Now Reading
Warisan Gus Dur
0

Warisan Gus Dur

by adminDecember 31, 2018

Oleh Abdul Munib

Peninggalan Gus Dur paling berharga adalah sebuah pertanyaan: Bagaimana sebaiknya hubungan negara dan agama, dan sebaliknya agama dan negara. Dalam dinamika dialektika, ikhtilaf atau diskursus, menemukan sebuah pertanyaan adalah mencapai setengah pengetahuan. Model hubungan timbal balik ini perlu diupgrade secara dinamis oleh bangsa Indonesia sampai menjelang sempurna.

Gus Dur menyimak. Persoalan keIndonesiaan kita yang paling menguras energi bangsa adalah tentang mandeknya proses upgrade model hubungan agama dan negara dalam Falsafah Pancasila. Ini pekerjaan intelektual yang membutuhkan pendekatan falsifikasi. Proses yang tak boleh stagnan. Melainkan harus terus digali dan dimakrifati oleh anak bangsa.

Pertama adalah model revolusi. Makna revolusi pada awal kemerdekaan adalah merebut kembali daulat yang dirampas ratu Belanda. Mengusir penjajah. Di era perang dingin, pemaknaan revolusi di klaim oleh kaum komunis sosialis. Seperti sekarang makna Islam, ulama, umat Islam selalu diklaim kaum kampret. Sehingga Soeharto membekukan revolusi dalam patung tujuh pahlawannya. Dan setelah itu tak boleh bicara revolusi lagi. Pamali. Pantang. Bung Karno sendiri mengatakan : selagi masih ada penderitaan di gubug-gubug rakyat revolusi ini belum selesai. Siapa yang mengatakan revolusi ini telah selesai dia adalah antek.

Yudi Latif menulis buku Revolusi Pancasila. Bahwa revolusi adalah upaya proses menuju poros. Dan poros bangsa kita Pancasila. Para nabi juga punya revolusi, yakni tauhid dan menegakkan keadilan. Substansi yang sama.

Kesamaan ini adalah modal dasar. Pondasi yang dapat menghubungkan agama-negara.

Bahwa jika kita bertujuan sama, maka tak mungkin akan bersengketa. Ternafikannya seluruh sumber kezaliman, adalah lahan untuk dapat tumbuh suburnya keadilan. Sumber kezaliman adalah sistem anti-Tuhan. Kita bisa melacaknya dari pendekatan sejarah peradaban benua yang saling hegemoni.

Kita dapat pula meletakan pondasi definitif tentang agama itu sendiri. Pada genusnya sebagai Aturan Tuhan (rule of God) agama adalah satu : Dinullah. Sedangkan Dinukum, adalah agama kafir. Sesama bis kota dilarang saling mendahului. Begitu pun antara dua agama, Dinullah dan Dinukum tak boleh bakupaksa. Masing-masing saja. Begitulah Tuhan berfirman. Agar manusia menggunakan hikmat akalnya dengan bertanggung jawab.

Juga definisi rakyat secara pandangan Islam NU. Dimana kata rakyat adalah peleburan dari umat Islam dan dimmi. Jadi tak perlu lagi dan tak layak lagi keluar kata kafir kepada seseorang di Negara Indonesi ini. Ceramah Gus Muwafik.

Berikutnya Dar Sulh. Negara Damai yang dinamis, berproses menyempurna terus-menerus. Jangan ada stagnasi. Upaya senantiasa yang terus istiqamah mencari Dar Sulh yang terupgrade.

Persoalan hubungan adalah persoalan merakit dan merekatkan. Ilmu falsafah metafisika memiliki peran penting disini. Bangsa kita telah lama tercebur ke tradisi pendekatan empirik mengikut Barat, dan melupakan takdirnya sebagai Bangsa Falsafah dan Bangsa Maritim. Bangsa dengan model kesetaraan Datuak Pepatih nan Sabatang dan hierarki Datuak Katumanggungan dimana Adityawarman jadi raja Pagaruyung tapi tak hendak menghapus tradisi adiluhung warisan peradaban moyangnya hingga lestari sampai sekarang.

Di Jawa yang hierarkis Syeih Siti Jenar mempelopori terbentuknya masyarakat awal dalam tokoh kesetaraan Punokawan. Dan Papua dalam tatanan adat tanpa raja, dimana masyarakat kesetaraan merupakan kekayaan khazanah nusantara yang masih terpelihara utuh. Sampai kecenderungan materialisme yang dibawa oleh model pembangunan negara dan pendatang sedang pelan-pelan menggerusnya. Di titik inilah Dus Dur menemukan dirinya dalam masyarakat Papua. Kita butuh banyak memakrifati siapa bangsa kita ini. Agar tak sering salah faham.

Angkringan Filsafat Pancasila

Like
1

Leave a Response