Now Reading
Mahasiswa Meepago di Makassar Tolak Pemekaran Papua Tengah
0

Perhatian Pendidikan Tidak Ada, Mahasiswa Terlantar Merana

…….Oleh karena itu, mewakili alam raya dan manusia Papua yang sedang menderita dengan tegas menghimbau kepada kaum elit politik di atas tanah air Papua bahwa siapa pun dia yang sedang berjuang memekarkan Provinsi Papua Tengah dan  Kabupaten baru berhati-hati karena mata Tuhan dan mata alam tidak buta”, demikian antara lain bunyi pernyataan sikap Mahasiswa Papua yang sedang kuliah di kota Makassar lewat press release yang dikirim ke redaksi Swarapapua.com.

Para mahasiswa Meepago wilayah Papua Tengah, termasuk Saireri dan Timika yang sedang menempuh pendidikan di Makassar Sulawesi Selatan dengan tegas menyurati para bupati yang ada di wilayah Mee Pago yakni Nabire, Dogiyai, Deiyai Dan Paniai untuk menghentikan niatnya memekarkan Provinsi Papua Tengah. Dalam pernyataan yang dibuat Rabu, 6/3/2019, itu mereka minta para bupati wujudnyatakan point-point yang disebutkan dalam pernyataan Asosiasi itu, dan kalau sudah terwujud, barulah kejar yang lebih tinggi.

“Jangan dilapangan satupun tidak ada pembangunan, masyarakat semakin menderita, proposal tidak pernah dijawab,  mahasiswa merana tidak bisa bayar uang studi, dan lain-lain, lalu pemerintah seenaknya minta pemekaran provinsi. Lalu, provinsi itu bangun untuk siapa?” demikian bunyi salah satu sikap mahasiswa.

Pertemuan Asosiasi Bupati wilayah Meepago dipimpin Bupati Nabire Isaias Douw, S.Sos, MAP dan dihadiri oleh beberapa Bupati Mee Pago Yakni Buati Dogiyai Yakubus Dumupa S.IP Bupati Deiyai diwakili oleh wakilnya Hengki Pigai, S. Pt, Bupati Paniai Meky Nawipa dan wakil Bupati Paniai Oktopianus Gobay. Namun Bupati Intan Jaya dan Timika berhalangan hadir karena sedang melaksanakan tugas keluar daerah pada saat itu.

Tiga point yang tidak disetujui mahasiswa Makassar yaitu 1). Program tentang menerima pemekaran Provinsi Papua Tengah. 2). Program tentang Kabupaten Paniai menjadi pusat akses trasportasi udara wilayah Meepago dan, 3). Program tentang Kabupaten Nabire sebagai pusat akses transportasi keluar keluar wilayah Meepago.

“Ketiga hal tersebut ini kami mahasiswa tidak sepakat karena ada beberapa hal yang perlu disiapkan sebelum melaksakan ketiga point tersebut. Maka kami harap Bupati Nabire, Dogiyai, Deiyai, Paniai, Intan Jaya dan Timika harus berfikir secara rasional, akal sehat dan jangan  gila jabatan. Jika ingin memekarkan sebuah Kabupaten dan atau Provinsi Papua Tengah, sebelumnya perlu tata baik masalah pembangunan pendidikan, sumber daya alam yang sedang digerogoti Korea dan masalah pelanggaran HAM yang terjadi dan dialami masyarakat Papua saat”, tulis para mahasiswa.

Berikut kutipan tiga point pernyataan sikap mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di kota Makassar dan sekitarnya yang perlu mendapat perhatian penuh dari kaum elit Meuwo.

1. Prioritaskan Pembangunan Pendidikan dan Kaderisasi

Pemerintah Papua tetapi khususnya dari keenam Kabupaten yaitu Paniai, Nabire, Dogiyai, Deiyai, Intan Jaya  dan Timika yang terletak diwilayah Mepagoo, diminta untuk memprioritaskan pembangunan pendidikan baik secara fisik dan psikologi, dan seberapa jauh perhatian pemerintah terhadap mahasiswa yang sedang kuliah di Papua, keluar Papua dan luar negeri.

Salah satu fakta kehancuran pendidikan di daerah ini adalah pemerintah eksekutif, legislative, dan yudikatif, membiarkan anak – anak kita berumur 11 tahun bebas berkeliaran. Tak pernah ditangkap lalu dibina. Pemerintah malas tau dan apatis. Tak ada lembaga yang dibentuk. Masyarakat juga bingun, mau ikut Nabire Dogiyai, Deiyai atau Paniai. Moral generasi muda semakin rusak, kawin bebas, penyakit meraja lelah dan HIV/AIDS, teratas diatas tanah Papua. Semua hal ini dilupakan oleh pemerintah dan seenaknya minta pemekaran. Pasti orang Papua semakin habis dan akan dihuni, penduduk lain yang bukan berasal dari tanah Papua.

Alangkah baiknya, tanpa kecuali, pemerintah sekolahkan mereka. Menjemput dengan hati, tegas dan membina. Belajar dari luar negeri. Tingkat SMA kebawa,  orang tua bertanggun jawab untuk membiayainya tapi setelah masuk perguruang tinggi, pemerintah setempat harus bertanggun jawab.  Sebab setelah selesai pendidikan, pasti kembali ke kabupaten atau wilayanya sendiri demi untuk mencari pekerjaan dan mengadu nasib. Mahasiswa ini anak-anak kalian dan kita tidak terpisah dari tanah air tanah Papua yang sedang kalian pimpin. Oleh sebab itu, maka, para elit Mee Pago berpikir dua kali untuk memekarkan kabupaten sebelum masalah pendidikan dan pengkaderan ini tidak ditangani dengan baik.

Sebelum terlambat kita mengutamakan pembangunan pendidikan yang lebih efektif dan efisien dari pada anda mengutamakan hal yang merugikan demi untuk  banyak orang. Laki-laki masih bernafas, Tuhan kasih tugas untuk tanggung jawab anak istri. Kami mahasiswa adalah anak-anak kalian yang hari demi hari kalian tinggalkan jauh dari kami.

2. Hentikan Pengoperasian Sumber Daya Alam (SDA) di Wilayah Siriwo oleh Korea

Setiap detik, setiap menit, setip jam maupun setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, dan setiap tahun, tidak pernah ada upaya-upaya pemerintah untuk hentikan luar negeri tambang tanah Papua. Tidak ada upaya pemerintah kirim anak daerah pergi latihan gali tambang di Korea atau Amerika. Tetapi hari demi hari, kita justru merelakan luar negeri datang curi sumber daya alam (SDA) kita. Apakah pemerintah tidak buta dengan peristiwa FREEPORT?, apakah mata kita buta terhadap orang Papua yang setiap hari dibunuh gara-gara Freeport?

Tidak pernah ada diskusi khusus tentang masalah jalan raya. Masalah Korea yang sedang bikin rusak alam di Km. Malah pernyataannya terlalu banyak. Kapan kerjanya? Kami mahasiswa Meepago akan menanti kapan puluhan point yang disepakati itu dilaksanakan.

a) Kalau Provinsi Papua Tengah dimekarkan, maka hal itu menjadi jalur masuknya militerisme yang akan melindungi Korea untuk bunuh-bunuh orang Papua. Masyarakat Papua akan ditindas diatas tanah airnya seperti yang terjadi di Amungme Tembagapura dan Kabupaten Ndugama.

b) Alam yang ada di wilayah Meepago bersuara setiap detik agar para bupati buka mata penderitaan alam dan manusia, tetapi manusia pejabat Papua semakin buta dan justru menghadirkan Korea Selatan musuh Amerika membangun kapitalisme global diwilayah kami, Meuwodide. Dimanakah matamu?

c) Alam semesta (kosmos) yang ada di Meepago bersuara setiap detik untuk menolak segalah bentuk  pemekaran yang ingin dimekarkan oleh elit politik dan hanya karena jabatan itu, maksud dan tujuan dia ialah dia ingin hidup bersama masyarakat orang asli papua lebih khususnya wilaya Mee Pago namun dia ingin melihat generasi penerus Mee Pago tampa diganggu oleh siapapun dia. Alam tetap utuh, manusia semakin sehat dan lestari selamanya.

d) Alam bersuara setiap jam karena alam Meepago menyimpan berjuta sejarah masa silam yang dibutuhkan umat manusia saat ini. Mengapa engkau hancurkan sejarah, mengapa engkau hancurkan alam, mengapa engkau bunuh pendidikan, mengapa engkau sengsarakan manusia merana hidup tanpa arah yang jelas

e) Oleh sebab itu, kami mahasiswa Papua mewakili alam raya dan manusia yang hidup diatasnya menolak secara tegas ide atau rencana atau keinginan pemekaran Provinsi Papua Tengah, termasuk pemekaran Kabupaten baru. Titik.

3. Harus Tau Perkembangan Papua Detik Ini

Pejabat-pejabat kita detik ini sedang buta mata dan mata bathin atas perkembangan tanah hari ini. Mereka tidak tau di daerahnya banyak orang terbunuh, dibunuh, genosida, pelanggaran HAM dan masalah tanah Papua yang sudah masuk di meja PBB. Mereka sedang sibuk bagaimana memperbesar kekayaan keluarga, sibuk urus partai dan politik lokal yang busuk dan kotor. Setiap hari hanya urus bagaimana menjadi bupati, tetapi setelah jadi bupati, mata buta dan pikir berapa duit yang akan masuk kantong.

Mereka juga sedang mengkotak-kotakan marga, asal usul dan pelayanan pemerintahan berbau Kolusi, Nepotisme dan Korupsi. KKN dan kerusakan moral benar-benar terjadi diatas tanah injil Papua. Sungguh sangat rusak kehidupan pembagian keuangan daerah. Sungguh sangat hancur. Lalu setelah itu didepan TUHAN ALLAH, didepan masyarakat, didepan mata gereja dan para pendeta, rombongan ini ramai-ramai minta pemekaran tanah Papua. Lalu mau untungkan siapa? mau pelihara siapa? Heiiiiiiii…

Hei pejabat Papua. Soekarno saja dilengserkan gara-gara Freeport. Kenedi keluarga dihantam gara-gara Sumber Daya Alam Papua. Berhati-hatilah sejak awal. Besok bangsa Papua ini akan dihabiskan oleh luar negeri dan kita persalahkan Jakarta. Kapitalisme global sedang menguasai hotel-hotel di Nabire. Coba anda turun dari mobil dan pantau-pantau hotel yang ada di Nabire. Dipenuhi oleh orang-orang Korea. Mereka tidak mau ngekos, tidak mau beli tanah. Mereka lebih aman di hotel, agar dikira toris. Sementara mereka ada bikin kapal di KM 100. Ambil emas di Wege dan Km 100. Kapan anda mau usir?

Coba anda turun dari mobil dan pantau-pantau hotel yang ada di Nabire. Dipenuhi oleh orang-orang Korea. Mereka tidak mau ngekos, tidak mau beli tanah. Mereka lebih aman di hotel, agar dikira toris. Sementara mereka ada bikin kapal di KM 100. Ambil emas di Wege dan Km 100. Kapan anda mau usir?

4. Solusi

Para Mahasiswa juga memberikan solusi agar mulai hari ini jangan ada lagi pertemuan-pertemuan asosiasi bupati untuk membicarakan masalah pemekaran Papua atau pemekaran kabupaten. Mereka minta agar puluhan point yang disepakati coba fokuskan ke masalah pendidikan dan bagaimana selamatkan SDA Papua yang sudah dikenal lama, sebagai negeri terkaya diatas bumi ini. Para mahasiswa tidak mau, suatu saat mereka punah dan orang Papua habis, dan tanah ini dikuasai orang asing dan mereka berdansa ria diatas penderitaan penduduk pribumi.

Kalau pemerintah daerah tidak mampu benani masalah pendidikan dan sumber daya alam yang sedang digerogoti asing, maka kami mahasiswa siap mengusir para bupati bersama kapitalisme yang sedang dipelihara diatas tanah air kami, tanah Papua.

3706total visits,1visits today

Leave a Response