Now Reading
Kekayaan Pola Nada Tetratonis Dalam Nyanyian Daerah Suku Mee
0

Kekayaan Pola Nada Tetratonis Dalam Nyanyian Daerah Suku Mee

Mengenal Tangga Nada Tetratonik Etnik Mee, Klasifikasi Irama, Tempo, Dan Tantangan Di Era Digital

……. Pada umumnya, suku Mee mengenal empat nada, yakni do, mi, so, la. Hanya re saja yang digunakan di dalam salah satu nyanyian daerah yang berasal dari Mapiya. Lebih lanjut, bahwa dari semua irama yang ada dinyanyikan oleh suku Mee merupakan hasil kolaborasi yang kemudian membentukkan pola tertentu dari empat nada di atas. Kemudian, pola-pola tersebutm embentuk satu kesatuan. Selanjutnya pola-pola nada tersebut diberinama yang kemudian disesuaikan dengan keadaan pengungkapnya tersebut. Pola-pola ini dinyanyikan baik dalam kelompok dan juga secara individual.

Secara etimologis, tetratonik berasal dari kata (angka) dalam bahasa Yunani, tetra artinya empat. Sedangkan tonic yang berarti nada. Tetratonik adalah tangga nada yang terdiri dari empat nada. Tetratonis dikenal juga oleh berbagai macam suku di dunia yakni,  suku Indian Planis, orang Inuis juga Greenland, suku Maori,  di Afrika (wilayahGana), suku Juang dan Bhuyan dari Negara bagian Orissa (India), Rusia (pada umumnya pentatonic tetapi menggunakan skala tetratonik), Eropa barat yakni music rakyat Skandinavia, Jerman, Inggris, dan Skotlandia (sekarang pentatonic, namun diyakini dikembangkan dari tetratonik),  dan pada umumnya juga dikenal oleh Polinesia dan Melanesia. Salah satunya, di beberapa suku di Papua. Yang akan saya bahas disini adalah yang dikenal oleh suku Mee pada umumnya. Namun, ada kekecualiannya di dalam suku Mee, yakni di Mapiya yang disebutkan juga oleh Edmar Ukago (Pemerhati Seni Budaya Papua) bahwa satu jenis lagu di Mapiya yang menggunakan re.[1]

Mengenal Tangga Nada Tetratonik  Dalam  Suku Mee

Pada umumnya, suku Mee mengenal empat nada, yakni do, mi, so, la. Hanya re saja yang digunakan di dalam salah satu nyanyian daerah yang berasal dari Mapiya. Lebih lanjut, bahwa dari semua irama yang ada dinyanyikan oleh suku Mee merupakan hasil kolaborasi yang kemudian membentukkan pola tertentu dari empat nada di atas. Kemudian, pola-pola tersebutm embentuk satu kesatuan. Selanjutnya pola-pola nada tersebut diberinama yang kemudian disesuaikan dengan keadaan pengungkapnya tersebut. Pola-pola ini dinyanyikan baik dalam kelompok dan juga secara individual.

Irama-irama yang dikelompokkan di dalam pola-pola tersebut, terbagi kedalam empat kelompok irama berdasarkan sebutannya yakni, Ugaa, Tuupe, Waanii, Gowai, Gaupe, Wiyaanii, dan Uwayawe. Ketujuh irama ini juga mempunyai beragam jenisnya. Baik berdasarkan jenis nyanyiannya, juga berdasarkan daerahnya memiliki perbedaan irama berdasarkan kegunaan dan sebutannya.[2] Misalnya, Ugaa terdiri dari beragam sebutan, yakni Agapiugaa, Bedougaa, Komaugaa, Koteugaa, Kotekaugaa, Totaugaa, Wakaugaa Yapeugaa, Yegeugaa, dst.[3] Beberapa daerah memiliki sebutan yang sama tetap iirama yang berbeda pula berdasarkan fungsinya, misalnya Totaugaa dari bagian Okomo (salah satu daerah yang terletak sekitaran danauTigibagianutara, Deiyai) berbeda dengan daerah Tigi bagian Barat dan jugaTimur). Khusus untuk Komaugaa yang dikenal di Mapiya, yakni duwaikomaugaa berbeda irama dengan yang dinyanyikan di Tigi.[4]

Kemudian, mengenai tempo yang mengikat lagu tradisional tidak bisa memenuhi tuntutan tempo yang digunakan secara internasional kecuali, dipaksakan. Tetapi ada beberapa yang bisa dijadikan sebagai pengiring misalnya, wiyaanii dan gowai. Tetapi, selain dari pada itu sangat sulit untuk kita kemas di dalam tempo yang kita kenal sekarang. Tentu saja orang-orang tua yang sudah pernah mengalami, dan mendengarnya akan merasa tidak mengena jika dikolaborasi dengan music-musik modern walaupun sebagai iringan jika kita memaksakan. Dan itu adalah salah satu pemaksaan terhadap lagu etnik.

Sebenarnya sangat kaya, jika kita menggalinya lebih dalam lagi. Pada umumnya, setiap irama yang dinyanyikan polanya berbeda-beda. Namun, hal yang khas adalah pengulangan pola. Syair-syair yang diciptakan pun berbeda secara kesastraan. Sehingga, penting juga untuk digali lebih dalam mengenai kesastraan. Tetapi di sini saya tidak akan membahas mengenai kesastraannya. Tentu juga karena butuh penggalian yang lebih dalam. Konsep penciptaan syair dari Ugaa dengan Tuupe berbeda-beda antara setiap nyanyiannya. Syair-syair yang terbentuk di dalam Ugaa sendiri pun berbeda dengan syair dari Agapiugaa berbedadengan Komaugaa, dan juga berbeda pula dengan Wakaugaa,apalagi dengan Gowai.

Satu hal yang perlu dipahami bahwa, tidak semua hal yang bisa kita samakan dan bahkan mengikuti pola jalan mereka dalam bermusik. Tetapi, kita pun juga memiliki keunikan itu, jadi yang tidak bisa ya, boleh untuk kita pertahankan seperti yang aslinya karena itu adalah kita (identitas).

Tantangan di era Digital

Entahlah, berapa pola nada dan jenis kesastraan yang kita bisa hasilkan berdasarkan setiap irama lagunya berdasarkan klasifikasi di atas. Karena mempunyai perbedaan yang sungguh sulit untuk kita gali masa sekarang. Apalagi pelaku itu sendiri sulit untuk kita temukan bahkan sudah terlindas dengan zaman. Bahkan, yang saya tuliskan itu pun hasil dari proses penggalian yang tentu telah bercampuraduk dengan banyak pola irama. Bahkan banyak yang belum pernah saya mendengarnya.

Di era yang serba elektronik, sebenarnya kita dapat menggali dan mempertahankannya. Namun pengaruh popularisme (yang pentingnamanaik), tentu sulit untuk berpandangan mencintai music lokal. Sebenarnya, ada beberapa orang yang masih mempunyai niat untuk menggali, tetapi selain kesibukannya sulit untuk mendapat orang-orang yang sudah mengalami nyanyian-nyanyiannya. Itu pun mereka hanya menguasai salah satunya saja. Sehingga, untuk menggali keseluruhan berdasarkan klasifikasi di atas sulit sekali. Narasumber yang benar-benar menguasai, saat ini telah tiada. Walaupun ada beberapa tetapi sulit untuk terakses (bagi saya).

Peralihan remaja sekarang yang dipengaruhi oleh music popular ala digital, menjadi salah satu tantangan dan juga media untuk, music etnik itu sendiri bisa dipertahankan.Terutama nada-nadanya. Kita bisa ambil alternative aransemen untuk tetap mempertahankan music etnik. Tetapi sayangnya di dalam otak kebanyakan orang merasa  “Lagu lama, Ketinggalan zaman, Lagu adamaido [5]”. Namun, itulah yang watak music popular, ia mempunyai daya tarik yang kuat. Apalagi sekarang sudah serbaelektronik. Kotinggal duduk, buat music, rekaman langsung jadi. Ini tantangan besar buat generasi kita.

Akhir-akhir ini banyak lagu-lagu modern yang berbau etnik yang dihasilkan oleh anak-anak muda Mee, dalam berbagai komunitas. Tetapi, ini berangkat dari music rakyat. Di satu sisi saya sangat apresiasiakan pengembangan bakat mereka. Namun, di sisi lain adahal yang berubah. Selain hilangnya jejak music etnik (yang sudah di awali dari tahun 1970an) ada perubahan nada tertentu. Misalnya ada beberapa lagu dari remaja di Meuwo yang memaksakan menggunakan nada re. Jika kita diperhadapkan dengan tangga nada dan juga pola irama, hal ini kurang menarik. Tetapi, nada ini sangat memikat banyak remaja muda sehingga disana terjadiinkulturasi nada. Semoga saja, hal ini pun disadari oleh mereka supaya masih dapat memahami perbedaan antar sejenis music yang melingkupi kita terlebih khusus di Meuwo dan pada umumnya di Papua.

Semoga, tulisan ini bisa membuka wawasan dan pemahaman mengenai music etnik dari suku Mee. Tulisan ini tidaklah cukup untuk membahas banyak hal mengenai music di Meuwo, maka saya membutuhkan saran, masukan, dari saudara/I sekalian supaya turut terlibat menggali music etnik yang melekat dengan kita sebagai identitas. Mereka juga punya music etnik yang berbeda dengankita, dan yang kitamiliki pun demikian. Semoga, kita menjadi pelaku identitas kita di bawah tekanan global.

Penulis adalah anak jalanan dari Deiyai dan penikmat  music  etnik,  pengamat music populer era 1940.

[1] Catatan singkat sebagai ajakan untuk mencintai music local Mee, dalam rangka Natal Se-jawabali 2017 melalui pesan singkat. Kemudian catatan itu diupload ulang lagi melalui facebook, pada tanggal 20 Mei 2018.

[2] Catatan pribadi, buku catatan ke-7, yang ditulis tahun 2016.

[3] Klasifikasi ini dibuat pada tahun 2015 di buku catatan harian pribadi (buku catatan ke-5).

[4] Saya tidak memiliki banyak data yang cukup mengenai Mapiya dan Paniai secara mendetail sehingga contohnya hanya dari lingkup Tigi saja.

[5] Adama adalah orang lanjut usia; tua; orang lama. Jika ditambahkan Adama-doakan menjadi kata plural, Adamaido yang artinya para orang tua/orang lama (Takimai, Bertus. Kamus Praktis Bahasa Mee-Indonesia. 2015, 13)

 

2808total visits,2visits today

Leave a Response