Now Reading
Megaikebo
0

Sebuah Kajian Arti Megaikebo Secara Leksikal, Etimologis, Fonologis, Filosofis dan Historis


🏻🏼🏽🏾🏿Secara leksikal, Megaikebo artinya bukit Megai. Secara etimologis dari kata utama yaitu Me+Gai+Kebo. Me = (minta, kasih), Gai (pikir, hati-hati) dan Kebo (bukit, tanjung). Jadi Megaikebo artinya Bukit meminta pikiran, bukit memohon pandangan, bukit pemberian wasiat dan lain-lain. Secara homofon, kata Me berhomofon dengan kata Mee (manusia). Kata Gai digolongkan ke polisemi karena memiliki banyak makna seperti pikir, berpikir, hati-hati atau berhati-hati. Kata Kebo memiliki makna tunggal, tak bisa dibedah lagi. Sedangkan antonym atau lawan kata dari Megaikebo adalah Tegaikebo yang memiliki arti lokasi atau bukit yang tak bisa berpikir apa-apa, gila, otak mati dan lain-lain.

Mee Gai Kebo

🏻🏼🏽🏾🏿Megaikebo adalah nama Kampung yang terletak di sebelah selatan kampung Adauwo atau sebelah Timur dari kampung Timeepa. Megaikebo merupakan sebuah kata proto atau sebuah istilah yang merupakan kata-kata pertama sejak manusia mulai muncul di wilayah Mapia. Bukan kata-kata kemarin. Alasan disebut kata proto karena, nama kampung, nama gunung atau nama sungai adalah nama-nama yang sudah disebut sejak turun temurun. Jikalau ada perubahan, pasti ada kisahnya atau lagendanya.

Lalu, apa arti Megaikebo? dapat digali secara leksikal (arti lurus), etimologis (asal kata yang biasanya dibedah per suku kata atau per-huruf). Perlu juga dipakai pendekatan fonologi (ilmu bunyi) seperti homofon (terdengar sama tetapi tulisan dan arti beda), homonym (tulisan dan bunyi sama tapi arti beda), homograf (tulisan sama, tapi bunyi dan makna beda), polisemi (satu kata yang memiliki banyak makna), dan antonim (maknanya bolak balik: contoh Maa=benar, antonimnya Puha=bohong). Dalam penafsiran, kami telusuri dari sisi filosofis dan historis seputar nama tersebut.

Secara leksikal, Megaikebo artinya bukit Megai. Secara etimologis dari tiga kata utama yaitu Me+Gai+Kebo. Me (minta, kasih), Gai (pikir, hati-hati) dan Kebo (bukit, tanjung). Jadi Megaikebo artinya Bukit meminta pikiran, bukit memohon pandangan, tempat mencari inspirasi, bukit pemberian wasiat, bukit beristirahat dan lain-lain.

Secara leksikal, Megaikebo artinya bukit Megai. Secara etimologis dari tiga kata utama yaitu Me+Gai+Kebo. Me (minta, kasih), Gai (pikir, hati-hati) dan Kebo (bukit, tanjung). Jadi Megaikebo artinya Bukit meminta pikiran, bukit memohon pandangan, tempat mencari inspirasi, bukit pemberian wasiat, bukit beristirahat dan lain-lain.

Secara homofon, kata Me berhomofon dengan kata Mee (manusia). Kata Gai digolongkan kedalam kata polisemi karena memiliki banyak makna seperti pikir, berpikir, hati-hati atau berhati-hati, juga tali jenis Gay. Kata Kebo memiliki makna tunggal, tak bisa dibedah lagi. Sedangkan antonim atau lawan kata dari Megaikebo adalah Tegaikebo yang memiliki arti lokasi atau bukit yang tak bisa berpikir apa-apa, gila, belum dewasa, otak mati dan lain-lain.

Dari penggalian ini kita bisa dapat pahami sebab musabab atau latar belakang pemberian nama dari moyang kita. Kita tahu bahwa moyang Meuwo memberi nama kepada seseorang atau sesuatu secara jujur dan tidak serong sana, serong sini. Kalau anda seorang pencuri, mereka langsung menyebut anda dengan nama Omanoobii (oma=curi, noo= pemakan, bii= pelaku laki-laki).

Metode ini adalah cara atau pola yang paling mudah kita memantau kejadian-kejadian masa lampau. Biasanya orang Mapia (suku Mee) memiliki budaya inisiasi pemberian nama (Bagotai) yaitu sebuah upacara pemberian nama berdasarkan tanda-tanda yang terjadi ketika nama itu hendak diberikan.

Apa yang pernah terjadi sehingga kata-kata itu digabungkan menjadi sebuah kata, Megaikebo?

Secara filosofis, kita langsung simpulkan bahwa Megaikebo adalah bukit dimana orang berpikir sejenak, berpikir sebentar, bersandar sebelum melakukan atau melanjutkan sebuah kegiatan. Megaikebo adalah tempat dimana orang harus sadar total. Tempat dimana manusia harus berhati-hati terhadap tindakan dan perkataan. Tempat yang paling aman dan damai. Tempat yang penuh belas kasih, penuh cinta, pusat perdamaian dengan alam dan manusia dan terutama dengan Tuhan Allah, sang pemberi nafas (Pupu Papa) dan sang pencipta (Ugatamee). Megaikebo juga sebagai tempat memohon kepada Tuhan, meminta petunjuk, rahmat dan juga memohon tuntunan dari yang Maha Kuasa sebelum melanjutkan berbagai kegiatan. Dengan kata lain, boleh dikatakan Megaikebo adalah Getsemani-nya si pemberi nama dalam proses memoria pasionis hidupnya.

Secara filosofis, kita langsung simpulkan bahwa Megaikebo adalah bukit dimana orang berpikir sejenak, berpikir sebentar, bersandar sebelum melakukan atau melanjutkan sebuah kegiatan. Megaikebo adalah tempat dimana orang harus sadar total. Tempat dimana manusia harus berhati-hati terhadap tindakan dan perkataan. Tempat yang paling aman dan damai. Tempat yang penuh belas kasih, penuh cinta, pusat perdamaian dengan alam dan manusia dan terutama dengan Tuhan Allah, sang pemberi nafas (Pupu Papa) dan sang pencipta (Ugatamee). Megaikebo juga sebagai tempat memohon kepada Tuhan, meminta petunjuk, rahmat dan juga memohon tuntunan dari yang Maha Kuasa sebelum melanjutkan berbagai kegiatan. Dengan kata lain, boleh dikatakan Megaikebo adalah Getsemani-nya si pemberi nama dalam proses memoria pasionis hidupnya.

Jikalau filosofi hidup orang Mee adalah Dou Gai Ekowai (melihat, berpikir dan melaksanakan), maka, Megaikebo ada di posisi Gai. Dalam peta udara Mapia yang berbentuk kupu-kupu (Boba-ga), Gay Megaikebo ada di sisi utara. Posisi selatan Gay ada di wilayah sepanjang Kitou Mokobike yang diterima Auki-Mebaigai-Kotouki Nokuwo berupa Gay-Ipuuto. Kuhai adalah corong, teropong, mata dari kata Dou (melihat) dari Kupu-Kupu Bobaga. Sedangkan posisi Ekowai ada di Piyaiye. Pastor pertama Meuwo dari Piyaiye (P Theo Makay Pr), pilot pertama Meuwo dari Piyaiye (Pilot Jhon Tekege), Wakil Bupati pertama Mesak Magay dari Piyaiye, Thomas Tigi menjadi bupati definitif Dogiyai pertama suaranya diikat oleh masyarakat Piyaiye. Penggantinya Yakobus Dumupa lahir di Piyaiye dan Wakilnya Oskar Makay berasal dari negeri seni budaya Komauga dilengkapi susu dan madu Piyaiye.

Alam Megaikebo juga telah melahirkan tokoh lagendaris seperti Komeha Magai yang kami sebut sebagai intelek atau cendekiawan pertama orang Mapiha. Alasannya karena beliau mampu mencari tahu dari mana kematian selalu muncul dan mencari tahu sumber pencabut nyawa manusia. Ternyata, perengut nyawa manusia datang lewat kali Mapia yang kami yakini sebagai bekas kaki Eniha (setan) yang telah patahkan sayap kanan Bobaga (Kupu-kupu) ketika diusir rombongan Tuhan dalam peristiwa Mapiha (pohon kebenaran), Mapuha (pohon kebohongan), Aniha (pohon egoisme) dan Eniha (setan, iblis, sumber kebohongan atau penjebak). Hasilnya, Komeha hanya diberikan doa-doa adat atau rapalan oleh pemegang tali kehidupan agar orang sembuh dari sakit perut, sakit kepala, patah tulang, kusta, Meuwita Bokadamo dan lain sebagainya.

Alasan lain pemberian nama kampung Megaikebo juga bisa dihubungkan dengan Lagenda Mama Gabai yang pernah istirahat sebentar di pinggir Abaugi Megaikebo, melahirkan Toutopa di Gabaikunu Timeepa dan melanjutkan perjalanan kearah barat dari Timeepa, tepatnya kearah Gemoupuga.

Tetapi penafsiran kisah-kisah ini, menurut kami adalah cerita-cerita yang terdokumentasi secara lisan (tersirat) dari moyang ke anak cucu hingga hari ini. Artinya kisah itu masuk dalam kategori “cerita kemarin”. Jauh sebelum itu semua, bisa dihubungkan dengan peristiwa hulu sungai Mapiha, tepatnya di Egaidimi. Dimana, dihulu sungai ini pernah terjadi gejolak kisah Ma-pi-ha, Ma-pu-ha, A-ni-ha dan E-ni-ha. Dengan peristiwa di hulu sungai ini memberi pemikiran atau kesadaran kepada orang-orang yang mengembara kearah barat dari Egaidimi, mengikuti sungai Mapiha dan bersandar sebentar di bukit Megaikebo bahwa sebelum berbuat sesuatu, harus timbang matang-matang. Jangan tergesa-gesa, jangan sembrono, jangan terpengaruh oleh bisikan, berita hoax, provokator yang berpangkal dari pembisik (eni+ha), jangan pula egois (ani+ha), tetapi berbuat sesuatu yang manusiawi (Ma+pi+ha).

***

TERLIHAT dari tafsiran Megaikebo ini bahwa, ada rombongan penyebaran manusia, khususnya dalam kalangan Mapia sendiri. Ada rombongan yang mengikuti Kali Mapia ke arah barat dan ada rombongan yang mengikuti kali Degey ke Utara (sekarang jalan Trans Irian). Orang-orang pertama yang menetap di lokasinya disebut Makimito (tulang tanah). Rombongan penyebaran kedua muncul istilah Meta Mee dan Tota Mee. Rombongan yang menetap bersama Makimito disebut Tota Mee. Sedangkan kelompok yang berputar ke daerah lain dan terakhir kembali ke lokasi semarga disebut Metamee. Istilah Tota Mee dan Meta Mee itu sendiri muncul ketika terjadi pertemuan antara yang tinggal dan yang baru datang.

Dalam kehidupan sehari-hari, kelompok Tota Mee dan Meta Mee tidak menghargai kelompok yang sejak awal menetap (Makimito). Mengapa? Karena turunan Makimito biasanya sederhana dan tak banyak bicara. Sementara Tota dan Meta dengan pengalaman hidup mengembara memberi mereka kemampuan bicara yang kuat, memiliki badan yang kekar, berpengalaman dalam berburu atau berperang.

Terkait sejarah keturunan manusia, ada beda antara Mapia dan Gey. Di Mapia dikenal istilah Makimito (tulang tanah), Madoutuma (peletak fondasi), Baho Tumaa (pembuat dinding) dan Maneta Tumaa (pembagi makanan). Di Gey dikenal Makituma, Yina Tuma, Woda Tuma, dan Mogo Tuma. Woda Tuma akhir-akhir ini klaim digabung dengan Hina Tuma dengan alasan hanya ada tiga unsur yaitu Tanah, Batu dan Binatang. Sementara Woda Tuma ada hubungan dengan batu Paikeda, yang sebenarnya adalah fosil Woda yang telah membatu ribuan tahun. Isi Paikeda ada hubungan dengan Kerub yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar (ipuwe= pelindung, malaikat).

Terkait sejarah keturunan manusia, ada beda antara Mapia dan Gey. Di Mapia dikenal istilah Makimito (tulang tanah), Madoutuma (peletak fondasi), Baho Tumaa (pembuat dinding) dan Maneta Tumaa (pembagi makanan). Di Gey dikenal Makituma, Yina Tuma, Woda Tuma, dan Mogo Tuma. Woda Tuma akhir-akhir ini klaim digabung dengan Hina Tuma dengan alasan hanya ada tiga unsur yaitu Tanah, Batu dan Binatang. Sementara Woda Tuma ada hubungan dengan batu Paikeda, yang sebenarnya adalah fosil Woda yang telah membatu ribuan tahun. Isi Paikeda ada hubungan dengan Kerub yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar (ipuwe= pelindung, malaikat).

Sejarah ini berpengaruh langung dalam sikap dan tindakan manusia Meuwo hingga hari ini. Misalnya, Bahoo Tuma cocok jadi guru, pendeta atau pastor karena mereka tidak mau sesuatu menjadi rusak. Mereka mau supaya sesuatu harus terjaga. Sedangkan Maneta cocok di dinas sosial atau membagi makanan. Pasti semua terasa dan tak ada yang dianak-tirikan (Kedeikoto Wakei, Petege). Begitupun dengan Mogotuma (batu) yang lebih tegas dan kuat, dan lain-lain dan lain lain.

Demikian sedikit sumbangsih nukilan penggalian arti kata Megaikebo oleh Engelbertus PP Degey – Peneliti Taman Eden yang hilang. 🏻🏼🏽🏾🏿



1377total visits,1visits today

Leave a Response