Now Reading
Tafsir Kekuasaan (1)
0

Tafsir Kekuasaan (1)

by adminJanuary 23, 2019
TAFSIR KEKUASAAN (1)

Kalau tujuan Gus Dur adalah kekuasaan, ia tak perlu harus dilengserkan. Cukup mengangkat beberapa orang menteri sesuai hasil lobi partai politik masalah dah beres. Tapi kekuasaan bukan sasaran Gus Dur. Kekuasan hanya sarana atau alat mencapai tujuan : nilai falsafah Pancasila yang termanivestasi di bumi Indonesia.

Kendatipun ia harus berhadapan dengan banyak orang yang berbaris panjang melawannya, ia tak mau menghianati amanah rakyat. Ia tak mau kongkalikong membelakangi rakyatnya. Tak mau lapan anam untuk sekedar tujuan langgengnya kekuasaannya.

Amanat apa yang dipertahankan Gus Dur sampai ia harus menerima pemakjulan MPR, yang padahal itu tak ada dalam konstitusi kita ? Padahal ia bisa mengangkat menteri siapa saja atasnama konstitusi Hak Preogatif Prisiden ?

Ia sedang mempertahankan Tafsir Kekuasaan yang ada di tangannya. Ini soal kebenaran bersifat hakiki yang berhasil dicapainya. Kebenaran yang dicapai seorang Presiden – bukan saja etis di rakyatnya tapi layak disisi Tuhan. Artinya ia tak bisa mengingkari nuraninya sendiri. Presiden apa kalau kata hatinya sendiri diabaikan, hanya untuk sebuah langgengnya kekuasaan. Prinsip Gus Dur yang kemudian dilanjutkan muridnya : Presiden Jokowi dan Gubernur Ahok.

Goro-goro antar lembaga tertinggi negara, Presiden/Kepala Negara dan MPR yang tak diatur dalam konstitusi kita pun terjadi. Peristiwa ini diramalkan banyak pihak bakal banjir darah. Tapi ternyata tidak. Gus Dur mengalah lengser, dua ratus ribu Banser yang siap mati membelanya disuruh pulang. Proposisi terindah dari presiden Indonesia : tak ada jabatan di muka bumi yang patut dipertahankan sampai harus mengorbankan nyawa manusia. Bagi Gus Dur ada yang lebih tinggi dari politik yakni kemanusiaan.

Proposisi ini adalah wasiatnya yang teragung bagi bangsa ini. Ia mengangkat kebesaran konsep Islam yang ia fahami dalam tindakan yang penuh kesatria. Kebenaran tetap kebenaran walau sisa satu orang yang menegakkannya.

Sehingga pada episode berikutnya hal ini menuntun bangsa Indonesia pada Rajanya Demokrasi yaitu Pilpres Langsung. Dengan sistem meniru Pilkades, pemilihan kepala desa yang sudah ada sejak jaman Pemerintahan Hindia Belanda. Bangsa ini sudah melaluinya tiga kali. Tanggal 17 April depan yang ke empat kali. Bahkan Amerika sendiri belum sampai pada demokrasi yang mampu memberi harga mahal pada seorang individu seperti Pilpres di Indobesia.

Dalam sistem Pilpres seperti Indonesia yang memberi harga utuh pada individu, akan sangat sulit membuat irisan teritorial, suku, agama maupun ras. Pilpres model begini hanya memiliki satu panggung besar bernama persepsi rakyat. Siapa yang dipersepsi dekat dengan rakyat ia paling berpeluang. Paradigma ini kedepan akan menjadi bangunan politik yang kuat, didukung akses teknologi informasi ke seluruh pelosok. Peradaban ke depan memberi angin segar kepada akal sehat. Dan ini artinya awan mendung kelabu bagi mazhab kapitalisme.

Cebong dan Kampret akan jadi petani. Kontestasi dua simbol ini akan terus berlanjut. Siapa yang menanam pohon kebaikan paling banyak, mereka yang akan memanen elektabilitas. Yang jelas kampret tak bisa lagi pakai jurus bergelantungan sambil menebar hoaks. Jurus itu hanya akan mengalami kekalahan dengan ikhlas. Harus bekerja keras untuk mengambik hati rakyat. Tidak bisa hanya pakai jurus nyinyir seperti yang sekarang ini. Jurus nyinyir akan berakhir nyonyor di elektabilitas.

Lemsur (lembaga survei) malu-malu untuk bicara apa adanya. Bahwa dari seluruh metode yang dimilikinya, ia bisa mengatakan yang paling mendekati kebenaran : Capres siapa di 17 April nanti peroleh suara lebih tinggi. Mereka tak segan-segan membuat framing supaya anggaran turun bisa kebih banyak. Sisa satu kalimat saja : kalah lah dengan terhormat agar kelak masih bisa kembali datang mengemis suara pada rakyat.

Tulisan seperti begini sebenarnya merupakan bentuk sersaudaraan dan persahabatan dengan kampet, agar ke depan merubah drastis cara mengambil hati rakyat. Jangan dengar lagi orang-orang seperti Amin dan Zong. Karena mereka menyarankan kepada kekalahan abadi.

Angkringan Filsafat Pancasila

440total visits,1visits today

Leave a Response