Now Reading
Rahmat Bagi Alam Itu Nabi Muhammad SAW
1

Rahmat Bagi Alam Itu Nabi Muhammad SAW

by adminJanuary 5, 2019

Oleh Abdul Munib

Kang Mat sudah lama sekali tinggalkan Pakandangan. Usaha kambingnya habis didera oleh kemarau panjang. Dia masih pusing bagaimana kedepan persediaan air. Apalagi dengan anomali cuaca, Pakandangan belum juga hujan. Hari ini Santri Kalong dan teman-teman Angkringan kedatangan tamu Kang Ismail.

Santri Kalong :

Kita ulangi pelajaran tentang Rahmat Tuhan. Rahmat Rahmaniyah khusus di dunia, teruntuk mukmin dan kafir. Rahmat Rahimiyah khusus mukmin, berlaku di Dunia dan Akhirat. Untuk itu di pesantren biasa menerjemahkan bismillah dengan model khas pegon : Kelawan nyebut Asmo Allah, kang welas asih maring kafir lan mukmin ing dunyo, kang welas asih ing dunyo lan akhifat maring mukmin bloko.

Jadi orang mukmin itu kaya, dapat tiga rahmat. Dari Rahmat rahmaniyah dapat satu di dunia. Dari rahmat rahimiyah dapat dua, satu di dunia satu di akhirat. Orang kafir cuma dapat satu, di dunia saja daoat dari Rahmat rahmaniyah. Ini kebetulan ada yang datang. Silahkan untuk memberi sedikit ilmunya untuk bahan diskusi kita.

Ismail Amin :

Dengan berkoar-koar, Islam adalah agama rahmatallil ‘alamin, sekelompok orang memaksakan kehendaknya untuk berkuasa atas banyak manusia. Yang pada kenyataannya, yang mereka ciptakan adalah bencana kemanusiaan. Yang mereka tebar bukan rahmat, tapi kesumat. Mengapa? karena mereka menyingkirkan Nabi Muhammad saw dalam mereka memahami dan mengamalkan Alquran.
Tidaklah Kami mengutusmu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam (Q. Al-Anbiya: 107)

Pada ayat ini secara terang Allah swt mengabarkan bahwa Nabi Muhammad saw diutus untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam. Jadi yang menjadi rahmat bagi sekalian alam itu adalah Nabi Muhammad saw.

Hujan kadang menjadi rahmat, kadang menjadi bencana. Kekayaan kadang menjadi rahmat, kadang menjadi bencana. Anak atau keturunan kadang menjadi rahmat, kadang menjadi bencana. Sebagaimana halnya kunci, bisa dipakai untuk membuka pintu, dan juga bisa dipakai untuk menutup dan menguncinya. Jika hampir semua hal lainnya memiliki dua kemungkinan, Nabi Muhammad saw tidak memiliki kemungkinan lain, selain menjadi rahmat bagi sekalian alam. Jadi, sekali lagi, yang menjadi rahmat bagi sekalian alam adalah Nabi Muhammad saw.

Namun dalam banyak kesempatan, kita lebih sering mendengar ayat ini dijadikan dalil untuk menegaskan Islam sebagai agama rahmat untuk sekalian alam. Itu tidak salah. Namun titik tekan sesungguhnya, ada pada Nabi Muhammad saw nya, bukan pada Islam nya.

Mengapa? Karena Islam hanyalah konsep. Islam adalah ‘ide-ide’, ajaran-ajaran, ‘gagasan’, cita-cita dan rule. Islam adalah manifesto. Yang itu tidak bisa terwujud dan terealisasi jika tidak dijalankan. Islam tidak bisa menjadi rahmatallil ‘alamin, jika tidak diaplikasikan. Ajaran-ajaran Islam yang termaktub dalam Alquran menjadi rahmat karena yang membawa, menyampaikan dan yang mencontohkannya adalah Nabi Muhammad saw, sang rahmat untuk sekalian alam.

Dan kamu (Muhammad) tidak pernah mengharap agar Alquran diturunkan kepadamu, tetapi Al Qur’an diturunkan karena suatu rahmat yang besar dari Rabbmu… (Qs. Al-Qasas: 86)

Ini menerangkan bahwa Nabi Muhammad saw tidak pernah meminta Alquran diturunkan kepadanya, namun Allah swt menurunkan kepadanya sebagai rahmat dari Allah swt. Mengapa Alquran yang merupakan rahmat-Nya, diturunkan kepada Nabi Muhammad saw? Karena untuk menjalankan misinya diutus, yaitu menjadi rahmat bagi sekalian alam.

Jadi rumusnya: Nabi Muhammad saw + Alquran (rahmat yang besar dari Allah) = Rahmat bagi sekalian alam.

Tanpa Nabi Muhammad saw, Alquran tidak akan pernah menjadi rahmat bagi sekalian alam. Tanpa menggabungkan Nabi Muhammad saw dan Alquran, Islam tidak pernah menjadi agama yang menebarkan rahmat bagi sekalian alam. Nabi Muhammad saw dan Alquran tidak bisa dipisahkan. Karena itu pula dikenal sebutan, Nabi Muhammad saw adalah Alquran yang berjalan. Alquran yang berusaha dipahami sendiri tanpa melandaskan dari apa yang telah diajarkan dan dijalankan Nabi saw, bukan hanya tidak memberi rahmat, tapi bisa membawa petaka. Ayat-ayatnya dijadikan stempel cap legitimasi untuk kejahatan dan kepentingan tertentu.

Dengan berkoar-koar, Islam adalah agama rahmatallil ‘alamin, sekelompok orang memaksakan kehendaknya untuk berkuasa atas banyak manusia. Yang pada kenyataannya, yang mereka ciptakan adalah bencana kemanusiaan. Yang mereka tebar bukan rahmat, tapi kesumat. Mengapa? karena mereka menyingkirkan Nabi Muhammad saw dalam mereka memahami dan mengamalkan Alquran. Padahal rahmatallil ‘alamin itu ada pada pribadi Nabi Muhammad saw, bukan pada Alquran yang mereka pahami secara serampangan. Karena itu pula, tidak jarang kita dipertemukan pada kenyataan, katanya partai Islam, tapi anggota partainya malah banyak koruptornya, katanya mau tegakkan syariat Islam, tapi malah menebar horor dan teror. Orang berzina dicambuk di Aceh, tapi yang nyuri tidak dipotong tangan. Syariat kok separo-separo. Syariat setengah hati, rakyat setengah mati.

Dalam Tafsir al-Amtsal, Ayatullah Makarim Shirazi mengatakan rahmat bagi sekalian alam, maksudnya adalah Nabi Muhammad saw tetap terus menjadi rahmat, baik bagi manusia di masanya, maupun manusia di masa setelahnya, sampai manusia yang hidup di akhir zaman. Lantas, bagaimana Alquran dan Islam hari ini masih tetap bisa menjadi rahmat disaat Nabi Muhammad saw tidak lagi hidup secara fisik di dunia ini?.

Dalam literatur Sunni dan Syiah, Rasulullah saw menyampaikan wasiatnya, “Kutinggalkan kepadamu dua peninggalan (al-Tsaqalain), kitab dan Ahlulbaitku. Sesungguhnya keduanya tidak akan terpisah, sampai keduanya kembali kepadaku di Alhaudh.”

So, jelas, Islam hanya bisa menjadi rahmat bagi sekalia4n alam, jika memadukan antara Alquran dan Ahlulbait, para habaib yang berilmu dan amal qurani dan habaib yang muhammadiah. Islam inilah yang membuat gentar dan takut orang-orang kafir. Sebab Islam yang tanpa menyertakan peran Ahlulbait, para habaib di dalamnya, adalah Islam tanpa greget, Islam yang bukan membawa manusia pada derajat yang sempurna, tapi malah menjebak manusia pada bencana.

Dul Kampret : Kang Ismail Amin itu pengikut Ahlulbait toh ?

Ismail Amin : Maunya begitu Dul. Maunya juga aku Ahli Sunnah. Mengaku pengikut Sayidina Ali seberapa banyak kita telah ikuti akhlak mereka. Mengaku Ahli Sunnah, seberapa banyak sunah yang telah engkau dapat laksanakan ? Mengaku-mengaku hanya bikin malu diri saja Dul. Islam itu satu. Dan harus bersatu.

Bung Cebong : Lho kok bisa begitu Kang ?

Ismail Amin : Bong kalau beriman itu cukup dengan mulut saja, maka neraka gak perlu ada. Lihat Al Ankabut ayat dua. Perlu diuji. Kita semua belum tahu akhir kesudahan kita, makanya perlu taqwa. Dan rahmat kemurahanNya yang terus mampu memberi kita harapan. Dua sayap khauf dan roja. Seperti sayap Garuda Pancasila, memakrifatinya dan menghidupkan pengamalannya di masyarakat. Hamemayu Hayuning Bawono.

Angkringan Filsafat Pancasila

105total visits,3visits today

1 Comments
  • admin
    January 5, 2019 at 2:14 am

    Sejarah sama, fondasi Torra, Taurat, Totamana (Orang Mee = ajaran larangan Allah) sama. Ismail dan Isak adik kk kandung, anaknya Ibrahim atau Abraham. Bapak bangsa-bangsa, Ab yang Rahman atau ayah yang penyayang dari bahasa Arab. Abraham ini umurnya sudah 4000 tahun dari 2019. Dari Nabi Isa 2296 tahun. Beliau tinggal dan menetap di hulu Sungai Efrat, Tigris, Gihon dan Pison atau sekarang dinamai wilayah Irag. Negeri Ur atau hulunnya keempat sungai itu sekarang sudah hancur berantakan oleh fanatisme manusia terhadap keyakinan, juga perebutan lahan bor minyak bumi oleh Amrik, hingga Saddam Hussein diburu seperti binatang. Dikejar dari berbagai penjuru oleh Jend Collin Powel, disiarkan langsung TVRI tahun 1993. Abraham ialah tokoh yang “sekali lagi” diuji oleh Allah apakah masih setia atau tidak. Sebab tetangga-tetangga pada jaman-jaman Adam, Nuh, Abraham pada waktu itu percaya dewa-dewa seperti dikisahkan dalam kisah Enuma Elish (menyembah dewa MArduk, dewa Ea, dewa Tiamat dan lain-lain). …………..

Leave a Reply to admin Cancel reply