Now Reading
Saya Tunggu Secepatnya, Jangan Lama-Lama
0

Oleh Dr. Socratez S.Yoman, M.A (Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis Papua)

  1. Pendahuluan

Judul artikel ini diberikan oleh seorang teman baik penulis. Dia menanggapi tulisan essay (karangan) singkat penulis yang berjudul: “Hati Nurani Tidak Pernah Berbohong. Kasus Nduga: Apakah Propaganda Pemerintah Indonesia atau OPM?”

Penulis akan mengutip seluruh tulisannya untuk dinilai dan dikritisi oleh seluruh pembaca artikel ini. Menurut penulis, apa yang disampaikan itu sebagai hak menjawab untuk menjaga wibawa lembaganya atau nama baik dirinya atas tulisan judul yang telah disebutkan tadi. Dalam tulisan itu, salah satu sumber informasinya penulis hanya menulis inisial dengan (YK).

Apapun alasan dan tekanan, penulis tidak akan menyebutkan siapa berinisial YK. Karena, seorang sahabat baik yang jujur, punya moral, tulus dan yang berkata benar harus dihormati dengan cara tidak membocorkan namanya. Biarpun orang yang merasa dirugikan itu datang memotong leher penulispun, tidak akan pernah sebutkan nama sahabat itu. Lebih baik mati karena demi kebaikan umat daripada mati karena menjadi penipu, penjahat dan pencuri, pembunuh dan hidup berpura-pura.

Ini kutipan utuh pesan lewan WA seutuhnya sebagai berikut:

“Saya Heran, Kok ada pendeta yang kerjanya hanya tukang menyebar Fitnah? Seribuh macam cara dia gunakan sebagai bahan meramu fitnah, tokoh yg disebutkan sebagai penelpon di dalam kisahnya belum tentuntidak fiktif. Rekan2 Bagi yang punya akses dengan pendeta ini tolong samapaikan Bahwa pertemukan Saya dengan temannya yang menelpon yg dia sebut di dalam dongennya ini, bersama2 dengan dia, suruh bawah segala bukti2 yg dia punya yg menunjukkan bahwa peristiwa Nduga benar adalah rekayasa TNI. Bila dia sanggup membuktikan maka silahkan seret Saya ke pengadilan manpun yang dia percaya. Tapi kalau dia tidak sanggup maka akan berlaku yang sama. Saya tunggu secepatnya, jangan lama2.

2. Saya heran, Kok ada pendeta yang kerjanya hanya tukang penyebar fitnah.

Tanggapan pada bagian nomor dua ini, penulis perlu sampaikan, Saudara perlu tahu dan sadar bahwa sejak 5 Februari 1855, selama 163 tahun daerah ini dijamah dan dirintis oleh para pendeta yang jujur, benar, miliki kasih,punya iman, moral bukan tukang fitnah. Penulis sedang mewarisi nilai-nilai yang sama.

Anda sombong, angkuh, tidak tahu terima kasih kepada para pekerja gereja dan seenaknya saja mencap seorang pemimpin umat sebagai pemfitnah. Penulis tahu, Anda punya pangkat, punya kekuasaan dan punya senjata, tapi sebagai para hamba-hamba Tuhan punya pangkat doa, kejujuran dan ketulusan melayani umat Tuhan di Tanah kami.

Saudara perlu tahu, para pendeta, pastor, gembala dan hamba-hamba rela mati untuk domba-domba Tuhan di Tanah ini. Ketika TNI/Polri membantai umat Tuhan atas nama NKRI, pendetalah yang mengurus mayat-mayat itu.

Karana, Tuhan Yesus sampaikan kepada pendeta, pastor, gembala untuk: “Gembalakanlah domba-domba-Ku” ( Yohanes 21:15-21). Karena, “Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yohahes 10:10).

Dari penugasan Tuhan Yesus yang dikutip ini, posisi Saudara ada dimana? Apakah menggembalakan umat Tuhan/rakyat Papua atau sebagai pencuri, pembunuh dan pembinasa? Silahkan Saudara renungkan dan jawab sendiri, karena Anda yang tahu.

Jangan saudara pernah menghina dan menghujat hamba-hamba Tuhan, para pendeta dan para gembala karena kami tidak pernah memfitnah. Umat Tuhan/rakyat dari Sorong-Merauke sangat menghormati kami dan tidak pernah bilang kami menghina kami dengan kata fitnah. Anda orang pertama yang mengukir sejarah di Tanah ini menyebutkan dan melabelkan pendeta memfitnah.

Cukuplah bangsamu melabelkan& stigmakan umat Tuhan dgn separatis, OPM, Makar, dan yang terbaru diciptakan KKSB & ke depan merendahkan martabat umat Tuhan dengan stigma apa lagi?

3. Rekan2 Bagi yang punya akses dengan pendeta ini tolong samapaikan Bahwa pertemukan Saya dengan temannya yang menelpon yg dia sebut di dalam dongennya ini, bersama2 dengan dia, suruh bawah segala bukti2 yg dia punya yg menunjukkan bahwa peristiwa Nduga benar adalah rekayasa TNI.

Dibagian nomor tiga ini ada 3 pokok pesan yang perlu ditanggapi.

3.1. Akses ke penulis

Sahabatku yang baik, apakah Anda baru datang bertugas di West Papua? Kalau Anda baru bertugas beberapa minggu dan bulan bertugas di sini, penulis memaklumi. Namun, Anda sudah bertugas di West Papua, sudah 6 bulan ke atas, Anda pemimpin yang patut dipertanyakan. Karena setiap artikel penulis selalu dengan nama, alamat bahkan nomor Handphone juga lengkap: Gembala Dr. Socratez S.Yoman, Ita Wakhu Purom,HP/WA: 08124888458.

3.2. Suruh bawa dongeng temannya bersama-sama dengan dia

Maaf Saudara, Anda bukan penguasa atas penulis. Penulis bukan bawahan Anda. Penulis adalah pemimpin umat di atas Tanah ini. Sebelum Anda datang di sini penulis sudah ada di sini, karena di sini Tanah milik penulis.

Kalau Anda perlu dengan penulis minta waktu dengan cara yang bermartabat, manusiawi dan terhormat. Anda tidak seenaknya saja suruh datang. Memangnya, penulis pesuruhmu, pembantumu, sopirmu? Jangan terlalu arogan di atas Tanah leluhur penulis. Anda akan pulang ke kampungmu dan tanah leluhurmu selesai tugas. Tapi penulis selamanya hidup di atas tanah leluhurku di sini.

Ingat, kami tidak biasa berbicara dongeng. Kami tidak percaya patung. Kami tidak percaya tuyul. Kami berbicara sesuai hati nurani.

Tentang kasus Nduga, Anda akan bertahan pada kebenaranmu dan juga sebaliknya penulis bertahan pada kebebaran yang penulis yakini, maka tidak ada titik temu dan penyelesaian. Anda akan melihat warga merah putih dan penulis melihat warna lain. Itu memusingkan kita. Lebih netral, penulis mengusulkan supaya lebih adil, kita mengundang TIM PENCARI FAKTA PBB Untuk mencari fakta-fakta di Nduga. Supaya tidak saling tuduh.

3.3. Membawa bukti-bukti Silahkan seret saya ke Pengadilan

Saudara, persoalan West Papua bukan hanya kasus Nduga. Anda tidak bisa mempersempit dengan masalah Nduga. Kasus Nduga hanya salah satu bagian kejahatan dari ratusan bahkan ribuan kasus kejahatan kemanusiaan, kekerasan, pelanggaran berat HAM yang telah menjadi agenda komunitas global. Maka, sekarang sudah kesempatan emas yang perlu kita manfaatkan bersama dengan tujuan memulihkan nama baik Indonesia dan TNI/Polri. Karena kasus Nduga tidak ada keterlibatan TNI/Polri.

Di sini perlu pembuktian dari Tim Pencari Fakta PBB yang lebih kredibel & independen supaya tuduhan-tuduhan selama ini dapat dijernihkan.

Saudara, Pemerintah Indonesia dan rakyat Papua membawa masalah Nduga ke pengadilan PBB. Jangan kita berputar-putar dengan pengadilan Indonesia yang biasanya yang salah dimenangkan karena uang dan yang benar dikalahkan karena tidak ada uang.

4. Saya tunggu secepatnya, jangan lama2

Saudara, ini maksudnya apa? Apakah Anda memanggil bawahabmu? Apakah Anda memanggil sopirmu?

Penulis pemimpin umat. Penulis punya ribuan umat. Penulis tidak diperintah. Penulis tidak disuruh. Penulis memegang legitimasi dan mamdat ribuan suara dari Kongres warga Baptis Papua.

Anda diperintah oleh atasanmu. Anda dipindahkan dan diganti kapan saja oleh atasanmu. Anda memegang mandat komando/mandat manusia

Penulis memegang mandat orang-orang kudus. Penulis memegang mandat Ilahi.

5. Kesimpulan

Anda perlu tahu bahwa persoalan West Papua sudah menjadi persoalan yang berdimensi Internasional. Masalah West Papua bukan diantara Anda dan penulis. Persoalan West Papua, termasuk kasus Nduga sudah menjadi persoalan kemanusiaan di tingkat global. Masalah pelanggaran berat HAM sudah ada di agenda MSG, PIF, ACP, bahkan suara dibicarakan di PBB.

Akhirnya, penulis mau sampaikan kepada Anda jangan merendahkan dan meremehkan martabat kami sebagai manusia. Karena dulu beda dan hari ini abad ke-21. IWP,30/12/2018.

Dr Socrates C. Yoman

Pendeta, Akademisi dan Pejuang Hak Asasi Manusia

Pendeta Socrates Sofyan Yoman, MA, merupakan ketua Umum Gereja Baptis, berpusat di Jayapura - Papua. Dia adalah tokoh gereja lokal yang terkenal vokal terhadap sikap pemerintah. Apalagi saat Papua mengalami konflik pelanggaran hak asasi manusia. Informasi selengkapnya, klik tombol kotak biru dibawah, anda akan mengetahui informasi dan tulisan-tulisan lain dari penulis.

Selengkapnya klik disini
PENEMUAN TAMAN EDEN DI TANAH PAPUA

7total visits,1visits today

Leave a Response