Now Reading
Refleksi Lagu Aku Papua Karya Frangky Sahilatua dan Timika yang Selalu Kacau
0

Refleksi Lagu Aku Papua Karya Frangky Sahilatua dan Timika yang Selalu Kacau

by adminFebruary 26, 2019

Edisi Timika: Tiap Minggu Kacau?

……. “Apakah kepanjangan emas adalah  Engkau Membuat Aku Sakit?  Engkau Membuat Aku Sedih?  Engkau Membuat Aku Sengsara?  Engkau Membuat Aku Sekarat?

Lagu “Aku Papua” diciptakan Frangky Sahilatua dari sekian ribu lagu yang pernah ia ciptakan. Lagu ini menjadi kuat, karena merupakan satu nomor lagu terakhir yang ia ciptakan sebelum beliau menghembuskan nafas terakhir. Aku Papua, jelek jelek tetap aku Papua, dalam suasana apapun tetap aku Papua. Oleh sebab itu, kalau bisa, hargailah aku “sedikit”. Begitu kira-kira makna yang hendak disampaikan Frangky.

Edo Kondologit maupun Doddy Latuharhari menyanyikan lagu Frangky dengan gayanya masing-masing. Edo agak lepas dan penuh penjiwaan, Dody awalnya agak ragu-ragu tetapi tetap menghayati kata per kata hingga lepas bebas di bagian terakhir. Pengambilan gambar Doddy lebih tajam dan bermakna dalam. Ia memandang kota Jayapura yang indah sungguh sangat lama sambil melepaskan kata-kata Frangky. Semacam mau berkata, mengapa semua ini terjadi?

Edo yang penuh talenta dengan suara khasnya, Dody yang sangat romantis melankolis telah berhasil menggugah telinga pendengar. Berdua telah gambarkan karya Frangky dengan sempurna, bahwa situasi hidup manusia Papua bergantung pada alam,  angin dan daun, tetapi ketika manusia luar mulai memadati, kapitalisme luar negeri mulai menguasai harta kekayaan alam Papua, maka mulai rusaklah tatanan kehidupan bangsa ini.

Frangky lewat lagunya mau mengajak kita untuk selalu percaya diri, sekalipun badai halilintar menghadang, bedil peluru berhamburan diatas kita, orang lain mengejek, tetapi itulah aku, aku Papua. Alam adalah hutan dan tambang,  angin adalah nafas kehidupan, daun adalah obat dan otsus harusnya terjaga menjadi bagian dari kehidupan bangsa Papua. Tetapi mengapa unsur Avatar ini kita merusaknya? Dimanakah hati nuranimu? Frangky pun pasti masuk surga, diantar angin dan daun, bersama alunan lagu,  aku Papua. 

Lagu “Aku Papua” telah membangkitkan semangat baru di kalangan masyarakat Papua khususnya, maupun orang luar Papua yang hidup lahir besar diatas tanah ini. Dulunya Mambesak, juga Lagu Tanah Papua karya Yance Rumbino, dan terakhir dengan lagu Aku Papua karya Frangky. Pasti saja akan muncul ciptaan-ciptaan baru yang lebih mengena hati dan jantung orang Papua. Dengan harapan, lewat nada dan suara, Papua harus damai dan tenang. Perang antar suku sudah bukan jamannya. Masalah perzinahan, pencurian, selesaikan dengan hukum positif. Ada polisi. Tak perlu lagi kita angkat anak panah, baku uji di tengah jalan besar. Harga diri Papua kita mau taro dimana. Kota Timika semakin indah, janganlah kita merusak dengan budaya-budaya jaman dulu. Hari ini jamannya injil Kristus. Pendeta dan pastor setiap hari minggu berkotbah, “kasihilah musuhmu”. “Berikanlah pipi kirimu”. “Jangan berzinah, jangan inginkan istri orang”, dan lain sebagainya. namun inilah Papua, setiap hari dengan dinamikanya.

Papua sebuah negeri penuh misteri. Mulai dari pembunuh misterius di pinggir pusat pertambangan, memperebutkan sehelai dolar dengan darah manusia. Sampai penyakit kolera yang berkali-kali serang sungai-sungai pinggiran penduduk. Ironi memang kehidupan disana,  berharap suatu saat Vatikan Roma mengutuk perang lokal dan pembunuhan misterius di Timika dan tanah Papua yang tak pernah usang. 

Emas memang jahat. Timika kini,  kota licik,  mencekam, cari makan dengan cara-cara bejat.  Perang selalu ada,  hidup bersama lusiver, si penjagal malam yang setiap kali merasuki manusia dan selalu terjadi perang lokal. Suami seminggu dalam tanah,  istri seminggu merana. Setiap kali sebongkah emas digali, harus dibayar dengan tumbal darah manusia. Terkadang tabrak lari, terkadang dibuang ke kali. Perang dipelihara, adu domba tugas wajib, kejar mangsa secara senyap.

Timika kota licik. Kemana saja,  mobil buntuti dari belakang.  Sebuah kebiadaban yang dibudidayakan di negeri yang menempatkan keberadapan setelah Ketuhan Yang Maha Esa. Seandainya orang semacam Bupati Edowai memimpin disana,  ia sudah larang miras dan penggunaan alat tajam,  bedil dan senjata. Pemerintah aman,  rakyat dan pengusaha aman, bisa bikin berbagai lapangan pekerjaan.  Talenta bisa dikembangkan. Papua bangkit terwujud. 

Emas,  sang gadis manis,  bidadari kecil telah jatuh diatas bumi Amungsa. Belum berdiri sendiri, sudah dicuri pencuri. Douzy jual ke Mcmoran Amerika.  Penduduk lokal kehilangan sumber hidupnya. Hutan mereka sudah dipagar. Mau bergantung ke mama alam, Dozer sudah bela gunung. Mendulang serpihan emas,  diatas buangan limbah mematikan.

Kemolekanmu membuat Amerika gilang kepalang, basmi setiap pemalang. Kenedy diruntuhkan, Soekarno digulingkan. Setiap tahun kepala manusia tumbang, menjadi tumbal bagi tambang. Jakarta diatur dari Timika, Presiden yang tidak sejalan diruntuhkan. Bukan 51 % saham dikuasai Indonesia, tetapi 51 Indonesia terima “honor” Satpam. 8000 Karyawan PHK, jangan bermimpi aktif kembali kerja di Freeport.

Apakah kepanjangan emas adalah  Engkau Membuat Aku Sakit?  Engkau Membuat Aku Sedih?  Engkau Membuat Aku Sengsara?  Engkau Membuat Aku Sekarat? Mengapa kita tidak bisa ganti kepanjangan Emas menjadi Engkau Membuat Aku Sehat, Engkau Membuat Sejahtera, Engkau Membuat Aku Sentosa, Engkau Membuat Aku Senang selama-lamanya. Banggalah Indonesia, jayalah negeriku. Tetapi kemolekkanmu telah membuat manusia lupa diri, lupa harga diri, menyangkal lambang negara dan alat-alanya. Kita pakai hanya untuk memperkaya diri.

Frangky Sahilatua hanya mau berkata, hati dan cintahku sudah hancur terbawa angin dan daun.  Sekalipun sedari dulu, aku bagian dari tanah air ini,  engkau masih belum sadar, dan masih memberi makan kepada musuh kami yang setiap hari membenci kami. Wahai emas Papua,  kami bukan pendatang,  kami adalah pemilik negeri yang Tuhan kasih kuasa untuk kami jaga. Mengapa engkau balik membunuh kami?

Aku yakin.  Sekalipun engkau memberi makan kepada sekian ribu bangsa,  tetapi suatu saat engkau akan menghilang diam-diam didalam bumi Amungsa. Aku tau dan merasakan itu.  Amerika akan bingun, harta karun yang kumau curi, semua menghilang kemana. Hari itu,  Amerika akan tau dan sadar bahwa,  selama ini aku curi di negeri yang sebenarnya bukan miliknya. Ternyata emas itu ada dalam kedaulatan Indonesia (UUD pasal 33). Ternyata emas itu milik orang Papua, lembaga masyarakat Adat Amungsa.

Ini bukan mimpi,  tapi ini akan menjadi nyata.  Sebab Sang Terang Abadi tidak buta. Ia  akan memberi kita  jalan, kebenaran dan hidup. Yohanes 14:6. Agar keluarga-keluarga disana bisa hidup bahagia, damai, adil dan makmur. 

Selamat jalan Uskup Emeritus Mgr.  Herman Ferdinandus Maria Muninghoff,  OFM.  1921-2018. Cuma engkau sendiri yang pernah berkata: “Sekalipun saya seorang diri,  masalah HAM Papua,  ku bawa ke dunia internasional”. 🔚

Syair Lagu Aku Papua, Karya Frangky Sahulatua

 

1972total visits,3visits today

Leave a Response