Now Reading
Pohon Hikmat
0

Pohon Hikmat

by adminJanuary 5, 2019

Oleh Abdul Munib

Akarnya di langit. Daunnya terjulur ke bumi. Dipetik oleh akal para filsuf disajikan dalam hidangan ilmu yang terbentang dari kitab Thales dua ribu lima ratus tahun lalu sampai sekarang Muhammad Taqi Misbah. Kita masyarakat tinggal menyantapnya di meja hidangan. Kalau itu saja masih sulit diantara kita harus ada yang bekerja menyuapi.

Rasionalitas manusia tak dimiliki oleh binatang apapun. Dan rasionalitas memiliki jalannya sendiri, melintasi peradaban-peradaban, membuahkan ilmu-ilmu pengetahuan dan teknologi. Tapi berjalan hanya dengan rasionalitas saja tak cukup. Itu rapuh, serapuh kaki kayu. Maka dari itu perlu kitab wahyu. Yang dibawa oleh para nabi.

Syariat sebagai manifesto langit yang dibawa para nabi itu juga menyesuaikan tahapan perkembangan rasionalitas dalam ilmu pengetahuan yang makin memuncak.

Kini manifesto langit telah dinyatakan sempurna oleh pemiliknya : Tuhan. Tugas selanjutnya adalah mengaplikasikannya dalam satu peradaban dunia berkeadilan. Menghapus peradaban kita sekarang yang dipenuhi serba ketidak-adilan. Gus Dur dalam tulisannya mengatakan Membangun surga di bumi. Atau bumi yang diselenggarakan menurut manifesto langit. Kita sedang menyaksikan abad kematian manusia ekonomi dan menyongsong lahirnya manusia budaya. Peradaban berkeadilan.

Substansi manifesto langit sejak awal sampai akhir sama. Tauhid. Memakrifati hakikat Tuhan, menggapai makna seberapa dapat masing-masing kita mampu meraihnya tanpa henti. Tuhan sebagai Sang Asysyakur, menerima penyembahan hamba dengan makrifat yang sangat dangkal sekalipun. Praktek tauhid paling awal adalah jangan zalim.

Masyarakat yang tidak zalim tak akan melakukan kejahatan, bahkan berfikir kejahatan pun tak mungkin. Dari pondasi ini dibangunlah manusia adil. Manusia adil saja tak cukup. Harus dibangun peradaban yang adil. Membentuk peradaban adil ini perlu alat, antara lain : negara, sistem politik, gerakan budaya, pendidikan ideologi, dan etos kerja keras. Untuk itu, disini kita membuat Negara Indonesia. Bukan untuk tujuan lain selain sebagai alat mencapai cita-cita bersama pada makna Pancasila.

Makanya sila kedua Pancasila adalah manifesto internasional, yang kita mulai tahapannya dari Indonesia.

Untuk itu misalnya, sejak awal Indonesia mendukung Palestina berdaulat. Mendukung setiap keadilan yang sedang ditegakkan di mana saja di titik muka bumi. Bung Karno orangnya romantis, ia sebut dengan istilah taman sari sila kedua itu internasional. Cita-cita tegaknya peradaban adil di muka bumi.

Dengan kamera bernama Filsafat Wujud, kita memotret ke langit senantiasa memakrifati hakikat Tuhan tanpa henti. Menggapai maknanya. Kita juga memotret keutuhan substansi Pancasila. Untuk memanifestasikannya dalam aplikasi praktek manusia adil, bangsa adil, dan seisi bumi yang adil. Sehingga potret langit dan bumi menjadi identik.

Islam dan Pancasila satu substansi, satu pesan. . Yakni Tauhid, memakrifati hakikat Tuhan tanpa henti. Menegakkan keadilan di muka bumi, dimulai dari Indonesia. Maka satu-satunya alasan kausalitas berdirinya Negara Indonesia adalah cita-cita itu. Dalam bahasa buminya dikenal Amanat Penderitaan Rakyat. Derita bukan hanya tidak bisa makan dan kurang sandang pangan. Derita paling nelangsa adalah jauh dari kebenaran.

Yang berbeda dari Islam dan Pancasila hanya soal otoritasi dan konvensi. Islam adalah manifesto penyempurnaan syariat Tuhan yang bersifat otoritatif preogatif. Datang dari Tuhan melalui nabi.

Sedangkan Pancasila merupakan filosofi dasar berbangsa bersifat kesepakatan atau konvensif. Datang dari Tuhan melalui kesepakatan Pendiri Bangsa Indonesia , yang konsepsi filosofusnya dirumuskan filsuf Soekarno-Hatta, disempurnakan dalam mistisisme shalat Hajat dan Istiharah Kiai Hasyim Asyari. Rokaat pertama baca Arrahman 41 kali, rakaat kedua baca Al Kahfi 41, dalam shalat malamnya selama tiga hari.

Saripati substansi Islam dan Pancasila sama. Bahwa makrifat kita paling dangkal pada makna hakikat Tuhan, setidaknya teraplikasi dalam hidup kita yang tidak zalim.

Makrifat tertinggi adalah menemukan sang pemimpin yang bersamanya kita punya kemingkinan menegakkan peradaban keadilan di muka bumi. Kita mulai dari Indonesia berkeadilan. Jokowi dalam kadarnya, telah mampu mengaplikasikan makna Pancasila yang telah dimakrifatinya
terus tanpa henti.

Disinilah kita perlu revolusi. Karena dalam revolusi segalanya tak boleh berhenti. Segala bentuk perasaan telah mencapai, telah menemukan, telah sejahtera dan capaian lainnya itu pemahaman yang salah. Kita tak akan sejahtera kalau masih ada bangsa lain yang miskin dan tertindas. Sila kedua kita bersifat internasional, yang dimulai dari regional yakni Indonesia. Disinilah makna bahwa Pancasila adalah manifesto dunia milik bangsa Indonesia.

Apa kita rela ada bangsa yang dibilang oleh bangsa yang menjajahnya sebagai Bangsa Tak Asli (origin). Dan si penjajah memanggilnya dengan panggilan Aborigin. Pancasila harus menolong mereka.

Angkringan Filsafat Pancasil

Like
1

Leave a Response