjat gunung Waga, turun kebawa tiba di kampung iigoona. Setelah itu bisa ke Epouto atau Dimiya.

Dari Okomobutu naik lewat Miyemugu, turun kampung Oneepa masuk ke Epouto.

Dari Edaro masuk Pipabutu naik tiba Onepadimi, turun di kampung Onepa masuk ke Epouto. Bisa juga dari Edaro Otikaidimi turun ke Onepa.

Bagi yang baku ipar dengan marga Youw, dan Adi, bisa ke Udaugi naik lewat gunung Takaapa, keluar di dusun Kogey baru tiba di Epouto. Bisa juga dari Yumago naik lewat Otikadimi keluar di Onepa tembus Epouto.(🔚 peneliti taman Eden yang hilang)

 

1265total visits,1visits today

Leave a Response