Now Reading
Demokrasi Murni Sudah Dimulai dari Enarotali
0

Demokrasi Murni Sudah Dimulai dari Enarotali

Mencari Pemimpin Yang Siap Melayani

Mereka melaksanakan dengan muda, mereka menjadi petugas penjaga pipa, agar air tidak tersendat. Pipanya pun tidak banyak, cuma 3 saluran pipa, sehingga gerakan proses pembangunan berjalan lebih cepat. Pelaporan dan pertanggung jawaban pun singkat, Inspektorat Daerah yang kemudian berubah nama menjadi Bawasda atau Badan Pengawasan Pembangunan Daerah mengawasinya dengan detil dan teliti. Tak perlu BPK, KPK, TIPIKOR yang banyak kali jebak pejabat Papua mati di penjara.

……. Enarotali telah memberi contoh yang positif dalam memilih dan menentukan seorang pemimpin daerah. Mecky Nawipa tanpa dia mengeluarkan uang, partai telah memberikan secara gratis agar beliau membangun Wiselmeren, memberi warna baru dalam pembangunan kabupaten Paniai.

Tugas menjadi pemimpin adalah untuk melayani tanpa membeda-bedakan kalangan, suku, agama, pendapat, pendapatan, status dan golongan. Pemimpin sudah ditetapkan Tuhan dan mereka muncul tanpa rencana dan dari berbagai arah. Ada yang diutus dari pusat, ada yang diutus dari provinsi Papua, dipilih rakyat, turun temurun (kerajaan) dan karena perjuangan sendiri seperti jabatan Tonawi dikalangan Meuwo dan Migani. Mereka sudah dilantik Tuhan sebelum proses yang dilalui manusia.

Tak perlu jauh-jauh, kita mulai dari para bupati yang pernah pimpin Nabire. Para bupati yang diutus dari pusat seperti Letkol Pol Drs Soerojo Tanojo SH, Letkol Inf Sukiyo dan Kol Inf Joesoef Adipatah (dari kalangan militer). Diutus dari provinsi seperti Drs Andreas Sunarto dan Drs Sartheus Wanma. AP Youw dipilih dua kali lewat lembaga wakil perwakilan rakyat (DPRD) dan Isaias Douw langsung oleh rakyat dua kali pula. Nabire memang sejak awal memunculkan Bupati yang memimpin selama dua periode.

Karena perjuangan sendiri dengan menunjukan kemampuan berbahasa Belanda dan Melayu secara mahir, ialah Karel Gobay. Ia merupakan sosok yang pernah membuat lapangan terbang Nabire dan resetlemen di wilayah Karang dan Auri yang kemudian dilanjutkan oleh Sukiyo dan Sunarto.

Karel ialah anggota DPR pertama utusan wilayah Papua Tengah (Sarera / Meepago) dan dilantik dalam sebuah upacara akbar di Holandia 1951, dihadiri pastor Tillemans dan de Bruijn selaku guru dan mentor Karel.

Kemajuan demokrasi kita sekarang sudah memberikan banyak pelajaran (edukasi), kesadaran awarnes) kepada masyarakat sebagai konstituen untuk memilih Bupatinya untuk melayani dan melayani. Tidak harus selalu pemilik partai, dan berduit, tetapi jaman sekarang partai-partai berlomba mencari sosok pemimpin yang siap melayani dan melayani demi kemajuan harga diri dan eksistensi orang Papua. Perahu-perahu semakin menjadi rumah rakyat dalam memilih dan menentukan siapa pemimpin yang bernurani, bisa memajukan daerah, dan mau melayani siang dan malam tanpa membeda-bedakan siapapun.

Enarotali telah memberi contoh yang positif dalam memilih dan menentukan seorang pemimpin daerah. Mecky Nawipa tanpa dia mengeluarkan uang, partai telah memberikan secara gratis agar beliau membangun Wiselmeren, memberi warna baru dalam pembangunan kabupaten Paniai.

Diikuti Deiyai, nurani rakyat tertuju ke tuan Aten Edowai. Partai yang ia miliki, justru dia jual dan mau uji demokrasi rakyat Deiyai. Apakah demokrasi bisa diperjual belikan atau justru sebaliknya berdiri diatas harga diri dan eksistensi orang Meuwo sebagai pemilik demokrasi Zonawi yang benar-jenar ada di jalur Allah?

Mencari seorang pelayanan memang susah, tetapi rakyat sekarang sudah semakin pintar. Sejarah telah banyak mengajarkan kita untuk memilih dan menentukan seorang pemimpin yang terbaik. Dengan demikian kehidupan kita pun semakin baik, pembangunan merata disegala bidang dan peredaraan uang terasa dimana-mana.

Dijaman sebelum 1945, kehidupan dikuasai kelompok berjuis, priyayi dan penjajah. Rakyat korban jiwa raganya bagi para baginda. Orde lama atau jaman Soekarno, ingin menjadi macan Asia. Ia mau gali tambang sendiri agar rakyatnya sejahtera dialam indonesia yang kaya raya. Tetapi Amerika sudah pegang Soeharto dan lahirlah Supersemar. Seluruh tambang, emas, nikel, uranium, nikel dan batubara dikuasai asing. Kita hanya menjadi karyawan dan malah diPHK ribuan orang di Timika.

Di jaman Orde baru, semua menjadi 1 pintu. Sorharto hanya persilahkan GOLKAR, PDI dan PPP atau cuma kuning – hijau – merah. Tujuannya agar tetap sembah-sembah dia. Indonesia memang aman, rakyat ditekan, dan demokrasi bernurani mati total. Syukur orang Nabire tahun 1996 bakar kantor DPRD dan memang demokrasi lahir dari Nabire.

Sosok yang dinilai mampu menjawab kerinduan rakyat selama bertahun-tahun sekiranya jatuh ditangan tokoh reformasi asal Nabire, Drs Anselmus Petrus Youw. Ia berhasil membuat saluran pipa yang selama ini masuk di kelompok tertentu bisa dirasakan rakyat. Bahkan pipa-pipa yang rusak ia ganti dengan pipa baru. Ia juga membuang pipa pipa yang terlalu banyak dan berkarat menjadi tiga pipa saja, yaitu pipa kenyang, pipa sehat dan pipa pintar. Dikenal dalam moto Gerbang Nun Biru. Lalu Tony Karubaba tambah 2 pipa yaitu pipa agama dan infra dengan pendekatan City Town atau berpusat ke distrik. Tujuannya adalah agar dana Otonomi Khusus yang selama itu hilang kemana, bisa terasa hingga ditingkat kampung. Jangan heran bila dikampung-kampung masih hafal pilar kesehatan, pilar ekonomi dan pilar pendidikan.

Selama itu Indonesia dipimpin Soeharto, korupsi tak terhindarkan dari tingkat pusat hingga daerah-daerah. Hanya terdengar di radio siaran RRI, rakyat tahu APBN, DAU, DAK, OTSUS dan PAD tetapi tiba di rakyat cuma “tobii-tobii” atau cuma setetes saja. Maka AP Youw membuat sebauh jaringan pipa yang kuat dan besar agar rakyat menerima saluran air yang kencang dan deras, dan pembangunan terasa. Para pejabat ASN, kepala distrik, kepala kampung, dinas badan bisa melaksanakan pembangunan dengan buku putih (DPA) berisi 5 pilar atau 5 pipa. Mereka melaksanakan dengan muda, mereka menjadi petugas penjaga pipa, agar air tidak tersendat. Pipanya pun tidak banyak, cuma 3 saluran pipa, sehingga gerakan proses pembangunan berjalan lebih cepat. Pelaporan dan pertanggung jawaban pun singkat, Inspektorat Daerah yang kemudian berubah nama menjadi Bawasda atau Badan Pengawasan Pembangunan Daerah mengawasinya dengan detil dan teliti. Tak perlu BPK, KPK, TIPIKOR yang banyak kali jebak pejabat Papua mati di penjara. Hasilnya, ada proses peringatan, ada proses pembinaan dan hukuman (warning and punisment).

Namun jaman sekarang justru berbeda. Para pejabat kita mau ikuti buku putih atau ikuti pilar-pilar yang dihafal dengan baik oleh masyarakat yang tertuang dalam buku putih. Semuanya serba salah; jika tidak ikuti buku putih, akan dipertanyakan BPK, Musrenbang tak terakomodir. Sebaliknya, ikuti Musrenbang, ada kelompok setengah pintar (lawan politik) yang buat laporan ke BPK, dan lain sebagainya. Kecuali putar haluan kejar pembangunan di Jayapura dan Jakarta dengan sedikit promosi potensi daerah.

Papua detik ini butuh sosok pemimpin yang dekat dengan Tuhan, berkeluarga jelas, rumah tempat tinggal jelas dan selalu membangun daerah dengan tidak meninggalkan referensi di masa lalu.

Sekarang kita bersyukur karena Enaro sebagai kaka sudah memulai. Pasti anak anak dan adik-adiknya akan meniru sifat dan kelakuan kaka atau orang tuanya.

Mencari pemimpin yang siap melayani itu susah. Hanya cuma hati nuranimu yang akan menjawabnya.🔚

 

794total visits,2visits today

Leave a Response