Now Reading
Perbedaan Musik Etnik, Musik Rakyat dan Musik Pop Diatas Tanah Papua (2)
0

Perkembangan Musik Rakyat di atas Tanah Papua

……. Ciri-ciri musik Musik Rakyat Papua lebih modern karena asalnya dari Musik Barat dan diperkenalkan oleh kaum pendatang terutama para misionaris dengan para petugasnya guru guru yang datang dengan mengajarkan lagu-lagu pendek dengan pola irama lengkap 1 oktaf sampai 2 oktaf dalam tangga nada (do, re,  mi,  fa,  sol,  la,  si).

Setelah pada bagian pertama dalam tulisan saya tentang Musik Etnik Papua yang merupakan musik asli OAP maka pada bagian kedua ini saya mencoba membedah soal Musik Rakyat Papua yang terkadang banyak orang sering mengatakan musik rakyat adalah musik etnik atau musik tradisional.

Musik Rakyat Papua

Musik Rakyat Papua sudah menjadi bagian dari kehidupan OAP setelah musik Etnik. Musik ini datangnya bersamaan dengan OAP mengenal peradaban luar.

Ciri-ciri musik Musik Rakyat Papua lebih modern karena asalnya dari Musik Barat dan diperkenalkan oleh kaum pendatang terutama para misionaris dengan para petugasnya guru guru yang datang dengan mengajarkan lagu-lagu pendek dengan pola irama lengkap 1 oktaf sampai 2 oktaf dalam tangga nada (do, re,  mi,  fa,  sol,  la,  si).

Alat alat musik yang digunakan dalam musik rakyat adalah alat musik seperti gitar,  ukulele,  suling,  contrabass/ stembass, biola,  dll. Lagu yang dinyanyikan juga sudah bukan berirama etnik karena memakai pola nada satu atau dua oktaf.

Musik ini selain diperkenalkan oleh para misionaris juga diperkenalkan oleh pemerintah belanda maupun tentara sekutu yg datang ke Papua sehingga ada lagu lama berirama country berbahasa biak seperti Asaibori, Apuse dll tercipta saat itu. Namun menurut beberapa sumber bahwa,  lagu seperti “yamko rambe yamko” hingga saat ini belum diketahui siapa penciptnya dan tidak diketahui dari bahasa mana di papua.

Musik Barat yang terdiri dari alat musik akustik (gitar,  ukulele,  stembas,  suling dll)  beserta lagu lagu yang berirama musik barat ini berkembang cepat dan menjadi bagian dari OAP karena pada mulanya, para missionaris yang masuk mengatakan bahwa,  musik Etnik tidak cocok digunakan dalam ibadah karena itu adalah musik pemujaan roh roh,  maka musik yang baru datang ini dengan segera menjadi bagian dari kehidupan OAP.

Bapak Musik Rakyat Papua ialah Pdt. Is. Samuel Kijne,  beliau mengarang banyak lagu-lagu dalam Buku Seruling Emas,  dan buku lainnya. Beliau mengajarkan bagaimana anak-anak muda Papua waktu itu bisa bernyanyi dengan baik dengan irama musik barat yang sederhana dan apik.

Pdt Kijne juga melatih anak-anak Papua dengan menggunakan alat musik yang datang dari luar Papua melalui guru-guru Ambon,  Sanger,  Jawa,  dengan menggunakan alat musik Suling,  ukulele,  dan Gitar.

Alat musik ini (Gitar, Suling dan Ukulele) datang bersama penjelajahan samudra oleh bangsa eropa terutama spanyol dan portugis ke Indonesia hingga ke daerah pasifik dan kini menjadi bagian yang tak terpisah dari Musik Rakyat Papua, seperti kain timor di Sorong,  piring/ porselin China di daerah Saireri, dll.

Nah,  dengan demikian Musik ini mendapat bagian dan hati OAP dan kemudian tercipta banyak lagu dalam bahasa-bahasa daerah di Papua dengan menggunakan alat-alat musik gitar,  ukulele,  suling yang dipadukan dengan alat musik tradisional Papua al: tabura,  tifa,  dll sehingga melahirkan musik akustik  kolaborasi baru dengan sentuhan nada dan irama yang sesuai selera OAP maka kini kita kenal dengan nama MUSIK RAKYAT PAPUA.

Perbedaan Musik Rakyat Papua dan Musik Etnik Papua 

Dalam Musik Etnik, lagu dan alat musiknya khusus bisa dimainkan dan dilagukan oleh seniman dari suku yg bersangkutan. Contoh Wor bahasa Biak yang dapat memukul tifa dan melagukan hanya seniman etnik orang Biak saja. Kaido dalam bahasa Mee, hanya orang Mee yang mahir memainkannya.

Sedangkan dalam Musik Rakyat alat musik dan lagunya bisa dimainkan dan dinyanyikan oleh para seniman musik dari suku mana saja. Alat musik yang digunakan untuk mengiringi Musik Rakyat adalah: Gitar, Tifa, Tabura, Suling,  Ukulele, Stem Bas dan diperkaya dengan sejumlah alat musik etnik yg lain. Musik Rakyat Papua adalah Simbol Persatuan OAP dan jenis musik ini disukai oleh orang Papua dari suku manapun,  walau tidak dimengerti arti dari lagu yang dinyanyikan.

Group Mambesak yang dikomandani Arnold Ap  dkk adalah perintis  Musik  Rakyat Papua karena melalui kelompok ini mereka mengkolaborasikan iringan dan lagu etnik yang apik. Contoh lagu etnik yg diangkat seperti Erisam, bhs Biak  berirama Wor (Vol 2). Hendang Makhendang, berirama asli Jayapura,  Sentani,  Cipt Pak John Modouw (Vol 2). Womentaise, bahasa Tehit, kepala burung dengan alat musik aslinya  Krombi (Vol 1).

Mereka juga menyanyikan lagu berbahasa daerah dengan irama nada modern (pola nada 1 oktaf) yang sederhana namun  terdengar kental bernuansa kedaerahan sesuai selera pendengar asalnya lagu. Contoh: 1. Wayutlo, irama dero kesukaan suku muyu (vol 4). Nasisar Matiti, khas dengan gaya bernyanyi wandamen (vol 2) dll.

Setelah kelompok Mambesak bubar maka,  ada banyak group baru bermunculan yg mengangkat lagu rakyat papua al: Yaromba,  Kurana mambesak,  Winggemi,  Adari,  Paniai group,  Karang Taruna Kamasan Biak,  Masayori, dll. Namun ada satu kelompok musik akustik di Tanah Papua yang pertama kali mengangkat musik langgam  Kroncong Papua yaitu Mansebik yang dikomandani oleh Meky Kiri Arfay dkk.

Dari Musik Rakyat Papua ini pula lahirlah tari pergaulan,  Lemon Nipis dari wilayah adat Mamta, Yosim Pancar dari Biak,  Doreri, Dero dari pante Selatan, Balengan dari Saireri dll. Dan yang terbaru musik Wisisi dan Pesek dari suku Lani yang merupakan kolaborasi musik etnik dan musik elektrik.

Cerita kita masih lanjut, ikuti terus kisahnya dalam topic Perkembangan Musik Pop di tanah Papua.

Tulisan sebelumnya tentang MUSIK ETNIK DIATAS TANAH PAPUA

3184total visits,4visits today

Leave a Response