Now Reading
Menari adalah Ekspresi Kebahagiaan
0

Sebuah Catatan dari Tradisi Tarian Penyambutan

Sebab sesungguhnya menari adalah reaksi alamiah untuk menjewantahkan kebahagiaan seseorang atas apa yang dirasakannya. Seperti lirik lagu yang berbunyi “Seperti Daud Menari,” yang kita nyanyikan bersama-sama. Itu hanyalah kenangan akan kebahagiaan Raja Daud yang bijak itu, dimana ia menari dengan segenap jiwa suci agar terhubung dengan Maha Pencipta. Lalu apakah mama-mama yang selalu menari itu memang lantaran mereka sebahagia Daud? Dulu memang Iya, tapi sekarang semoga saja Iya.

22-06-2019

Menari Adalah Ekspresi Kebahagiaan

“—Saat musim Kampanye politik tiba, para candidat diantarkan oleh rakyat asli daerah menuju panggung politik sambil di-iringi Tari-tarian dengan begitu meriah.  Tetapi, setelah mereka terpilih menjadi kepala daerah justru rakyat pendatang yang menari-nari merayunya dari balik dinding beton raksasa. Dulu saat kampanye mereka memakai makhota yang diatasnya diletakkan Burung Cenderawasih yang indah milik leluhur. Begitu gagahnya mereka. Mereka memiliki wibawa dan Kharisma dengan atribut budaya Mee. Tapi, kini mereka memakai Peci yang adalah symbol kebudayaan Melayu yang berciri Islami. Apakah Cenderawasih hanyalah kemuflase mereka untuk menarik hati rakyat lokal? Betapa cepatnya mereka terbuai, wahai…..putra/i harapan bangsa yang mulai teralihkan pendiriannya hanya karena kedudukan—“

A. Tarian sebagai warisan leluhur

Belum ada literature yang menjelaskan secara detail sejarah Tarian; terutama tarian daerah Weeuwo yang kita menari bersama itu. Tapi karena diwariskan secara praktek dari leluhur secara teratur maka itulah tradisi kita yang kini  menjadi bagian tak terpisahkan dari aktifitas kehidupan komunal di Meeuwo.Kita anggap saja sebagai Tarian itu seperti Angin yang tak tahu dari mana datangnya, tapi dia memberi kita kehidupan dengan sirkulasi udaranya.  Dalam tarian Meeuwo itu ada nilai seni dan roh yang mengantar kita pada suasana Nirwana dalam alam pikir kita sebagai manusia berfikir_Cogito Ergo Sum. (Dimi Akauwai).

Tarian sebagai warisan leluhur itu ada beragam dari adanya sendiri. Dia bisa ada dalam Ketiadaan dan dia juga bisa tiada dalam adanya.Tarian leluhur itu meliputi Waita, Moge Duwai dan Ama Duwai, dll. Semua itu dilakukan sebagai visualisasi bentuk sujud kepada sang Pencipta. Sekalipun jenis-jenis tarian ini ada kalahnya menjadi materialistic tapi pada prinsipnya ada jiwa suci yang terkandung didalamnya.

Esensi Tarian

Sebab sesungguhnya menari adalah reaksi alamiah untuk menjewantahkan kebahagiaan seseorang atas apa yang dirasakannya. Seperti lirik lagu yang berbunyi “Seperti Daud Menari,” yang kita nyanyikan bersama-sama. Itu hanyalah kenangan akan kebahagiaan Raja Daud yang bijak itu, dimana ia menari dengan segenap jiwa suci agar terhubung dengan Maha Pencipta. Lalu apakah mama-mama yang selalu menari itu memang lantaran mereka sebahagia Daud? Dulu memang Iya, tapi sekarang semoga saja Iya.

Dalam tradisi sufi Islam pun dikisahkan tentang tarian Sufi yang intinya agar jiwa penari terhubung dengan penciptanya supaya tarian itu hanyalah demi kemuliaan sang Khalik. Seperti gadis India dari desa Rajastan yang terus menari berpuar dikala menjelang senja hari dan menjadi siluet, dengan maksud agar menyenangkan hati Dewi Parwati.

Ibuku juga pernah menari segenap jiwa saat menjemput Uskup Timika di Modio tempo dulu, dengan maksud agar Kebaikan selalu berpancur menyentuh seluruh umat yang taat. Mereka menari begitu riang bahagia karena Salib besar menuntun para penari menuju Gereja Misionaris yang mulai lusuh itu. Itulah para penari jiwa yang melestarikan tarian kesunyian keabadian. Mereka menari mengikuti irama yang terlantum dalam jiwa murni yang terhubung dengan Inti Tertinggi. Itu dilakukan tanpa bayaran, tanpa persiapan, dan dengan spontan dilakukan hanya karena ketertarikan jiwa mereka demi kemuliaan Tuhan Yang Agung.

Tarian adalah warisan leluhur yang diwariskan secara lisan kemudian dimasukan kedalam perangkat budaya sebagai dasar peradaban selurh bangsa di dunia. Tak terlepas juga bagi warga masyarakat yang hidup komunal dibalik pegunungan raksasa asset Bumi ini_Meeuwo.

Tarian menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dengan banyak tujuan; ada yang hanya sekedar hiburan, ada yang bertujuan sebagai ritual keagamaan agar terhubung dengan sang penari agung yang kekal.

Tarian adalah hiburan jiwa dan raga yang menemani hidup generasi semenjak ribuan tahun silam. Artinya masyarakat hidup dengan tarian, tarian itu abadi dan terus diwariskan hingga zaman sekarang dimana kita masih menari ini. Dan akan kita wariskan sebagai asset berharga bagi generasi berikutnya. Itulah hukum tarian yang tak bisa kita tolak, kecuali ikut menari dalam satu irama merdu yang terlantun dari Nirwana.

Seiring berkembangnya zaman tarian pun bermetamorfosis kedalam berbagai bentuk dan rasa. Ada yang masih menyangkut keterhubungan luhur dengan Sang Perncipta tapi ada tarian yang bertujuan untuk kesengan materi yang akhirkan mengarah pada materialism. Ada pula yang mengarah pada Seksisme Erotika yang penuh dengan sifat nafsu bihari. Dan, kenyataan bahwa Tarian hari hari direduksi dalam politik praktik dan tarian hanya dipandang sebagai pelengkap mencapai kekuasaan dalam praktik politik. Tarian era ini sebagian besar hanyalah tarian ilusi dari para politisi yang mengikis habis nilai suci demi memenuhi hasrat akan Harta, Takta dan Wanita. Coba lihat mereka, mereka mencapainya sekarang dan menikmatinya sembari mengorbankan para penari local yang menari dengan kesungguhan hati.

B. Tarian dalam Praktik Politik Modern

Tarian yang bernilai asasi itu telah direduksi dalam beberapa bentuk kategori hingga cenderung menghilangkan roh dari tarian itu sendiri sehingga tarian hanyalah sebuah ritual yang tak bersumber dari perasaan hati nurani. Dalam praktik tarian yang digelar oleh rakyat hari ini memiliki banyak tujuan yang sifat materialistic. Itu artinya jauh dari esensi tarian leluhur yang diturunkan secara teratur itu. Tarian tak lagi jalan keterhubungan jiwa manusia denga Tuhan tapi tarian adalah ladang mendatangkan uang. Lalu tarian hanya terjadi dalam iven-iven tententu seperti saat kampanye politik, atau saat penjemputan pimpinan pemerintahan daerah/ tokoh Agama serta acara peresmian tertentu dengan muatan-muatan yang beragam.

Namun yang sering terjadi adalah tarian pada saat kampanye politik dan itu massif dilakukan. Beberapa Daerah di Meuwo mengeksploitasi tradisi suci yang bernama Tarian Mee kedalam kepentingan politik. Itu dilakukan tanpa pertimbangan nilai dari tradisi leluhur yang sakral itu. Tarian dianggap sebagai suatu kesenangan belaka untuk mendatangkan masa pendukung saat kampanye tiba, seperti penyanyi dandut yang laris manis ketika musim kampanye politik di Tanah Jawa. Apakah Daud menari dan para politisi menari itu sama?

Tradisi Tarian suci itu kini kian terkikis nilai sakral dan kesuciannya dalam anak bangsanya sendiri. Tarian tanpa roh itu melahirkan banyak motif dalam praktik Tarian di kalangan masyarakat yang konsumerisme dan instan. Rakyat Dogiyai telah menari saat kampanye dulu, dan kini bupati baru telah terpilih. Lalu, sekarang rakyat dogiyai sedang menari karena telah panen raya? Atau justru tetangga seberang yang sekarang menari-nari menikmatinya? Anda sendiri yang menjawabnya.

Saat ini masyarakat Deiyai dan Paniai juga sedang menari-menari mengantar para kandidat untuk menyampaikan janji-janti politik yang begitu manis. Apakah Rakyat dan Pemerintah asli bersama-sama akan menari bersama untuk memajukan daerah kelak? Ataukah para pendatang yang akan datang sambil menari-nari karena penguasa daerah telah mengundangnya dalam panen raya? Anda sendiri juga yang menjawabnya.

Kemudia, tarian asli itu pun tak bernilai lagi lantaran telah kehilangan jiwa sucinya. Dalam praktik tarian pada konteks politik melahirkan beberapa motif tarian itu sendiri. Macam-macam motif tarian yang telah terkontakminasi dengan nilai materialism di kalangan Meeuwodide sebagai berikut:

  1. Kedekatan keluarga

Bila ada keluarga yang mencalonkan diri sebagai pimpinan daerah, maka kandidat itu akan di antarkan dengan tarian untuk menarik masa kampanye. Mereka menari dengan tujuan agar keluarga mereka terpilih menjadi pimpinan daerah dan pada akhirnya bisa  melakukan tindakan Nepotisme. Akhirnya, tarian yang tujuan terhubung denga Tuhan itu kini hanya mampu melahirkan Nepotisme dalam pemerintahan. Meeuwo berhasil melahirkan Kolusi, Kolusi dan Nepotisme dalam iringan tari-tarian hambar. Sungguh kasihan.

  1. Tarian Bayaran

Dalam kampanye politik di Meuwodide, tarian menjadi bahan komoditi sehingga Tarian suci itu dieksploitasi menjadi ladang mencari rupiah. Tarian asli milik leluhur yang sakral dan tak ternilai itu kini bisa dihargai dengan seratus ribu rupiah, sungguh murah dan tak berharganya dirimu wahai Tradisi suci.

Aktor terkenal asal India ‘Shah Rhuk Khan’ menceritakan dalam buku biografinya yang berjudul “Shah Rhuk Khan King of Bollywood” bahwa, ia menari di setiap acara pernikahan atau kegiatan apapun untuk mendapat bayaran lebih agar bisa membeli rumah sendiri. Shak Rhuk Khan melakukannya dengan baik sambil menikmatinya dalam hingar bingar irama Hindustani yang merdu. Kini tarian suci milik Mee yang agung itu hanyalah meraup keutungan dalam praktik politik di lingkaran kerajaan Meeuwodide. Kalimat ini tenar dalam benar penari “Kau bayar maka saya menari.”

  1. Tarian Ikut-ikutan

Kebanyakan orang yang menonton tarian pun kadang ikut menjerumuskan dirinya kedalam tarian itu hanya untuk ikut ramai saja. Sudah semacam tradisi bahwa seseorang akan akan menggabungkan dirinya kedalam tari-tarian itu karena euphoria yang ditimbulkan lebih besar untuk menggetarkan hari para penonton. Dulu orang muda dan tua WAITA untuk mengguncang dunia dengan pekerjaan besar tapi kini hanya Waita untuk mendukung politisi yang licik dan penghancur. Dulu para moyang Meeuwo Waita atau Tarian adat mereka membangun hal besar tapi kita sekarang Waita hanya untuk meruntuhkan peradaban.

C. Tarian Menuju Dogiyai Bahagia

Sebab ada semangat dan kebahagiaan di setiap gerak kemolekan tubuh saat menari dalam tarian rakyat, maka pemerintah seharusnya melestarikan semangat tarian itu dalam upayah membangun Dogiyai menuju Bahagia. Pemimpin daerah Dogiyai sudah seharusnya memikirkan untuk membangun daerahnya dengan spirit tarian yang agung untuk memajukkan daerah tanpa ikut bermain lagi dalam praktik politk daerah lain. Sebab sesungguhnya politik demokrasi di Dogiyai sudah final dan selesai, sehingga keliru kalau seluruh rakyat dan pemimpin Dogiyai intervensi politk daerah lain.

Pemimpin seharusnya wariskan tarian sakral itu dalam setiap upaya pembangunan agar kerja kita hanya tertuju pada keagungan Tuhan dan kebahagiaan rakyat yang telah mengantar pemimpin mereka dengan iringan tarian dan keringat dalam lembah Dogiyai yang selalu sunyi. Sebab ‘Bahagia’ itu tak akan datang hanya dengan mengatakan Dogiyai Bahagia, seperti Lapar tidak akan pernah diatasi dengan hanya mengatakan ‘Saya Kenyang. Tapi dengan makan makanan bergizi yang disajikan dari tangan kasih sayang sang Ibu Pertiwi Dogiyailah yang mampu mengatasi rasa lapar itu dan menatap masa depan dalam kebahagiaan.

8273total visits,3visits today

Leave a Response