Now Reading
Tanah Papua Sebenarnya Milik Siapa?
0

Setiap insan hendaknya tau diri, rumahnya ada dimana

…….Kami sulit untuk bergabung dengan kalian karena kalian tidak memiliki jiwa membina, mendidik bagi kami orang Papua. Kalian ini setipa hari sibuk merebut-merebut jabatan, tanah, dan harta kekakayaan kami orang Papua. Kalin tak bernurani, tak berTuhan dan tidak manusiawi.

Salah satu kepulauan yang terletak di Indonesia timur yakni  tana Papua sebenarnya milik siapa? Sampai detik ini saya masih bingun terhadap tindakan represif  Tentara Nasional Indonesia dan POLRI terhadap masyarakat Nduga seenaknya. Mereka mengintimidasi, menembak, merampas segala kekayaan alam (SDA) dan mendukung, membacking kapitalisme internasional yang beroperasi mencuri kekayaan alam diatas tanah Papua.

Pemilik segalah kosmos Papua ini, apakah milik bangsa Melayu atau bangsa Malanesia yang di kenal dengan nama Papua? Menurut saya, tanah Papua ini sebenarnya bertuan, yaitu milik orang Papua sendiri yang berkulit melanesoid, coklat tanah kehitaman. Bukan milik bangsa melayu, atau siapa-siapa dari luar negeri.

Tuhan sudah bagi sejak bumi ini diciptakan. Bangsa Melayu ditempatkan di wilayah Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Jawa dan Bali. Tuhan juga sudah kasih kekayaan alam yang melimpah. Tetapi manusia-manusia melayu ini sudah jual ke bangsa asing. Mereka sudah habiskan. Hutan sudah gundul, tambang sudah digali. Kayu-kayu mereka sudah tebang habis. Tinggalkan banjir, longsor yang merendam rumah dan kota. Setelah itu mereka berlomba pindah ke Papua, merebut tanah orang Papua, membunuh manusia Papua secara pelan-pelan dan lain seterusnya. Orang Papua tidak sadar, maka suatu saat, Papua ini akan dihidupi oleh pencari dan maling, tanah Papua menjadi hancur berantakan.

Tuhan sudah bagi sejak bumi ini diciptakan. Bangsa Melayu ditempatkan di wilayah Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Jawa dan Bali. Tuhan juga sudah kasih kekayaan alam yang melimpah. Tetapi manusia-manusia melayu ini sudah jual ke bangsa asing. Mereka sudah habiskan. Hutan sudah gundul, tambang sudah digali. Kayu-kayu mereka sudah tebang habis. Tinggalkan banjir, longsor yang merendam rumah dan kota. Setelah itu mereka berlomba pindah ke Papua, merebut tanah orang Papua, membunuh manusia Papua secara pelan-pelan dan lain seterusnya. Orang Papua tidak sadar, maka suatu saat, Papua ini akan dihidupi oleh pencari dan maling, tanah Papua menjadi hancur berantakan.

Kami dari generasi penerus bangsa West Papua melihat realita yang pernah dan yang sedang terjadi sekarang, pembunuhan, penindasan, intimidasi, perkosaan, merampas tanpa alasan yang jelas berlanjut hingga hari ini. Hentikan tindakan – tindakan biadat itu dari tanah Papua. Jika bangsa Indonesia adalah bangsa bermoral, maka, malulah dengan tindakan kalian yang tak terpuji ini.

Tuhan akan mengutuk kalian atas tindakan kalian yang tidak berTuhan, tidak manusiawi, tidak berpancasilais, tidak bernurani, Gakunaa, tak bermoral, selalu merampas segtalah kekayaan alam yang ada diatas surga kesil tampa alasan yang jelas. Sebenarnya tanah Papua ini milik kalian ka? Tau diri sedikit.

Kalau meman kalian tidak berubah, maka kami siap menentukan nasib sendiri, sebagai solusi demokratis bagi bangsa West Papua. Kami akan memberi contoh bagaimana mengharga satu suku dengan suku lain. Bagaimana kelolah alam dan bagaimana melindunginya. Bagaimana orang Papua bangkit gali tambang tanpa jual-jual ke bangsa lain.

Kami sulit untuk bergabung dengan kalian karena kalian tidak memiliki jiwa membina, mendidik bagi kami orang Papua. Kalian ini setipa hari sibuk merebut-merebut jabatan, tanah, dan harta kekakayaan kami orang Papua. Kalin tak bernurani, tak berTuhan dan tidak manusiawi.

Kami sulit untuk bergabung dengan kalian karena kalian tidak memiliki jiwa membina, mendidik bagi kami orang Papua. Kalian ini setipa hari sibuk merebut-merebut jabatan, tanah, dan harta kekakayaan kami orang Papua. Kalin tak bernurani, tak berTuhan dan tidak manusiawi.

Generasi bersuarah demi untuk banyak karena mereka melihat dengan realita yang sedang terjadi diatas tanah papua, bukan asal berdemonstrasi kepada kau kanibalisme. Maka kawan harus mengerti apa sebab akibat dari pada tindakan yang mereka lakukan baik itu lisan maupun tulisan ini dan baik itu media massa, cetak, bahkan online.

3003total visits,1visits today

Leave a Response