Now Reading
Tangga Nada Tetratonis Orang Mee dan Tantangannya Di Era Digital
0

Edisi Khasanah Seni Budaya Papua

……. Berdasarkan penggalian saya secara otodidak mengenai pentatonik, saya “menggila” untuk mencari tahu bagaimana klasifikasi dari musik bluess. Sejak itu, saya bermimpi agar tetratonis ini bisa dikembangkan dan menjadi salah satu genre musik dengan mengkolaborasikan irama-irama yang ada di dalamnya.

 

Pada tulisan ini saya mau memperkenalkan nada-nada tetratonik–khususnya tangga nada lagu daerah etnik Mee (Papua), klasifikasi irama, tantangan, dan pengalaman berhadapan dengan tangga nada populer era digital.

Secara etimologis, tetratonik berasal dari kata (angka) dalam bahasa Yunani. Tetra artinya empat dan tonik berarti nada. Tetratonik adalah tangga nada yang terdiri dari empat nada.

Tetratonis digunakan berbagai macam suku di dunia, yakni suku Indian Planis, orang Inuis juga Greenland, suku Maori, di Afrika (wilayah Gana), suku Juang dan Bhuyan dari Negara bagian Orissa (India), Rusia (pada umumnya pentatonic tetapi menggunakan skala tetratonik), Eropa barat yakni musik rakyat Skandinavia, Jerman, Inggris, dan Skotlandia (sekarang pentatonik, tetapi diyakini dikembangkan dari tetratonik), dan pada umumnya juga dikenal oleh orang Polinesia dan Melanesia. Salah satunya, di beberapa suku di Papua.

Yang akan saya bahas di sini adalah yang dikenal oleh suku Mee pada umumnya. Namun, menurut Edmar Ukago, pemerhati seni-budaya Papua, ada pengecualian di Mapiya, yang menggunakan re.

Tangga nada tetratonik suku Mee

Pada umumnya, suku Mee mengenal empat nada, yakni do, mi, sol, la. Irama yang dinyanyikan merupakan kolaborasi dari empat nada di atas.

Pada umumnya, irama-irama dikelompokkan dalam beberapa kelompok irama berdasarkan sebutannya, yakni ugaa, tuupe, waanii, gowai, gaupe, wiyaanii, dan ywayawe.

Ketujuh irama ini juga mempunyai beragam jenisnya, baik berdasarkan, jenis nyanyiannya, maupun daerahnya, memiliki perbedaan irama berdasarkan kegunaan dan sebutannya. Misalnya, ugaa terdiri dari beragam sebutan, yakni agapiugaa, bedougaa, komaugaa, koteugaa, kotekaugaa, totaugaa, wakaugaa, yapeugaa, yegeugaa, dst.

Beberapa daerah memiliki sebutan yang sama, tetapi irama berbeda pula berdasarkan fungsinya, misalnya totaugaa dari bagian Okomo (salah satu daerah yang terletak sekitar danau Tigi bagian utara, Deiyai) berbeda dengan daerah Tigi bagian barat dan juga timur).

Khusus untuk komaugaa yang dikenal di Mapiya, yakni duwai komaugaa berbeda irama dengan yang dinyanyikan di Tigi. Sungguh kaya memang jika kita menggalinya lebih dalam.

Pada umumnya, setiap irama yang dinyanyikan memiliki pola berbeda. Namun, hal yang khas adalah pengulangan pola.

Syair-syair yang diciptakan pun berbeda secara kesusastraan. Konsep penciptaan syair dari Ugaa dengan Tuupe berbeda, bahkan di dalam Ugaa sendiri pun berbeda, misalnya, syair dari Agapiugaa berbeda dengan Komaugaa, dan berbeda pula dengan Wakaugaa, apalagi dengan Gowai.

Tantangan di era digital

Entahlah, berapa pola kesusastraan yang bisa kita hasilkan berdasarkan setiap irama lagunya berdasarkan klasifikasi di atas, karena mempunyai perbedaan yang sungguh sulit untuk kita gali di masa sekarang. Apalagi pelaku musik itu sendiri sulit kita temukan, bahkan sudah terlindas zaman.

Yang saya tulis ini pun hasil dari proses penggalian yang tentu telah bercampur-aduk dengan banyak pola irama. Bahkan banyak yang belum pernah saya dengar.

Di era yang serba elektronik, sebenarnya kita dapat menggali dan mempertahankannya. Namun pengaruh (budaya) populerisme, tentu sulit untuk berpandangan bagaimana mencintai musik lokal.

Sebenarnya, ada beberapa orang yang masih mempunyai niat untuk menggalinya, tetapi selain karena kesibukannya, juga sulit untuk mendapat orang-orang yang sudah mengalami nyanyian-nyanyiannya. Itu pun mereka hanya menguasai salah satunya, akan sulit untuk menggali keseluruhan berdasarkan klasifikasi di atas.

Narasumber yang benar-benar menguasainya pun telah tiada. Walaupun demikian, ada beberapa yang agak sulit untuk diakses.

Peralihan remaja sekarang yang dipengaruhi oleh musik popular ala digital, menjadi salah satu tantangan musik etnik itu sendiri. Lagu lama dan ketinggalan zaman adalah istilah mereka.

Namun, itulah karakter musik populer. Ia mempunyai daya tarik yang kuat. Apalagi sekarang sudah serba elektronik. Ko tinggal duduk, buat musik, rekaman langsung jadi. Ini tantangan besar buat generasi kita.

Wacana “gila”

Sebelum berbicara mengenai wacana “gila”, saya akan menceritakan beberapa pengalaman yang pernah saya alami saat berhadapan dengan musik populer.

Pada 1998 KWI (Konfrensi Wali Gereja Indonesia) datang ke beberapa daerah di Papua, untuk mengumpulkan lagu-lagu aslinya. Salah satunya di Waghete (ibu kota, Kabupaten Deiyai). Saat itu, KWI mengadakan lomba tarian dan nyanyian untuk beberapa paroki di sekitarnya untuk ditampilkan di hadapan mereka.

Karena bapak saya juga termasuk panitia, seluruh proses lagu direkamnya secara lengkap. Saat itu saya masih berumur 4 tahun, sehingga tidak terlalu tahu proses berlangsungnya.

Lagu-lagu tersebut menjadi bagian dari (diri) saya, karena saya selalu mendengar semua lagu tersebut. Walaupun tidak menghafal seluruh kata-katanya, iramanya sangat melekat di dalam ingatan saya.

Hasil dari itu, saya membayangkan proyek yang “gila” pada saat masih di bangku SMA. Karena saya mempelajari secara otodidak mengenai musik, secara teoretis saya tidak mengetahuinya lebih mendalam.

Ketika itu, saya sudah merumuskannya berdasarkan irama yang telah didengar selama ini, yakni tetratonik (pada waktu itu saya belum memutuskan menggunakan istilah ini). Sedikit banyak saya sudah mempelajari mengenai pentatonik dan heptatonik.

Berdasarkan penggalian saya secara otodidak mengenai pentatonik, saya “menggila” untuk mencari tahu bagaimana klasifikasi dari musik bluess. Sejak itu, saya bermimpi agar tetratonis ini bisa dikembangkan dan menjadi salah satu genre musik dengan mengkolaborasikan irama-irama yang ada di dalamnya.

Hal itu dipengaruhi oleh khayalan “gila” saya berdasarkan perkembangan musik bluess. Bluess dikenal dengan pentatoniknya yang kemudian melahirkembangkan reggae, RnB, dan jazz. Karena pengaruh itu, saya “menggila” untuk mengembangkan irama tetratonis suku Mee.

Karena pengaruh musik modern, saya pernah berusaha menggunakan pola jazz dan bluess untuk membuat irama-irama untuk memainkannya sendiri, tetapi itu terlalu berkesan memaksa. Walaupun suasananya dapat, toh terlalu jauh dari tetratonis.

Sebenarnya, wacana “gila” di atas hanya bentuk keprihatinan saya supaya musik asli kita tidak hilang karena terlindas musik populer dan musik tinggal “klik”.

Oleh karena itu, wacana di atas semoga menjadi acuan semangat untuk menggali dan mengembangkan musik daerah kita masing-masing di seluruh Papua, sehingga identitas kita yang di dalamnya juga terikat erat dengan nyanyian-nyanyiannya tidak terlepas dilindas zaman.

Berikut ini beberapa hal (sepengetahuan saya) yang bisa kita kolaborasikan dengan berbagai bentuk aransemen musik. Di antaranya, kolaborasi irama menjadi hal yang paling penting, kemudian bisa juga dengan kolaborasi dengan akord, dst.

Selain yang tidak disebutkan di atas, masih banyak hal yang bisa kita kolaborasikan ketika melakukan aransemen.

Semoga, hal ini bisa menjadi pedoman, dorongan (motivasi) buat kita untuk lebih berkarya di dunia musik. Wacana ini juga menjadi motivasi kepada seluruh pencinta musik untuk menggali nada-nada asli di seluruh Papua. Hal yang penting adalah berkarya tanpa meninggalkan kekhasan kita dari masing-masing daerah di Papua. (*)

 

262total visits,1visits today

Leave a Response